APAKAH KAIN KAFAN TURIN ITU ASLI?

Turin Shroud: How Leonardo Da Vinci Fooled History
by Clive Prince, Lynn Picknett




Ada banyak rekaan orang-orang, harapan-harapan, pandangan mistik, penelitian-penelitian macam-macam dan yang bersifat science, dll. tentang kebenaran Kain Kafan Turin .

Namun tentu saja Alkitab selalu menarik untuk diteliti, dan cukup memberikan penjelasan bahwa tidak ada bukti yang mendukung keaslian Kain Kafan itu sebagai kain pembungkus jenazah Yesus.

Dibawah ini penjelasannya :


APAKAH KAIN KAFAN TURIN MERUPAKAN KAIN PEMBUNGKUS TUBUH KRISTUS YANG ASLI?


Kain kafan Turin, selembar kain kuno berukuran 14 kaki kali 4 kaki (4.20 X 1.20meter), telah dielu-elukan di seputar dunia sebagai kain pembungkus jenazah Yesus yang asli. Banyak orang telah mendukung keasliannya. Paus Paulus VI menyatakan Kain Kafan itu sebagai "barang peninggalan yang paling penting dalam sejarah umat Kristen" (US Catholic, May 1978, p. 48)

Gambar yang terdapat pada kain itu diakui sebagai gambar Yesus Kristus sendiri serta menunjukkan bukti nyata akan kematian, penguburan, serta kebangkitan Kristus. Banyak orang menyebutnya sebagai misteri terbesar di dunia. Para penyokong Kain Kafan itu menyatakan bahwa gambar yang tertera pada kain itu menurut penganalisaan abad ke 20 tidak mungkin merupakan hasil pemalsuan atau duplikasi dunia.

Setelah mengadakan riset secara luas, kami akhirnya memandang kain Kafan itu dengan keragu-raguan yang besar. Nampaknya, sebagian besar riset terhadap Kain Kafan ini telah dilakukan dengan keyakinan yang terbentuk sebelumnya bahwa kain itu asli.

Ada banyak masalah yang penting yang harus dipecahkan apabila kita mempertahankan keotentikan Kain Kafan itu. Sebelum tahun 1350, tidak ada bukti sejarah yang membuktikan keasliannya ataupun adanya Kain Kafan tersebut. AJ Otterbein dalam The New Catholic Encyclopedia mengatakan sebagai berikut :

"Dokumentasi yang tidak lengkap mengenai Kain Kafan ini menimbulkan keraguan untuk menerimanya sebagai yang asli. Keraguan demikian dapat dibenarkan apa bila kita hanya mempertimbangkan bukti historisnya saja"



Pemalsuan :


Kira-kira pada tahun 1900, sepucuk surat ditemukan dalam sebuah koleksi dokumen milik Ulysse Chevalier. Surat itu ditulis dalam tahun 1389 oleh Uskup di Troyes kepada Clement VII, Anti-Paus di Avignon.

Surat itu menerangkan bahwa suatu penyelidikan telah berhasil membongkar pekerjaan seorang seniman yang telah melukis Kain Kafan itu, dan seniman tersebut mengakuinya. Banyak orang merasa terganggu karena kain itu digunakan untuk mencari keuntungan. Surat itu lebih lanjut mengatakan :

"Banyak teolog dan cendekiawan lainnya mengatakan bahwa kain ini tidak mungkin merupakan Kain Kafan yang asli dari Tuhan kita, dengan gambar Sang Juruselamat tertera padanya, karena Injil yang Kudus tidak pernah menyebut adanya gambar seperti itu. Sedangkan, kalau seandainya benar, agaknya tidak mungkin penulis Kitab Injil yang kudus itu telah lalai mencatatnya, atau bahwa fakta itu harus tetap tersembunyi sampai zaman sekarang"

Surat itu menambahkan bahwa si pemalsu itu telah tersingkap dan menerangkan bahwa "kebenarannya telah dibuktikan oleh seniman yang melukisnya, yakni gambar yang tertera itu adalah karya keahlian manusia dan tidak dikerjakan atau tertera secara ajaib"






















Sejarahnya :


Geoffrey de Charney memperoleh Kain Kafan itu beberapa waktu sebelum tahun 1357. Kain itu dipamerkan untuk penghormatan di gereja sebuah perguruan tinggi di kota Lirey, Perancis, yang didirikan oleh Geoffrey. Akan tetapi Geoffrey keburu meninggal pada tahun 1956 sebelum ia sendiri mengungkapkan bagaimana ia memperloreh kain itu.

Ketika suatu penyelidikan berhasil membuktikan kepalsuannya, Kain Kafan itu disimpan. Kemudian, kira-kira tahun 1449 cucu Geoffrey, yang bernama Margareth de Charney, mengadakan perjalanan keliling untuk memamerkan kain itu serta memungut biaya masuk (bagi yang ingin melihatnya). Pada tahun 1462 ia mempertukarkan Kain Kafan itu dengan 2 buah puri. Kini Pangeran Savoie yang memilikinya.

Kemudian kain itu disimpan di Sainte Chapelle di Chambery. Kebakaran yang terjadi pada tanggal 3 Desember 1532 tlah merusaknya.

Pada tahun 1578, Immanuel Filibert, Raja Savoie memindahkan Kain Kafan itu dari Perancis ke Turin, Italia. Pada tahun 1898, seorang jurufoto bernama Secondo Pia mengabadikan gambar pada kain itu. Semua orang terheran-heran ketika ternyata gambar pada kain itu ternyata adalah sebuah gambar negatif.



Pembuatan gambar :


Pemindahan gambar ke kain itu merupakan langkah penting untuk menjelaskan apakah kain itu mereupakan hasil suatu mujizat dan sesungguhnya kain kafan Tuhan Yesus atau bukan. Seandainya tidak ada keraguan bahwa gambar itu terjadi bukan dengan daya upaya yang wajar, maka itu merupakan mujizat dan oleh karena itu adalah kain kafan Kristus. Memang kedua belah pihak setuju bahwa gambar itu tertera sesudah penyaliban Kristus.

Metode-metode yang dikemukakan mengenai pemindahan gambar ke kain itu adalah :

1. Vaporografi
2. Penghangusan dan radiasi
3. Termografi

Vaporografi adalah proses dimana campuran rempah-rempah, gaharu, serta minyak menimbulkan reaksi dengan ammonia (urea) dalam peluh manusia dalam bentuk uap sehingga membentuk suatu gambar pada kain. Satu-satunya syarat ilmu fisika ialah bahwa uap itu harus bergerak lurus untuk membentuk gambar itu.

Kesulitan teori ini ialah tidak semua ahli kima yakin bahwa uap akan bergerak dengan garis lurus dari tempat asalnya. Pada tahun 1931, O'Gorman menulis bahwa satu cara yang mungkin bagi terjadinya vapograf ialah dengan tambahan zat raidoaktif dalam rempah-rempah itu atau tubuh Kristus sendiri! Akan tetapi, hal ini harus digolongkan sebagai spekulasi yang melampaui batas.

Metode lain yang sudah populer dan diuraikan dalam "Cara Kerjanya" ialah "penghangusan", atau proses tubuh melepaskan radiasi yang cukup kuat sehingga mampu membakar gambar itu pada kainnya. Teori ini jelas tidak dapat dipertahankan lagi karena kesaksian dua orang ilmuwan, Wade Patterson dan Dave S Myers dari lawrence Livermore Laboratory.

Menurut mereka, tidak mungkin gambar pada Kain Kafan itu terjadi secara alamiah karena ionisasi atau radiasi energi tinggi, nuklir atau lainnya. Sinar X dan Sinar gamma merupakan sinar utama dalam ionisasi, dan gambar-gambar itu tidak mungkin dihasilkan oleh kedua macam sinar itu, sebab untuk membangkitkan sinar-X diperlukan mesin bertegangan tinggi. Dan satu-satunya sumber alamiah sinar gamma adalah zat radioaktif seperti uranium. Lagipula, sinar-X dan sinar gamma tidak menyebabkan terjadinya suatu proses atas bahan seperti yang tampak pada Kain Kafan itu.

Mereka melanjutkan bahwa sinar-X dan sinar gamma salah satu dari radiasi-radiasi yang paling menembus, sehingga tidak akan meninggalkan gambar apapun. Suatu sumber radiasi ionisasi yang sangat kuat tentunya dapat mempengaruhi kain itu, tetapi menurut kedua orang ahli itu mereka tidak melihat, kemungkinan itu terjadi, bila mempertimbangkan faktor-faktor yang terlihat, misalnya : sososok mayat, waktu yang berabad-abad dan lain sebagainya.

Sekalipun kemungkinan kecil sekali, tetapi seandainya mayat itu telah menjadi radioaktif sehingga memancarkan sinar-X atau sinar gamma, gambar yang tertera pada Kain Kafan itu tetap tidak sesuai dengan jenis gambar yang seharusnya dibentuk dalam keadaan seperti demikian. Kata Petterson, sinar-X dan sinar gamma lebih banyak diserap oleh tulang, bukan oleh kulit, jadi seharusnya bukan kulit tetapi tulang-tulang yang dapat dilihat dengan lebih jelas pada gambar itu.

Sekalipun jika zat radioaktif seperti uranium yang memancarkan sinar dan juga partikel-partikel alfa dan beta, yang kesemuanya adalah radiasi ionisasi – telah dioleskan pada jenazah itu, para ahli tetap berpikir bahwa tidak akan muncul gambar-gambar pada Kain Kafan itu; paling paling hanya akan ada bayang-bayang hitam saja.

Mereka menambahkan, jika zat radioaktif telah digunakan sedemikian rupa hingga hanya menegaskan hal-hal yang penting saja, mereka masih belum mengetahui adanya suatu tekhnik yang dapat membuat kain itu peka cahaya sehingga dapat emrekam radiasi energi tinggi. Misalnya sinar-X; dalam hal ini filem diperlukan untuk mencatat kehadiran sinar-X.

Jikalau telah terjadi ledakan atom diatas kota Yerusalem pada waktu pemakaman Kristus, maka akan ada cukup radiasi energi tinggi untuk menera gambar-gambar pada Kain Kafan itu, namun karena intensitasnya Kain Kafan itu sendiri akan hancur. Seandainya ledakan sinar yang hebat itu tidak sampai merusak pada lenan Kain Kafan itu dalam cara yang lain (dari The Shroud, oleh Wilcox, p. 154-155)

Metode ketida yang memungkinkan terjadinya pemindahan gambar adalah bentuk radiasi yang lebih rendah, yang nyata dalam cara pemanasan. Proses ini disebut thermografi, dan cara ini dipakai juga untuk mendeteksi kangker payudara. Dr Jackson dan Dr Jumper menyokong metode ini yang mereka anggap sebagai yang paling memungkinkan pemindahan gambar.

"Dengan menggunakan komputer untuk menganalisa dari data foto-foto, mereka telah menguji gagasan bahwa gambar itu secara keseluruhan lebih terang dan lebih gelap sepadang dengan jarak antara jenasah dengan kain. Sebenarnya, variasinya begitu seragam... sehingga mereka tidak ragu-ragu lagi bahwa gambar-gambar itu merupakan hasil suatu "proses fisik" – jekas bukan hasil seni manusia – dan mereka ecnderung menyokong suatu 'thermogram', suatu gambar yang terbentuk oleh panas" (dari The Shroud, oleh Wilcox, p. 175)

Akan tetapi, Dr Wood dari neurogical Institute di New York menghubungkan proses ini dengan Kain Kafan itu, sebagai akibatnya menampakkan keraguan yang nyata tentang proses ini.

Dr. Ernest Wood menerangkan bahwa thremografi timbul dari fotografi infra-merah yang dikembangkan dalam Perang Dunia II. Dewasa ini ia terutama dimanfaatkan untuk mendeteksi kangker payudara. Prinsip dibalik thermografi sederhana saja; panas yang terpancar keluar dari tubuh dipakai untuk memuat gambar diagnostik, dan gambar-gambar ini adalah gambar negatif.

Akan tetapi, Dr Wood menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan penting antara gambar thermografik dengan "gambar" pada Kain Kafan itu. Antara lain diperlukan mesin-mesin yang sangat rumit untuk meningkatkan panas tubuh supaya sebuah gambar dapat direkam: panas itu harus ditingkatkan Sejuta kali. Selain itu, gambar thermografik direkam pada filem Polaroid, bukan pada kain. (dari The Shroud, oleh Wilcox, p. 171,172)

Banyaknya panas yang terpancar yang dilipatgandakan sejuta kali atau lebih, kemungkinan besar akan menghancurkan kain itu karena intensitasnya.

Mereka yang menyokong pendapat bahwa "radiasi rendah membentuk bayangan itu" harus menyediakan siatu pembiasan bagi cahaya yang kelihatan. Mereka menerangkan hal ini dengan mengatakan bahwa lapisan keringat akibat rasa sakit yang terdapat pada jenazah itu bertindak sebagai lensa pembias guna memfokuskan radiasi dalam pola bergaris lurus untuk menghasilkan gambar (maka timbul alasan mengapa mayat itu tidak dimandikan).

Apabila keringat dihapuskan, berarti mekanisme pemfokusan terhapus. Dr. Mueller menganggap seluruh teori ini tak masuk akal, karena akan memerlukan ratusan lensa di seluruh tubuh, laksana mata lalat, guna memfokuskan radiasi. Tidak mungkin keringat bisa demikian!.

Perlu pula diperhatikan bahwa radiasi tingkat rendah itu membentuk bayangan kurang dari lima cm dari tubuh. Pada jarak yang lebih jauh, intensitas radiasi akan turun menjadi nol, sehingga tidak akan meninggalkan gambar.

Jarak rata-rata Kain Kafan adalah 3 cm atau 1.5 inci, yang sangat melemahkan sifat pembentukkan gambar dari radiasi. Bahkan ada jarak yang lebih jauh lagi pada Kain Kafan itu yang tentunya tidak akan membentuk gambar apa-apa, jika gambar itu disebabkan karena penghangusan oleh radiasi.

Juga harus diingat bahwa mekanisme para pendukung teori penghangusan oleh radiasi ini merupakan spekulasi semata-mata. Tidak ada bukti sama sekali. Paling-paling hanya dugaan yang tak masuk akal.

Dr Marvin Mueller telah bekerja pada Los Alamos Scientific Laboratory di New Mexico selama 20tahun, dan telah melakukan eksperimen serta penyelidikan teoritis dalam berbagai bidang fisika. Selama 8 tahun yang terakhir ini ia telah bekerja pada Laser Fusion Energy Project, dan terkenal di seluruh dunia dalam bidang ini karena sumbangan-sumbangannya yang bersifat teori dan usaha-usaha penetralannya.

Dalam sepucuk surat Dr Mueller menulis :

"Beberapa ilmuwan yang termasuk anggota STURP (Shroud of Turin Research Project) telah menegaskan bahwa hasil-hasil eksperimen penelitian mereka menunjukkan bahwa Kain kafan itu benar-benar telah membungkus jenazah Yesus Kristus yang tersalib itu.

Alasan utama mereka untuk menandaskan keaslian Kain Kafan tersebut didasarkan pada pernyataan bahwa gambar Kain Kafan itu hanya dapat dihasilkan melalui siatu "ledakan radiasi singkat", yang memancar dari mayat itu dan dengan cara penghangusan menera gambar jemasah itu pada kain yang menutupinya.

Kejadian yang demikian tentu saja merupakan suatu mujizat, tetapi justru itulah yang mereka perlukan untuk meneguhkan keotentikannya. Sebab tidak ada proses pembentukan gambar secara alamiah yanga kan menghasilkan gambar itu sesungguhnya adalah jenazah Yesus Kristus.

Bagaimanapun juga, pernyataan mereka tidak dapat bertahan apabila diteliti secara seksama dan nampaknya sebagian besar berdasarkan pikiran khayal belaka. Disatu segi, mereka tidak pernah membuktikan bahwa gambar Kain Kafan itu terjadi dengan cara penghangusan, walaupun memiliki beberapa sifat penghangusan, seperti misalnya warna dan daya tahan panasnya.

Zat-zat lain, yang kemungkinan telah dipakai untuk membentuk gambar itu melalui sarana seni, mempunyai sifat-sifat itu juga dan sebenarnya telah ditemukan pada gambar itu. Fakta ini saja telah menjadikan pernyataan keotentikan Kain Kafan itu kelihatannya sesuatu yang bodoh.

Lagipula, STURP tidak memperlihatkan bahwa gambar itu dipindahkan melalui ruang jenazah ke kain itu dengan memakai radiasi atau alat lain. Meskipun seluk-beluknya terlalu rumit untuk dijelaskan disini, dapat dikatakan bahwa STURP hanya sekedar membuktikan pertalian antara warna gelp gambar Kain Kafan itu dan jarak kain ke jenazah yang diukur dengan memakai seorang pria sukarelawan yang ditutupi sehelai kain.

Tetapi korelasi atau pertalian tidak menunjukkan kausallitas. Misalnya, setidak-tidaknya dalam prinsip, prosedur yang dipakai STURP untuk membangun sebuah patung 'Manusia Kain Kafan' ini dapat juga digunakan untuk merekonstruksi sebuah gambar timbul (atau patung) yang utuh dari suatu gambar jiplakan yang dihasilkan dengan menggunakan metode Joe Nickells.

Kenyataan bahwa mereka telah menghasilkan sebuah patung dari gambar Kain Kafan itu dengan menggunakan metode yang telah diuraikan untuk menghasilkan bambar itu. Khususnya, metode jiplakan itu, karena pada dasarnya dapat berubah-ubah dan dapat disesuaikan, maka ia dapat menghasilkan banyak macam gradasi suara untuk suatu gambar timbul; dan dengan cara demikian, hampir semau-maunya dapat mengubah-ubah sifat-sifat 'tiga dimensi' gambar tersebut.

Maka keduanya yang mendasari hipotesis "ledakan radiasi singkat" tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Masih terlalu dini nuntuk menegaskan keaslian Kain Kafan Turin itu, setiap pernyataan yang demikian itu tidak masuk akal.



Gambar 3 D


Satu pernyataan para pendukung Kain Kafan ini adalah bahwa gambar pada kain itu dapat direproduksi menjadi gambar 3D dengan menggunakan suatu alat yang disebut "Interpretations System YP-8 Analyzer". Alat ini dianggap dapat memindahkan katup-katup suara menjadi gambar timbul tiga dimensi dengan penyetelan yang sangat kecil.


Dr. Jackson dan Dr. Jumper mengatakan :

"Suatu alasan yang terkenal pernah diutarakan bahwa seorang seniman yang hidup sebelum abad ke 14 tidak mungkin dapat menghasilkan suatu gambar negatif yang tetap tanpa kemampuan untuk memeriksa karyanya itu melalui pembalikan fotografis.

Demikian pula kami mengajukan bahwa seorang seniman atau pemalsu yang hidup pada waktu itu tidak mungkin dapat menyajikan informasi 3 Dimensi melalui penyesuaian tingkatan intensitas karyanya sehingga seluruhnya sesuai dengan peminsahan kain-jenazah yang sebenarnya.

Guna membuktikan hal ini, kami melakukan suatu eksperimen. Kami memperoleh foto-foto lukisan Kain Kafan yang dibuat oleh dua orang seniman yang mahir. Mereka telah ditugaskan untuk meniru Kain Kafan itu dengan seteliti-telitinya.

Kemudian gambar-gambar ini kami transformasikan gambar itu menjadi gambar timbul untuk melihat seberapa telitinya masing-masing seniman telah menangkap ketiga-dimensian Kai Kafan itu serta menuangkannya kedalam lukisannya. Pada waktu itu, kedua orang seniman itu tidak tahu tentang sifat 3 Dimensi ini.

Mengubah derajat gambar timbul itu ternyata tidak menolong keadaan, sebab ketidak-normalan gambar-gambar ini hanya dapat diubah menurut perbandingan, tetapi tidak dilenyapkan sama sekali. Karena dua orang seniman mahir telah meniru dari Kain Kafan Turin itu sendiri tidak mampu menghasilkan gambar 3 Dimensi yang tanpa cacat dari Kain Kafan itu, maka kemungkinannya tipis sekali bahwa seorang seniman abad pertengahan dapat mencapai prestasi sedemikian tanpa memiliki Kain Kafan sebagai petunjuk.

Sebenarnya, kami menganggapnya sebagai suatu tantangan bagi tekhnologi abad 20 untuk menera suatu gambar 3 Dimensi yang jelas dari sesosok tubuh manusia pada sehelai kain, entah melalui karya seni atau melalui cara lain yang ada".
(dari The 1977 Research Proceedings on the Shroud of Turin, p 85).


John German, seorang rekan Dr Jackson dan Dr Jumper, menjelaskan bahwa mutu gambar itu tergantung pada caranya peralatan difokuskan :

"Sifat pertalian ini mengungkapkan adanya suatu sumber kekeliruam yang penting yang terpaut dalam konstruksi gambar 3 Dimensi Kain Kafan itu. Gambar pada kain itu terbentuk melalui proses yang menghasilkan hubungan yang tidak berupa garis lurus antara intensitas gambar dan jarak kain-jenazah.

Akan tetapi, sistem penganalisaan gambar itu menciptakan suatu gambar 3 Dimensi dimana gambar timbulnya (yang dapat disamakan dengan jarak kain-jenazah) berbeda secara linier dengan intensitasnya. Ternyata hasil praktis hubungan garis lurus ini memperlihatkan gambar yang rusak bentuknya. Jikalau gambar timbul yang diperoleh itu dikurangi agar menghasilkan gambar dengan hidung dan dahi yang realistis, maka bagian-bagian gambar yang samar-samar, sesuai dengan jarak kain-jenazah yang lebih besar, hanya sedikit menghasilkan gambar timbul atau bahkan tidak sama sekali.

Sebaliknya, kalau gambar timbul itu ditingkatkan untuk memperjelas bagian-bagian yang samar-samar, maka hidung dan dahi gambar Kain Kafan itu akan menonjol keluar dan tidak seimbang lagi"
(dari The 1977 Research Proceedings on the Shroud of Turin, p 235).


Pertanyaan disini berhubungan dengan lensa-lensa yang dipakai untuk membetulkan distorsi-distorsi suara atau suatu mesin yang sangat bergantung pada simulasi : "Apakah gambar 3D pada Kain Kafan itu begitu sempurnanya sampai-sampai boleh dianggap ajaib?"

Juga harus dipertimbangkan bahwa untuk memperoleh gambar yang diperlukan, maka dipakai satu model manusia yang kira-kira mirip dengan gambar Kain Kafan itu untuk menghubungkan jarak kain itu dengan permukaan jenazah.

Sesudah itu, kain yang menutup model itu harus diratakan (yang menghasilkan gambar yang rusak), lalu gambar jamera dijatuhkan ke atas korelasi jarak lain. Pertanyaannya ialah : Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita telah menghasilkan suatu gambar 3D dari Kain Kafan itu atau cuma gambar Kain Kafan pada manusia yang sungguh?


Dr. Marvin Mueller Ph.D. dalam Ilmu Fisika di Laboratorium Los Alamos, menyatakan :

"Kegelapan gambar yang relatif ditentukan dengan mengamati foto gambar kain Kafan itu dengan mata biasa. Selanjutnya, dibuat suatu gambar korelasi dari kegelapan gambar itu yang dibandingkan dengan jarak kain jenazah. Guna meningkatkan korelasi itu setinggi-tingginya amat banyak penyesuaian harus diadakan pada kain itu yang dikenakan dengan cara tertentu.

Korelasi terakhir hasil penyetelan itu cukup baik, dan daripadanya berhasil ditarik suatu fungsi yang menurun dengan mudah kira-kira seperti suatu eksponen. Akan tetapi, kecuali kesalahan ukuran dan penglicinan yang termasuk dalam penarikan fungsi dari data yang tersebar, yang diperoleh akhirnya hanyalah gambar timbul 3-D dari model manusia yang dipilih untuk eksperimen itu!

Ironinya ialah bahwa proses penglicinan itu sendiri menimbulkan parubahan pada gambar timbul itu, tetapi juga memberikan kemungkinan sekarang untuk melapiskan beberapa ciri gambar Kain Kafan itu ke atas gambar timbul model manusia itu.

Jai, 'patung' yang dihasilkan itu merupakan perpaduan antara ciri-ciri model manusia dengan gambar Kain Kafan – bukan sebiah patung Manusia Kain Kafan seperti yang telah dinyatakan sebelumnya.

Yang telah dikerjakan STURP adalah pembuktian bahwa korelasi yang cukup baik antara kegelapan gambar pada Kain Kafan itu dengan jarak kain-jenazah yang saling berkaitan dapat diperoleh apabila tubuh seorang pria dengan ukuran yang tepat ditutupi kain khusus yang dikenakan dengan cara tertentu. Tetapi, karena korelasi bukanlah kausalitas, maka hanya itu saja yang telah dikerjakan oleh STURP"
(dari The Los Alamos Monitor, 16 Desember 1979, p. B-6).



Noda-noda darah


Apa yang diduga sebagai noda darah yang terdapat pada dua bagian kecil dari 12 lembar benang Kain Kafan itu telah dianalisa guna mengetahui keasliannya. Sebelum pengujian yang baru-baru ini dilakukan terhadap Kain Kafan itu, para ilmuwan telah memutuskan tidak adanya bukti yang meyakinkan bahwa noda-noda darah itu memiliki ciri-ciri spektrum haemoglobin manusia. (Thomas Humber, The Sacred Shroud, p. 187)

Pengujian yang baru dilakukan pada tahun 1978 telah meyakinkan para pendukungnya bahwa "bagian-bagian yang ada noda darah itu memiliki ciri-ciri spektrum haemoglobin manusia" (SF Pellicoli, "Spectral Properties of the Shroud of Turin", Applied Optics, 15 Juni 1980, Volume 19, No. 12, pp. 1913-1920).

Namun, pokok persoalannya masih tetap ada, yakni seorang pemalsu dengan metode yang tepat sudah logis akan memakai darah manusia untuk menciptakan gambar yang se-realistis mungkin. Adanya darah atau haemoglobin pada Kain Kafan itu bukanlah merupakan bukti yang sah untuk menjamin keasliannya.



Reproduksi


Orang-orang yang mendukung teori Kain Kafan ini mengajukan berbagai bukti guna mendukung pernyataan keasliannya. Bukti-bukti itu adalah :
1. Tidak ada kuas
2. Gambar itu tidak menembus serat serat kain (semata-mata suatu gejala pada permukaan kain saja
3. Ada semacam bubuk yang diduga sebagai gaharu
4. "Fosil Serbuk" yang ditemukan pada kain itu diduga keras berasal dari zaman Kristus.

Kebanyakan hal diatas terjawab oleh suatu gambar yang timbul yang dibuat oleh John Nickell. Sebuah foto dari gambar itu dapat dilihat dalam majalah The Humanist terbitan November-December 1978 dan dalam majalah Popular Photography terbitan bulan November 1979.

Nickell menggunakan suatu tekhnik yang hanya memakai bahan-bahan dan metode-metode abad ke-14 untuk menciptakan kembali atau mereproduksi suatu gambar negatif seperti yang ditemukan pada Kain Kafan itu. Tekhnik ini menghasilkan suatu gambar negatif.

Ia tidak melukis gambarnya, melainkan memakai suatu gambar timbul. Ia meletakkan selhelai kain basah diatas gambar timbul itu. Sesudah kain itu kering, ia menggunakan suatu alat pemulas untuk menggosokkan bubuk "pigmen". Nickell menggunakan campuran mur dan gaharu. Hasilnya tidak meninggalkan bekas-bekas kuas.

Nickel menulis,

"Hasil gosokan saya, sekalipun diperiksa dengan teliti, kelihatannya terbuat tanpa "pigmen". Saya menggunakan campuran rempah-rempah untuk pemakaman, yakni mur dan gaharu. Campuran ini mereproduksi warna 'seperti hangus' serta banyak ciri lainnya.

Menarik sekali untuk mencamkan bahwa (menurut Encyclopedia Amaricana, 1978) gaharu sebenarnya 'dipakai sebagai bahan celup atau pigmen'.

Hal yang penting ialah bahwa 'pigmen' ini tidak menembus serat-serat dan tetap merupakan 'gejala pada permukaan kain' (seperti yang dikatakan mengenai pewarnaan Kain Kafan itu). Hal ini diperlihatkan dengan membuat sayatan melintang dan penelitian dengan mikroskop...

Dua orang anggota komisi rahasia Kain Kafan yang resmi (yang belakangan ini tersingkap), yang ditunjuk pada tahun 1969 untuk meneliti kain itu, mengusulkan bahwa gambar itu merupakan hasil tekhnis percetakan artistik yang menggunakan suatu model atau cetakan. Ini merupakan uraian yang cukup akurat tentang tekhnik yang saya dapati cukup berhasil.

Para pendukung Kain Kafan mempertahankan bahwa mereka tidak menemukan 'bukti pigmen' pada kain itu, walaupun menurut laporan ada bukti tentang 'bubuk' yang disebut gaharu. Mereka juga menjelaskan bahwa tidak ada goresan-goresan kuas; juga, disekitar lubang-lubang yang terbakar (karena kebakaran kapel pada tahun 1532), tidak terdapat bagian-bagian yang menjadi gelap; dan gambar itu tidak mempunyai tanda-tanda 'arah' (seperti dari goresan kuas atau sentuhan jari). Tetapi, semua ini merupakan ciri-ciri tekhnik saya!

Laporan itu memang menyebutkan penemuan bemacam-macam 'kristas' (atau 'butir-butir') kuning-merah sampai jingga dan 'percikan' tertentu yang cocok dengan mur dan gaharu. Rempah-rempah ini (yang dapat dibeli oleh seorang pemalsu pada Champagne Fair (pekan-raya) yang diadakan dua kali setahun atau pada atau pada apotik setempat) kemungkinan mengandung 'fosil serbuk' dari Timur Tengah yang diduga ada pada kain itu"
("The Shroud", Christian Life, February 1980, vol 4, No. 10 ).

Gambar negatif dari seorang juru portret memperlihatkan suatu gambar positif seperti kehidupan yang sebenarnya. Dr. Mueller berkata tentang gambar Nickell sebagai berikut :

"Joe Nickell menerangkan metode gosokannya yang menghasilkan gambar-gambar timbul. Dintinjau dari segi kualitasnya,s etidak-tidaknya, kemiripan itu menyolok, bahkan meluas sampai mencapai kedalaman perembesan warna yang mikroskopis dari benang-benangnya.

Tekhnik penggosokan, walaupun dengan suatu gambar timbul yang diberikan, dapat dengan mudah diubah-ubah dengan cara menggunakan alat memulas yang berbeda ukurannya, telanannya serta dengan cara meletakkan kain basah pada gambar timbul. Dengan perubahan-peruhanan demikian dapat dihasilkan gambar yang sama sekali berbeda sifatnya. Jadi, ciri-ciri 3-D yang diperoleh dengan cara menggosok ini dapat diubah hampir semau kita"
("Shroud : Real McCoy or Hoax?" Los Alamos Monitor, December 16, 1979).





Kain Kafan Kristus – bukti tekstual PB :


Kemungkinan besar bukti yang paling kuat yang menentang keaslian Kain Kafan itu adalah ketidak-cocokan antara prosedur pemakaman menurut Teori Kain Kafan itu dengan keterangan Perjanjian Baru mengenai pemakaman Kristus.

"Pada zaman dahulu biasanya rambut dipotong (T.B., Moed, Kat., 8b), tetapi sekarang ini hanya dicuci, dan sembilan takaran air dingin dituangkan atas jenazah itu (di beberapa tempat pada saat yang bersamaan orang mati itu ditegakkan), dan hal ini merupakan upacara penyucian keagamaan Yahudi yang sesungguhnya...

Jenazah ini tentu saja dikeringkan seluruhnya. Sementara seluruh upacara itu dijaga agar jenazah itu tetap tertutup. Perempuan yang mati harus melalui proses penyucian yang dilakukan oleh perempuan juga. Demikian juga sebaliknya jika seorang laki-laki yang mati harus melalui proses penyucian yang dilakukan oleh laki-laki juga.

Di dalam Kisah Para Rasul 9:37 terdapat suatu contoh dari zaman Perjanjian Baru mengenai seorang wanita yang dimandikan sebelum dikuburkan :


* Kisah 9:36-37
9:36 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita -- dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.
9:37 Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas.


Pada zaman dahulu juga ada kebiasaan untuk meminyaki jenazah yang sudah dimandikan dengan aneka rupa rempah-rempah harum... Kita ingat bagaimana Maria dari Bethany dicela karena memboroskan minyak narwastunya yang murni. Pada waktu itu Yesus berkata "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku".


* Yohanes 12:1-7
12:1 Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati.
12:2 Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus.
12:3 Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.
12:4 Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata:
12:5 "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?"
12:6 Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.
12:7 Maka kata Yesus: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.


Dalam Injil Yohanes juga dicatat bahwa dalam penguburan Yesus Kristus dipakai campuran minyak mur dan minyak gaharu kira-kira 50 kati beratnya :


* Yohanes 19:38-42
19:38 Sesudah itu Yusuf dari Arimatea -- ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi -- meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu.
19:39 Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya.
19:40 Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.
19:41 Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang.
19:42 Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.



Catatan :
Yusuf dari Arimatea (Anggota Majelis Besar Markus 15:43; Lukas 23:50); Nikodemus adalah Seorang Farisi, pemimpin agama Yahudi. Ayat 40 Yesus dikubur menurut cara/adat orang Yahudi.


Setelah upacara penyucian itu dilaksanakan menurut kebiasaan pada waktu itu, maka jenazah dipakaikan jubah kubur (Mishnah Sanhedrin 6.5) ... yang identik dengan sindon yang disebut dalam Perjanjian Baru (bandingkan dengan Matius 27:59) yang terdiri dari kain lenan putih bersih tanpa hiasan apapun dan harus tak bernoda.


* Matius 27:57-60
27:57 Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.
27:58 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.


27:59 Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih, KJV, And when Joseph had taken the body, he wrapped it in a clean linen cloth,
TR, και λαβων το σωμα ο ιωσηφ ενετυλιξεν αυτο σινδονι καθαρα
Translit, kai labôn to sôma ho iôsêph enetulixen auto sindoni kathara

27:60 lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.



Biasanya kain itu dibuat oleh wanita dan hanya dijelujur, tanpa simpul. Menurut pandangan beberapa orang, hal ini dilakukan untuk melambangkan bahwa pikiran orang mati itu dapat cepat larut menjadi debu ke tanah kembali (Rokeach, 316). Baik jenazah seorang pria maupun wanita tidak boleh dikenakan kurang dari tiga penutup tubuh (Dari The Jewish Quarterly Revies, vol 7, 1895, pp 260, 261).



Ada beberapa masalah yang timbul pada waktu para pendukung teori Kain Kafan itu mempelajari Perjanjian Baru :



Masalah Pertama, terdapat pertentangan mengenai kain pembungkus jenazah itu. Dari kebiasaan upacara penguburan Yahudi dan dari Perjanjian Baru jelaslah bahwa ada beberapa potong kain lenan dipakai waktu penguburan Kristus, bukan hanya sehelai kain berukuran 14 kaki, seperti Kain Kafan Turin itu.

Yohanes 20:5-7 dengan jelas menunjukkan adanya sehelai kain (tersendiri) yang dipakai untuk melilit kepala Kristus, yang terpisah dari kain pembungkus tubuh. Akan tetapi, pada Kain Kafan Turin itu tergambar seraut wajah serta keseluruhan bagian tubuh lainnya.


* Yohanes 20:5-7
20:5 Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam.
KJV, And he stooping down, and looking in, saw the linen clothes lying; yet went he not in.
TR Translit, kai parakupsas blepei keimena ta othonia ou mentoi eisêlthen

20:6 Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah,
KJV, Then cometh Simon Peter following him, and went into the sepulchre, and seeth the linen clothes lie,
TR Translit, erchetai oun simôn petros akolouthôn autô kai eisêlthen eis to mnêmeion kai theôrei ta othonia keimena

20:7 sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung.
KJV, And the napkin, that was about his head, not lying with the linen clothes, but wrapped together in a place by itself.
TR Translit, kai to soudarion ho ên epi tês kephalês autou ou meta tôn othoniôn keimenon alla chôris entetuligmenon eis ena topon



Tidak ada naskah Injil Yohanes bahasa Yunani yang menunjukkan adanya beberapa potong kain lenan yang digunakan untuk membungkus jenazah Kristus, tetapi juga kain-kain itu disebutkan : "beberapa carik kain", "kain-kain pembungkus", atau "pembalut-pembalut lenan" seperti yang dipergunakan untuk mummi.


* Yohanes 19:40
Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.
KJV, Then took they the body of Jesus, and wound it in linen clothes with the spices, as the manner of the Jews is to bury.
TR Translit, elabon oun to sôma tou iêsou kai edêsan auto othoniois meta tôn arômatôn kathôs ethos estin tois ioudaiois entaphiazein


Kain-kain lenan (jamak), Yunani : οθονιοις - othoniois, noun – dative plural neuter, dari kata "othonion" : a linen bandage -- linen clothes,


Yang lebih penting dari kata-kata yang dipakai untuk menjelaskan pemakaman Kristus dengan beberapa carik kain lenan, adalah kata "kalutto" ("jubah", 1 Raja-raja 19:13) dan "periballo" ("telekung", kejadian 38:14). Kedua kata ini dipakai dalam Septuaginta secara khusus untuk pakaian penutup badan seperti Kain Kafan itu. Akan tetapi, kata-kata tersebut tidak diketemukan dalam teks Perjanjian Baru, Ketidakmunculannya itu perlu diperhatikan.



Masalah Kedua, kisah penguburan dalam Injil Yohanes (Yohanes 19:40) memakai bentuk jamak "kain-kain lenan" (Yunani, οθονιοις- othoniois). Sebenarnya semua kitab Injil setuju bahwa tubuh Kristus "dibungkus" atau "dibalut" dengan kain.


* Matius 27:59
Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih,
KJV, And when Joseph had taken the body, he wrapped it in a clean linen cloth,
TR, και λαβων το σωμα ο ιωσηφ ενετυλιξεν αυτο σινδονι καθαρα
Translit, kai {lalu} labôn {mengambil} to {itu} sôma {jenazah} ho iôsêph {Yusuf} enetulixen {membungkus/membalut} auto {-Nya} sindoni {jubah kubur (dari lenan)} kathara {yang bersih}


* Lukas 23:53
Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat.
KJV, And he took it down, and wrapped it in linen, and laid it in a sepulchre that was hewn in stone, wherein never man before was laid.
TR, και καθελων αυτο ενετυλιξεν αυτο σινδονι και εθηκεν αυτο εν μνηματι λαξευτω ου ουκ ην ουδεπω ουδεις κειμενος
Translit Interlinear, kai {lalu} kathelôn {setelah menurunkan} auto {dia} enetulixen {membungkus/membalut} auto {-Nya} sindoni {dengan jubah kubur (dari lenan)} kai {lalu} ethêken {membaringkan} auto {Nya} en {di} mnêmati {kubur} laxeutô {yang digali di batu besar} ou {dimana} ouk ên oudepô oudeis {tidak seorangpun pernah} keimenos{dibaringkan}.


Catatan :
Membungkus/ membalut : ενετυλιξεν - enetulixen, verb - aorist active indicative - third person singular dari kata "entulisso" to entwine, i.e. wind up in -- wrap in (together).



* Markus 15:46
Yusuf pun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu.
KJV, And he bought fine linen, and took him down, and wrapped him in the linen, and laid him in a sepulchre which was hewn out of a rock, and rolled a stone unto the door of the sepulchre.
TR, και αγορασας σινδονα και καθελων αυτον ενειλησεν τη σινδονι και κατεθηκεν αυτον εν μνημειω ο ην λελατομημενον εκ πετρας και προσεκυλισεν λιθον επι την θυραν του μνημειου
Translit Interlinear, kai {lalu} agorasas {setelah membeli} sindona {jubah kubur (dari lenan)} kai {dan} kathelôn {menurunkan} auton {Dia} eneilêsen {ia membungkus/mengikat} tê sindoni {dengan lenan} kai {dan} katethêken {membaringkan} auton {Dia} en {didalam} mnêmeiô {kubur} ho {yang} ên lelatomêmenon {sudah digali} ek petras {dari batu besar} kai {lalu} prosekulisen {menggulingkan} lithon {sebuah batu} epi {ke (arah)} tên thuran {pintu} tou {itu} mnêmeiou {kubur}.


Catatan :
Membungkus/mengikat, Yunani : ενειλησεν – eneilêsen, verb - aorist active indicative - third person singular , dari kata "eneileo" to enwrap -- wrap in.


Kata kerja "entulisso", yang digunakan oleh Matius dan Lukas, berarti "membungkus" atau "membalut". Markus menggunakan kata kerja "eneileo" yang mengandung arti "membungkus" atau "mengikat". Yohanes seorang saksi mata, dengan sangat jelas menyaksikan bahwa tubuh Yesus dikapani atau dibungkus dengan kain kapan (jubah kubur) yang tebuat dari kain-kain lenan. Ia menggunakan kata kerja "deo" yang bermakna "mengikat" atau "menambatkan", yang mempunyai arti "penahanan".


* Yohanes 19:40
Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.
KJV, Then took they the body of Jesus, and wound it in linen clothes with the spices, as the manner of the Jews is to bury.
TR, ελαβον ουν το σωμα του ιησου και εδησαν αυτο οθονιοις μετα των αρωματων καθως εθος εστιν τοις ιουδαιοις ενταφιαζειν
Translit Interlinear, elabon {mereka mengambil} oun {lalu} to sôma {jenaszah} tou iêsou {Yesus} kai {dan} edêsan {membungkus/mengikat} auto {-Nya} othoniois {dengan kain-kain lenan} meta {dngan} tôn arômatôn {minyak wangi yang kental} kathôs {sama seperti} ethos {adat} estin {adalah} tois {bagi (orang2)} ioudaiois {Yahudi} entaphiazein {untuk mengubur}.

Catatan :
Membungkus/mengikat; Yunani, Εδησαν- edêsan, verb - aorist active indicative - third person, dari kata "deo" to bind (in various applications, literally or figuratively) -- bind, be in bonds, knit, tie, wind.


Maka, ditinjau dari bukti tekstual, kesimpulan yang cukup kuat dapat dibangun atas dasar pemilihan dan penempatan kata bahwa bagaimana dengan tegas sekali dijelaskan oleh Yohanes, Yesus diikat dengan beberapa carik kain lenan, dan bukan dibungkus dengan sehelai kain. Hal ini menjadi jelas melalui pemakaian kata-kata yang berkenaan dengan kain. Kata kerja yang dipakai membenarkan hal ini, apalagi kata-kata khususnya.



Masalah ketiga, tentang kain Kafan Turin ini ialah pengakuan para pendukungnya bahwa keotentikannya bergantung pada tidak dimandikannya jenazah itu. Hal ini penting karena beberapa alasan :

1. Adanya darah kering pada tubuh itu yang tidak dimandikan
2. perlu adanya keringat akibat rasa sakit yang berfungsi sebagai lensa-lensa pembias, untuk memfokuskan radiasi guna membentus gambar.


Ian Wilson mengemukakan pandangan bahwa jenazah Yesus tidak dicuci. Ia menulis demikian :

"Sementara orang mendesak bahwa pemandian mayat merupakan suatu upacara yang sudah ditetapkan yang boleh dilaksanakan sekalipun pada hari sabat. Beberapa ahli Perjanjian Baru terkemuka tidak dapat menerima pandangan ini. Bahkan juga di kalangan penafsir yang terbaikpun tidak ada keberatan yang berarti terhadap pemikiran yang mengatakan bahwa tak ada keberatan yang berarti terhadap pemikiran yang mengatakan bahwa tak ada waktu untuk memandikan tubuh Yesus sebelum hari Sabat, khususnya mengingat berbagai tuntutan berkenaan dengan upacara yang harus dipenuhi.

Ketika ternyata bahwa sesudah hari Sabat upacara inipun tidak mungkin dilaksanakan, maka dapatlah dimengerti keengganan para penulis Injil untuk menulisnya dengan terus terang. Maka hanya berdasarkan pandangan ini bahwa jenazah Yesus tidak dimandikan, dapatlah keotentikan Kain Kafan Turin itu dikuatkan"
(The Shroud of Turin, by Ia Wilson, p. 56).

Kesimpulan-kesimpulan diatas keliru. Pemikiran bahwa tidak ada waktu memandikan jenazah itu karena hari Sabat yang sudah dekat adalah sama lemahnya, sebab Kitab Suci menyatakan bahwa mereka mempunyai cukup waktu untuk meminyaki jenazah Yesus dengan 30 kilogram rempah-rempah (50kati dalam Injil Yohanes). Hal ini juga dijelaskan karena sebenarnya jenazah boleh dimandikan dan diminyaki pada hari Sabat:

"Akan tetapi, jenazah dapat dimandikan dan diminyaki pada hari Sabat, asalkan tidak ada anggota badan yang lepas dari sendinya; bantal boleh disingkirkan dari bawah kepala, dan tubuh boleh dibaringkan diatas passir supaya tidak cepat membusuk; rahang boleh juga diikat, bukan supaya dirapatkan, melainkan supaya mencegahnya turung ke bawah" (Mishnah Shabbat 33:5, from The Jewish Quarterly Revies, 1985, vol 7, p. 118 ).

Yohanes tentunya tidak akan dan tidak dapat mengatakan bahwa metode penguburan orang Yahudi telah dipatuhi jikalau jenazah itu tidak dimandikan, perhatikan lagi ayat ini :


* Yohanes 19:40
Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.
KJV, Then took they the body of Jesus, and wound it in linen clothes with the spices, as the manner of the Jews is to bury.
TR Translit, elabon oun to sôma tou iêsou kai edêsan auto othoniois meta tôn arômatôn kathôs ethos estin tois ioudaiois entaphiazein.



Rempah-rempah



Masalah keempat, dalam usaha menyesuaikan teori Kain Kafan ini ada keterangan-keterangan Perjanjian Baru mengenai penguburan Yesus Kristus ialah mengenai rempah-rempah. Untuk diminyaki maka jenazah itu harus dimandikan. Ian Wilson mengatakan sebagai berikut :

"Rasul Yohanes memberitahukan kepada kita bahwa Nikodemus (Seorang Farisi, pemimpin agama Yahudi), yang membantu Yusuf dari Arimatea, membawa campuran minyak mur dan minyak gaharu yang beratnya kira-kira 50 kati atau sekitar 30 kg. Ia juga mengatakan bahwa campuran itu dibungkus bersama dengan jenazah Yesus dalam Kain Kafan itu :


* Yohanes 19:39-40
19:39 Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya.
19:40 Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.


Sekiranya rempah-rempah ini digunakan untuk meminyaki tubuh Yesus, maka diwajibkan oleh upacara oleh upacara Yahudi dan dalam kebudayaan manapun juga untuk memandikan jenazah itu terlebih dahulu.

Seperti yang sudah nyata dalam teori Kain Kafan, jenazah Yesus tidak dimandikan. Karena rempah-rempah seberat itu akan terlalu banyak untuk perminyakan yang berlebih-lebihanpun, penjelasan yang paling mungkin ialah bahwa rempah-rempah itu merupakan lempeng-lempeng wangi-wangian yang kering, yang disusun di sekeliling jenazah itu sebagai bahan anti pembusuk"
(The Shroud of Turin, by Ia Wilson, p. 56-57).

Juga, apabila rempah-rempah itu dibubuhi pada jenazah seperti yang ditandaskan dalam kitab-kitab Injil, maka tak mungkin gambar itu berpindah ke Kain Kafan melalui radiasi seperti yang dikatakan oleh para pendukung teori Kain Kafan itu.



Kain-kain Kafan Lainnya


Banyak orang tidak mengetahui faktanya bahwa setelah Perang Salib, bermacam-macam Kain Kafan beredar di daerah Eropa abad pertengahan pada waktu yang bersamaan dengan munculnya Kain Kafan Turin. Diperkirakan ada lebih 40 "Kain Kafan asli" yang beredar. Banyak yang sampai hari inipun masih dipamerkan.



Mata Uang Logam


Ada laporan-laporan yang beredar mengenai sekeping uang logam yang berada diatas mata kanan Yesus yang bertanggal kira-kira tahun 29-32 Masehi. Pendeta Francis L. Philas, Professor Theologi di Loyola University di kota Chicago, melaporkan bahwa empat huruf Yunani, ΥΧΑΙ (u-ch-a-i) upsilon-chi-alpha-iota, yang ada pada mata uang logam itu merupakan bagian dari inskripsi "dari Kaisar Tiberius".

Menurut kami, sebagian pengarang, huruf-huruf itu seharusnya ditulis YKAI (u-k-a-i) upsilon-kappa-alpha-iota, dan orang yang telah mencetaknya demikian. Teori mengenai mata uang logam ini menimbulkan banyak pertanyaan tengang Kain Kafan. Teori yang menjelaskan pemindahan gambar ke kain itu menyatakan jenazah itu belum dimandikan, sebab keringat yang sudah kering itu diperlukan untuk memperkuat sinar-sinar itu. Lagipula, teori-teori perpindahan gambar yang bermacam-macam itu menerangkan bahwa jenazah disiapkan untuk penguburan dan karenanya belum dimabdikan. Sulit dibayangkan adanya mata uang logam diatas mata (dalam hal ini atas mata kanan), apabila jenazah itu belum dimandikan atau dipersiapkan bagi penguburannya.



Tidak ada kesaksian Perjanjian Baru


Sama-sekali tidak masuk akal bahwa para Rasul dan orang-orang Kristen pada tahun-tahun pertama tidak menyebutkan adanya sehelai kain dengan gambar Kristus yang tersalib dan yang telah bangkit itu. Sekalipun diancam kematian, mereka masih mengumumkan bahwa Kristus hidup. Mereka terus-menerus memberi kesaksian pribadi tentang penampakan diri Yesus yang telah bangkit itu meskipun dalam keadaan-keadaan yang sangat sukar. Mengingat hal ini, mungkinkah bahwa tidak seorangpun, khususnya para penulis Perjanjian Baru dan Bapak Gereja, yang pernah menyebut Kain Kafan itu dalam hubungannya dengan Kristus serta kebangkitanNya?



Kesimpulan :


Sampai sejauh ini tidak ada bukti yang mendukung keaslian Kain Kafan itu sebagai kain pembungkus jenazah Yesus.






Sumber :

- "Shroud : Real McCoy or Hoax?" Los Alamos Monitor, December 16, 1979.
- "The Shroud", Christian Life, February 1980, vol 4, No. 10
- "Shroud : Real McCoy or Hoax?" Los Alamos Monitor, December 16, 1979
- The 1977 Research Proceedings on the Shroud of Turin, p 235
- The Los Alamos Monitor, 16 Desember 1979, p. B-6
- The Shroud, oleh Wilcox, p. 171,172
- The Jewish Quarterly Revies, vol 7, 1895, pp 260, 261
- Mishnah Shabbat 33:5, from The Jewish Quarterly Revies, 1985, vol 7, p. 118
- Ia wilson The Shroud of Turin, p. 56-57.
- SF Pellicoli, "Spectral Properties of the Shroud of Turin", Applied Optics, 15 Juni 1980, Volume 19, No. 12, pp. 1913-1920
- Thomas Humber, The Sacred Shroud, p. 187
- Josh Mc Dowel & Don Steward, Jawaban Bagi Pertanyaan Orang yang Belum Percaya, p 165-179.





Blessings in Christ,
Bagus Pramono
December 14, 2006



~ Sarapan Pagi-Ilmu Pengetahuan & Sejarah ~


AddThis Social Bookmark Button