Showing posts with label Profile. Show all posts
Showing posts with label Profile. Show all posts

KESAKSIAN JUJUK SRIMULAT

Panggilan Tuhan Membuatnya takut mati

Bagi penggemar panggung komedi di tahun 80-an, pasti mengenal sosok wanita yang satu ini. Dulu, bersama Gepeng, Asmuni, Timbul, dan Tarzan, ia sering tampil di berbagai acara panggung. Nama itu terus berkibar, setelah dirinya sering didaulat berperan sebagai seorang juragan atau boss dalam setiap lakon, baik itu di televisi maupun panggung-panggung terbuka, seperti di kota Surabaya, Solo, dan Jakarta.

Nama wanita itu adalah Jujuk. Lalu apa sebenarnya yang menarik dari komedian yang satu ini? Istri tercinta pencetus sekaligus pimpinan teras Srimulat Teguh tersebut, pada tahun 2003 lalu memproklamirkan diri sebagai pengikut Kristus. Banyak orang mengenalnya, tetapi sedikit yang tahu kalau dirinya sekarang jadi kristen. Kepada GAHARU wanita yang selalu tampil ayu bak putri Solo ini berkisah dan menuturkan bagaimana proses pengenalannya terhadap Kristus.

Eksistensi Srimulat dalam perjalanannya memang mengalami pasang surut, bahkan sempat vakum dalam kurun waktu yanhg cukup lama. Kehadirannya kembali berkibar sekitar tahun 90-an, ketika salah satu stasiun televisi swasta mengontrak grup ini dalam acara panggung srimulat di indosiar. Sepeninggal Teguh yang dipanggil Tuhan beberapa tahun silam, jujuk memutuskan menikah kembali dengan seorang perjaka. "Maaf namanya tak usah disebut ya," pintanya sambil tersenyum. Dalam pernikahan yang diharapkan akan menuai kebahagian, seperti yang direguknya bersama Teguh dulu, ternyata jauh panggang dari api. Malah sering terjadi kesalahpahaman yang ujung-ujungnya terjadi pertengkaran. "Rumah tangga saya bagaikan neraka," tandasnya.

Dengan berbagai persoalan yang begitu pelik itulah membuat fisik dan mental ibu empat orang anak ini lemah. "Saya tertekan, bahkan tak kuasa menahannya. Kejadian ini saya rasakan saat manggung bareng bersama pelantun tembang-tembang campur sari, Didik Kempot. Sampai dirumah tubuh saya limbung dan gelap sekali. Saya benar-benar rapuh. Dalam kegelapan itu saya mencoba memanjatkan doa permohonan sesuai dengan kepercayaan saya dulu. Tiba-tiba saya mendengar panggilan dalam bahasa jawa "Muliho-muliho" artinya pulanglah-pulanglah. Mendengar panggilan itu saya ketakutan luar biasa. Sebab yang saya pahami dari nenek moyang saya dulu, pulang itu bisa berarti dipanggil Tuhan alias meninggal. Inilah yang membuat saya takut luar biasa. Jujur saja saya belum siap kalau Tuhan panggil. Maka secara spontan saya mengajukan permohonan kepada Tuhan, jangan Kau panggil saya sekarang Tuhan, karena saya belum siap mati. Tetapi suara itu tetap terdengar bahkan sampai tiga kali. Nah pada panggilan ketiga, suara itu menambahkan supaya saya pulang dengan membawa semua barang-barang saya yang ketika itu dikuasai oleh suami kedua saya ini. Disinilah saya meyakini bahwa panggilan pulang itu supaya saya kerumah dulu dan membawa barang-barang saya, Saya meyakini bahwa itu adalah suara Tuhan," jelasnya.

Minta didoakan

Dengan sisa tenaga yang masih ada, Jujuk segera pulang ke rumahnya. Seperti perintah yang diyakini sebagai suara Tuhan, ia mengambil dan membawa serta barang-barang berharga miliknya. "Sebenarnya barang-barang itu juga hasil jerih lelah saya selama ini. Saya semakin yakin itu suara Tuhan, seminggu setelah saya mendapatkan kabar ada masalah dengan orang yang bersengketa dengan saya. Dari situlah saya menyadari bahwa Tuhan itu memang baik. Karenanya saya minta keempat anak saya untuk mendoakan. Sebab mereka sudah terima Yesus terlebih dahulu. Awalnya mereka kaget. "Mama tahu kan apa doa saya?" tanya mereka. Lalu saya katakan saya tahu, tetapi tolong mama didoakan. Sewaktu didoakan itulah saya menangis sejadi-jadinya dan bicara tidak karuan. Sekarang saya baru tahu kalau yang saya alami itu adalah bahasa Roh. Saya mengerti apa yang saya katakan, tetapi anak-anak dan hamba Tuhan yang mendoakan waktu itu sama sekali tidak tahu apa maksud kata-kata saya itu. Sejak itulah, saya memutuskan untuk menerima Yesus, bahkan sekarang aktif di GBI Keluarga Allah Solo, dan pelayanan secara Oikumene," kisahnya.

Ternyata hanya di dalam namaNyalah ada kelegaan. Melalui peristiwa inilah segala beban berat yang ada dalam dirinya terangkat. Dan yang lebih dasyat lagi, Tuhan meminta untuk mengampuni orang yang bermasalah dengannya. "Jujur itu sangat berat, sebab orang seperti itu tak layak mendapat pengampunan. Selama satu tahun saya bergumul untuk bisa mengampuninya. Dan luar biasa akhirnya saya bisa melakukannya," ujarnya. Setelah menerima Yesus. Mujizat demi mujizat terjadi dalam hidup saya, "Rasanya saya sampai tidak bisa bercerita mukjizat yang saya alami satu persatu karena saking banyaknya, wis kalau mau tahu lebih banyak mujizat yang saya alami datang ke Solo saja nanti pasti saya akan bercerita banyak", tukasnya dengan gaya Srimulatnya.



~ elia stories ~






AddThis Social Bookmark Button

JOHANN GOTTLIEB SCHWARZ

Rasul Di Tanah Minahasa


Nederlandsch Zendeling Genootscahp (NZG) adalah sebuah organisasi misi kebangunan rohani yang berkedudukan di Rotterdam, Belanda. Schwarz yang lahir di Jerman tanggal 21 April 1800 ini tergabung di dalamnya atas permintaan pembimbingnya di sekolah misi Berlin. Tempat ia belajar berbagai hal selama 5 tahun mulai dari ilmu eksakta, bahasa Inggris, Latin, Yunani, Ibrani, dogmatika, homilitika, musik, melukis, pastoral praktis bahkan memasak.

Bulan November 1829, ketika Schwarz berusia hampir 30 tahun, ia berangkat berlayar menuju Tanah Minahasa, Sulawesi Utara. Oleh NZG ia diminta untuk mengupayakan pendidikan bagi tenaga-tenaga pribumi untuk memberitakan Injil. Bukan dengan cara menyebarluaskan perbedaan konvensi, melainkan ‘kekristenan dalam hati’. Salah satu hal pokok yang ditekankan NZG adalah mengenai pembaptisan. Ketulusan dan keyakinan seorang calon baptisan harus menjadi kriteria utama dalam pembaptisan yang akan dilaksanakan oleh Schwarz.

Bulan Juni 1831, Schwarz bersama rekannya JF. Reidel tiba di Manado. Di sini era pembangunan jemaat Kristen telah dimulai. Residen penguasa setempat mengantarkan Schwarz ke tempat yang dipilihnya yaitu Kakas dan kemudian menetap di Langoan. Dalam melaksanakan tugas memberitakan Injil, Schwarz memakai metode yang sangat sederhana. Ia menggunakan kata-kata yang hidup dalam masyarakat tanpa bentuk-bentuk tertentu, tanpa catatan dan tanpa buku-buku. Ia mengajarkan Injil melalui bahasa yang bisa dipahami masyarakat setempat, dan karena pembawaannya yang ramah ia mampu mengadakan pendekatan pada mereka.

Setelah beberapa tahun di ladang misi, Schwarz mulai melirik pembangunan sekolah. Untuk mewujudkan hal ini, ia mengajak jemaat untuk membangun sekolah Kristen dan sekolah Alifuru khusus bagi yang belum menerima Injil. Rencana ini terwujud dengan baik berkat kerja sama dengan pemerintah waktu itu. Di kemudian hari sekolah Alifuru berubah menjadi sekolah zending. Dari situlah cahaya penginjilan bersinar sehingga para orangtua turut mengikutinya.

Pada tahun 1839, Schwarz menikah dengan Constans yang belakangan banyak membantunya dalam mempelajari bahasa Minahasa. Selain melayani di daerah tempat tinggalnya di Langoan, ia juga sering memberitakan Injil ke daerah-daerah lain, mendirikan sekolah, mengajar keterampilan dan kesehatan. Selain ke Manado, Kema dan Likupang bagian Utara, ia juga sampai ke pesisir Selatan seperti Belang Ratahan. Di mana-mana ia berusaha mendirikan sekolah. Walau ia tidak terlalu pandai mengatur organisasi, tetapi ia memiliki jiwa yang besar dalam misi pelayanannya. Ia mengembara tidak henti-hentinya. Schwarz begitu sibuk dan selalu memikirkan pembentukan jemaat serta kebutuhannya termasuk gedung sekolah dan gereja, penataan dan penyusunan peraturan jemaat.

Schwarz banyak mendirikan jemaat dan ia adalah penginjil pertama yang mengangkat jabatan Penatua dan Diaken. Hal ini dilakukan Schwarz demi untuk kemandirian jemaat. Cara tersebut lalu ditiru oleh misionaris lain dan sampai sekarang pun jabatan gerejawi itu masih berlaku di Tanah Minahasa. Di samping itu untuk mempermudah penilikan jemaat, ia mengangkat pembantu penginjil untuk masing-masing daerah. Tugas yang diberikannya adalah berkeliling mengunjungi jemaat, memberikan pendidikan, berkhotbah serta memonitor perkembangan keadaan jemaat.

Schwarz dan Reidel adalah dua orang pelopor yang meletakkan dasar yang cukup kuat bagi jemaat-jemaat di Minahasa. Dalam 10 tahun pertama pelayanan mereka, sekalipun Reidel lebih berhasil dalam jumlah membaptis orang, namun dalam mendirikan jemaat dan sekolah termasuk luasnya wilayah pelayanan Schwarz jauh melebihi pelayanan Reidel. Inilah hal yang paling menonjol dalam pelayanan Schwarz di samping keberhasilannya mengajarkan keterampilan teknik pertukangan, pertanian, kesehatan, dan membangun peradaban yang baik di Tanah Minahasa.


~ elia stories ~




AddThis Social Bookmark Button

Kesaksian dari Pemeran Yesus di film The Passion

THE PASSION OF JIM CAVIEZEL

Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of Jesus Christ”. Ini Kesaksiannya,…

JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN-PERAN KECIL DALAM FILM-FILM YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA (SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL “THE THIN RED LINE”. ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.

Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya.
Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.

“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda."

Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.

Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film-film lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.

Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di Hollywood.

Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood. Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.

Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?”

Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”.

Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!

Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banya referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.

Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini.

Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.

Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya.

Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.

Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.

Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan.

Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga.

Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu.

Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini.

Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm.

Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan. Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyekit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan ke adegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa.
Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia.

Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya.

Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar.

Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang. Dan sayapun tidak sadarkan diri.

Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!”.

“Apa yang telah terjadi?” Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.

Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan”? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri.

Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.

Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.


(Artikel dikirim oleh Debbie Kusumah)



AddThis Social Bookmark Button

Kiai Sadrach Sang Pejuang Iman

Anda belum pernah mendengar nama ini? Beliau adalah salah satu pelopor kekristenan di tanah Jawa.

Ajaran Kiai Sadrach mengundang kontroversi khususnya di kalangan gereja Belanda. Namun upayanya untuk memperkenalkan Kristus kepada bangsanya tidak perlu diragukan. Apa yang bisa kita pelajari dari sosok sederhana ini?

Suatu hari, seorang pria Jawa sederhana yang masih berusia 35 tahun dan baru saja menjadi Kristen mendengar suara yang memerintahkannya untuk meninggalkan tanah yang telah digarapnya. Ia begitu berduka. Sesudah membuka hutan di Bondo dengan susah payah, ternyata ia harus meninggalkan hasil jerih payahnya. Tetapi ia merasa harus mengikuti perintah itu. Ketika berangkat, beberapa kali ia menoleh dan melihat apa yang harus ditinggalkannya dan menangis...

Pertemuan dengan Kristus
Pria itu berangkat ke Purworejo. Kelak ia menjadi "rasul" yang mencatat sejarah kekristenan di tanah Jawa, meskipun dengan silang pendapat penuh kontroversi. Ia telah menjangkau banyak jiwa, jauh melebihi prestasi para misionaris Belanda. Tetapi ia juga dituduh sebagai sumber sinkretisme antara nilai Kristen dan kejawen (ritual tradisi Jawa). Bagi orang Jawa, ia seperti guru bahkan ada yang menganggapnya Ratu Adil di tanah Jawa. Sedangkan bagi para misionaris, dia adalah kiai Jawa yang ambisius dan gila hormat. Ya... dia adalah Kiai Sadrach.Radin. Itulah nama sebenarnya Sadrach. Terlahir sekitar tahun 1835 sebagai anak petani miskin di Kawedanan Jepara (mungkin di Demak), bagian utara Jawa Tengah.

Radin kecil pernah hidup mengemis. Hingga ada keluarga Muslim kaya, yang mengangkatnya anak dan membesarkannya menurut tradisi Islam Jawa. Radin pun mendapat pendidikan di sekolah agama, disamping ngenger (mengabdi) pada keluarga tersebut. Tampaknya Radin memang tertarik dengan hal-hal spiritual sehingga banyak melakukan ziarah spiritual un-tuk meningkatkan ilmunya. Di Semarang, ia belajar pada seorang guru ngelmu bernama Kurmen atau Sis Kanoman. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya dari pesantren ke pesantren. Dalam hal kemampuan spiritual, Radin bukanlah orang sembarangan. Ia mampu mengaji, menulis pegon (bahasa Jawa yang ditulis dengan aksara Arab yang diadaptasikan dengan fonetik Jawa) serta membaca dan menulis dengan aksara Jawa. Nama "Abas" yang berbau Arab pun ditambahkan di belakang namanya sebagai tanda bahwa Radin Abas bukan orang biasa. Ia memang guru ngelmu yang patut disegani. Tetapi tingginya ngelmu tiada sebanding dengan kuasa Kristus.

Pertemuannya dengan bekas gurunya, Pak Kurmen menjadi titik balik sejarah imannya. Pak Kurmen ternyata telah menjadi milik Kristus melalui penginjilan Kiai Kristen Tunggul Wulung. Pak Kurmen memperkenalkan Radin Abas kepada Tunggul Wulung dan Radin Abas pun tunduk menyerah kepada 'ilmu yang tertinggi' ini. Tunggul Wulung membawa Radin Abas ke Batavia untuk menemui Mr. Anthing, pejabat tinggi Belanda (wakil Mahkamah Agung). Di sana Radin Abas mendapat pengajaran tentang kekristenan selama dua tahun. Pada 14 April 1867, Radin Abas dibaptis oleh Pendeta Ader. Sang guru ngelmu telah tunduk di bawah kuasa Kristus dan berganti nama Sadrach.

Rasul Pribumi
Sadrach sempat tinggal di sebuah desa Kristen baru bernama Bondo. Desa ini dibuka oleh Tunggul Wulung. Sadrach bersama Sis Kanoman mengelola desa tersebut karena ditinggal berdakwah oleh Tunggul Wulung untuk mencari pengikut yang mau tinggal di desa baru tersebut. Namun sekembalinya Tunggul Wulung, Sadrach mendengar suara "panggilan" Tuhan untuk pergi dan menyerahkan segala hasil jerih payahnya kepada Tunggul Wulung. Ia pergi ke Purworejo dan diterima oleh keluarga Philips.

Bagaikan Rasul Paulus yang bertobat dan mempersembahkan segenap kemampuannya, Sadrach pun menggunakan kemampuan dan pengalamannya untuk mewartakan kerajaan-Nya. Pengetahuan Sadrach jauh melebihi yang dimiliki orang-orang Jawa pada masa itu. Ia menguasai tiga bahasa yaitu Jawa, Melayu, dan Arab. Ia juga dapat menulis dalam empat aksara yakni Jawa, Arab, pegon, dan Latin. Selain mempelajari dua agama, Islam dan Kristen, Sadrach juga ngelmu Jawa. Pengalamannya pun cukup luas. Ia telah mengelilingi Pulau Jawa melihat berbagai desa Kristen sebagai model dan dekat dengan orang-orang besar Eropa seperti Anthing, wakil Mahkamah Agung. Kini saatnya Sadrach mempersembahkan segala kemampuannya bagi Tuhan untuk mewartakan Injil, "Ilmu yang Tertinggi".

Sadrach menunjukkan tugasnya sebagai "rasul" dengan memilih tinggal di Karangyoso, yang oleh penduduk sekitar dianggap angker dan dihuni oleh roh-roh jahat. Sadrach secara tidak langsung telah memperlihatkan kepada penduduk bahwa "ilmu baru" sang kiai telah mengalahkan setan, hantu, dan jin. Selain itu Sadrach selalu berjalan mengunjungi guru-guru (kiai) yang terkemuka di daerah itu serta berusaha meyakinkan mereka akan kepercayaan Kristen. Banyak guru beserta seluruh muridnya menyerah kalah melawan "ilmu" Kiai Sadrach. Mereka bersedia bertobat dan mau belajar tentang "ilmu" ini. Murid-murid baru tersebut kemudian dibawa oleh Sadrach kepada Nyonya Philips untuk mendapat pelajaran agama Kristen (Pengakuan Iman, Doa Bapa Kami, Sepuluh Perintah Allah) lebih mendalam dan dibaptis oleh pendeta dari Gereja Protestan (Indische Kerk). Sadrach sendiri tidak pernah membaptis orang dan memimpin sakramen. Ia hanya menjadikan mereka pengikut Kristus kemudian menyerahkan sepenuhnya kepada Nyonya Philips.

Melalui Sadrach gerakan kekris-tenan mengalami kemajuan luar biasa, bahkan melebihi usaha para misionaris. Lambat laun jumlah orang Kristen Jawa telah melampaui orang Kristen Belanda di Gereja Purworejo. Sayangnya, kerenggangan sentimen ras mulai timbul. Antipati masyarakat Belanda terhadap orang Kristen Jawa semakin terasa. Apalagi dalam kehidupan jemaat Kristen Sadrach masih ditemukan beberapa ritual tradisi Jawa.

Perselisihan
Kematian Nyonya Philips menjadi titik balik hubungan orang-orang Belanda dengan Kiai Sadrach. Orang Belanda memandang Sadrach hanya sebagai pembantu keluarga Philips. Seluruh pertambahan jemaat dianggap hasil kerja keras keluarga Philips. Oleh karena itu gereja menuntut hegomoni atas jemaat-jemaat Sadrach. Kematian Nyonya Philips yang menjadi benang penghubung antara orang Kristen Jawa dan Eropa terputus sama sekali.

Beberapa usaha pemulihan kerjasama pun selalu gagal karena pihak Belanda tidak mau memandang Sadrach sederajad dengan mereka. Rasisme menakdirkan Sadrach dengan cara apa pun harus tunduk terhadap gereja Protestan. Adalah Wilhelm, misionaris Belanda yang mau bekerja sama dengan Sadrach. Ia rela "duduk bersama Sadrach" dan mulai memahami keunikan jemaat Sadrach. Di mata jemaat Sadrach, Wilhelm dianggap sebagai pendeta yang membantu Sang Kiai.

Tetapi, di sisi lain, ia terasing dan diabaikan dari komunitas gereja Belanda.Sadrach juga semakin disudutkan dengan berbagai tema dogmatis. Ia dianggap melakukan sinkretisme antara Kristen dan kejawen serta tidak mengerti hakikat ortodoksi kekristenan. Tuduhan yang paling parah lagi adalah Sadrach menganggap dirinya sebagai Ratu Adil. Ia dianggap sebagai Kristus atau konsep Ratu Adil yang akan datang. Gencarnya berbagai isu miring tentang Sadrach membuat NGZV melakukan penyelidikan (tanpa wawancara langsung kepada Sadrach). Pada tahun 1891 dikeluarkan pernyataan bersama para misionaris untuk memisahkan diri dari jemaat Sadrach. Purna sudah hubungan orang-orang Kristen Eropa dengan orang Kristen Jawa.

Berjuang sendiri
Gereja Sadrach pada akhirnya berjalan sendiri. Selama tiga puluh tahun (1894-1924) Sadrach telah berperan menjadi pendeta dan mulai memimpin sakramen perjamuan kudus. Seiring perubahan strategi misi, yaitu dari perkebunan di pedesaan bergeser ke arah pendidikan (sekolah) dan kesehatan (rumah sakit) di perkotaan, jemaat Sadrach pun mulai surut. Sadrach semakin terasing dan secara praktis kembali kepada tradisi kiai, yaitu menjadi guru spiritual, dihormati dan ditakuti namun hidup dengan pengikutnya dalam jagad kecil yang tertutup.

Pada malam 14 November 1924, Sadrach menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 89 tahun. Putra angkatnya, Yotham diangkat sebagai pengganti, namun jemaat semakin melemah sedangkan Yotham tidak memiliki kharisma Sadrach. Jemaat mulai tercerai berai. Ada yang bergabung dengan misi (zending), ada yang tetap mempertahankan semangat mandiri kerasulan. Ada pula yang melebur dengan gereja Katolik. Berakhirlah sepenggal kisah sejarah perjumpaan Jawa dan Eropa yang gagal akibat kekristenan tidak mau mendengar kebudayaan. Betapa pun banyak tuduhan buruk tentang Sadrach, Wilhelm telah meninggalkan catatan tertulis tentang pengakuan Sadrach, "Aku adalah abdi Tuhan Yesus Kristus. Beliau adalah Perantara dan Guruku" .




~ Jawaban.com ~




AddThis Social Bookmark Button

Evangelist Reinhard Bonnke

Evangelist Reinhard Bonnke dikenal karena pelayanan penginjilannya yang luar biasa di seluruh benua Afrika. Merupakan anak dari seorang pastor di Jerman, Reinhard memberikan hidupnya bagi Tuhan di usia 9 tahun, dan mendengar panggilannya untuk ladang misi sebelum ia beranjak remaja. Setelah menyelesaikan pendidikan theologianya di Bible College, Wales, Reinhard menjadi pastor di Jerman selama tujuh tahun dan kemudian memulai pelayanan misinya di Afrika Selatan. Di sana, di sebuah bukit kecil di Lesotho, Tuhan memperlihatkan hati-Nya atas Afrika dan Reinhard mendapatkan penglihatan bagaimana darah Yesus yang berharga itu membasuh seluruh benua Afrika, dari Cape Town ke Kairo, dari Dakar ke Djibouti. Seluruh Afrika butuh untuk dijangkau dan mendengar proklamasi penyelamatan itu - mengikuti Injil.

Reinhard mengawali kebaktiannya di tenda dengan kapasitas hanya 800 orang. Tapi kemudian berkembang dengan cepat sampai akhirnya di tahun 1984, Reinhard memimpin pembangunan tenda dengan kapasitas 34.000 orang. Tidak lama kemudian, pelayanannya terus berkembang sampai akhirnya Reinhard mengadakan kebaktian di lapangan terbuka dengan mengumpulkan 150.000 orang. Semenjak saat itu, Reinhard telah memimpin kebaktian yang dihadiri 1,6 juta orang. Reinhard menggunakan menara sound sistem yang bisa di dengar bermil-mil jauhnya.

Saat ini telah lebih dari 30 tahun semenjak Reinhard Bonnke mendirikan pelayanan internasionalnya ‘Christ for all Nations' (CfaN), yang memiliki kantor cabang di Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Inggris, Afrika, Singapura dan Amerika Selatan.

Sejak permulaan milenium baru, Reinhard telah menjadi bintang tamu di sebagian besar even di Afrika dan bagian lain dari dunia dengan tujuan melihat 100 juta jiwa menerima Yesus di dekade ini. Dan sampai saat ini 42 juta orang telah meresponi panggilan Injil. CfaN juga menjadi sponsor aktif "Global Pastor's Network", pergerakan interdenominasi seluruh dunia yang memiliki visi untuk menjangkau 1 milyar jiwa dan menanam 5 juta gereja di seluruh dunia selama 10 tahun ke depan.




~ Jawaban.com ~






AddThis Social Bookmark Button