Showing posts with label Kesaksian. Show all posts
Showing posts with label Kesaksian. Show all posts

KESAKSIAN JUJUK SRIMULAT

Panggilan Tuhan Membuatnya takut mati

Bagi penggemar panggung komedi di tahun 80-an, pasti mengenal sosok wanita yang satu ini. Dulu, bersama Gepeng, Asmuni, Timbul, dan Tarzan, ia sering tampil di berbagai acara panggung. Nama itu terus berkibar, setelah dirinya sering didaulat berperan sebagai seorang juragan atau boss dalam setiap lakon, baik itu di televisi maupun panggung-panggung terbuka, seperti di kota Surabaya, Solo, dan Jakarta.

Nama wanita itu adalah Jujuk. Lalu apa sebenarnya yang menarik dari komedian yang satu ini? Istri tercinta pencetus sekaligus pimpinan teras Srimulat Teguh tersebut, pada tahun 2003 lalu memproklamirkan diri sebagai pengikut Kristus. Banyak orang mengenalnya, tetapi sedikit yang tahu kalau dirinya sekarang jadi kristen. Kepada GAHARU wanita yang selalu tampil ayu bak putri Solo ini berkisah dan menuturkan bagaimana proses pengenalannya terhadap Kristus.

Eksistensi Srimulat dalam perjalanannya memang mengalami pasang surut, bahkan sempat vakum dalam kurun waktu yanhg cukup lama. Kehadirannya kembali berkibar sekitar tahun 90-an, ketika salah satu stasiun televisi swasta mengontrak grup ini dalam acara panggung srimulat di indosiar. Sepeninggal Teguh yang dipanggil Tuhan beberapa tahun silam, jujuk memutuskan menikah kembali dengan seorang perjaka. "Maaf namanya tak usah disebut ya," pintanya sambil tersenyum. Dalam pernikahan yang diharapkan akan menuai kebahagian, seperti yang direguknya bersama Teguh dulu, ternyata jauh panggang dari api. Malah sering terjadi kesalahpahaman yang ujung-ujungnya terjadi pertengkaran. "Rumah tangga saya bagaikan neraka," tandasnya.

Dengan berbagai persoalan yang begitu pelik itulah membuat fisik dan mental ibu empat orang anak ini lemah. "Saya tertekan, bahkan tak kuasa menahannya. Kejadian ini saya rasakan saat manggung bareng bersama pelantun tembang-tembang campur sari, Didik Kempot. Sampai dirumah tubuh saya limbung dan gelap sekali. Saya benar-benar rapuh. Dalam kegelapan itu saya mencoba memanjatkan doa permohonan sesuai dengan kepercayaan saya dulu. Tiba-tiba saya mendengar panggilan dalam bahasa jawa "Muliho-muliho" artinya pulanglah-pulanglah. Mendengar panggilan itu saya ketakutan luar biasa. Sebab yang saya pahami dari nenek moyang saya dulu, pulang itu bisa berarti dipanggil Tuhan alias meninggal. Inilah yang membuat saya takut luar biasa. Jujur saja saya belum siap kalau Tuhan panggil. Maka secara spontan saya mengajukan permohonan kepada Tuhan, jangan Kau panggil saya sekarang Tuhan, karena saya belum siap mati. Tetapi suara itu tetap terdengar bahkan sampai tiga kali. Nah pada panggilan ketiga, suara itu menambahkan supaya saya pulang dengan membawa semua barang-barang saya yang ketika itu dikuasai oleh suami kedua saya ini. Disinilah saya meyakini bahwa panggilan pulang itu supaya saya kerumah dulu dan membawa barang-barang saya, Saya meyakini bahwa itu adalah suara Tuhan," jelasnya.

Minta didoakan

Dengan sisa tenaga yang masih ada, Jujuk segera pulang ke rumahnya. Seperti perintah yang diyakini sebagai suara Tuhan, ia mengambil dan membawa serta barang-barang berharga miliknya. "Sebenarnya barang-barang itu juga hasil jerih lelah saya selama ini. Saya semakin yakin itu suara Tuhan, seminggu setelah saya mendapatkan kabar ada masalah dengan orang yang bersengketa dengan saya. Dari situlah saya menyadari bahwa Tuhan itu memang baik. Karenanya saya minta keempat anak saya untuk mendoakan. Sebab mereka sudah terima Yesus terlebih dahulu. Awalnya mereka kaget. "Mama tahu kan apa doa saya?" tanya mereka. Lalu saya katakan saya tahu, tetapi tolong mama didoakan. Sewaktu didoakan itulah saya menangis sejadi-jadinya dan bicara tidak karuan. Sekarang saya baru tahu kalau yang saya alami itu adalah bahasa Roh. Saya mengerti apa yang saya katakan, tetapi anak-anak dan hamba Tuhan yang mendoakan waktu itu sama sekali tidak tahu apa maksud kata-kata saya itu. Sejak itulah, saya memutuskan untuk menerima Yesus, bahkan sekarang aktif di GBI Keluarga Allah Solo, dan pelayanan secara Oikumene," kisahnya.

Ternyata hanya di dalam namaNyalah ada kelegaan. Melalui peristiwa inilah segala beban berat yang ada dalam dirinya terangkat. Dan yang lebih dasyat lagi, Tuhan meminta untuk mengampuni orang yang bermasalah dengannya. "Jujur itu sangat berat, sebab orang seperti itu tak layak mendapat pengampunan. Selama satu tahun saya bergumul untuk bisa mengampuninya. Dan luar biasa akhirnya saya bisa melakukannya," ujarnya. Setelah menerima Yesus. Mujizat demi mujizat terjadi dalam hidup saya, "Rasanya saya sampai tidak bisa bercerita mukjizat yang saya alami satu persatu karena saking banyaknya, wis kalau mau tahu lebih banyak mujizat yang saya alami datang ke Solo saja nanti pasti saya akan bercerita banyak", tukasnya dengan gaya Srimulatnya.



~ elia stories ~






AddThis Social Bookmark Button

BEBERAPA CATATAN DARI ISRAEL

(Oleh : Luthfi Assyaukani - Paramadina Mulia Jakarta)

Saya baru saja melakukan perjalanan ke Israel. Banyak hal berkesan yang saya dapatkan dari negeri itu, dari soal Kota Tua yang kecil namun penuh memori konflik dan darah, Tel Aviv yang cantik dan eksotis, hingga keramahan orang-orang Israel. Saya kira, siapapun yang menjalani pengalaman seperti saya akan mengubah pandangannya tentang Israel dan orang-orangnya.

Ketika transit di Singapore, seorang diplomat Israel mengatakan kepada saya bahwa orang-orang Israel senang informalities dan cenderung rileks dalam bergaul. Saya tak terlalu percaya dengan promosinya itu, karena yang muncul di benak saya adalah tank-tank Israel yang melindas anak-anak Palestina (seperti kerap ditayangkan oleh CNN and Aljazira). Tapi, sial, ucapan diplomat itu benar belaka. Dia bukan sedang berpromosi. Puluhan orang yang saya jumpai dari sekitar 15 lembaga yang berbeda menunjukkan bahwa orang-orang Israel memang senang dengan informalities dan cenderung bersahabat.

Saya masih ingat dalam sebuah dinner, seorang rabbi mengeluarkan joke-joke terbaiknya tentang kegilaan orang Yahudi. Dia mengaku mengoleksi beberapa joke tapi kalah jauh dibandingkan Gus Dur yang katanya "more jewish than me." Dalam jamuan lunch, seorang diplomat Israel berperilaku serupa, membuka hidangan dengan cerita jenaka tentang persaingan orang Yahudi dan orang Cina.

Tentu saja, informalities adalah satu bagian saja dari cerita tentang Israel. Pada satu sisi, manusia di negeri ini tak jauh beda dengan tetangganya yang Arab: hangat, humorous, dan bersahabat. Atau semua budaya Mediteranian memang seperti itu? Tapi, pada sisi lain, dan ini yang membedakannya dari orang-orang Arab: kecerdasan orang-orang Israel di atas rata-rata manusia. Ini bukan sekadar mitos yang biasa kita dengar. Setiap 2 orang Israel yang saya jumpai, ada 3 yang cerdas. Mungkin ini yang menjelaskan kenapa bangsa Arab yang berlipat jumlahnya itu tak pernah bisa menandingi Israel.

Kecerdasan itu seperti kecantikan. Ia memancar dengan sendirinya ketika kita bergaul dengan seseorang. Tidak yang laki-laki, tidak yang perempuan, semua orang Israel yang saya ajak bicara memancarkan kesan itu. Patutlah bahwa sebagian peraih nobel dan ilmuwan sosial besar adalah orang-orang Yahudi.

Yang membuat saya terkesima adalah bahwa orang-orang Israel, paling tidak para pejabat, pemikir, budayawan, diplomat, penulis, dan profesional, yang saya jumpai, semuanya lancar dan fasih berbahasa Arab. Mereka senang sekali mengetahui bahwa saya bisa berbahasa Arab. Berbahasa Arab semakin membuat kami merasa akrab. Belakangan baru saya ketahui bahwa bahasa Arab adalah bahasa formal/resmi Israel. Orang Israel boleh menggunakan dua bahasa, Ibrani dan Arab, di parlemen, ruang pengadilan, dan tempat-tempat resmi lainnya.

Kebijakan resmi pemerintah Israel ini tentu saja sangat cerdas, bukan sekadar mengakomodir 20 persen warga Arab yang bermukim di Israel. Dengan menguasai bahasa Arab, orang-orang Israel telah memecah sebuah barrier untuk menguasai orang-orang Arab. Sebaliknya, orang-orang Arab tak mengerti apa yang sedang dibicarakan di Israel, karena bahasa Ibrani adalah bahasa asing yang bukan hanya tak dipelajari, tapi juga dibenci dan dimusuhi. Orang-orang Israel bisa bebas menikmati televisi, radio, dan surat kabar dari Arab (semua informasi yang disampaikan dalam bahasa Arab), sementara tidak demikian dengan bangsa Arab.

Bahwa Israel adalah orang-orang yang serius dan keras, benar, jika kita melihatnya di airport dan kantor imigrasi. Mereka memang harus melakukan tugasnya dengan benar. Di tempat2 strategis seperti itu, mereka memang harus serius dan tegas, kalau tidak bagaimana jadinya negeri mereka, yang diincar dari delapan penjuru angin oleh musuh-musuhnya.

Saya sangat bisa memahami ketegasan mereka di airport dan kantor-kantor imigrasi (termasuk kedubes dan urusan visa). Israel dibangun dari sepotong tanah yang tandus. Setelah 60 tahun merdeka, negeri ini menjadi sebuah surga di Timur Tengah. Lihatlah Tel Aviv, jalan-jalannya seperti avenues di New York atau Sydney. Sepanjang pantainya mengingatkan saya pada Seattle atau Queensland. Sistem irigasi Israel adalah yang terbaik di dunia, karena mampu menyuplai jumlah air yang terbatas ke ribuan hektar taman dan pepohonan di sepanjang jalan.

Bangsa Israel akan membela setiap jengkal tanah mereka, bukan karena ada memori holocaust yang membuat mereka terpacu untuk memiliki sebuah negeri yang berdaulat, tapi karena mereka betul-betula bekerja keras menyulap ciptaan Tuhan yang kasar menjadi indah dan nyaman didiami. Mereka tak akan mudah menyerahkan begitu saja sesuatu yang mereka bangun dengan keringat dan darah. Setiap melihat keindahan di Israel, saya teringat sajak Iqbal:

Engkau ciptakan gulita
Aku ciptakan pelita
Engkau ciptakan tanah
Aku ciptakan gerabah

Dalam Taurat disebutkan, Jacob (Ya'kub) adalah satu-satunya Nabi yang berani menantang Tuhan untuk bergulat. Karena bergulat dengan Tuhan itulah, nama Israel (Isra-EL, orang yang bergulat dengan Tuhan) disematkan kepada Jacob. Di Tel Aviv, saya menyaksikan bahwa Israel menang telak bergulat dengan Tuhan.

Orang-orang Israel akan membela setiap jengkal tanah yang mereka sulap dari bumi yang tandus menjadi sepotong surga. Bahwa mereka punya alasan historis untuk melakukan itu, itu adalah hal lain. Pembangunan bangsa, seperti kata Benedict Anderson, tak banyak terkait dengan masa silam, ia lebih banyak terkait dengan kesadaran untuk menyatukan sebuah komunitas. Bangsa Yahudi, lewat doktrin Zionisme, telah melakukan itu dengan baik.

Melihat indahnya Tel Aviv, teman saya dari Singapore membisiki saya: "orang-orang Arab itu mau enaknya saja. Mereka mau ambil itu Palestina, setelah disulap jadi sorga oleh orang-orang Yahudi. Kenapa tak mereka buat saja di negeri mereka sendiri surga seperti Tel Aviv ini?" Problem besar orang-orang Arab, sejak 1948 adalah bahwa mereka tak bisa menerima "two state solution," meski itu adalah satu-satunya pilihan yang realistik sampai sekarang. Jika saja orang-orang Palestina dulu mau menerima klausul itu, mungkin cerita Timur Tengah akan lain, mungkin tak akan ada terorisme Islam seperti kita lihat sekarang, mungkin tak akan ada 9/11, mungkin nasib umat Islam lebih baik. Bagi orang-orang Arab, Palestina adalah satu, yang tak bisa dipisah-pisah. Bagi orang-orang Israel, orang-orang Palestina tak tahu diri dan angkuh dalam kelemahan.

Sekarang saya mau cerita sedikit tentang Kota Tua Jerussalem, tentang al-Aqsa, dan pengalaman saya berada di sana. Percaya atau tidak, Kota Tua tidak seperti yang saya bayangkan. Ia hanyalah sekerat ladang yang berada persis di tengah lembah. Ukurannya tak lebih dari pasar Tanah Abang lama atau Terminal Pulo Gadung sebelum direnovasi. Tentu saja, sepanjang sejarahnya, ada perluasan-perluasan yang membentuknya seperti sekarang ini. Tapi, jangan bayangkan ia seperti Istanbul di Turki atau Muenster di Jerman yang mini namun memancarkan keindahan dari kontur tanahnya. Kota Tua Jerussalem hanyalah sebongkah tanah yang tak rata dan sama sekali buruk, dari sisi manapun ia dilihat.

Sebelum menuruni tangga ke sana, saya sempat melihat Kota Tua dari atas bukit. Heran seribu heran, mengapa tempat kecil yang sama sekali tak menarik itu begitu besar gravitasinya, menjadi ajang persaingan dan pertikaian ribuan tahun. Saya berandai-andai, jika tak ada Golgota, jika tak ada Kuil Sulayman, dan jika tak ada Qubbah Sakhra, Kota Tua hanyalah sebuah tempat kecil yang tak menarik. Berada di atas Kota Tua, saya terbayang Musa, Yesus, Umar, Solahuddin al-Ayyubi, Richard the Lion Heart, the Templer, dan para penziarah Eropa yang berbulan-bulan menyabung nyawa hanya untuk menyaksikan makam, kuburan, dan salib-salib. Agama memang tidak masuk akal.

Oleh Guide kami, saya diberitahu bahwa Kota Tua adalah bagian dari Jerussalem Timur yang dikuasai Kerajaan Yordan sebelum perang 1967. Setelah 1967, Kota Tua menjadi bagian dari Israel. "Dulu," katanya, "ada tembok tinggi yang membelah Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat. Persis seperti Tembok Berlin. Namun, setelah 1967, Jerussalem menjadi satu kembali." Yang membuat saya tertegun bukan cerita itu, tapi pemandangan kontras beda antara Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat dilihat dari ketinggian. Jerussalem Timur gersang dan kerontang, Jerussalem Barat hijau dan asri. Jerussalem Timur dihuni oleh sebagian besar Arab-Muslim, sedangkan Jerussalem Barat oleh orang-orang Yahudi.

Saya protes kepada Guide itu, "Mengapa itu bisa terjadi, mengapa pemerintah Israel membiarkan diskriminasi itu?" Dengan senyum sambil melontarkan sepatah dua patah bahasa Arab, ibu cantik itu menjelaskan: "ya akhi ya habibi, kedua neighborhood itu adalah milik privat, tak ada urusannya dengan pemerintah. Beda orang-orang Yahudi dan Arab adalah, yang pertama suka sekali menanam banyak jenis pohon di taman rumah mereka, sedang yang kedua tidak. Itulah yang bisa kita pandang dari sini, mengapa Jerussalem Barat hijau dan Jerussalem Timur gersang." Dough! Saya jadi ingat Bernard Lewis: "What went wrong?"

Ada banyak pertanyaan "what went wrong" setiap kali saya menyusuri tempat-tempat di Kota Tua. Guess what? Kota Tua dibagi kepada empat perkampungan (quarter): Muslim, Yahudi, Kristen, dan Armenia. Pembagian ini sudah ada sejak zaman Salahuddin al-Ayyubi. Menelusuri perkampungan Yahudi sangat asri, penuh dengan kafe dan tempat-tempat nongkrong yang cozy. Begitu juga kurang lebih dengan perkampungan Kristen dan Armenia. Tibalah saya masuk ke perkampungan Muslim. Lorong-lorong di sepanjang quarter itu tampak gelap, tak ada lampu, dan jemuran berhamburan di mana-mana. Bau tak sedap terasa menusuk.

Jika pertokoan di quarter Kristen tertata rapi, di quarter Muslim, tampak tak terurus. Ketika saya belanja di sana, saya hampir tertipu soal pengembalian uang. Saya sadar, quarter Muslim bukan hanya kotor, tapi pedagangnya juga punya hasrat menipu.

Namun, di antara pengalaman tak mengenakkan selama berada di perkampungan Islam adalah pengalaman masuk ke pekarangan al-Aqsa (mereka menyebutnya Haram al-Syarif). Ini adalah kebodohan umat Islam yang tak tertanggulangi, yang berasal dari sebuah teologi abad kegelapan. You know what? Saya dengan bebasnya bisa masuk ke sinagog, merayu tuhan di tembok ratapan, dan keluar-masuk gereja, tanpa pertanyaan dan tak ada penjagaan sama sekali.

Tapi begitu masuk wilayah Haram al-Syarif, dua penjaga berseragam tentara Yordania dengan senjata otomatis, diapit seorang syeikh berbaju Arab, menghadang, dan mengetes setiap penziarah yang akan masuk. Pertanyaan pertama yang mereka ajukan: "enta Muslim (apakah kamu Muslim)?" Jika Anda jawab ya, ada pertanyaan kedua: "iqra al-fatihah (tolong baca al-fatihah)." Kalau hafal Anda lulus, dan bisa masuk, kalau tidak jangan harap bisa masuk.

Saya ingin meledak menghadapi mereka. Saya langsung nyerocos saja dengan bahasa Arab, yang membuat mereka tersenyum, "kaffi, kaffi, ba'rif enta muslim (cukup, cukup, saya tahu Anda Muslim)." Saya ingin meledak menyaksikan ini karena untuk kesekian kalinya kaum Muslim mempertontonkan kedunguan mereka. Kota Tua adalah wilayah turisme dan bukan sekadar soal agama. Para petinggi Yahudi dan Kristen rupanya menyadari itu, dan karenanya mereka tak keberatan jika semua pengunjung, tanpa kecuali, boleh mendatangi rumah-rumah suci mereka.

Tapi para petinggi Islam rupanya tetap saja bebal dan senang dengan rasa superioritas mereka (yang sebetulnya juga tak ada gunanya). Akibat screening yang begitu keras, hanya sedikit orang yang berminat masuk Haram al-Syarif. Ketika saya shalat Maghrib di Aqsa, hanya ada dua saf, itupun tak penuh. Menyedihkan sekali, padahal ukuran Aqsa dengan seluruh latarnya termasuk Qubbat al-Shakhra sama besarnya dengan masjid Nabawi di Madinah. Rumah tuhan ini begitu sepi dari pengunjung.

Tentu saja, alasan penjaga Aqsa itu adalah karena orang-orang non-Muslim haram masuk wilayah mesjid. Bahkan orang yang mengaku Muslim tapi tak pandai membaca al-Fatihah tak layak dianggap Muslim. Para penjaga itu menganggap non-Muslim adalah najis yang tak boleh mendekati rumah Allah.

Saya tak bisa lagi berpikir. Sore itu, ingin saya kembali ke tembok ratapan, protes kepada Tuhan, mengapa anak bontotnya begitu dimanja dengan kebodohan yang tak masuk akal.

---------
Luthfi Assyaukani (orang Paramadina Mulia Jakarta) yang menganggap teks Al-Qur'an mengalami copy editing oleh para sahabat. Ungkapan untuk meragukan kemurnian Al-Qur'an ini disiarkan lewat internet JIL, islamlib.com: "Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian mengalami berbagai proses copy-editing oleh para sahabat, tabi'in, ahli bacaan, qurra, otografi, mesin cetak, dan kekuasaan." (Islamlib.com --Merenungkan Sejarah Alquran, Oleh: Luthfi AssyaukanieTanggal dimuat: 17/11/2003).




~ pustakalewi 13 Jan 2009 ~





AddThis Social Bookmark Button

PERJALANAN HIDUP SEORANG TIMOTIUS YUVINDRO

Tahun 1989 Anugerah Tuhan
Aku adalah anak ke4 dari 4 bersaudara 9 Oktober 1989 bertempat di Nipah Panjang(Kabupaten tanjung Jabung Timur,Provinsi Jambi) adalah dimana lahirnya aku ditengah-tengah keluarga yang sebenarnya kehadiranku tidak diharapkan, orang tuaku bermaksud menggugurkanku (cerita dari orangtua) dan kemudian karena begitu tidak menginginkanku aku diberi nama oleh bidan dan bukan orangtuaku, sehingga aku diberi nama Yuvindro (dalam bahasa jawa artinya akhir dari segala sesuatu).

Tahun 1990-1996 Masa Penderitaan
Dalam setiap langkah dalam perjalanan hidupku aku mendapati seseorang yang sangat mencintai dan mengasihiku, ia adalah nenekku,tapi sayang aku hanya dapat merasakan kasih sayangnya hingga berusia 8 bulan dan ketika beliau mengajakku jalan-jalan ia ditabrak oleh motor hingga meninggal. Aku hidup ditengah keluarga yang pas-pasan. Papaku seorang pemabuk, penjudi dan bandar togel, dengan hasil dari pekerjaan yang aku tidak mengerti pekerjaan apa itu orangtuaku dapat membeli sebuah kapal..ya papaku pun berlayar dan menjadi nelayan..hidup keluargaku waktu itu sangat tidak tentram. Setiap hari aku harus melihat orangtuaku berkelahi didepan mataku (waktu itu usia ku kira-kira 6 tahun) aku melihat papaku memukul mamaku dan mereka saling melempar barang yang ada disekitar mereka, dalam setiap kehidupan kami yang tidak disertaiNya kamipun mengalami bencana..Tahun 1996 terjadi kebakaran yang hebat di kampung kami termasuk rumahku pun ikut terbakar, tidak ada barang yang dapat kami selamtkan kecuali baju yang kami pakai. Usaha orangtua bangkrut dan kamipun mengungsi ke kota Jambi dengan mengharapkan belas kasihan dari saudara-saudara yang ada dikota Jambi, lucu dan menyedihkan sehingga kami hanya sanggup membeli beras paling banyak 1 liter, untuk memperbaiki kondisi ini ada seorang saudara yang menawarkan papa bekerja di kota Palembang. Tanpa pikir panjang papaku pun langsung mengiyakan tawaran itu sehingga pertengahan tahun 1996 aku, ceceku dan kedua orang tuaku, kami berangkat dan menetap di kota Palembang sedangkan cece dan kokoku tinggal dikota Jambi bersama nenekku untuk sekolah.

Tahun 1997-1999 Masa Mengenal Yesus
Aku tinggal dikota Palembang daerah pinggiran dalam suatu desa, Prajen nama desanya. Aku mulai sekolah disana yang mayoritasnya islam dan aku terlibat pergaulan yang buruk. Aku ikut teman-teman untuk ke Mesjid dan pengajian bahkan ayat-ayat kitab suci merekapun sebagian aku hapal (waktu itu usiaku 7 tahun dan aku dipanggil ustad oleh teman-teman pengajianku karena aku paling cepat menguasai waktu itu) setiap malam akupun tidak pernah absen untuk pergi mengaji. Kebetulan didepan rumahku adalah Mesjid jadi setiap malam teman-teman selalu mengajakku, orangtuaku terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka dan membuat aku mencari kasih sayang diluar rumah. Diusiaku yang 7 tahun aku udah berbuat mesum. Aku terikat dengan dosa ini hingga berumur 17 tahun. 10 tahun aku diikat dengan dosa ini, bahkan waktu teman-teman mengajariku onani (waktu itu teman-temanku berusia 12-17 tahun) akupun sudah mulai melakukan perbuatan yang tidak senonoh..umur 7 tahun aku sudah pernah melakukan perbuatan mesum bersama teman-temanku itu. Aku bahkan pernah diajari untuk berhubungan sex dengan teman perempuan yang lebih tua dariku, tapi aku menolak, ironis untuk anak seusiaku. Aku mulai ikut dalam persatuan ghoib didesaku waktu itu. Setiap hari kami selalu mengundang arwah-arwah yang telah mati untuk kami tanya bahkan untuk kami tolong. Aku mulai sering mendapat penglihatan-penglihatan yang aneh-aneh bahkan sebelum tidur aku didatangi hantu yang hanya kepala saja. Aku ketakutan waktu itu.

Suatu kali kami melakukan ritual kami dan kami memakai seorang teman untuk media agar arwah-arwah yang kami undang dapat berkomunikasi kepada kami melalui tubuhnya dan apa yang terjadi? Arwah itu tidak mau pergi dan bahkan mengejarku hingga aku berlari terbirit-birit pulang kerumah. Sejak saat itu aku sering melihat setan-setan yang ada dalam rumah. Aku pun kemudian mendalami ajaran budha dan aku sangat rajin untuk setiap ce it cap go untuk sembayang hingga aku punya tekad untuk menjadi biksu bahkan biksu dikelentengku pun setuju dengan niatku itu.

Tahun 2000-2001 Yesus Dia Sang Penyembuh
Aku pun mulai serius untuk mendalami ajaran budha dan hingga suatu hari saudaraku yang juga seorang kristen yang taat mengajak kami sekeluarga untuk kegereja dan waktu itu ada KKR Kesembuhan Ilahi yang dilayani oleh Pdt.Gilbert Lumoindong waktu itu..karena merasa tidak enak karena dia pemilik tempat orangtuaku bekerja, kamipun ikut. Aku sangat tidak suka dengan ibadah orang kristen waktu itu, aku merasa tidak nyaman dengan cara berdoa, penyembahan orang kristen yang aku anggap terlalu berlebihan itu. Dan kami sepakat pergi karena tidak enak dengan saudara saja, bahkan digerejapun papaku merokok. Emang sangat kurang ajar tapi papaku tidak peduli itu, papaku memiliki penyakit jantung yang cukup serius, waktu diadakan altar call saudaraku menyuruh papa untuk maju didoakan, ya dengan menganggap enteng pendeta itu papaku maju dengan mata yang penuh ketidakpercayaan dengan pendeta itu dan juga kepada Yesus yang menurut kami waktu itu adalah khusus Tuhannya orang barat sedangkan kami adalah orang chinese jadi kami lebih percaya kepada Budha yang kami kira adalah tuhannya orang chinese. Waktu ditumpangi tangan oleh Pdt.Gilbert papaku merasakan sesuatu yang aneh, sebelahnya mulai jatuh menikmati hadirat Allah, tiba giliran papaku didoakan dan tanpa diberitahu Pdt.Gilbert langsung berbisik kepada papaku bahawa katanya Tuhan Yesus mau menyembuhkan penyakit jantung anda..papaku dengan biasa hanya diam dan menganggap bahwa pendeta itu hanya kebetulan thu..setelah didoakan papaku merasakan sesak didadanya hilang seketika tetapi kami belum percaya dan kami test ke dokter dan hasilnya pun nihil..papa saya sembuh karena Tuhan Yesus….singkat cerita aku, papa, cece pun percaya kepada Yesus.

Tahun 2002-2003 Masa Mengenal Tuhan dan FirmanNya
Aku mulai mempelajari firman Tuhan dan diwaktu tahun akhir 2001 kami pun pindah ke kota Jambi..aku mulai belajar alkitab, tetapi main-main. Selesai mempelajari firman akupun langsung melakukan onani, sungguh sangat kurang ajar tapi aku mulai serius untuk ikut Tuhan dan aku berniat untuk meninggalkan dosa-dosaku. Komitmenku aku buktikan waktu memberi diri dibaptis pada desember 2003 dan diberi nama Timotius yang artinya Nabi bagi generasi muda, aku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku secara pribadi, mulai Tuhan memberikanku arah agar aku membuat perencanaan-perencanaan untuk hari-hari kedepan.

Tahun 2004 Komitmen melayaniNya
Tuhan pun serius untuk memakai aku..mulai sekolah dan dari SMP aku terus dipercayakan untuk menjadi Ketua agama disekolah dan Koordinator natal disekolahku dulu dan pada bulan juni 2004 aku meyakinkan diri untuk menyerahkan diri menjadi hambaNya apapun yang terjadi.

Tahun 2005-2007 Masa Perbuatan tangan Tuhan yang ajaib
Hingga aku SMA aku terus dikuatkan dengan visi dan mujizat yang Allah nyatakan dalam hidupku dengan dipercaya menjadi petinggi-petinggi disekolah dari Ketua Agama di SMA membawahi 231 siswa kristen disekolah dan menjadi Wakil Ketua OSIS membawahi 34 seksi OSIS, 56 seksi kelas dan 1100 siswa disekolah, hingga menjelang selesai sekolah aku berhasil membentuk Persekutuan Pelajar unggul Sakti (PPUS)yang sekarang digunakan untuk pelajaran agama dan organisasi disekolah kemudian membentuk Menara Doa Unggul Sakti (MDUS) yang menjadi Rumah Doa bagi pelajar dan puji Tuhan masih berlanjut program itu disekolah hingga sekarang, semua yang aku alami aku percaya bukan karena kuat dan hebat aku, tetapi karena kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan aku pun memperkatakan visi bahwa tahun 2008 aku akan sekolah theologi dan akan menjadi pemimpin yang tetap dalam kuasa dan kerendahan hati yang hanya dapat diberikan olehNya dengan halangan tidak ada dana dan ijin orangtua tapi aku percaya Tuhan Yesus akan berperkara dan aku meminta doa semua teman-teman dan rekan-rekan.

Tahun 2008 Tahun Pelipatgandaan Keuangan dan Persiapan Bible School
Tuhan melakukan perkara-perkara yang dahsyat dan di tahun ini aku memproklamirkan Visi yang Tuhan berikan bahwa Tahun 2008 adalah Tahun Pelipatgandaan Keuangan dan Persiapan Bible School. Biarkan segala hormat, kemuliaan, pujian, kuasa hanya bagi Tuhan Yesus, aku hanyalah seonggok sampah yang di angkatNya dan dibentuknya untuk melayaniNya sampai seumur hidupku…

Penulisan kesaksian ini bukan untuk memamerkan diri tetapi maksud dari penulisan kesaksian ini adalah : Agar anak muda yang jatuh dalam dosa menyadari bahwa ada kesempatan untuk kembali kepada Yesus. Anak-anak muda menyadari bahwa Allah memakai orang-orang yang dianggap bodoh bagi manusia tetapi menjadi alat di tangan Tuhan untuk menjadi saluran berkatNya mengajak semua anak-anak muda untuk peduli terhadap generasi anak muda dan berdoa buat generasi muda

Percaya Mujizat berlaku hingga hari ini..(Lukas 1:37)



Tuhan Yesus memberkati...

Sumber :
Timotius Yuvindro, email: angelicman_89@yahoo.com

Youth Community Ministry
GBI Healing Movement
Jambi
~ elia stories ~

Kunci Sukses Gereja di China

Oleh: Grace Suryani


Suatu hari, saya pulang dari gereja. Di jalan saya ngobrol dengan teman-teman saya. Topik kita, apa bedanya gereja di China dengan gereja di Indo?!
Di China saya beribadah di 1 gereja kecil tapi punya iman sangat besar. Punya iman yang bisa mengoncang surga. Tempat ibadah kita itu sempit sekali. kita harus duduk berdesak-desakan. Malahan sering banget saya kebagian tempat duduk persis di sebelah WC. Gereja saya ngga punya band. Kita cuman kebaktian pake piano. Yang maen piano juga biasa aja. Pemimpin pujiannya juga orang-orang biasa. Ada kasir rumah sakit, ada guru. Ngga ada yang punya kemampuan MC yang wah … yang bisa menarik jemaat. Lagu-lagunya juga lagu-lagu biasa. Yang khotbah juga orang-orang biasa. Ngga ada yang lulusan STT. Mereka semua orang-orang 'awam'. Ada yang dokter, dosen. Pokoknya semua orang biasa.

Tapi guys, suasananya luar biasa. Saya belum pernah di Indo dateng ke 1 kebaktian yang suasananya bisa menandingi atmosfir penyembahan di gereja itu. Begitu jemaat berdiri dan kita nyanyi 1 lagu, suci-suci-suci, hadirat Tuhan langsung turun. Begitu pemimpin pujiannya membacakan 1 bagian dari mazmur,hati saya bisa langsung nyesss … seolah-olah Tuhan sendiri yang berbicara. Kalau pas pengkhotbahnya yang notabene orang-orang awam khotbah, semua jemaat diam. Saya sendiri bisa terheran-heran, apa yang mereka bicarakan, banyak yang saya sudah tau, tapi kalau mereka bicara itu beda. Mereka punya kuasa. Mereka tidak khotbah dengan bahasa yang tinggi-tinggi, mereka ngga pernah kutip kata-kata orang-orang terkenal, mereka khotbah dengan bahasa yang sangat sederhana sehingga saya yang mandarinnya pas-pasan aja bisa ngerti dengan jelas.

Apa sih yang mereka khotbahkan?!

Berkat?! Kesembuhan?! Bisnis lancar?! NGGA.

Dari minggu ke minggu yang mereka khotbahkan intinya selalu sama. PENGABARAN INJIL. Topiknya bisa beda-beda, tapi intinya selalu sama. PI. Mereka juga bicara soal kasih Tuhan , soal pengampunan, soal tanggung jawab, tapi mereka selalu membawa kepada PI. Berapa banyak orang yang sudah kamu bawa kepada Tuhan ?! Apa semua keluargamu sudah percaya?!?!

Dan kalau denger kesaksian mereka, saya dan temen-temen saya selalu terharu. Kesaksian mereka 'beda' dengan yang kita sebut dengan kesaksian di Indo. biasanya di Indo orang bersaksi, dulu saya sakit. Puji Tuhan sekarang sembuh. Bisnis saya dulu bangkrut, Puji Tuhan sekarang lancar. Tapi di China …

Ada kesaksian tentang seorang anak perempuan. Papa mamanya ngga percaya Tuhan . Tiap kali anaknya berdoa selalu diomelin. Kalau di Indo kita pasti berharap akhirnya papa mamanya percaya. Memang akhirnya papa mamanya percaya. Tapi papa mamanya percaya justru di hari PEMAKAMAN anak perempuan itu. Anak itu akhirnya mati karena kecelakaan yang tragis … menurut kita itu ngga happy end … tapi setelah papa mamanya percaya Tuhan, mereka selalu bawa orang ke gereja. Pernah di 1 kebaktian mereka bawa 8 orang!! Dan semuanya (8 org itu) percaya Tuhan! Ada kesaksian tentang seorang pensiunan kepala sekolah yang akhirnya bertobat. 4 hari sesudah dia bertobat, dia bawa 2 orang percaya Tuhan . 6 bulan kemudian, dia buka 1 persekutuan di rumahnya! Kepala sekolah ini tiap kali baca alkitab pasti nangis … dia menyesal kenapa ngga dari dulu percaya Tuhan !

Ada lagi kesaksian tentang seorang yang bisnisnya bangkrut, karena stress dia sakit parah, lalu di rumah sakit dia percaya Tuhan Yesus (kalau di Indo biasanya 'akhirnya happy ending' penyakitnya sembuh, bisnisnya lancar), tapi dia ngga. Setelah dia percaya Tuhan Yesus, sakitnya tambah parah. Akhirnya … MATI. Ngga happy end kan?! Itu kan menurut kita … menurut Tuhan itu happy END!

Kesaksian yang laen tentang seorang suami, istrinya meninggal (ngga disembuhkan Tuhan loh!) Trus dia malah kesaksian. Selesai kesaksian dia nyanyi 1 lagu. You Yi Wei Shen (There's A God).

Guys, can u see the difference?!

Mereka TIDAK PERNAH MEMIKIRKAN KENYAMAN MEREKA! itu bedanya dengan kita. Yang mereka pikirkan itu kemuliaan Tuhan, jiwa-jiwa bukan bisnis lancar! Bukan kesembuhan. Pikiran mereka selalu, gimana caranya supaya ada lebih banyak lagi orang yang percaya sama Tuhan ..

Fokus dari anak-anak Tuhan di China itu adalah jiwa-jiwa, jiwa-jiwadan JIWA-JIWA. Mereka ngga pernah berdoa minta sound system terbaru, mereka tidak pernah berdoa untuk mobil pastori yang baru … boro-boro mikir mobil, punya sepeda aje udeh Haleluya Puji Tuhan! yang mereka doakan adalah, TUHAN NYATAKAN KEMULIAANMU. Tambahkan jumlah orang-orang yang percaya. Kau sudah berkati kami dengan kasih-Mu yang melimpah, kami mau orang-orang laen juga percaya, juga menikmati kasih-Mu.

Ngga heran kalau jumlah orang percaya terus bertambah! Karena MEREKA TIDAK PERNAH MEMIKIRKAN DIRI SENDIRI. yang mereka pikirkan itu Tuhan! Gimana Tuhan ngga mengabulkan doa mereka, kalau mereka meminta apa yang jadi kerinduan Tuhan?!

Guys, saya ngga bilang tidak boleh berdoa supaya bisnis lancar, bukan itu. tapi kemana fokus hati kita! Berapa sering di Indo kita khotbah soal PI?!?! 1 bulan 1 kali … itu udeh banyak. Mereka tiap minggu! Dan ngga ada yang bosen. Kenapa?! Karena siapa pun yang khotbah, ada kuasa Tuhan yang bekerja. Dan banyak yang bertobat.

Hari ini, sebelon selesai kebaktian, ada seorang dokter yang bilang, bahwa dia yakin bahwa Tuhan PASTI akan menambah jumlah orang-orang percaya. Dia ngga bilang, semoga Tuhan menambah jumlah orang-orang percaya. Atau, Kalau Tuhan berkehendak. Dia bilang, Tuhan PASTI. Itu yang saya bilang iman yang bisa mengoncang surga. Mereka orang-orang yang sederhana, tapi mereka orang-orang yang mengerti HATI TUHAN!

Saya sih ngga heran kalau nanti di surga saya melihat ada encim-encim yang jualan sayur di pasar punya kedudukannya lebih tinggi daripada banyak pendeta. Karena dia mengerti hati Tuhan! Kemana hati Tuhantertuju! JIWA-JIWA . Itu hati Tuhan.

Di Indo kita ribut soal transformasi … tapi masalahnya itu ngga akan bisa terjadi kalau orang-orang Kristen di Indo terus bersikap kayak anak-anak MANJA, yang cuman peduli dengan kesehatan saya, mobil saya, gereja saya, rumah saya, bisnis saya, anjing saya … saya saya saya dan saya. selama gereja cuman peduli dengan KESEJAHTERAAN gerejanya … non sense. Kalau gereja cuman peduli sama nama baik gereja, tata tertib gereja, mobil gereja, doktrin gereja, sound system gereja … pernah ngga sih kita berpikir, apa Tuhan seneng denger doa yang isinya cuman berkati saya, berkati saya, berkati anjing saya!

guys, GROW UP!! STOP MIKIRIN DIRI SENDIRI. pikirkan orang laen! Pikirkan gereja lain. Jangan cuman kebutuhan gerejamu! Pikirkan negaramu, jangan cuman dirimu!

Guys, saya dan teman-teman saya di sini berpikir … kapan yah, kalau kita balik ke Indo kita bisa liat gereja-gereja berubah. Ngga saling berantem. Ngga saling tuding-tuding, "Sesat loe! Gereja gue paling bener, paling sah." Kapan yah kita bisa liat anak-anak muda di banyak gereja, bisa puji Tuhan dengan semangat sekalipun tanpa musik … kapan yah kita bisa liat anak-anak Tuhan di Indo punya semangat yang berkobar-kobar untuk PI ke orang-orang di sekelilingnya. Kapan yah kita bisa denger kesaksian-kesaksian yang lahir dari kesesakan … bukan cuman karena dapet rejeki nomplok! Ujian lulus! Kapan ya …

Saya rindu, itu sudah terjadi sebelon Tuhan Yesus datang kembali …

~ GP Ministry ~




AddThis Social Bookmark Button

YANG TERBAIK AKAN DATANG!

Seorang Wanita Yang Suaminya Pengangguran Membagikan Kisah Penantiannya…

Saya ingin berbagi satu cerita yang indah dengan Anda. Saya bertemu Yane Pe Benito ketika saya memberi khotbah di perusahaannya. Yane adalah seorang wanita yang menyenangkan yang memiliki kisah yang mengagumkan untuk diceritakan, saya memutuskan untuk menceritakannya pada dunia.

Dua tahun lalu, suami Yane, Beni, tanpa peringatan, kehilangan pekerjaannya. Hal ini menyebabkan rasa sakit dua kali lipat karena pekerjaannya sebenarnya sangat menjanjikan. Selama 6 tahun, Beni sangat menikmati pekerjaannya di sebuah perusahaan distribusi multinasional untuk produk perawatan kulit. Namun karena perubahan struktur organisasi yang terjadi dalam perusahaan tersebut (yang sering terjadi di banyak perusahaan belakangan ini), ia di-PHK.

Yane memutuskan untuk memberitahu berita menyedihkan itu pada kedua anaknya yang masih kecil, Gabriel (6 tahun) dan Marga (4 tahun). Ia memilih dengan hati-hati kata-kata yang akan dipakai untuk menjelaskan hal tersebut. "Anak-anak, kita harus menjaga lebih baik barang-barang kita…dan tidak memboroskan uang kita karena…ayah tidak punya pekerjaan lagi."

Gabriel kecil berkata, "Maksud ibu, ayah dipecat?" Yane terkejut mendengar kata-kata yang kasar tersebut. "Di mana kamu belajar tentang kata itu?!" Puteranya menjawab tanpa berbelit-belit, "Dari Peter Parker – Spiderman."

Tapi ya, PHK hanya merupakan kata yang lebih baik dari "Keluar, kami tidak lagi membutuhkanmu di sini." Kehilangan pekerjaan adalah selalu menyakitkan, sekalipun jika dibarengi dengan "pesangon". Di satu sisi Yane bersyukur atas "rejeki nomplok" itu, tapi di sisi lain Yane kuatir, menebak-nebak berapa lama keluarga mereka akan hidup dengan bergantung pada pesangon itu.

Beberapa bulan pertama semua berjalan baik; Beni menerima rata-rata dua panggilan interview setiap minggu. Namun beberapa bulan menjadi setahun – dan terus berlanjut, panggilan interview semakin sedikit dan jarang.

Selama hampir dua tahun suaminya menganggur, Yane melalui kegelisahannya sendiri. Sebagai seorang ibu dari dua anak usia sekolah, ia melihat tabungan mereka yang semakin menipis. (Sebagai ukuran, ia pindah dari pekerjaan yang sudah ditekuninya selama 8 tahun, ke pekerjaan yang lebih tinggi bayarannya.)

Tapi di samping dana yang semakin berkurang, ia juga kuatir akan harga diri Beni. Bukan karena Beni tidak mencoba; namun kelihatannya memang tidak banyak kesempatan kerja bagi pria berumur dengan latar belakang dan pengalaman seperti yang dimiliki Beni. Sebenarnya ada dua pekerjaan yang ia terima, tapi keduanya hanya bertahan sebentar. Sebut saja sebuah konflik kepribadian atau ketidak-cocokan, tapi Beni tidak dapat melihat dirinya bekerja lama di sana. Dengan marah, Beni akan keluar lagi.

Dan pernikahan mereka pun mengalami kesulitan, karena sekarang Yanelah yang memberi penghasilan bagi keluarga. "Akankah ego suami saya bertahan selama ini?" ia terus dan terus bertanya pada dirinya sendiri. Semakin waktu berlalu, ia semakin dan semakin kuatir akan Beni.

Yane mulai bertanya pada Tuhan, "Tuhan, saya tidak mengerti apa lagi yang Engkau sedang ajarkan pada kami! Bagaimana lagi kami harus berdoa? Apa lagi yang harus kami doakan?"

Itulah saat ketika Yane menyadari bahwa doa mereka harus lebih spesifik.

Maka ia mengumpulkan kedua anaknya dan berkata, "Mari berdoa bagi ayah, agar ia dapat menemukan suatu pekerjaan yang baik dengan seorang atasan yang baik – seseorang yang seperti atasannya di perusahaan yang dulu."

Dan itu menjadi doa spesifik keluarga tersebut. "Tuhan, tolong ayah untuk mendapatkan seorang atasan yang baik seperti atasannya dulu, dalam nama Yesus."

Suatu hari, sekitar setahun lalu dari hari ini, Yane pulang dari kerja dan melihat kedua anak dan suaminya sedang berdempetan sambil membungkuk. "Ada apa ini?" tanyanya.

Ia mendengar anak-anaknya berbisik dengan gembiranya, "Tunjukkan pada ibu sekarang!"

Beni menyodorkan sebuah amplop coklat padanya.

Yane pikir itu adalah sesuatu dari sekolah anak-anak.

Tapi bukan. Dengan perlahan ia menarik keluar secarik kertas dari amplop itu, ia membaca nama perusahaan…kemudian jabatan suaminya…dan gajinya… Sampai di sini, ia mengangguk puas.

Namun ketika ia sampai ke bagian bawah kertas tersebut, ia kaget setengah mati. Karena ada sebuah tanda tangan. Tanda tangan milik atasan favorit Beni!

Diiringi tatapan heran anak-anaknya, Yane mulai menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan. Ia sangat sulit untuk mempercayai ini!

Seperti seorang anak, ia melompat-lompat kesenangan, dan disambut gembira oleh kedua anaknya yang ikut melompat dan tertawa bersamanya.

Gabriel bertanya pada ibunya, "Ibu, mengapa engkau menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan?"

Yane melihat kesempatan bagus untuk menjelaskan, "Ibu menangis karena ibu begitu bahagia. Ingatkah bagaimana kamu berdoa untuk seorang atasan yang baik bagi ayah? Lihatlah nama ini," ia menunjuk kertas yang masih ia pegang. "Kita hanya meminta seorang atasan yang seperti atasan ayah yang dulu. Tapi, Tuhan memberi ayah seorang atasan yang persis sama! Ia menjawab doa-doa kita!"

Saat itulah Gabriel mulai menangis.
"Mengapa kamu menangis?" tanya Yane.
"Karena aku juga sangat bahagia," kata anak laki kecil itu, dan seluruh keluarga saling berpelukan.

Ketika Yane menceritakan kisah ini, saya tahu saya harus berbagi cerita ini dengan Anda.

Karena semua kita melalui banyak kesulitan dan kehilangan.
Kita kehilangan pekerjaan kita, kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi, kita kehilangan uang kita, kita kehilangan sahabat-sahabat kita… Dan seringkali, kita menanti dan menanti agar rasa sakit ini hilang, agar rasa kehilangan ini menjadi sembuh. Kadang-kadang, kita menanti selama waktu yang panjang. (Yane dan Beni harus menunggu selama dua tahun.)

Namun pada akhirnya, saya percaya kalau Tuhan telah menyiapkan berkat terbaik bagi Anda.
Berimanlah. Percaya. Yang terbaik akan datang!

Sahabatmu,
Bo Sanchez

~ elia stories ~



AddThis Social Bookmark Button


Kesaksian dari Pemeran Yesus di film The Passion

THE PASSION OF JIM CAVIEZEL

Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of Jesus Christ”. Ini Kesaksiannya,…

JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN-PERAN KECIL DALAM FILM-FILM YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA (SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL “THE THIN RED LINE”. ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.

Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya.
Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.

“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda."

Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.

Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film-film lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.

Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di Hollywood.

Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood. Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.

Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?”

Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”.

Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!

Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banya referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.

Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini.

Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.

Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya.

Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.

Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.

Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan.

Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga.

Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu.

Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini.

Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm.

Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan. Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyekit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan ke adegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa.
Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia.

Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya.

Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar.

Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang. Dan sayapun tidak sadarkan diri.

Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!”.

“Apa yang telah terjadi?” Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.

Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan”? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri.

Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.

Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.


(Artikel dikirim oleh Debbie Kusumah)



AddThis Social Bookmark Button

HATI - HATI BUAT YANG DOYAN KWAMIA (RAMAL NASIB) !

Pengakuan Harun Jusuf, Mantan Tukang Kwamia
Harun Jusuf, mantan tukang mantan tukang kwamia yang namanya pernah sangat ngetop di kalangan etnis Tionghoa ini, berpenampilan sederhana. Ditemani Acu, istrinya, Harun Yusuf menjawab serta membuka semua rahasia kwamia secara blak-blakan. Iapun mengaku sedang menyiapkan sebuah tulisan untuk diterbitkan menjadi sebuah buku mengenai perjalanan hidupnya dari Tukang Kwamia menjadi Anak Tuhan Yesus.
TANYA: Bapak sangat dikenal sebagai tukang kwamia di kalangan etnis Tionghoa. Apa yang Bapak lakukan setiap kali pasien datang?
JAWAB: Begini. Tak semua pasien yang datang diterima. Tetapi, harus saya uji dulu.
Maksudnya ialah saya tanyakan tanggal lahirnya lengkap dengan jam kelahirannya.
Lalu di daftar, tunggu, antri dan jam berapa bisa diterima.
TANYA: Maksud Bapak?
JAWAB: Dari tanggal lahirnya, kita harus bikin Pek Jie. Pek Jie ialah sebuah daftar di mana kita dapat menghitung dengan mengutak atik angka berdasarkan tanggal lahir sehingga menghasilkan sebuah angka. Jam, tanggal, bulan, tahun kelahiran diterjemahkan dalam dua huruf. Angka ini disebut Bintang ("Xing"). Nah, dari sinilah nasib manusia berjalan sesuai dengan apa yang sudah ditentukan oleh Pek Jie.
TANYA: Dan, ternyata memang tepat?
JAWAB: Saya jamin 90% tepat, karena memang sudah diuji. Jadi, saya menerima pasien tak sembarangan. Jika menurut perhitungan berdasarkan masa lalunya, kapan menikahnya, kapan punya anaknya, sudah 90 % tepat barulah saya jadikan pasien. Tetapi, kalau kurang dari segitu tak mau saya jadikan pasien. Bisa saja saya katakan bahwa tanggal lahir yang diberikan kepada saya itu salah tanggalnya, karena orang tuanya memang salah mencatatnya.
TANYA: Benarkah seseorang yang datang minta dikwamia, rohnya sudah dikuasai terlebih dulu ?
JAWAB: Ya, benar. Rohnya sudah berada di dalam cengkeraman roh yang saya pelihara. Sejak itu roh pasien harus tunduk pada roh saya apapun yang saya perintahkan. Misalnya saya ramalkan bahwa orang itu akan bercerai, maka rohnya tunduk 100% dan dia pasti akan bercerai! Padahal sebenarnya belum tentu ia akan bercerai. Roh kamilah yang justru menakdirkan, merencanakan semuanya itu. Ini, yang saya pikir paling tepat. Makanya, tukang kwamia yang makin jitu, makin berbahaya, berarti yang dipeliharanya makin hebat. Bekingnya makin hebat.
TANYA: Kalau begitu, kutukan itu datangnya justru dari si tukang kwamia kepada si pasien?
JAWAB: Ya, betul, secara tak sadar, ya! Saya dipakai oleh roh yang ada dalam diri saya untuk mengutuk manusia atau pasien yang datang! Dengan begitu setiap pasien berada dalam cengkraman kami. Melalui mulut kami, tukang kwamia keluar kutukan-kutukan yang harus dijalankan secara tak sadar oleh si roh pasien itu. Misalnya, jika dikutuk bahwa tahun depan ia akan disikat orang perusahaannya, biar bagaimana hati-hatipun perusahaannya pasti akan disikat orang lain. Mengapa? Karena rohnya sudah sepenuhnya tunduk kepada roh kami si tukang kwamia!
TANYA: Bagaimana pandangan Bapak jika ada orang Kristen yang masih datang untuk dikwamia atau diramalkan kehidupannya?
JAWAB: Orang Kristen yang pergi ke tukang kwamia? Oh, banyak. Banyak sekali. Dulu, sebelum saya bertobat, sudah bukan rahasia lagi jika diantara sekian banyak pasien saya, banyak yang beragama Kristen. Cuma, setelah saya bertobat, saya ingin memberitahukan kepada mereka untuk menghentikan hal tersebut. Sebab, jika masih tetap percaya atau pergi ke tukang kwamia, nasib mereka sudah tak ada ditangan Tuhan lagi. Ia harus tunduk atau menuruti kepada ramalan-ramalan yang dia pegang. Setelah saya bertobat, saya membaca Firman Tuhan dalam Roma 6 : 16 . Kepada siapa kita taat, kita menjadi hambanya. Nah, jika orang Kristen masih pergi dan percaya kepada tukang kwamia, ia menjadi hamba dari roh tukang kwamia. Menjadi hamba roh tukang kwamia, pasti ada imbalan atau tumbal yang harus dibayar. Ingin diramal baik, sudah tentu tak gratis. Jadi, harus ada bayarannya dan bayarannya mahal yaitu nyawa salah seorang keluarga kita. Seperti yang dulu pernah saya alami. Dua orang anak saya meninggal dunia.
TANYA: Jadi, tumbal adalah suatu keharusan jika kita meminta sesuatu kepada tukang kwamia?
JAWAB: Di dunia mana ada yang gratis, kecuali ASI, air susu ibu yangkita minum. Kita pinjam uang kepada bank. Tak mungkin bank memberi secara gratis. Kita harus membayar bunganya, bukan? Kita pinjam uang sama teman. Namanya hutang, bukan? Kecuali dari orangtua kita. Dialam roh juga begitu. Harus ada harga yang harus dibayar. Karena itu,jika memperoleh hasil, maka hasil itu harus jelas, apakah dari Tuhan atau bukan. Jika dari Tuhan, maka Ia akan memberi tanpa imbalan. Gratis! Misalnya Ia menciptakan matahari. Orang jahatpun bisa menikmati sinar matahari. Begitu pula dengan air. Air, Tuhan berikan secara gratis. Kalau kita harus membeli air, itu karena kita harus membayar ongkos pembuatan air. Airnya kan gratis.
TANYA: Menurut orang Tionghoa yang kokoh memegang tradisi lamanya, peranan Shio sangat penting dalam perjalanan hidupnya. Bagaimana sebenarnya hal itu?
JAWAB: Karena tradisi yang turun-temurun, watak manusia sudah tak berfungsi sebagai watak manusia yang sebenarnya. Sifat dan watak manusia sudah seperti berubah menjadi sifat dan watak binatang. Hal ini terjadi karena sejak zaman dulu, orang Timur sudah ditaklukan oleh gambaran hewan dalam Shio-shio itu. Mau tahu artinya Shio? Shio artinya persis atau sama dengan! Siapa yang bisa mengutuki anak kita, kalau bukan orang tuanya? Melalui shio itu akhirnya kuasa jahat itu, memakai mulut orangtua supaya mengutuki anaknya!
TANYA: Jadi, kalau begitu tak ada shio yang baik?
JAWAB: Mana ada ! Nasib binatang mana ada yang bagus. Kelinci artinya playboy. Rumah tangga bakal hancur. Naga, artinya kesombongan. Ular artinya licik. Tikus merusak, kerbau bodoh, macan sadis atau buas, kuda diperbudak atau ditunggangi orang. Kambing, kebangetan atau "awban" atau berjiwa pemberontak, monyet nakal. Apa saja berani dia coba. Ayam jadi santapan orang banyak, anjing tak bisa membedakan. Jika dipelihara perampok, dia akan membela perampok atau majikannya saat melawan polisi. Tak mungkin dia membela polisi saat itu, bukan? Babi? Huh! Dia kan binatang jorok. Selalu kembali ke tempat yang kotor dan nasibnya selalu berakhir ditempat pembantaian.
TANYA: Kalau dengan horoskop?
JAWAB: Nah, di dunia Barat, dikutuki melalui horoskop yang mengambil sifat-sifat binatang. Manusia sudah berada dalam perangkap iblis dan iblis sudah berkeliaran di dunia ini dan mempengaruhi manusia agar jiwanya tidak seperti manusia melainkan berjiwa dan bersifat seperti binatang. Ajaran manusia membunuh, merampok, memperkosa. Kita lihat anak membunuh orang tuanya, ayah memperkosa anaknya, jiwanya sudah seperti binatang.
~ Milis - Pustaka Lewi ~


AddThis Social Bookmark Button

KESAKSIAN RAHIB BUDHA DARI NEGERI MYANMAR


Kesaksian yang luar biasa dari seorang Rahib Budha di Myanmar ( Burma) yang hidup kembali menjadi seorang yang diubahkan.

Tahun - tahun awalku


Halo, nama saya Athet Pyan Shinthaw Paulu. Saya dari negara Myanmar. Saya ingin berbagi dengan anda kesaksian saya ini tentang apa yang terjadi pada saya, tetapi sebelumnya saya ingin menceritakan sedikit latar belakang saya sejak saya kecil. Saya dilahirkan tahun 1958 di kota Bogale, di daerah delta Irrawaddy Myanmar selatan (dahulu Burma). Orang tua saya penganut agama Budha yang beriman (taat) seperti kebanyakan orang di Myanmar , memanggil saya si Thitphin (yang artinya pohon).

Kehidupan di mana saya bertumbuh sangat sederhana.

Pada umur 13 tahun saya keluar sekolah dan mulai bekerja di perahu nelayan. Kami menangkap ikan juga udang di beberapa sungai besar dan kecil di daerah Irrawaddy. Pada umur 16 saya jadi pemimpin perahu.

Saat itu saya tinggal di utara pulau Mainmahlagyon (Mainmahlagyon artinya pulau wanita cantik), di bagian utara Bogale dimana saya dilahirkan. Tempat ini kira kira 100 mil barat daya Yangoon (Rangoon) ibu kota negara kami.

Suatu hari waktu saya berumur 17 tahun, kami menangkap banyak sekali ikan dalam jala kami. Saking banyaknya ikan yang kami tangkap, seekor buaya besar tertarik perhatiannya. Buaya itu mengikuti perahu kami dan mencoba menyerang kami. Kami jadi ketakutan sehingga dengan panik kami mendayung perahu kami menuju tepian sungai secepatnya. Buaya itu mengikuti kami dan menyerang perahu kami dengan ekornya.Walaupun tidak ada yang mati dalam kejadian ini, serangan itu mempengaruhi kehidupan saya. Saya tidak mau lagi menangkap ikan. Perahu kecil kami tenggelam kena serangan buaya itu. Malam itu kami pulang ke kampung naik perahu tumpangan. Tak lama sesudah itu, bos ayah saya memindahkan ayah saya ke kota Yangoon (sebelum disebut Rangoon).

Pada umur 18 saya dikirim kesebuah biara menjadi Rahib muda. Kebanyakan orang tua di Myanmar berusaha mengirimkan anak laki-laki mereka ke biara Budha, setidaknya satu kali, karena merupakan suatu kehormatan mempunyai anak laki-laki melayani dengan cara ini. Kami telah mengikuti adat ini ratusan tahun.

Seorang murid yang bersemangat

Pada saat saya mencapai umur 19 tahun 3 bulan (tahun 1977) saya jadi Rahib. Rahib atasan saya di biara itu memberi saya sebuah nama Budha baru yang sudah menjadi adat/kebiasaan di negara saya. Saya dipanggil U Nata Pannita Ashinthuriya. Pada waktu kami menjadi Rahib kami tidak lagi menggunakan nama yang diberikan orang tua pada waktu lahir. Biara tempat saya tinggal disebut Mandlay Kyaikasan Kyaing . Nama Rahib kepala ialah U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw (U Zadila adalah gelar). Dia Rahib yang sangat terkenal di seluruh Myanmar pada waktu itu. Setiap orang tahu siapa dia.

Dia sangat dihargai oleh orang-orang dan disegani sebagai guru besar. Saya katakan dulu karena pada tahun 1983 dia tiba-tiba mati dalam kecelakaan mobil yang fatal. Kematiannya mengejutkan semua orang. Saat itu saya sudah 6 tahun jadi Rahib. Saya berusaha jadi Rahib terbaik dan mengikuti semua ajaran Budha. Pada suatu tingkat tertentu saya pindah ke sebuah kuburan yang kemudian saya tinggali dan bermeditasi secara kontinyu. Beberapa Rahib yang sungguh-sungguh mengikuti kebenaran Budha melakukan hal yang saya lakukan ini. Beberapa bahkan pindah ke hutan dimana mereka hidup menyangkal diri dan miskin. Saya cari penyangkalan diri, fikiran dan keinginan, untuk menghindari penyakit dan penderitaan dan membebaskan diri dari kehidupan duniawi.

Di kuburan saya tidak takut setan, saya berusaha untuk mencapai kadamaian batin dan sadar diri sampai sampai bila ada nyamuk hinggap ditangan saya membiarkannya menggigit tangan saya dari pada mengusirnya.

Bertahun-tahun saya berusaha untuk jadi Rahib terbaik dan tidak menyakiti mahluk hidup. Saya belajar pelajaran Budha suci ini seperti semua nenek moyang kami lakukan sebelum saya. Kehidupan saya sebagai Rahib berjalan terus sampai suatu waktu saya menderita sakit keras. Saya ada di Mandalay waktu itu dan harus dibawa ke rumah sakit untuk perawatan. Dokter melakukan beberapa pengecekan pada saya dan memberitahu saya bahwa saya terjangkit penyakit kuning dan malaria bersamaan. Sesudah sebulan di rumah sakit saya malah makin gawat. Dokter memberi tahu saya bahwa tak ada harapan sembuh untuk saya dan mengeluarkan saya dari rumah sakit untuk mempersiapkan kematian.

Inilah penjelasan singkat masa lalu saya. Sekarang saya ingin menceritakan beberapa hal luar biasa yang terjadi pada diri saya sesudahnya.

Penglihatan Yang Mengubah Hidup Saya Selamanya

Sesudah saya dikeluarkan dari rumah sakit saya kembali ke tempat di mana para Rahib yang lain mengurus saya.

Saya makin hari makin lemah dan makin susut karena badan busuk dan bau kematian, dan akhrinya jantung saya berhenti berdenyut. Tubuh saya dipersiapkan untuk kremasi dan melalui tata cara pemurnian agama Budha.

Walaupun tubuh saya mati tapi saya ingat dan sadar dalam fikiran dan roh saya. Saya ada dalam badai besar. Angin kencang meniup seluruh daratan sampai tidak ada pohon atau apapun yang berdiri, semua rata, saya berjalan sangat cepat di jalan rata itu untuk beberapa lama. Tak ada orang lain, hanya saya sendiri, kemudian saya menyeberang sebuah sungai. Di seberang sungai itu saya melihat danau api yang sangat sangat besar. Dalam agama Budha kami tidak ada gambaran tempat seperti ini. Pada mulanya saya bingung dan tak tahu bahwa itu adalah neraka sampai saya lihat Yama, raja neraka (Yama adalah nama untuk raja neraka dalam kebudayaan Asia) mukanya seperti singa, badannya seperti singa , tetapi kakinya seperti seekor naga (roh naga). Dia mempunyai beberapa tanduk di kepalanya. Wajahnya sangat mengerikan dan saya sangat ketakutan. Dengan gemetar, saya tanya namanya.

Dia jawab " Saya adalah raja neraka, si Perusak!"

Danau Api Yang Sangat Mengerikan

Raja neraka memberi tahu saya untuk melihat ke danau api itu. Saya memandang dan melihat jubah warna kunyit yang biasa dipakai rahib Budha di Myanmar. Saya memandang dan melihat kepala gundul seorang laki-laki.

Waktu saya lihat wajah orang itu saya mengenalinya sebagai U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw (rahib terkenal yang mati kecelakaan mobil tahun 1983). Saya tanya raja neraka mengapa pemimpin saya, diikat dalam danau penyiksaan ini.

Saya tanya " Mengapa dia ada dalam danau api ini? Dia seorang guru yang baik. "

Dia bahkan mempunyai kaset pengajaran yang berjudul 'Apakah anda manusia atau anjing?'

Yang sudah membantu ribuan orang mengerti bahwa sebagai manusia sangat berharga jauh dibandingkan binatang.

Raja neraka itu menjawab, "Betul, dia seorang guru yang baik, tetapi dia tidak percaya pada Yesus Kristus... Itulah sebabnya dia ada di neraka. "

Saya diberi tahu untuk melihat orang lain yang ada di dalam api itu. Saya lihat seorang laki-laki dengan rambut panjang dililitkan dibagian kiri kepalanya. Dia juga mengenakan jubah.

Saya tanya raja neraka "Siapa orang itu?"

Dia menjawab, " Inilah yang kau sembah, Gautama(Budha)".

Saya sangat terganggu melihat Gautama di neraka.

Saya protes, " Gautama orang baik, mempunyai karakter moral yang baik, mengapa dia menderita di dalam danau api ini?"

Raja neraka menjawab saya "Tak peduli bagaimana baiknya dia. Ia ada di tempat ini karena dia tidak percaya pada Allah yang kekal"

Saya kemudian melihat seorang yang lain yang tampaknya memakai seragam tentara. Dia terluka di dada-nya.

Saya tanya " Siapa dia?"

Raja neraka berkata "Ini Aung San, pemimpin revolusi Myanmar ".

Saya kemudian diberi tahu, "Aung San di sini karena dia menyiksa dan membunuh orang-orang Kristen, tapi terutama karena dia tidak percaya Yesus Kristus."

Di Myanmar ada pepatah, "Tentara tak pernah mati, hidup terus."

Saya diberitahu bahwa tentara neraka mempunyai pepatah "Tentara tak pernah mati, tapi ke neraka selamanya.."

Saya amati dan melihat orang lain didanau api itu. Dia orang yang sangat tinggi dan memakai baju baja militer. Dia juga menyandang pedang dan perisai. Orang ini terluka di dahinya. Orang ini lebih tinggi dari siapapun yang pernah saya lihat. Dia enam kali panjang jarak siku sampai ujung jarinya waktu dia luruskan kedua lengannya , ditambah satu jengkal waktu dia rentangkan tangannya. Raja neraka itu berkata orang ini namanya Goliath. Dia di neraka karena dia menghina Allah yang kekal dan hambanya Daud. Saya bingung karena saya tidak tahu siapa itu Goliath dan Daud.

Raja neraka berkata, "Goliath tercatat di Alkitab orang Kristen.. Kamu tidak tahu dia sekarang, tapi kalau kamu jadi Kristen, kamu akan tahu siapa dia. "

Saya dibawa ke sebuah tempat di mana saya lihat orang kaya dan miskin menyiapkan makan malam mereka.

Saya tanya " Siapa yang memasak makanan untuk orang-orang itu?"

Raja itu menjawab "Yang miskin harus menyiapkan makanan mereka, tapi yang kaya menyuruh yang lain untuk memasak untuk mereka."

Ketika makanan sudah tersedia untuk yang kaya, mereka duduk untuk makan. Segera setelah mereka mulai makan asap tebal keluar. Yang kaya makan secepat sebisa mereka agar mereka tidak pingsan. Mereka berusaha keras untuk dapat bernafas karena asap itu. Mereka harus makan cepat-cepat karena mereka takut kehilangan uang mereka. Uang mereka adalah tuhan mereka.

Seorang raja yang lain kemudian datang pada saya. Saya juga melihat satu mahluk yang kerjanya menjaga api di bawah danau api agar tetap panas.

Mahluk ini bertanya pada saya "Apa kamu juga akan masuk ke danau api ini? "

Saya jawab, " Tidak! saya di sini untuk hanya mengamati!"

Bentuk mahluk yang menjaga api itu sangat menakutkan. Dia punya 10 tanduk dikepalanya dan sebatang tombak di tangannya yang pada ujungnya ada 7 pisau tajam.

Mahluk ini berkata "Kamu betul, kamu datang ke sini hanya untuk mengamati. Saya tak temukan namamu disini".

Katanya "Kamu harus kembali dari mana kamu datang tadi"

Dia menunjukan arah pada saya tempat terpencil rata yang saya lewati sebelumnya waktu datang ke danau api ini.

Keputusan Untuk Memilih Jalan

Saya jalan cukup lama, sampai saya berdarah. Saya sangat kepanasan dan kesakitan. Akhirnya setelah berjalan sekitar 3 jam saya sampai di sebuah jalan yang lebar. Saya berjalan sepanjang jalan ini beberapa lama sampai menemukan persimpangan. Satu jalan arah kiri, lebar. Jalan yang lebih kecil menuju ke sebelah kanan. Ada tanda disimpang itu yang berbunyi jalan kiri untuk mereka yang tidak percaya pada Tuhan Yesus Kristus, jalan yang lebih kecil menuju ke kanan untuk yang percaya Yesus.

Saya tertarik melihat ke mana tujuan jalan yang lebih besar itu, jadi saya mulai melaluinya. Ada 2 orang berjalan kira-kira 300 yard di depan saya. Saya coba mengejar mereka agar dapat jalan bersama, tetapi sekerasnya saya coba tak dapat mengejar mereka, jadi saya putar balik dan kembali ke simpang jalan tadi.

Saya terus perhatikan kedua orang yang berjalan tadi. Waktu mereka mencapai ujung jalan tiba-tiba mereka ditikam. Kedua orang itu berteriak sangat kesakitan.

Saya juga menjerit keras waktu melihat apa yang terjadi pada mereka Saya sadar akhir dari jalan yang lebih lebar sangat berbahaya untuk mereka yang menjalaninya.

Melihat Surga

Saya mulai melangkah ke jalan Orang Percaya. Sesudah berjalan sekitar 1 jam, permukaan jalan berubah jadi emas murni. Sungguh murni sampai-sampai waktu saya lihat kebawah saya dapat melihat bayangan saya dengan sempurna.

Kemudian saya lihat seseorang berdiri di depan saya. Dia memakai jubah putih. Saya juga mendengar nyanyian merdu.

Oh, alangkah indah dan murninya!

Sangat jauh lebih baik dan berarti dibandingkan penyembahan yang kita dengar di gereja manapun di dunia. Orang berjubah tersebut meminta saya berjalan bersamanya.

Saya bertanya padanya, "Siapakah namamu?" tetapi dia tidak menjawabnya.
Baru sesudah saya tanya dia 6 kali orang itu menjawab, "Saya yang memegang kunci ke surga. Surga tempat yang sangat sangat indah. Kamu tak dapat pergi ke sana sekarang tetapi kalau kamu mengikuti Yesus Kristus kamu dapat pergi ke sana sesudah hidupmu selesai di bumi".

Orang itu bernama Petrus. Petrus kemudian meminta saya untuk duduk dan menunjukkan pada saya sebuah tempat di sebelah utara. Petrus berkata, "Lihat ke utara dan lihatlah Allah menciptakan manusia".

Saya melihat Allah kekal di kejauhan. Allah berkata pada seorang malaikat, "Mari kita ciptakan manusia."

Malaikat itu memohon pada Allah dan berkata, " Jangan menciptakan manusia. Dia akan berbuat dosa dan mendukakan Engkau." (dalam bahasa asli Burma berarti: "Dia akan mempermalukan Engkau")

Tetapi Allah tetap menciptakan manusia. Allah meniupkan nafasNya dan manusia itu hidup. Dia memberi nama orang itu "Adam". (catatan: agama Budha tidak percaya penciptaan dunia atau manusia sehingga pengalaman ini sangat besar pengaruhnya pada rahib itu).

Dikembalikan Dengan Nama Baru

Kemudian Petrus berkata, "Sekarang bangunlah dan kembalilah melalui jalan di mana engkau datang. Katakan pada orang-orang yang menyembah Budha dan menyembah berhala. Beri tahu mereka bahwa mereka akan pergi ke neraka bila mereka tidak berubah. Mereka yang membangun kuil/kelenteng dan berhala juga akan ke neraka. Mereka yang yang memberikan persembahan pada para rahib untuk mendapatkan jasa untuk mereka sendiri juga akan ke neraka. Mereka yang menyembah rahib dan memanggil mereka "Pra" (gelar kehormatan bagi rahib) akan ke neraka. Mereka yang menyanyi dan memberikan hidupnya untuk berhala akan ke neraka. Mereka yang tidak percaya Yesus Kristus akan ke neraka."

Petrus memberi tahu saya untuk kembali ke bumi dan bersaksi tentang semua apa yang telah saya lihat. Dia juga berkata, " Kamu harus bicara dengan nama yang baru. Sejak saat ini kamu harus dipanggil Athet Pyan Shinthaw Paulu (Paulus yang kembali hidup)."

Saya tidak mau kembali. Saya ingin tinggal di surga. Seorang kemudian malaikat membuka sebuah buku. Pertama-tama mereka mencari nama masa kecilku (Thitpin) dalam buku, tapi mereka tak menemukannya. Kemudian mereka mencari nama yang diberikan pada saya waktu masuk agama Budha (U Nata Pannita Ashinthuriya) , tapi juga tidak tertulis disitu.

Kemudian Petrus berkata, "Namamu tidak tertulis di sini, kamu harus kembali dan bersaksi tentang Yesus pada orang-orang yang beragama Budha. "

Saya berjalan kembali melalui jalan emas. Saya dengar lagi nyanyian yang merdu, yang tak pernah saya dengar sebelumnya. Petrus berjalan dengan saya sampai saatnya saya kembali ke bumi. Dia menunjukkan pada saya tangga untuk kembali ke bumi antara surga dan langit. Tangga itu tidak sampai ke bumi, tetapi berhenti di udara.

Pada saat di tangga saya lihat banyak sekali malaikat, ada yang naik ke surga dan ada yang turun ke tangga. Mereka sangat sibuk. Saya tanya Petrus, " Siapakah mereka?".

Petrus menjawab, "Mereka pesuruh Tuhan. Mereka melaporkan ke surga nama-nama mereka yang percaya Yesus Kristus dan nama-nama mereka yang tidak percaya. "

Petrus kemudian memberi tahu saya, sudah waktunya untuk kembali.

Hantu!
Tiba-tiba saya mendengar sebuah tangisan. Saya dengar ibu saya sedang menangis, " Anakku, mengapa engkau meninggalkan kami sekarang?"

Saya juga mendengar orang-orang lain menangis. Saya kemudian sadar saya sedang terbujur dalam sebuah peti. Saya mulai bergerak.
Ibu dan ayahku berteriak, "Dia hidup, dia hidup!"

Orang lain yang agak jauh tidak percaya. Kemudian saya taruh tangan saya di kedua sisi peti itu dan duduk tegak. Banyak orang ketakutan. Mereka menjerit, "Hantu!" dan berlari secepat kaki mereka membawanya.

Mereka yang tertinggal, diam dan bergemetaran.

Saya merasakan saya sedang duduk dalam cairan yang tak sedap baunya, cairan tubuh, cukup banyak untuk dapat mengisi 3,5 gelas. Itu adalah cairan yang keluar dari perut dan bagian dalam tubuhku ketika tubuhku terbujur di dalam peti mati. Inilah sebabnya orang tahu bahwa saya sudah betul-betul mati. Di dalam peti mati ini ada semacam lembaran plastik yang ditempelkan pada kayu peti. Lembaran plastik ini untuk menampung cairan yang keluar dari mayat, karena tubuh orang meninggal banyak mengeluarkan cairan seperti yang saya alami.

Saya diberi tahu kemudian bahwa hanya beberapa saat lagi saya dikremasi dalam api. Di Myanmar orang mati dimasukan kedalam peti mati, tutupnya kemudian dipaku, dan kemudian dibakar. Ketika saya kembali hidup, ibu dan ayahku sedang melihat tubuhku untuk terakhir kalinya. Sesaat lagi tutup peti akan segera dipaku dan saya akan dikremasikan. Saya segera mulai menjelaskan hal-hal yang saya lihat dan dengar. Orang-orang merasa heran.

Saya ceritakan orang-orang yang saya lihat di dalam danau api itu, dan memberi tahu hanya orang Kristen yang tahu kebenaran, bahwa nenek moyang kita dan kita sudah tertipu ribuan tahun! Saya beri tahu mereka segala sesuatu yang kita percayai adalah kebohongan.
Orang-orang merasa heran sebab mereka tahu rahib macam apa saya dan bagaimana bersemangatnya saya dalam pengajaran Budha. Di Myanmar ketika seseorang meninggal, namanya dan umurnya ditulis disamping peti mati. Ketika seorang rahib meninggal, namanya, umurnya dan masa pelayanannya sebagai rahib dituliskan di samping peti mati. Saya sudah ditulis mati tetapi seperti yang anda lihat, sekarang saya hidup!

Penutup
Sejak "Paul yang kembali hidup" mengalami kisah di atas dia tetap menjadi saksi yang setia kepada Yesus Kristus. Para Gembala di Burma mengabarkan bahwa dia sudah membawa ratusan rahib lain untuk beriman kepada Yesus.Kesaksiannya jelas sekali tak berkompromi. Oleh sebab itu, pesan dia telah menyakitkan banyak orang yang tidak dapat menerima hanya ada satu jalan ke surga, Yesus Kristus.

Walaupun menghadapi penolakan yang sangat besar, pengalamannya sungguh nyata sehingga ia tak pernah ragu maupun bimbang. Setelah sekian tahun dalam lingkungan biara Budha, sebagai pengikut ajaran Budha yang setia, beralih menyatakan Injil Kristus sesudah kebangkitannya dari mati dan mendesak rahib yang lain untuk meninggalkan semua dewa-dewa palsu dan menjadi pengikut Yesus dengan sepenuh hati. Sebelum sakit dan matinya dia tidak punya pengetahuan sedikitpun tentang ke-Kristenan. Semua yang dia dapatkan selama 3 hari dalam kematian adalah baru dalam fikirannya.. Dalam mengabarkan pesannya sebanyak mungkin pada orang-orang.

Lazarus modern ini mulai membagikan audio dan video kaset mengenai kisahnya. Polisi serta pihak berwenang di Myanmar sudah berusaha sekuatnya untuk mengumpulkan kaset-kaset ini dan memusnahkannya.

Kesaksian yang baru saja Anda baca adalah salah satu terjemahan dari kaset itu. Kami diberi tahu bahwa sekarang sangat berbahaya bagi warga Myanmar untuk memiliki kaset ini. Kesaksiannya yang tak kenal takut telah membuatnya dipenjara, di mana yang berwenang telah gagal menawarkan dia untuk bungkam. Sesudah dilepaskan dia terus bersaksi tentang apa yang dia lihat dan dengar.

Keberadaannya sekarang tidak jelas. Seorang nara sumber di Burma mengatakan bahwa dia di penjara dan bahkan mungkin sudah dibunuh, sumber lain mengabarkan bahwa dia sudah dilepaskan dari penjara dan sedang meneruskan pelayanannya..
(Kesaksian ini dikirim oleh Ibu Debbie Kusuma - red)

Gerombolan Neraka Sedang Berbaris

Tanggal 16 Februari 1995 saya diberi sebuah mimpi. Di dalam mimpi itu saya melihat sepasukan besar tentara neraka telah dilepaskan untuk melawan Gereja. Dua hari kemudian saya diberi suatu penglihatan, dan di dalam penglihatan itu saya melihat gerombolan Iblis itu lagi, tetapi secara sangat rinci.

Ada beberapa aspek dari penglihatan itu yang sungguh-sungguh menjijikkan, tetapi saya mencoba menyampaikannya persis sebagaimana saya telah melihatnya. Pekerjaan kegelapan memang menjijikkan dalam artian yang sedalam-dalamnya, dan kita harus mengenali bahwa sedemikianlah adanya.

Dalam bagian pertama penglihatan itu saya melihat sejauh mana kejahatan telah mencengkeram orang percaya, banyaknya orang Kristen yang dimanfaatkan oleh musuh, dan hal yang harus dilakukan untuk membebaskan mereka . Pada bagian yang kedua dari penglihatan itu saya melihat suatu gereja yang mulia dan bersatu bangkit sebagai suatu pasukan yang besar dalam pertempuran antara terang dan gelap yang paling penting sepanjang zaman. Pertempuran itu sudah mulai berkecamuk. Mimpi dan penglihatan biasanya merupakan kiasan, dan sedang terjadi sekarang. Jika anda mendengar suara Tuhan melalui penglihatan ini, jangan keraskan hatimu. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Tuhan, dan bersiap-siaplah untuk memasuki pertempuran.

PASUKAN TENTARA IBLIS
Saya melihat suatu pasukan iblis yang begitu besar sehingga tidak kelihatan ujung pangkalnya. Pasukan itu terbagi dalam beberapa divisi dan setiap divisi membawa panji yang berbeda. Divisi yang terutama dan paling berkuasa adalah “Kecongkakan”, “Merasa Diri Paling Benar”, “Minta dihargai”, “Ambisi-Mementingkan Diri Sendiri”, dan “Penghakiman yang Tidak Adil”. Tetapi divisi yang paling besar adalah “ Kecemburuan” . Pemimpin pasukan yang besar ini adalah “Pendakwa saudara-saudara kita“ itu sendiri. Saya tahu bahwa masih ada lebih banyak divisi Iblis di luar batas penglihatan saya, tetapi divisi-divisi itu adalah ujung tombak gerombolan neraka yang sekarang sedang dilepaskan melawan gereja.

Senjata yang dibawa gerombolan ini mempunyai nama-nama : pedangnya disebut “Intimidasi”; tombaknya bernama “Pengkhianatan”; dan anak-anak panah mereka disebut “Tuduhan”, “Gossip”, dan “Cari-cari kesalahan”. Para pemandu dan kelompok-kelompok setan dengan nama-nama seperti “Penolakan”, “Kepahitan”, “Ketidaksabaran”, “Tidak Mau Mengampuni”, dan “Hawa Nafsu” dikirim mendahului pasukan ini untuk mempersiapkan serangan utama. Dalam hati saya tahu bahwa gereja belum pernah menghadapi yang seperti ini sebelumnya.

Tugas utama tentara ini adalah memecah belah. Mereka ditugaskan untuk penyerangan setiap peringkat relasi : gereja dengan gereja lain, jemaat dengan gembala sidangnya, suami dengan istri, anak-anak dengan orang tua, dan bahkan anak-anak satu sama lain. Para pemandu dikirim untuk menetapkan lokasi celah-celah di gereja-gereja, keluarga-keluarga, atau pribadi-pribadi yang dapat dimanfaatkan oleh penolakan, kepahitan, hawa nafsu, dan seterusnya. Dan supaya mereka membuat keretakan yang lebih besar lagi yang dapat dimanfaatkan oleh divisi yang sedang mendekat.

Bagian yang paling mengejutkan dari penglihatan ini adalah gerombolan ini tidak mengendarai kuda, tetapi mengendarai orang-orang Kristen . Kebanyakan di antara mereka berpakaian rapi, terhormat, dan memiliki penampilan halus budi dan berpendidikan. Mereka adalah orang-orang Kristen yang membuka diri terhadap kuasa-kuasa kegelapan sampai ke suatu tingkat yang sedemikian rupa sehingga musuh dapat memanfaatkan mereka sementara mereka sendiri beranggapan bahwa mereka sedang dipakai Tuhan. Si pendakwa tahu bahwa rumah yang tercerai berai tidak dapat bertahan, dan pasukan ini mewakili usaha finalnya untuk mencapai suatu perpecahan di gereja sedemikian sehingga gereja akan berpaling dari kasih karunia Tuhan.

PARA TAWANAN

Di belakang divisi pertama berbaris banyak sekali orang Kristen lainnya yang merupakan tawanan pasukan ini. Mereka semua terluka, dan dikawal oleh setan-setan kecil yang bernama “takut”. Kelihatannya lebih banyak tawanan daripada setan-setan di pasukan itu. Herannya, para tawanan itu masih memiliki pedang dan perisai mereka, tetapi tidak menggunakannya. Sungguh mengejutkan melihat begitu banyak yang dapat ditawan oleh begitu sedikit setan-setan “takut”, yang kecil ini. Setan-setan ini sebenarnya dapat dengan mudah dimusnahkan atau diusir apabila para tawanan mau menggunakan senjata-senjata mereka. Di atas tawanan, langit menghitam dengan burung-burung pemakan bangkai yang disebut ‘depresi’ . Makhluk-makhluk ini akan hinggap dibahu para tawanan dan memuntahkannya. Muntah itu adalah ‘penuduhan’. Jika muntah itu mengenai seorang tawanan, dia akan berdiri tegak dan berbaris sedikit lebih tegap untuk sementara waktu, tetapi kemudian jatuh tertelungkup, lebih lemah dari sebelumnya. Sekali lagi, saya heran mengapa para tawanan itu tidak membunuh burung-burung pemakan bangkai itu dengan pedangnya, hal yang dengan mudah dapat mereka lakukan. Ada kalanya seorang tawanan yang lemah karena tersandung dan jatuh. Begitu dia menyentuh tanah, para tawanan lainnya akan menusuki dia dengan pedang, sambil mencaci maki dia. Kemudian mereka akan memanggil burung-burung pemakan bangkai itu untuk mulai memangsa orang yang jatuh itu bahkan sebelum dia mati. Sewaktu saya memperhatikan, saya menyadari bahwa para tawanan ini menganggap muntah Penuduhan itu adalah kebenaran dari Tuhan. Kemudian saya mengerti bahwa para tawanan itu benar-benar beranggapan bahwa mereka sedang berbaris di pasukan Tuhan ! Inilah sebabnya mereka tidak membunuh setan-setan ‘Takut’ yang kecil itu, maupun burung-burung pemakan bangkai itu, mereka pikir makhluk-makhluk itu adalah utusan Tuhan! Kegelapan dari awan burung-burung pemakan bangkai itu membuat para tawanan sangat sukar melihat sehingga mereka dengan lugu menerima segala sesuatu yang terjadi atas mereka sebagai datangnya dari Tuhan. Satu-satunya makanan yang disediakan bagi tawanan ini adalah muntah burung-burung pemakan bangkai itu. Mereka yang menolak memakannya akan menjadi lemah sampai mereka jatuh. Mereka yang memakannya dikuatkan, tetapi dengan kekuatan dari sijahat. Mereka kemudian akan mulai memuntahi yang lain. Jika seseorang mulai melakukan hal itu, satu setan jahat yang sedang menunggu untuk mendapat tunggangan, akan diberikan yang ini dan dia akan naik pangkat ke divisi yang lebih depan. Yang lebih buruk dari muntah burung-burung pemakan bangkai ini adalah lendir yang memuakkan yang dikeluarkan dari pembuangan setan-setan ini di atas orang-orang Kristen sewaktu mereka menungganginya. Lendir itu adalah kecongkakan-ambisi, kepentingan diri sendiri, dst, yang merupakan sifat dari divisi mereka masing-masing. Walaupun demikian, lendir ini membuat orang Kristen merasa jauh lebih baik daripada penuduh sehingga mereka betul-betul beranggapan bahwa setan-setan itu adalah utusan-utusan Tuhan, dan bahwa lendir itu adalah pengurapan Roh Kudus. Kemudian suara Tuhan berbicara kepada saya dan berkata : “ Inilah awal dari pasukan akhir zaman musuh, inilah penipuan puncak si Iblis, dari kuasa penghancuran finalnya dilepaskan ketika dia memakai orang-orang Kristen untuk menyerang orang-orang Kristen lainnya. Sepanjang zaman dia telah menggunakan tentara ini, tetapi belum pernah dia berhasil menawan begitu banyak orang untuk dimanfaatkan demi maksud-maksud jahatnya. Jangan takut, Aku juga memiliki suatu pasukan. Sekarang engkau harus berdiri dan bertempur, karena tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi dari peperangan ini. Engkau harus bertempur untuk KerajaanKu, demi kebenaran dan bagi mereka yang telah tertipu.” Saya sudah menjadi sangat muak dan geram oleh karena pasukan Iblis itu, sampai-sampai saya ingin mati saja daripada hidup di dalam dunia yang seperti itu. Walaupun demikian, perkataan Tuhan itu begitu membesarkan hati sehingga saya segera mulai meneriakkan para tawanan Kristen itu bahwa mereka tertipu, dengan pikiran bahwa mereka akan mendengarkan saya. Ketika saya melakukan hal ini, kelihatannya seluruh pasukan berpaling memandang saya, tetapi saya tetap berteriak-teriak. Saya pikir orang-orang Kristen itu akan bangun dan menyadari hal yang terjadi pada mereka, tetapi sebaliknya banyak di antara mereka yang mulai menjangkau anak-anak panah mereka untuk ditembakkan kepada saya. Yang lainnya ragu-ragu mengenai apa yang harus mereka perbuat terhadap saya. Saya tahu bahwa mereka melakukannya terlalu dini, dan itu kesalahan yang konyol sekali.


PERTEMPURAN DIMULAI

Kemudian saya berpaling dan melihat pasukan tentara Tuhan berdiri di belakang saya. Ada beribu-ribu prajurit, tetapi kami masih sangat kalah jumlah. Hanya sejumlah kecil saja yang berpakaian lengkap dalam perlengkapan perang mereka, kebanyakan hanya terlindung sebagian saja. Sejumlah besar sudah terluka. Kebanyakan yang mengenakan perlengkapan perang lengkap, perisainya terlalu kecil, dan saya tahu perisai itu tidak dapat melindungi mereka dari serangan yang akan datang. Mayoritas dari prajurit adalah wanita dan anak-anak.

Di belakang pasukan ini masih ada gerombolan yang mengekor, yang mirip dengan para tawanan yang mengikuti pasukan Iblis, tetapi sangat berbeda dalam tabiatnya. Yang ini kelihatannya orang-orang yang sangat berbahagia, dan mereka bermain-main, menyanyi, berpesta, dan melancong dari kemah yang satu ke kemah yang lain. Hal ini mengingatkan saya akan suasana di “Woodstock” (Pesta musik rock besar-besaran di Amerika). Saya berusaha berteriak mengatasi kegaduhan untuk memperingatkan mereka bahwa sekarang bukan waktunya untuk hal-hal itu, dan bahwa pertempuran hampir dimulai. Tetapi bahkan yang bisa mendengarkan suara saya hanya beberapa orang. Mereka yang mendengar memberi saya ‘tanda damai’ dengan tangannya dan berkata bahwa mereka tidak percaya akan perang, dan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi atas mereka. Saya berusaha menjelaskan bahwa Tuhan telah memberi kita persenjataan untuk suatu maksud, tetapi mereka menjawab dengan pedas bahwa mereka sudah sampai ke tempat damai dan sukacita, dan tidak ada apa-apa yang akan terjadi pada mereka di situ . Saya mulai berdoa dengan sungguh-sungguh supaya Tuhan menambahkan iman (perisai) mereka yang bersenjata, untuk menolong kami melindungi mereka yang tidak siap bertempur.

Seorang utusan menghampiri saya, memberikan sebuah terompet serta menyuruh saya untuk cepat-cepat meniupnya. Saya lakukan, dan mereka yang memiliki paling tidak beberapa senjata segera menanggapi, dan berdiri tegap. Lebih banyak senjata yang dibawanya, dan mereka cepat-cepat mengenakannya. Saya mengamati bahwa mereka yang terluka tidak menutupi luka-luka mereka dengan senjata, tetapi sebelum saya dapat berkata apa-apa tentang hal ini, anak-anak panah musuh mulai menghujani kami. Setiap orang yang tidak mengenakan segenap senjatanya terluka. Mereka yang tidak menutupi luka-luka mereka tertusuk lagi di tempat yang sama.

Mereka yang terkena anak panah ‘fitnah’ segera mulai memfitnah mereka yang tidak terluka. Mereka yang terkena anak panah ‘gosip’, mulai bergosip, dan segera suatu perpecahan yang besar terjadi di perkemahan kami. Kemudian burung-burung pemakan bangkai menukik turun, mencengkeram yang terluka dan mengirimkan mereka ke perkemahan para tawanan. Orang-orang yang terluka itu masih memiliki pedang-pedang mereka dan dapat menebas burung-burung itu dengan mudah, tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka sesungguhnya dibawa secara sukarela karena mereka sangat marah kepada kami.

Pemandangan di antara mereka yang ada di perkemahan di belakang pasukan kami malahan lebih buruk lagi. Kelihatannya sama sekali kacau balau. Beribu-ribu terbaring di tanah, terluka dan mengerang. Banyak yang tidak terluka hanya duduk tercengang-cengang karena tidak percaya melihat yang terjadi. Yang terluka dan yang duduk dalam ketidak percayaan dengan cepat disambar oleh burung-burung pemakan bangkai. Beberapa berusaha menolong yang terluka dan menghalang-halangi burung itu dari mereka, tetapi yang terluka itu begitu marah sehingga mereka akan mengancam dan mengusir orang-orang yang berusaha menolong mereka.

Banyak yang terluka hanya sekedar berlari sekuat tenaga dari arena pertempuran. Pertemuan pertama dengan musuh ini begitu menghancurkan sehingga saya tergoda untuk ikut melarikan diri dengan mereka. Kemudian, dengan cepat sekali, beberapa di antara mereka muncul kembali dengan persenjataan lengkap, dan perisai-perisai yang besar. Keriangan pesta telah berhenti menjadi ketetapan hati yang mengherankan. Mereka mulai mengambil tempat orang-orang yang sudah jatuh, dan bahkan mulai membentuk barisan-barisan baru untuk melindungi barisan-barisan belakang dan sayap-sayap. Hal ini membangkitkan keberanian baru, dan setiap orang menetapkan hati untuk berdiri dan bertempur sampai mati. Segera, tiga malaikat besar yang bernama Iman, Pengharapan dan Kasih , datang dan berdiri di belakang kami, dan perisai setiap orang mulai bertumbuh.

JALAN RAYA

Kami memiliki pedang yang bernama Firman Tuhan , dan anak-anak panah yang bernamakan Kebenaran-kebenaran Alkitabiah , kami ingin memanah balik, tetapi tidak tahu bagaimana caranya memanah setan-setan itu tanpa mengenai orang-orang Kristen yang ditungganginya. Kemudian terpikir oleh kami bahwa apabila orang-orang Kristen itu tertembak dengan kebenaran, mereka akan bangkit dan melawan penindas-penindas mereka. Saya menembakkan beberapa anak panah. Hampir semuanya mengenai orang-orang Kristen. Walaupun demikian, ketika anak panah kebenaran menusuk mereka, mereka tidak bangkit, atau jatuh terluka, mereka menjadi marah, dan setan yang mengendarai mereka bertambah besar.

Hal ini mengejutkan semua orang, dan kami mulai merasa bahwa pertempuran ini mustahil dimenangkan, tetapi dengan Iman, Pengharapan dan Kasih, kami sangat yakin bahwa kami, paling tidak bisa mempertahankan posisi kami. Malaikat lainnya yang bernama Kebijaksanaan muncul dan memimpin kami untuk bertempur dari atas gunung di belakang kami.

Di gunung itu, sejauh mata memandang ada tebing-tebing pada berbagai ketinggian. Pada setiap tingkat, tebingnya semakin sempit dan semakin sukar untuk berdiri di atasnya. Setiap tingkat diberi nama sesuai dengan kebenaran Alkitabiah. Tingkat yang lebih rendah diberi nama sesuai dengan doktrin-doktrin dasar seperti : “Keselamatan”, “Pengudusan”, “Doa”, “Iman”, dan seterusnya. Dan tingkat yang lebih tinggi diberi nama sesuai dengan kebenaran-kebenaran Alkitabiah yang lebih lanjut. Semakin tinggi kami mendaki, baik perisai maupun pedang kami bertumbuh semakin besar, dan semakin sedikit anak panah musuh yang dapat mencapai posisi itu.

KESALAHAN YANG TRAGIS

Beberapa yang tinggal di tingkat bawah mulai mengambili anak-anak panah musuh dan menembakkannya kembali. Ini kesalahan tragis. Setan-setan itu dengan mudah mengelakkannya dan membiarkan anak-anak panah itu mengenai orang-orang Kristen. Ketika seorang Kristen terkena salah satu panah “Penuduhan” atau “Fitnah”, seekor setan Kepahitan atau Murka akan terbang dan bertengger pada anak panah itu. Kemudian ia mulai buang air dan mengeluarkan racunnya di atas orang Kristen itu. Jika pada satu orang Kristen ada dua atau tiga setan ini ditambah ‘kecongkakan’ , atau ‘merasa diri paling benar’ yang sudah ada padanya, dia mulai beralih rupa seperti setan itu sendiri.

Dari tingkat yang lebih tinggi kami dapat melihat hal ini terjadi, tetapi mereka yang di tingkat yang lebih rendah yang menggunakan anak-anak panah musuh tidak dapat melihat hal itu. Sebagian dari kami memutuskan untuk tetap mendaki, sementara sebagian yang lain turun lagi ke tingkat yang lebih rendah untuk menerangkan kepada mereka di sana hal yang sedang terjadi. Kemudian setiap orang diperingatkan untuk tetap mendaki dan tidak berhenti, kecuali beberapa orang yang menempatkan diri mereka sendiri si setiap tingkat untuk menolong prajurit-prajurit yang lain mendaki lebih tinggi.

KEAMANAN

Ketika kami mencapai tingkat yang disebut ‘Kesatuan Saudara Seiman’, tidak ada satupun anak panah musuh yang dapat mencapai kami. Banyak yang di perkemahan kami memutuskan bahwa sudah cukup kami mendaki. Saya bisa mengerti, semakin tinggi tingkatnya, landasannya semakin genting. Walaupun demikian, semakin tinggi, saya juga merasa semakin kuat dan semakin mahir menggunakan senjata-senjata saya, maka saya terus memanjat.

Segera kemahiran saya menjadi cukup baik untuk menembak dan mengenai setan-setan tanpa mengenai orang-orang Kristen. Saya merasa bahwa apabila saya naik terus saya dapat menembak cukup jauh untuk mengenai pemimpin gerombolan Iblis yang ada di balik pasukannya. Saya menyesal karena banyak berhenti di tingkat yang lebih rendah, tempat yang aman bagi mereka, tetapi mereka tidak dapat menembak musuh. Walaupun begitu, kekuatan dan karakter mereka yang mendaki terus, membuat mereka menjadi pemenang-pemenang besar, dan saya tahu masing-masing sanggup menghancurkan banyak musuh.

Di setiap tingkat banyak anak-anak panah “Kebenaran” berserakan, yang sepengetahuan saya ditinggalkan oleh orang-orang yang telah jatuh dari posisi itu. Setiap anak panah diberi nama sesuai dengan Kebenaran di tingkat itu. Beberapa orang ragu-ragu untuk mengambil anak-anak panah itu, tetapi saya tahu bahwa kami memerlukan semuanya itu yang bisa kami dapatkan untuk menghancurkan gerombolan besar di bawah. Saya memungut sebuah, menembakkannya, dan dengan mudah mengenai seekor setan sehingga yang lain mulai memungut dan menembakkan panah-panah itu. Kami mulai menciutkan beberapa divisi musuh, oleh sebab itu, seluruh pasukan Iblis memusatkan perhatiannya kepada kami. Untuk sementara waktu, kelihatannya semakin banyak yang kami laksanakan, semakin kami ditentang.
Walaupun tugas kami kelihatannya tidak ada habis-habisnya, tetapi situasinya sungguh menggembirakan.

FIRMAN ADALAH SAUH KITA

Pedang kami bertumbuh setiap kali kami mencapai tingkat yang lain. Saya hampir meninggalkannya, karena nampaknya kami tidak memerlukannya di tingkat yang lebih tinggi. Akhirnya saya memutuskan bahwa pedang itu pasti diberikan kepada saya untuk suatu maksud, jadi lebih baik saya bawa. Saya menghujamkannya ke tanah dan mengikatkan diri saya sendiri ke pedang itu sementara saya menembaki musuh. Pada waktu itu suara Tuhan berkata kepada saya : “Engkau telah menggunakan hikmat yang akan memampukan engkau untuk mendaki. Banyak yang jatuh karena mereka tidak menggunakan pedang mereka dengan tepat yaitu sebagai sauh bagi diri mereka sendiri.” Kelihatannya tidak ada orang lain yang mendengar suara ini, tetapi banyak yang melihat perbuatan saya dan melakukan hal yang sama.

Saya heran mengapa Tuhan tidak berbicara kepada saya sebelum saya membuat keputusan ini. Saya kemudian mengerti sendiri bahwa Dia sudah mengatakannya kepada saya dengan cara tertentu. Kemudian saya memahami bahwa seluruh hidup saya telah merupakan latihan-latihan untuk saat ini. Saya sudah dipersiapkan sedemikian sehingga saya mendengar dan mentaati Tuhan sepanjang hidup saya. Saya juga mengerti bahwa untuk suatu alas an, kebijaksanaan dan pengertian yang saya miliki sekarang tidak dapat ditambahkan ataupun diambil semasa pertempuran berlangsung. Saya menjadi sangat bersyukur bagi setiap ujian yang saya alami dalam hidup saya, dan menyesal karena tidak lebih menghargainya pada waktu terjadinya.

Dengan segera kami mengenal setan-setan itu dengan ketepatan yang hampir sempurna. Di pasukan musuh kegeraman bangkit mengamuk. Saya tahu bahwa orang-orang Kristen yang terperangkap di pasukan itu sekarang merasakan pukulan yang berat dari kegeraman itu. Karena tidak mampu mengenal kami, mereka saling menembaki satu sama lain. Karena anak-anak panahnya sekarang tidak berguna melawan kami, musuh mengirimkan burung-burung pemakan bangkai itu untuk menyerang. Mereka yang belum menggunakan pedangnya sebagai sauh berhasil menjatuhkan banyak burung, tetapi mereka juga terpukul roboh dari tebing tempat mereka berdiri. Beberapa orang jatuh ke tingkat yang lebih rendah, tetapi beberapa lagi jatuh sampai ke dasar dan dicengkeram dan di bawa pergi oleh burung-burung pemakan bangkai itu.

SENJATA BARU

Anak panah Kebenaran jarang sekali menembus burung-burung pemakan bangkai, tetapi cukup menyakiti mereka untuk mengusir. Beberapa di antara kami akan mendaki ke tingkat berikutnya. Ketika kami mencapai tingkat yang disebut “Galatia Dua Duapuluh”, kami berada di atas ketinggian yang tidak dapat dicapai oleh burung-burung itu. Pada tingkat ini langit di atas kami hampir-hampir membutakan karena kecemerlangan dan keindahannya. Saya merasakan kedamaian yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

Sebelumnya, semangat bertempur saya sesungguhnya dimotivasi demi Kerajaan, Kebenaran dan Kasih kepada para tawanan, tetapi juga oleh kebencian dan kejijikan kepada musuh. Tetapi pada tingkat ini saya menyusul Iman, Pengharapan dan Kasih, yang sebelumnya hanya saya ikuti dari jauh. Pada tingkat ini saya hampir tenggelam dalam kemuliaan mereka. Ketika saya menyusul mereka, mereka berpaling kepada saya dan mulai memperbaiki dan memoles senjata saya. Dengan segera senjata-senjata itu berubah dan memancarkan kemuliaan yang ada di dalam mereka. Ketika mereka menyentuh pedang saya, sambaran petir besar yang gemilang bersinar-sinar daripadanya. Kasih kemuliaan berkata ; “Mereka yang mencapai tingkat ini dipercayakan dengan kuasa dari masa yang akan datang, tetapi aku harus mengajar kamu cara penggunaannya.”

Tingkat “Galatia Dua Duapuluh” itu sangat lebar sehingga tidak ada lagi bahaya terjatuh. Juga ada persediaan anak panah yang bertuliskan nama : Pengharapan , dan yang jumlahnya tidak terbatas. Kami menembakkan beberapa di antaranya kepada burung-burung pemakan bangkai itu, dan anak-anak panah ini membunuh mereka dengan mudah. Sekitar separuh yang sudah mencapai tingkat ini terus menerus menembakannya sementara yang lain mulai membawa anak-anak panah ini ke bawah kepada mereka yang masih di tingkat lebih rendah.

Burung-burung pemakan bangkai tetap datang secara bergelombang ke tingkat-tingkat di bawah, tetapi setiap kali jumlahnya berkurang dari sebelumnya. Dari “Galatia Dua Duapuluh” kami dapat mengenai musuh manapun dalam pasukan itu kecuali pemimpin-pemimpin mereka, yang masih berada di luar jarak tembak. Kami memutuskan untuk tidak menggunakan anak panah Kebenaran sampai kami menghancurkan semua burung pemakan bangkai, karena awan depresi yang mereka ciptakan membuat kebenaran kurang efektif. Hal ini memakan waktu lama, tetapi kami tidak pernah lelah.

Iman, Pengharapan dan Kasih, yang seperti senjata-senjata kami telah bertumbuh pada setiap tingkat, sekarang sudah sedemikian besar sehingga saya tahu bahwa orang-orang yang berada jauh dari arena pertempuran dapat melihat mereka. Kemuliaan mereka bahkan memancar sampai ke perkemahan para tawanan yang masih berada di bawah awan besar dari burung-burung pemakan bangkai. Kegembiraan bertambah-tambah di dalam kami semua. Saya merasa, bahwa berada di pasukan ini, di pertempuran ini, pastilah merupakan petualangan yang paling akbar sepanjang masa.

Setelah menghancurkan kebanyakan burung-burung pemakan bangkai yang menyerang gunung kami, kami mulai mengarah kepada burung-burung yang menutupi para tawanan. Pada waktu awan kegelapan mulai lenyap dan matahari mulai bersinar atas mereka, mereka mulai bangun seakan-akan tadinya mereka tidur lelap sekali. Mereka segera merasa muak akan kondisi mereka sendiri, terutama oleh karena muntah yang masih menutupi mereka, dan mereka mulai membersihkan diri mereka sendiri. Pengharapan dan Kasih, mereka melihat gunung tempat kami berada, dan mulai lari kearahnya. Gerombolan Iblis menghujani mereka dengan anak-anak panah Penuduhan dan Fitnah, tetapi mereka tidak berhenti. Pada waktu mereka tiba di gunung itu, banyak yang pada tubuhnya ada selusin atau lebih anak panah, tetapi tampaknya mereka bahkan tidak menyadari hal itu. Begitu mereka mulai menjajaki gunung itu, luka mereka mulai sembuh. Karena awan depresi dilenyapkan kelihatannya segala sesuatu menjadi lebih mudah.

PERANGKAP

Yang dulunya tawanan sangat bersuka cita dalam keselamatan mereka. Pada waktu mereka mulai menjejaki gunung itu, mereka kelihatan begitu larut dalam penghargaan akan setiap tingkat, sehingga kami juga semakin menghargai kebenaran-kebenaran itu. Segera suatu ketetapan hati yang dahsyat melawan musuh juga bangkit di dalam mantan tawanan ini. Mereka mengenakan persenjataan yang disediakan dan mohon untuk diijinkan kembali dan menyerang musuh. Kami mempertimbangkan hal ini, tetapi kemudian memutuskan bahwa kami semua harus tetap tinggal di gunung untuk bertempur. Sekali lagi suara Tuhan berkata : “Untuk kedua kalinya engkau memilih hikmat. Engkau tidak dapat menang jika engkau mencoba memerangi musuh di daerahnya sendiri, tetapi engkau harus tinggal di gunungKu yang Kudus.”

Saya tertegun bahwasanya kami telah membuat keputusan lain yang begitu penting hanya dengan berpikir dan mendiskusikannya secara singkat. Saya lalu menetapkan hati untuk berusaha sebaik-baiknya untuk tidak membuat keputusan lain dengan konsekwensi apapun tanpa berdoa. Kemudian dengan cepat Kebijaksanaan melangkah kepada kami, memegang pundak saya erat-erat dan memandang mata saya lekat-lekat, sambil berkata : “Engkau harus melakukan hal ini!” Saya kemudian menyadari bahwa, walaupun saya sudah berada di dataran luas “Galatia Dua Duapuluh” saya telah hanyut ke tepi tanpa menyadarinya, dan dengan mudah bisa jatuh. Saya memandang mata Kebijaksanaan lagi, dan dia berkata dengan sangat serius : ”Kalau engkau menyangka bahwa engkau teguh berdiri, hati-hatilah supaya engkau jangan jatuh. Di dunia ini engkau dapat jatuh dari tingkat manapun.”

ULAR

Untuk waktu yang lama kami terus membunuh burung-burung pemakan bangkai dan menembaki setan-setan yang mengendarai orang-orang Kristen. Kami menemukan bahwa anak-anak panah dari berbagai Kebenaran akan memberi dampak yang lebih pada setan-setan yang berlainan. Kami tahu pertempuran ini akan berlangsung lama, tetapi tidak ada lagi korban perang, dan kami sudah melewati tingkat “Kesabaran”. Walaupun begitu, setelah setan-setan ditembak lepas dari orang-orang Kristen ini, hanya sedikit di antara mereka yang mau datang ke gunung. Banyak yang sudah mengenakan tabiat setan, dan terus berada dalam kesesatan mereka walaupun tanpa setan-setan itu. Sewaktu kegelapan dari setan-setan menghilang kami dapat melihat tanah bergerak-gerak di sekitar kaki orang-orang Kristen ini. Kemudian saya melihat bahwa kaki-kaki mereka diikat oleh ular-ular yang bernama “malu”.

Kami menembakkan anak-anak panah kebenaran kepada ular-ular itu, tetapi dampaknya kecil saja. Kemudian kami mencoba menggunakan anak panah Pengharapan, tetapi tanpa hasil. Dari “Galatia Dua Duapuluh” sangat mudah mendaki ke atas, jadi kami mulai naik ke tingkat yang lebih tinggi. Segera kami berada di suatu taman yang merupakan tempat yang paling indah yang pernah saya lihat. Di atas pintu masuk taman ini tertulis : “Kasih Bapa yang tidak Bersyarat”, itulah pintu masuk yang paling mulia dan paling mengundang yang pernah saya lihat, sehingga kami terdorong untuk masuk. Begitu kami masuk, kami melihat Pohon Kehidupan di tengah-tengah taman ini. Pohon itu masih dijaga oleh malaikat-malaikat yang luar biasa kuatnya. Tampaknya mereka menantikan kami, jadi kami berani melewati mereka dan berjalan ke Pohon itu. Salah seorang di antara mereka berkata : “Orang-orang yang berhasil sampai ke tingkat ini, yang mengenal Kasih Bapa, boleh makan.”

Saya tidak menyadari betapa laparnya saya. Ketika saya mencicipi buah itu, rasanya lebih enak daripada apapun juga yang pernah saya kenal. Rasa buah itu menimbulkan kembali ingatan akan matahari, hujan, padang-padang yang indah, matahari terbenam di seberang lautan, tetapi lebih dari itu, mengenai orang-orang yang saya kasihi. Dengan setiap gigitan saya semakin mengasihi segala sesuatu dan setiap orang. Kemudian musuh-musuh saya mulai muncul di benak saya, dan saya juga mengasihi mereka. Perasaan itu segera menjadi lebih besar dari apapun yang pernah saya alami, bahkan dari kedamaian di “Galatia Dua Duapuluh” sekalipun. Kemudian saya mendengar suara Tuhan, dan Dia berkata : “Mulai sekarang, inilah rotimu setiap hari. Tidak akan pernah engkau dihalang-halangi untuk memakannya. Engkau boleh makan sebanyak dan sesering engkau mau. KasihKu tidak berakhir.”

Saya memandang ke atas pohon itu untuk melihat darimana suara itu datang, dan saya melihat bahwa pohon itu penuh burung-burung elang yang putih bersih. Mereka memiliki mata yang paling tajam dan indah yang pernah saya lihat. Mereka memandangi saya seakan-akan menantikan instruksi. Salah satu malaikat itu berkata : “Mereka akan melakukan permintaanmu. Elang-elang ini memakan ular.” Saya berkata :”Pergilah! Lahaplah Malu yang mengikat saudara-saudara kami”. Mereka mengepakkan sayapnya dan angin yang besar datang dan mengangkat mereka ke udara. Elang-elang ini memenuhi langit dengan kemuliaan yang membutakan. Bahkan di tempat kami yang begitu tinggi, saya dapat mendengar suara kengerian dari perkemahan musuh ketika mereka melihat elang-elang ini mendatangi mereka.

Tuhan Jesus Kristus sendiri kemudian berdiri di tengah-tengah kami. Dia menyentuh setiap orang, kemudian berkata : ”Aku sekarang harus menyampaikan kepadamu hal yang Kusampaikan kepada saudara-saudaraKu setelah kenaikanKu; yaitu berita KerajaanKu. Pasukan musuh yang paling kuat sekarang melarikan diri, tetapi tidak hancur. Sekaranglah waktunya bagi kita untuk berbaris dengan Injil KerajaanKu. Elang-elang telah dilepaskan dan akan pergi bersama kita. Kita akan mengambil panah dari setiap tingkat, tetapi Akulah Pedangmu, dan Akulah Panglimamu. Inilah waktunya Pedang Tuhan dihunus.”

Kemudian saya berpaling dan melihat segenap pasukan tentara Tuhan berdiri di taman itu. Ada pria dan wanita dan anak-anak dari segala suku dan bangsa, masing-masing membawa panji-panji mereka yang berkibar di udara dalam persatuan sempurna. Saya tahu bahwa hal seperti ini belum terlihat di bumi sebelumnya. Saya tahu bahwa musuh masih memiliki lebih banyak lagi pasukan dan benteng-benteng di seluruh bumi, tetapi tidak ada yang dapat bertahan di hadapan pasukan yang besar ini. Saya berkata, hampir berbisik, “Pastilah ini hari Tuhan.” Seluruh orang banyak itu kemudian menjawab dengan gelegar mengguntur : "Hari Tuhan Semesta Alam telah tiba.”

Oleh Rick Joyner




~ salib.net ~





AddThis Social Bookmark Button