Jangan Buka-bukaan di Facebook

Tidak perlu dipertanyakan lagi, semua sudah tahu betapa sedang ngetrennya Facebook sekarang ini. Semuanya seperti sedang berlomba-lomba online 24 jam setiap harinya di situs yang sudah punya 200 juta user di seluruh dunia ini. Online seharian penuh itu paling banyak digunakan untuk berkutat di seputar status. Keseruan mendapat sekaligus memberikan komentar pada status ini, membuat para user-nya sampai begitu mati-matian mencari segala cara agar tetap bisa online, Semuanya demi meng-update statusnya setiap saat. Memang sungguh luar biasa kekuatan dari Facebook ini. Tetapi dari semua kelebihan itu, tidak adakah sisi negatifnya?

Facebook merupakan situs jejaring sosial. Karena merupakan jejaring sosial maka user akan terhubung dengan banyak orang lainnya (yang disebut dengan istilah “teman”) untuk berbagi berbagai macam informasi, yang tidak jarang bersifat pribadi. Belum lagi statusnya yang bersifat online, maka sangat mungkin sekali bisa dilihat oleh semua pengguna internet di seluruh dunia, terutama kalau tidak dibatasi aksesnya. Penggunaannya yang gratis dan terbuka untuk siapa saja ini, juga membuat Facebook bisa digunakan untuk hal apapun. Entah itu memang serius untuk berkomunikasi dengan teman-temannya sampai hal-hal lain yang bisa merugikan.

Sifat keterbukaan dan keluasan itulah yang memunculkan beberapa efek negatif di antara begitu banyak kelimpahan keistimewaan dari Facebook. Sisi negatif tersebut juga sangat bervariasi, mulai dari tingkat ringan yang efeknya sekedar menjengkelkan sampai dengan tingkat berat yang bisa menimbulkan kerugian yang lumayan besar. Karena itulah Facebook juga menyimpan sejumlah resiko kalau kita tidak hati-hati menggunakannya.

I. Beberapa Resiko Dari Facebook
1. Virus
Sebagian besar aplikasi yang ada di Facebook dibuat oleh pihak ketiga, bukan oleh Facebook sendiri. Karena dibuat oleh pihak lain, maka ada kemungkinan aplikasi itu bisa membahayakan, apalagi jika bukan dibuat oleh suatu pihak yang bisa dipercaya. Dengan meng-install suatu aplikasi maka sama artinya kalau Anda menyetujui aplikasi itu untuk mengakses isi dari profile Anda dan menggunakannya. Jadi bisa saja semuanya itu disalahgunakan.

Selain itu yang tak kalah seringnya adalah serangan virus dengan jalan mengirimkan message palsu. Isi dari pesan itu di antaranya ada yang menyuruh user men-download suatu program untuk melihat video yang ditawarkan seperti pada virus Koobface. Begitu dijalankan program itu akan membuat komputer user terinfeksi dan akan mengirimkan data-data rahasia yang ada di komputer atau yang diketikkan user. Bentuk serangan lainnya yaitu mengirimkan pesan agar user mengklik alamat-alamat yang nantinya akan menampilkan halaman Facebook palsu dengan harapan dapat mencuri password. Lihat beritanya di sini.

2. Pengelolaan data
Beberapa kekhawatiran muncul ketika melihat begitu lengkapnya user mengisikan data-datanya. Di antaranya yaitu pencurian data. Hal ini pernah dibuktikan oleh 2 mahasiswa MIT yang berhasil men-download 70 ribu profile Facebook yang menggunakan script otomatis untuk proyek mereka untuk meneliti keamanan Facebook. Data-data ini sempat juga menjadi sengketa antara user dengan pihak Facebook. Masalah muncul ketika syarat dan ketentuan dari situs itu mengalami perubahan dengan hilangnya ketentuan yang mengatakan user dapat menghilangkan apa yang diisikannya kapanpun.

Dengan ketentuan baru ini berarti jika user menghapus account-nya, setiap komentar atau pesan yang ditinggalkan pada halaman teman Facebook-nya tidak ikut hilang (lihat beritanya di sini). Hal ini sempat menjadi perdebatan sengit sebelum akhirnya diadakan voting yang membatalkan peraturan baru itu (lihat beritanya di sini). Meski pembatalan ini harus dibuktikan lagi kebenarannya.

3. Facebook Beacon
Facebook Beacon diluncurkan 7 November 2007, merupakan inovasi marketing yang mengizinkan situs itu menampilkan aktivitas user pada profile Facebook sebagai Social Ads dan mempromosikan produk. Facebook akhirnya dikritik karena mengumpulkan data user lebih banyak dari yang pertama mereka katakan saat peluncuran. Facebook akhirnya meminta maaf dan kemudian mengizinkan user bisa memilih untuk tidak memakai Facebook Beacon.

4. Privasi
Dengan meng-update setiap saat status, ada keuntungan dan kerugiannya. Keuntungannya kita bisa saling berbagi kabar dengan teman-teman kita setiap saat. Tetapi itu jugalah yang menimbulkan masalah. Dengan terus meng-update status kita maka semua “teman” kita akan mengetahui apa yang sedang kita lakukan dan di mana kita berada. Repotnya “teman” ini bersifat sangat luas. Bisa berarti benar-benar teman kita yang ingin kita bagi tentang status kita, bisa juga seseorang yang memang kita kenal tetapi sebenarnya tidak perlu kita bagi status kita dan teman hasil add sembarangan untuk sekedar memperbanyak daftar teman kita. Apabila tidak diset dengan benar maka akibatnya privasi kita bisa terganggu. Contohnya bila Anda sedang membolos kerja dengan alasan sakit. Anda pasang status untuk teman-teman Anda, “Asyiknya sedang jalan-jalan”. Teman Anda mungkin bisa tertawa-tawa lihat status ini, tapi apa jadinya kalau bos Anda yang sudah jadi teman di Facebook Anda ikut membacanya?

5. Penyalahgunaan data
Dengan adanya data-data pribadi berikut foto-fotonya yang ada di halaman profile, maka itu semua rawan diambil oleh pihak-pihak lain yang bisa mengakses profile tersebut. Parahnya lagi semua itu bisa disalahgunakan untuk membuat suatu situs baru yang berisi data-data pribadi tersebut. Situs palsu itu seolah-olah dibuat langsung oleh user Facebook yang datanya dicuri tersebut. Jika niat si pencuri itu jelek maka tentunya situs itu akan ditambah dengan informasi-informasi untuk menjelek-jelekkan user yang bersangkutan. Hal semacam ini dikenal dengan sebutan impersonation yang tentunya sangat merugikan. Belum lagi untuk mengurus situs ilegal ini juga cukup repot. Untuk meminta penghapusan situs dan data-data milik kita yang disalahgunakan tersebut harus mengikuti beberapa prosedur yang memakan waktu lumayan lama.

6. Biaya membengkak
Aktif online di Facebook berarti harus terkoneksi terus dengan internet. Hal ini tentunya berarti biaya untuk internet juga bertambah besar. Apalagi kalau memakai koneksi internet yang bukan langganan tetapi insidental, jika digunakan terus-menerus pastinya biayanya bisa melebihi biaya langganan. Ini tentunya sudah resiko, jika ingin selalu online tentunya harus keluar biaya lebih banyak.

II. Kontroversi Haram Facebook
Ketika Facebook makin menjadi suatu hal yang sangat umum di Indonesia, tiba-tiba muncul kontroversi kalau situs jejaring sosial ini dianggap haram. Kontroversi itu seakan-akan menambah resiko dari Facebook. Tapi benarkah Facebook itu haram?

Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMPP) se-Jawa Timur yang terdiri dari delegasi santri putri, mengharamkan penggunaan Facebook yang berlebihan (lihat berita lengkapnya di sini). Pertanyaan itu dikeluarkan pada hari Jumat (22/5) saat berlangsungnya Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMPP) se-Jawa Timur XI di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat Lirboyo, Kota Kediri tersebut, yang diikuti sekitar 700 santri. Humas FMPP, Nabil Harun, mengatakan berlebihan itu mengarah pada penggunaan yang menjurus pada perbuatan mesum dan yang tidak bermanfaat.

Dari pantauannya saat ini, penggunaan situs jejaring tersebut sudah mengarah pada perilaku mesum. Itu dilihat dari berbagai gambar dan tulisan yang terpampang. Ia mengaku khawatir, penggunaan jejaring yang berlebihan justru berdampak negatif, ketimbang positif. Pengharaman ini juga berlaku ketika menggunakan Facebook untuk mencari jodoh, pacaran dan mengenal karakter tetapi bukan dalam proses pinangan atau lamaran. Keputusan itu dikatakan sudah sesuai dengan ketentuan dalam agama, yang secara tegas sudah menyebutkan hubungan pertemanan spesial tanpa ada maksud keseriusan diharamkan.

Nabil Harun mengatakan, situs jejaring sosial dan media komunikasi lainnya diperbolehkan jika membawa manfaat, seperti dagang, lamaran, jual-beli, maupun dakwah. Namun tampaknya keputusan haram ini tidak diikuti oleh forum lainnya. PBNU dan MUI tidak ikut-ikutan mengeluarkan fatwa haram ini pada Facebook.

Wakil Rais Aam Syuriah PBNU KH Tolhah Hasan berharap agar umat Islam mampu memaknai dan menyikapi kemajuan teknologi seperti Facebook. Menurut mantan menteri agama itu, Facebook sebagai teknologi merupakan bagian atau produk dari ilmu pengetahuan yang sifatnya netral. Dia menambahkan, bukan ilmunya sendiri yang halal atau haram, tetapi penggunaannya yang bisa menjurus pada sesuatu yang halal atau haram. Hal senada dikemukakan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi. Menurutnya, hukum halal atau haram, baru bisa disematkan kepada perbuatan yang menggunakan alat tersebut, bukan pada alatnya (lihat berita selengkapnya di sini).

Ketua MUI Kudus KH Syafiq Nashan menyatakan, tidak ada larangan menggunakanFacebook, karena keberadaan situs persahabatan ini memiliki banyak manfaat dibanding kerugiannya (lihat berita selengkapnya di sini).

III. Bagaimana Agar Aman Menggunakan Facebook?
Dengan adanya beberapa resiko itu tidak berarti kita harus menempuh langkah drastis menghapus account kita demi keamanan semua data-data kita. Masih begitu banyak keuntungan yang dapat kita peroleh dari Facebook, jadi yang diperlukan di sini adalah kita harus lebih berhati-hati dalam menggunakannya. Jangan terlalu terbuka di Facebook, karena hal itu akan dibaca oleh banyak orang.

Ikuti petunjuk berikut ini agar Anda tetap bisa menggunakan Facebook dengan aman:
1. Jangan cantumkan data yang terlalu detail. Memang bukan berarti kita harus mengisi kolom nama saja, tetapi usahakan mengisi secukupnya. Usahakan jangan mengisikan nomor telepon, alamat rumah dan alamat lainnya, kecuali kalau tujuan Anda untuk promosi perusahaan yang dimasukkan dalam Facebook. Jangan sampai profil Anda terisi begitu detail sampai ke hal-hal yang pribadi. Ingat Anda bukan sedang membuat Curriculum Vitae untuk melamar kerja. Semakin lengkap profil Anda, semakin banyak data yang rawan disalahgunakan.
2. Upload foto-foto yang sewajarnya saja. Dalam arti, jangan memasang foto-foto yang terlampau pribadi dan hanya cocok Anda tunjukkan ke orang-orang tertentu saja. Untuk foto semacam ini kirimkan saja langsung ke teman lewat email. Dengan memasukkannya ke Facebook, berarti foto itu kemungkinan besar akan bisa tersebar luas, entah disebarkan oleh teman Anda sendiri atau diambil oleh pihak-pihak lainnya. Sekali foto yang salah tersebar, akan sangat sulit menariknya dan mengetahui siapa yang menyebarkannya.
3. Era banyak-banyakan teman seperti saat Friendster baru berkembang sudah berakhir. Jangan membabi-buta melakukan add friend atau menerima invite orang yang tidak dikenal. Usahakan hanya melakukannya pada orang yang sudah menjadi teman dari beberapa teman Anda. Lihatlah jumlah mutual friends. Semakin banyak jumlahnya berarti semakin banyak teman Anda yang mengenalnya. Lebih baik lagi hanya menerima friend requests dari orang yang Anda kenal langsung. Cocokkan dengan search alamat emailnya. Menambah teman dengan account yang tidak jelas asal usulnya berpotensi akan mengundang virus, karena ada virus yang langsung menyerang begitu Anda menerima invite dari account yang mengandung virus.
4. Selektiflah menerima tag photo. Kalau tidak suka melihat kita di-tag di suatu foto segera lakukan untag atau meminta yang meng-upload foto itu untuk menghapusnya.
5. Ubahlah setting default dari Facebook, karena setting awal ini terlalu terbuka untuk umum. Aturlah privacy dan security-nya agar aman bagi Anda.
6. Jangan sembarangan memilih Groups dan Pages. Karena yang membuatnya adalah pihak ketiga, kebenaran penawarannya tidak bisa dijamin. Banyak Groups dan Pages yang hanya berupa spam.
7. Jangan gunakan password yang terlalu sederhana agar tidak mudah diterobos pihak yang tidak bertanggung-jawab. Tapi pilihlah yang mudah diingat oleh Anda agar Anda tidak kesulitan sendiri waktu menggunakannya.
8. Selektiflah menerima invite install aplikasi. Ingatlah sebagian besar aplikasi ini bukan dibuat oleh Facebook dan berpotensi mengambil data-data Anda tanpa izin. Terima aplikasi hanya dari sumber terpercaya.
9. Jangan membuka luas-luas akses pada informasi pribadi Anda, batasi hanya untuk teman-teman Anda
10. Jangan sembarangan melakukan posting komentar. Karena itu semua sangat mungkin dilihat oleh umum.
11. Jika memungkinkan, gunakan tanggal lahir yang palsu. Hal ini dikarenakan adanya aplikasi-aplikasi yang tanpa sepengetahuan user akan menunjukkan data-data pribadi Anda ini pada umum.
12. Berhati-hatilah mengisi informasi tentang pekerjaan Anda. Hindari menuliskan informasi tentang atasan Anda, karena kemungkinan besar atasan Anda tidak akan suka namanya dicantumkan seperti itu.
13. Jangan sembarangan dalam menuliskan pernyataan dan pandangan yang bersifat pribadi. Karena itu bisa digunakan oleh pihak-pihak yang tidak menyukai Anda untuk melawan dan menyerang Anda.
14. Begitu menemukan data Anda diambil dan digunakan oleh pihak lain tanpa sepengetahuan dan izin Anda, segera laporkan ke pengelola situs tempat data Anda disalahgunakan. Agar lebih cepat mintalah bantuan teman yang lebih mengerti untuk menyelesaikan masalah ini.

Saran setting privacy dan security untuk account Anda:
Untuk bagian Privacy Setting ada di menu Settings pada bagian kanan atas halaman Facebook.
1. Privacy Settings-Profile
a. Bagian tab Basic:
Bagian yang perlu diset nilainya menjadi Only Friends: Profile, Basic Info, Personal Info, Status Updates, Photos Tagged of You, Video’s Tagged of You, Friends, Wall Posts (membuat teman kita untuk posting di Wall Anda, hilangkan tandanya jika Anda tidak mau), Education Info dan Work Info.
b. Bagian tab Contact Information :
Bagian yang perlu diset nilainya menjadi Only Friends: IM Screen Name, Mobile Phone*, Other Phone*, Current Address*, Website dan Email Address.
* = demi amannya lebih baik tidak diisi.

2. Privacy Settings-Search
a. Bagian Search Discovery:
Search Visibility
tetap diset dengan Everyone, karena kalau tidak diset untuk semua orang maka teman-teman Anda akan kesulitan menemukan Anda di Facebook.
b. Bagian Search Result Content:
Lebih baik yang tercentang hanya A link to add me as a friend dan A link to send me a message. Default-nya Facebook memperbolehkan semua orang yang mencari Anda bisa melihat semuanya termasuk foto profile dan daftar teman-teman Anda. Dua bagian ini terutama foto profile rentan disalahgunakan.
c. Bagian Public Search Listing:
Untuk amannya hilangkan tanda centang di bagian ini. Jika tercentang berarti profile Facebook Anda bisa dicari oleh semua orang (meski bukan user Facebook) lewat search engine dan dikumpulkan oleh program Bot/Robot yang bekerja mengumpulkan data secara otomatis.

3. Privacy Settings–News Feed and Wall
a. Bagian tab Actions within Facebook:

Demi privasi Anda di bagian ini hilangkan tanda centang di pilihan Change relationship status (di bagian The Highlights section on your friends' home pages can include your Recent Activity. Allow Highlights to show my activity when I..) , Remove profile info dan Add a friend (keduanya ada di bagian Recent Activity will appear on your Wall when you edit your profile. Also show Recent Activity when I..).
b. Bagian tab Social Ads:
Gantikan pilihan dari Appearance in Social Ads ke No one agar Anda tidak mendapatkan iklan dari Facebook.

4. Privacy Settings-Applications
Masuk ke tab Settings untuk mengaturnya. Pada pilihan yang paling atas pilihlah Do not share any information about me through the Facebook API. Hal ini cukup penting karena ketika teman Anda mengizinkan suatu aplikasi untuk mengakses informasinya, aplikasi itu juga bisa mengakses informasi dan data Anda. Kalau aplikasi itu tidak aman atau memang bertujuan jelek maka data Anda kemungkinan bisa disalahgunakan. Pada bagian Facebook Connect Applications centang pilihan Don't allow friends to view my memberships on other websites through Facebook Connect, agar keamanan dari aplikasi lain yang Anda gunakan tetap terjaga. Sedangkan untuk bagian Beacon Websites, centang pilihan Don't allow Beacon websites to post stories to my profile, agar Facebook tidak menyebar post ke dalam Profile Anda.

Setelah mengatur untuk Privacy Settings saatnya Anda melihat lagi isi dari Profile Anda. Bagian ini dapat ditemukan di menu Profile yang ada di bagian kiri atas halaman utama Facebook. Kemudian klik tab Info dan klik lagi di Edit Information. Coba periksa lagi apakah ada data-data pribadi yang rawan disalahgunakan jika diketahui oleh orang lain. Hal ini terutama untuk alamat dan nomor telepon.



~ KapanLagi.com ~






AddThis Social Bookmark Button

NAMANYA JUGA ANAK MUDA

Oleh Eka Darmaputera

Tubuhnya yang kecil serta wajahnya yang naif, tak dapat menyembunyikan usianya yang memang baru belasan. Tepatnya, 16 tahun. Bagi saya, "anak" ini mewakili generasi sebayanya. Mungkin tak semuanya, namun paling sedikitnya sebagian dari mereka.

Pagi itu ia -- sebut saja namanya "Irene" -- datang, meminta agar pernikahannya dapat diberkati digereja. Tentu saja saya terkejut. Saya mengenal benar "anak" ini. Ia pernah jadi "anak didik" saya.

"Mengapa begitu cepat? Dan mengapa begitu tiba-tiba?", tanya saya. "Saya sudah hamil empat bulan,pak", jawabnya.

"Hamil? Empat bulan?"

"Ya, pak".

"Apa yang terjadi? Dengan siapa?"
Lalu ia pun bercerita. Bla bla bla. Tanpa beban. Setelah itu, giliran saya ber"khotbah". Bla bla bla. Sangat penasaran.

Akhirnya saya bertanya, "Apa kamu tidak menyesal?".

"Menyesal sih menyesal,pak".

"Menyesal karena apa yang telah kalian lakukan, atau sekadar karena kamu hamil?"

"Ya terutama karena saya hamil, pak. Sebab sebenarnya saya 'kan masih pengen sekolah, pak".

"Itu artinya kamu tidak menyesal karena "dosa" yang telah kamu lakukan. Begitu, bukan?,"
tanya saya - wah, gemasnya!

"Yah, namanya juga anak muda, pak, " jawabnya. Enteng sekali.

SAYA setuju dengan Barclay yan gmengatakan, bahwa etika Kristen harus berbicara mengenai masalah "seks pra-nikah" ini dengan serius. Bukan saja karena jumlahnya semakin banyak, tetapi terutama karena kegiatan seksual ini-- dengan lambat, tapi pasti -- kian menahbiskan diri sebagai kegiatan seksual yang "normal". Sekiranya tidak terjadi wabah HIV/AIDS, kecenderungan ini pasti kian tak terbendung.

Namun begitu, banyak orang toh memilih diam atau sekadar mencaci-maki tak keruan. Orang-orang yang menolak seks pra-nikah dengan sepenuh keyakinan kian terpinggirkan. Karenanya, enggan menampilkan posisinya dengan lantang dan terus terang.

Di Barat, sejak puluhan tahun silam, malah muncul teolog-teolog kristen yang justru membela praktik ini. Salah satunya yang paling terkenal adalah Joseph Fletcher. Profesor etika Kristen ini antara lain menulis, "Kultus keperawanan agaknya akan menjadi benteng perlawanan terakhir terhadap kebebasan seks, dan pasti akan ambruk. Sebab kini, berkat perkembangan di bidang kedokteran, orang bisa bebas melakukan kegiatan seksualnya tanpa dibayangi ketakutan seperti sebelumnya".

Memang tidak semua yang dikatakan Fletcher itu salah. Namun, saya mohon, jangan pula pandangan-pandangannya itu kita telan bulat-bulat. Sebab tidak semua yang walaupun dikatakan oleh seorang profesor, bermanfaat bagi kekristenan.

Ini telah diingatkan oleh seorang teolog lain, Malcolm Muggeridge, yang mengatakan, "Kita telah membiarkan seniman-seniman kita dengan bebas menghancurkan kesenian; penulis-penulis kita menghancurkan kesusastraan; sarjana-sarjana kita menghancurkan keilmuwanan; dan agamawan-agamawan kita menghancurkan agama. Kita mengembang-biakkan barbarian di rumah kita sendiri".

Kebungkaman banyak orang terhadap masalah seks pra-nikah, adalah ke"diam"an yang berbahaya. Seperti diilustrasikan oleh eksperimen terkenal dari seorang psikolog, Profesor John Court.

Seekor katak ia taruh di sebuah wadah yang berisi air dingin. Pelahan-pelahan sekali, suhu air itu dinaikkan. Sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ke titik didih. Namun yang mengherankan adalah, katak itu kalem-kalem saja. Tak sedikit pun ia berusaha menyelamatkan diri. Rupanya proses perubahan itu berlangsung begitu lambatnya, sehingga katak itu nyaris tak merasakan apa-apa. Karena ke"diam"annya itulah, ia mati.

APA yang disebutsebagai "revolusi seks", juga demikian. Ia terjadi dengan bergugurannya"tabu-tabu" - tidak sekaligus, melainkan satu demi satu. Tidak kentara. Eksperimen di atas mengingatkan, justru karena itulah "revolusi" ini layak kita cermati dengan serius. Sebelum kita terkejut, lalu cuma bisa tergagap-gagap.

Dalam salah satu refleksi kita yang terdahulu saya telah menyinggung, bagaimana orang modern cenderung memisahkan"seks" dari "pernikahan". "Seks pra-nikah" adalah salah satu wujudnya.

Menurut Barclay, ada tiga alasan yang paling kerap dikemukakan orang, guna membenarkan kegiatan seksual yang dilakukan sebelum -- atau di luar --perkawinan.

Pertama, adalah ANTISIPASI. Ini adalah kegiatan seksual yang dilakukan oleh sepasang anak manusia yang saling mencinta. Begitu rupa, sehingga mereka merasa yakin dan pasti, bahwa pada suatu saat mereka akan menikah.

Meng"antisipasi" pernikahan mereka yang "pasti" itulah, mereka tanpa ragu melakukan hubungan seks."Apasalahnya? Kami toh pasti akan menikah".

Tindakan yang mereka lakukan itu, mungkin secara esensial memang belum dapat dikategorikan sebagai "zinah". Motivasi mereka pun boleh jadi memang tulus. Namun, toh ada dua hal yang perlu dikemukakan.

(a) mereka mengatakan, bahwa untuk mengekspresikan cinta kasih mereka yang murni itulah, mereka melakukan hubungan seks. Pertanyaan saya adalah, mengapa tidak sebaliknya? Mengapa mereka tidak mengekspresikannya, justru dengan tidak melakukan hubungan seks sebelum mereka benar-benar suami-istri? Bukankah salah satu ekspresi cinta yang sejati. adalah kesanggupan mengendalikan diri?

Kemudian, (b), apa sih yang betul-betul pasti di dunia ini? Dari mana mereka bisa begitu yakin, bahwa mereka pasti akan menikah - pada satu hari? Dalam hidup ini, anak-anakku, tak ada yang 100% pasti. Buktinya amat banyak. Tidak bijaklah mengantisipasi sesuatu, yang di luar daya kita untuk meng"antisipasi"nya!

ARGUMENTASI kedua, saya sebut saja, SIMULASI. Atau "coba dulu baru beli". Kata mereka, "Membeli baju atau sepatu saja 'kan perlu mencoba dahulu. Apa lagi mau menikah. Sebab itu"mencoba" itu perlu, agar orang mengetahui dengan pasti, bahwa memang "dia"lah orangnya, dengan siapa ia akan menghabiskan seluruh sisa umurnya". Caranya? Dengan "hidup bersama" dulu. "Hidup bersama" dijadikan "simulasi" atau "tiruan" hidup perkawinan yang sesungguhnya.

Argumentasi ini sepintas lalu terkesan masuk akal. Tapi sebenarnya ia mengandung salah-perkiraan yang fundamental! Salah besarlah, orang yang menyangka bahwa hidup perkawinan itu dapat disimulasikan. "Hidup bersama" tidak pernah mungkin menggambarkan "hidup perkawinan" yang sesungguhnya.

Dalam kaitan ini, Barclay mengemukakan sebuah analogi yang menarik. Tentang seorang yang memutuskan, untuk beberapa bulan hidup di daerah kumuh bersama-sama dengan orang-orang miskin. Dengan jalan itu, ia berharap bisa mengalami secara langsung dan pribadi, bagaimana rasanya jadi orang melarat itu.

Maksud yang mulia! Tapi salah perhitungan. Tinggal di daerah kumuh memang dapat memberikan banyak pengalaman berharga. Tapi tetap tidak mungkin membuat orang benar-benar mengetahui "bagaimana sih rasanya jadi orang melarat itu" .

Mengapa? Sebab ada perbedaan yang sangat mendasar. Si relawan bisa setiap saat meninggalkan situasi kemiskinan itu. Pengalamannya dapat menjadi bagaikan petualangan dan ekskursi yang romantis, seperti ketika orang berlibur dengan berkemah di hutan. Tidak enak, tapi nikmat. Sedang orang-orang miskin itu? Mereka tidak punya pilihan lain. Seumur hidup mereka, mereka sudah terperangkap oleh ke melaratan mereka. Dan ini melahirkan dua sikap, bahkan mentalitas, yang berbeda!

Intinya adalah, "perkawinan" tidak pernah dapat di"eksperimen"kan. Sebab perkawinan adalah sebuah "komitmen". Orang tidak dapat meng"eskperimen"kan komitmen. Yang mungkin hanyalah, "menerima" atau "menolak". Tidak ada peluang untuk "coba-coba".

KETIGA, adalah alasan yang mengatakan bahwa ESENSI adalah segala-galanya. Perkawinan itu lebih daripada sekadar secarik kertas atau sebuah seremoni. Esensi sebuah perkawinan adalah komitmen untuk membangun relasi. Inilah yang terpenting, dengan atau tanpa perkawinan. Dengan atau tanpa formalitas.

Argumentasi yang jitu, bukan? Esensi dan kualitas tentu saja memang lebih utama ketimbang bungkus luarnya. Tapi apakah itu berarti, formalitas tidak ada nilainya? Kenyataan menunjukkan, walaupun formalitas bukan segala-galanya, tapi orang memerlukannya.

Sebuah "kontrak kerja", misalnya, memang tidak menjamin adanya komitmen yang tulus dari kedua belah pihak. Tapi paling sedikit ia memberi "pegangan". Orang bisa melakukan tindakan hukum bila itu dilanggar.

Yang saya khawatirkan adalah, orang yang mengatakan bahwa "komitmen, bukan formalitas yang penting", sebenarnya adalah orang yang menolak komitmen.

Orang yang mengatakan bahwa formalitas pernikahan tidak penting -- sebab hanya cinta kasih, relasi dan komitmen-lah yang penting -- sering adalah orang yang menolak untuk memberi komitmen "resmi".

Mereka masuk dari pintu depan, tapi diam-diam menyiapkan "pintu darurat" di belakang. Agar sewaktu-waktu mereka bisa melarikan diri dari komitmen dan relasi, yang selalu mereka katakan paling penting itu. Dan melarikan diri dengan mudah, tanpa direpotkan oleh tetek-bengek formalitas, seperti mengurus surat cerai dan sebagainya. Nah., ketahuan "belang"nya, bukan?




~ eliastories~





AddThis Social Bookmark Button