BEBERAPA CATATAN DARI ISRAEL

(Oleh : Luthfi Assyaukani - Paramadina Mulia Jakarta)

Saya baru saja melakukan perjalanan ke Israel. Banyak hal berkesan yang saya dapatkan dari negeri itu, dari soal Kota Tua yang kecil namun penuh memori konflik dan darah, Tel Aviv yang cantik dan eksotis, hingga keramahan orang-orang Israel. Saya kira, siapapun yang menjalani pengalaman seperti saya akan mengubah pandangannya tentang Israel dan orang-orangnya.

Ketika transit di Singapore, seorang diplomat Israel mengatakan kepada saya bahwa orang-orang Israel senang informalities dan cenderung rileks dalam bergaul. Saya tak terlalu percaya dengan promosinya itu, karena yang muncul di benak saya adalah tank-tank Israel yang melindas anak-anak Palestina (seperti kerap ditayangkan oleh CNN and Aljazira). Tapi, sial, ucapan diplomat itu benar belaka. Dia bukan sedang berpromosi. Puluhan orang yang saya jumpai dari sekitar 15 lembaga yang berbeda menunjukkan bahwa orang-orang Israel memang senang dengan informalities dan cenderung bersahabat.

Saya masih ingat dalam sebuah dinner, seorang rabbi mengeluarkan joke-joke terbaiknya tentang kegilaan orang Yahudi. Dia mengaku mengoleksi beberapa joke tapi kalah jauh dibandingkan Gus Dur yang katanya "more jewish than me." Dalam jamuan lunch, seorang diplomat Israel berperilaku serupa, membuka hidangan dengan cerita jenaka tentang persaingan orang Yahudi dan orang Cina.

Tentu saja, informalities adalah satu bagian saja dari cerita tentang Israel. Pada satu sisi, manusia di negeri ini tak jauh beda dengan tetangganya yang Arab: hangat, humorous, dan bersahabat. Atau semua budaya Mediteranian memang seperti itu? Tapi, pada sisi lain, dan ini yang membedakannya dari orang-orang Arab: kecerdasan orang-orang Israel di atas rata-rata manusia. Ini bukan sekadar mitos yang biasa kita dengar. Setiap 2 orang Israel yang saya jumpai, ada 3 yang cerdas. Mungkin ini yang menjelaskan kenapa bangsa Arab yang berlipat jumlahnya itu tak pernah bisa menandingi Israel.

Kecerdasan itu seperti kecantikan. Ia memancar dengan sendirinya ketika kita bergaul dengan seseorang. Tidak yang laki-laki, tidak yang perempuan, semua orang Israel yang saya ajak bicara memancarkan kesan itu. Patutlah bahwa sebagian peraih nobel dan ilmuwan sosial besar adalah orang-orang Yahudi.

Yang membuat saya terkesima adalah bahwa orang-orang Israel, paling tidak para pejabat, pemikir, budayawan, diplomat, penulis, dan profesional, yang saya jumpai, semuanya lancar dan fasih berbahasa Arab. Mereka senang sekali mengetahui bahwa saya bisa berbahasa Arab. Berbahasa Arab semakin membuat kami merasa akrab. Belakangan baru saya ketahui bahwa bahasa Arab adalah bahasa formal/resmi Israel. Orang Israel boleh menggunakan dua bahasa, Ibrani dan Arab, di parlemen, ruang pengadilan, dan tempat-tempat resmi lainnya.

Kebijakan resmi pemerintah Israel ini tentu saja sangat cerdas, bukan sekadar mengakomodir 20 persen warga Arab yang bermukim di Israel. Dengan menguasai bahasa Arab, orang-orang Israel telah memecah sebuah barrier untuk menguasai orang-orang Arab. Sebaliknya, orang-orang Arab tak mengerti apa yang sedang dibicarakan di Israel, karena bahasa Ibrani adalah bahasa asing yang bukan hanya tak dipelajari, tapi juga dibenci dan dimusuhi. Orang-orang Israel bisa bebas menikmati televisi, radio, dan surat kabar dari Arab (semua informasi yang disampaikan dalam bahasa Arab), sementara tidak demikian dengan bangsa Arab.

Bahwa Israel adalah orang-orang yang serius dan keras, benar, jika kita melihatnya di airport dan kantor imigrasi. Mereka memang harus melakukan tugasnya dengan benar. Di tempat2 strategis seperti itu, mereka memang harus serius dan tegas, kalau tidak bagaimana jadinya negeri mereka, yang diincar dari delapan penjuru angin oleh musuh-musuhnya.

Saya sangat bisa memahami ketegasan mereka di airport dan kantor-kantor imigrasi (termasuk kedubes dan urusan visa). Israel dibangun dari sepotong tanah yang tandus. Setelah 60 tahun merdeka, negeri ini menjadi sebuah surga di Timur Tengah. Lihatlah Tel Aviv, jalan-jalannya seperti avenues di New York atau Sydney. Sepanjang pantainya mengingatkan saya pada Seattle atau Queensland. Sistem irigasi Israel adalah yang terbaik di dunia, karena mampu menyuplai jumlah air yang terbatas ke ribuan hektar taman dan pepohonan di sepanjang jalan.

Bangsa Israel akan membela setiap jengkal tanah mereka, bukan karena ada memori holocaust yang membuat mereka terpacu untuk memiliki sebuah negeri yang berdaulat, tapi karena mereka betul-betula bekerja keras menyulap ciptaan Tuhan yang kasar menjadi indah dan nyaman didiami. Mereka tak akan mudah menyerahkan begitu saja sesuatu yang mereka bangun dengan keringat dan darah. Setiap melihat keindahan di Israel, saya teringat sajak Iqbal:

Engkau ciptakan gulita
Aku ciptakan pelita
Engkau ciptakan tanah
Aku ciptakan gerabah

Dalam Taurat disebutkan, Jacob (Ya'kub) adalah satu-satunya Nabi yang berani menantang Tuhan untuk bergulat. Karena bergulat dengan Tuhan itulah, nama Israel (Isra-EL, orang yang bergulat dengan Tuhan) disematkan kepada Jacob. Di Tel Aviv, saya menyaksikan bahwa Israel menang telak bergulat dengan Tuhan.

Orang-orang Israel akan membela setiap jengkal tanah yang mereka sulap dari bumi yang tandus menjadi sepotong surga. Bahwa mereka punya alasan historis untuk melakukan itu, itu adalah hal lain. Pembangunan bangsa, seperti kata Benedict Anderson, tak banyak terkait dengan masa silam, ia lebih banyak terkait dengan kesadaran untuk menyatukan sebuah komunitas. Bangsa Yahudi, lewat doktrin Zionisme, telah melakukan itu dengan baik.

Melihat indahnya Tel Aviv, teman saya dari Singapore membisiki saya: "orang-orang Arab itu mau enaknya saja. Mereka mau ambil itu Palestina, setelah disulap jadi sorga oleh orang-orang Yahudi. Kenapa tak mereka buat saja di negeri mereka sendiri surga seperti Tel Aviv ini?" Problem besar orang-orang Arab, sejak 1948 adalah bahwa mereka tak bisa menerima "two state solution," meski itu adalah satu-satunya pilihan yang realistik sampai sekarang. Jika saja orang-orang Palestina dulu mau menerima klausul itu, mungkin cerita Timur Tengah akan lain, mungkin tak akan ada terorisme Islam seperti kita lihat sekarang, mungkin tak akan ada 9/11, mungkin nasib umat Islam lebih baik. Bagi orang-orang Arab, Palestina adalah satu, yang tak bisa dipisah-pisah. Bagi orang-orang Israel, orang-orang Palestina tak tahu diri dan angkuh dalam kelemahan.

Sekarang saya mau cerita sedikit tentang Kota Tua Jerussalem, tentang al-Aqsa, dan pengalaman saya berada di sana. Percaya atau tidak, Kota Tua tidak seperti yang saya bayangkan. Ia hanyalah sekerat ladang yang berada persis di tengah lembah. Ukurannya tak lebih dari pasar Tanah Abang lama atau Terminal Pulo Gadung sebelum direnovasi. Tentu saja, sepanjang sejarahnya, ada perluasan-perluasan yang membentuknya seperti sekarang ini. Tapi, jangan bayangkan ia seperti Istanbul di Turki atau Muenster di Jerman yang mini namun memancarkan keindahan dari kontur tanahnya. Kota Tua Jerussalem hanyalah sebongkah tanah yang tak rata dan sama sekali buruk, dari sisi manapun ia dilihat.

Sebelum menuruni tangga ke sana, saya sempat melihat Kota Tua dari atas bukit. Heran seribu heran, mengapa tempat kecil yang sama sekali tak menarik itu begitu besar gravitasinya, menjadi ajang persaingan dan pertikaian ribuan tahun. Saya berandai-andai, jika tak ada Golgota, jika tak ada Kuil Sulayman, dan jika tak ada Qubbah Sakhra, Kota Tua hanyalah sebuah tempat kecil yang tak menarik. Berada di atas Kota Tua, saya terbayang Musa, Yesus, Umar, Solahuddin al-Ayyubi, Richard the Lion Heart, the Templer, dan para penziarah Eropa yang berbulan-bulan menyabung nyawa hanya untuk menyaksikan makam, kuburan, dan salib-salib. Agama memang tidak masuk akal.

Oleh Guide kami, saya diberitahu bahwa Kota Tua adalah bagian dari Jerussalem Timur yang dikuasai Kerajaan Yordan sebelum perang 1967. Setelah 1967, Kota Tua menjadi bagian dari Israel. "Dulu," katanya, "ada tembok tinggi yang membelah Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat. Persis seperti Tembok Berlin. Namun, setelah 1967, Jerussalem menjadi satu kembali." Yang membuat saya tertegun bukan cerita itu, tapi pemandangan kontras beda antara Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat dilihat dari ketinggian. Jerussalem Timur gersang dan kerontang, Jerussalem Barat hijau dan asri. Jerussalem Timur dihuni oleh sebagian besar Arab-Muslim, sedangkan Jerussalem Barat oleh orang-orang Yahudi.

Saya protes kepada Guide itu, "Mengapa itu bisa terjadi, mengapa pemerintah Israel membiarkan diskriminasi itu?" Dengan senyum sambil melontarkan sepatah dua patah bahasa Arab, ibu cantik itu menjelaskan: "ya akhi ya habibi, kedua neighborhood itu adalah milik privat, tak ada urusannya dengan pemerintah. Beda orang-orang Yahudi dan Arab adalah, yang pertama suka sekali menanam banyak jenis pohon di taman rumah mereka, sedang yang kedua tidak. Itulah yang bisa kita pandang dari sini, mengapa Jerussalem Barat hijau dan Jerussalem Timur gersang." Dough! Saya jadi ingat Bernard Lewis: "What went wrong?"

Ada banyak pertanyaan "what went wrong" setiap kali saya menyusuri tempat-tempat di Kota Tua. Guess what? Kota Tua dibagi kepada empat perkampungan (quarter): Muslim, Yahudi, Kristen, dan Armenia. Pembagian ini sudah ada sejak zaman Salahuddin al-Ayyubi. Menelusuri perkampungan Yahudi sangat asri, penuh dengan kafe dan tempat-tempat nongkrong yang cozy. Begitu juga kurang lebih dengan perkampungan Kristen dan Armenia. Tibalah saya masuk ke perkampungan Muslim. Lorong-lorong di sepanjang quarter itu tampak gelap, tak ada lampu, dan jemuran berhamburan di mana-mana. Bau tak sedap terasa menusuk.

Jika pertokoan di quarter Kristen tertata rapi, di quarter Muslim, tampak tak terurus. Ketika saya belanja di sana, saya hampir tertipu soal pengembalian uang. Saya sadar, quarter Muslim bukan hanya kotor, tapi pedagangnya juga punya hasrat menipu.

Namun, di antara pengalaman tak mengenakkan selama berada di perkampungan Islam adalah pengalaman masuk ke pekarangan al-Aqsa (mereka menyebutnya Haram al-Syarif). Ini adalah kebodohan umat Islam yang tak tertanggulangi, yang berasal dari sebuah teologi abad kegelapan. You know what? Saya dengan bebasnya bisa masuk ke sinagog, merayu tuhan di tembok ratapan, dan keluar-masuk gereja, tanpa pertanyaan dan tak ada penjagaan sama sekali.

Tapi begitu masuk wilayah Haram al-Syarif, dua penjaga berseragam tentara Yordania dengan senjata otomatis, diapit seorang syeikh berbaju Arab, menghadang, dan mengetes setiap penziarah yang akan masuk. Pertanyaan pertama yang mereka ajukan: "enta Muslim (apakah kamu Muslim)?" Jika Anda jawab ya, ada pertanyaan kedua: "iqra al-fatihah (tolong baca al-fatihah)." Kalau hafal Anda lulus, dan bisa masuk, kalau tidak jangan harap bisa masuk.

Saya ingin meledak menghadapi mereka. Saya langsung nyerocos saja dengan bahasa Arab, yang membuat mereka tersenyum, "kaffi, kaffi, ba'rif enta muslim (cukup, cukup, saya tahu Anda Muslim)." Saya ingin meledak menyaksikan ini karena untuk kesekian kalinya kaum Muslim mempertontonkan kedunguan mereka. Kota Tua adalah wilayah turisme dan bukan sekadar soal agama. Para petinggi Yahudi dan Kristen rupanya menyadari itu, dan karenanya mereka tak keberatan jika semua pengunjung, tanpa kecuali, boleh mendatangi rumah-rumah suci mereka.

Tapi para petinggi Islam rupanya tetap saja bebal dan senang dengan rasa superioritas mereka (yang sebetulnya juga tak ada gunanya). Akibat screening yang begitu keras, hanya sedikit orang yang berminat masuk Haram al-Syarif. Ketika saya shalat Maghrib di Aqsa, hanya ada dua saf, itupun tak penuh. Menyedihkan sekali, padahal ukuran Aqsa dengan seluruh latarnya termasuk Qubbat al-Shakhra sama besarnya dengan masjid Nabawi di Madinah. Rumah tuhan ini begitu sepi dari pengunjung.

Tentu saja, alasan penjaga Aqsa itu adalah karena orang-orang non-Muslim haram masuk wilayah mesjid. Bahkan orang yang mengaku Muslim tapi tak pandai membaca al-Fatihah tak layak dianggap Muslim. Para penjaga itu menganggap non-Muslim adalah najis yang tak boleh mendekati rumah Allah.

Saya tak bisa lagi berpikir. Sore itu, ingin saya kembali ke tembok ratapan, protes kepada Tuhan, mengapa anak bontotnya begitu dimanja dengan kebodohan yang tak masuk akal.

---------
Luthfi Assyaukani (orang Paramadina Mulia Jakarta) yang menganggap teks Al-Qur'an mengalami copy editing oleh para sahabat. Ungkapan untuk meragukan kemurnian Al-Qur'an ini disiarkan lewat internet JIL, islamlib.com: "Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian mengalami berbagai proses copy-editing oleh para sahabat, tabi'in, ahli bacaan, qurra, otografi, mesin cetak, dan kekuasaan." (Islamlib.com --Merenungkan Sejarah Alquran, Oleh: Luthfi AssyaukanieTanggal dimuat: 17/11/2003).




~ pustakalewi 13 Jan 2009 ~





AddThis Social Bookmark Button

Surga dan neraka menurut BILL GATES

Ketika Bill Gates meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan, ia mendapatkan dirinya berada di alam baka. Tuhan berkata, "Baiklah Bill, saya tidak begitu yakin, apakah saya harus mengirimkan kamu ke neraka atau ke surga. Karena saya lihat, kamu sudah membantu masyarakat dengan meletakkan komputer di setiap rumah hampir di seluruh dunia dan menciptakan Windows Vista yang sangat menakjubkan itu. Khusus untuk kasus ini, saya akan memberikan kebebasan kepadamu untuk memutuskan dimana kamu ingin tinggal."

Bill menjawab, "Baik, terima kasih Tuhan. Tapi apa bedanya antara surga dan neraka itu?" Tuhan berkata, "Saya mengijinkan kamu untuk mengunjungi keduanya dahulu supaya kamu lebih mudah mengambil keputusan." "Oke. Kalau begitu, saya coba melihat neraka dulu," kata Bill.

Kemudian Bill pergi ke neraka. Ternyata ia melihat bahwa neraka merupakan tempat yang sangat indah, bersih dengan pantai pasir putihnya disertai air yang bening. Dan terdapat ribuan wanita cantik yang berlarian, berenang, bermain air, tertawa riang gembira. Matahari pun bersinar cerah dengan suasana yang sejuk dan nyaman, sempurna sekali. Bill tampak sangat senang.

"Wow, luar biasa!!! Indah sekali di sana !!," katanya kepada Tuhan. "Kalau neraka saja seperti itu, saya ingin sekali melihat surga!" "Baik," kata Tuhan.

Segera mereka pergi ke surga untuk melihat suasana di sana . Bill melihat surga yang berada di tempat tinggi dengan diliputi awan. Berlaksa- laksa malaikat sedang bermain harpa dan bernyanyi. Ia merasa damai melihat suasana di surga tapi ia tidak tampak bergairah seperti ketika melihat neraka.

Bill berpikir sejenak, dan akhirnya mengambil keputusan. "Hmm, saya pikir... saya akan betah tinggal di neraka, Tuhan," katanya.

"Baiklah, kalau begitu," jawab Tuhan.

"Sesuai dengan keinginanmu." Kemudian Bill Gates pergi dan tinggal di neraka. Dua minggu kemudian, Tuhan ingin melihat keadaan sang Jutawan, Bill Gates, ini untuk memastikan keadaannya baik-baik saja dan apa yang sedang dilakukannya.

Ketika Tuhan sampai di neraka, Ia menemukan Bill sedang berada di lorong yang gelap dan berteriak di tengah-tengah api yang menyala-nyala. Ia merasa terbakar dan tersiksa. "Bagaimana keadaanmu, Bill?", Tuhan bertanya. Bill menjawab dengan suara yang berat, penuh penderitaan dan tak berpengharapan, "Sangat mengerikan, Tuhan. Ini tidak sama seperti apa yang saya lihat kemarin. Dimana pantai berpasir putih, perempuan-perempuan cantik yang dulu ada disini?? Apa yang terjadi Tuhan??"

Tuhan berkata, "Oh Itu kan hanya screen saver, Bill!"



AddThis Social Bookmark Button

Rapat Tikus

Pada suatu kali, tikus-tikus di sebuah gudang mengadakan rapat untuk membahas ancaman kucing yang sering mengejar dan memangsa mereka. Mereka mengeluh, sejak petani memelihara kucing di gudang, para tikus makin sulit mencari makanan.

"Jadi, bagaimana cara kita supaya bisa melawan si kucing atau paling tidak menghindari bertemu dengannya?"

Beberapa usul diutarakan. Ada yang mengusulkan untuk diadakan latihan beladiri untuk para tikus. Sementara tikus lain mengusulkan agar mereka pindah dari gudang itu ke gudang lain yang tidak ada kucingnya.

Namun, semua usul itu segera ditolak. Tapi, tiba-tiba seekor tikus mengangkat tangan dan berkata, "Saya punya usul. Bagaimana kalau kita pasang sebuah lonceng di leher si kucing. Jadi, kalau kucing itu datang, kita akan segera bisa lari begitu mendengar suara loncengnya."

Semua tikus berpandangan mendengar usul itu. Mereka memuji si tikus itu. Usulnya sungguh di luar pikiran mereka dan cukup sederhana. Namun, dampaknya bisa sangat menguntungkan bagi para tikus.

Tapi tidak bagi si pemimpin rapat, seekor tikus tua yang bijaksana. Ia memandang semua tikus yang hadir dan berkata, "Yah, memang usul itu sangat orisinil dan tak terpikirkan sebelumnya. Tapi, pertanyaannya, siapa yang akan memasang bel itu di leher si kucing?"

Para tikus kembali saling berpandangan. Benar juga katanya. Meski usul itu baru dan sepertinya merupakan terobosan, tapi jika tidak efektif dan tidak bisa diterapkan, usul itu sama saja tidak berguna.



~ motivator smartbook ~




AddThis Social Bookmark Button

Sersan Galak

Mamat, seorang pemuda canggung mendaftar menjadi tentara sukarelawan. Latihan militer pun dipimpin Sersan Joko yang sangat keras dan galak.

"Lencang depan, grak.. Hadap kanan grak!" Semua prajurit menghadap kanak kecuali Mamat yang justru menghadap ke arah berlawanan.

"Hey, kamu, siapa namamu??? Tiadak tahu beda kanan dan kiri ya?? Dasar bodoh sekali kamu ini!"

"Siap komandan. Nama saya Mamat. Saya akan perbaiki."

"Siap, hormat, tegak senjata.." Semua serempak mengikuti, kecuali Mamat yang justru masih memegang senjata di depan dada.

"Kamu, dasar bodoh! Tidak dengar aba-baa ya?" Bentak Sersan Joko.

"Siap komandan, saya akan perbaiki."

"Hadap kanan, jalan di tempat, kiri kanan kiri.."

Semua langkah berderap rapi dan serempak, kecuali satu prajurit yang melangkah dengan kaki kanan saat aba-aba kiri dan kaki kiri saat aba-aba kanan.

"Berhenti, grak... Hey, Mamat. Aku tidak sedang melatih anak SD, aku melatih tentara dewasa! Kenapa langkahmu selalu telat? Kamu memang bodoh. Dengar aba-aba!!"

"Siap, komandan. Saya akan perbaiki."

Hari itu, berulang kali Mamat dibentak, dihukum, dan dicaci maki karena berbagai kesalahan yang dibuatnya. Keesokan harinya, tiba giliran latihan menembak.

"Arahkan senjata, bidik, tembak!" Seru Sersan Joko. Rentetan tembakan ke arah sasaran bergema. Namun, apa yang terjadi dengan sasaran Mamat? Ia justru menembak sasaran yang menggambarkan warga sipil, bukan musuh.

"Prajurit bodoh! Saat perang pasti kamu sudah membunuh teman-temanmu. Dasar kamu memang bodoh, tidak pantas jadi prajurit! Apa tujuanmu masuk tentara?"

"Siap komandan, saya akan perbaiki. Tujuan saya adalah ingin menjadi seorang kolonel."

"Kamu prajurit bodoh tidak akan pernah jadi kolonel! Jadi kopral-pun tidak! Dasar kamu bodoh!"

Di hari berikutnya, latihan memasang tenda pun diadakan. Para calon prajurit disuruh memasang tenda dalam sekian menit. Tenda harus kuat dan tidak mudah roboh. Namun lagi-lagi Mamat terlambat melebihi waktu. Bukan hanya itu, ketika Sersan Joko memeriksa tendanya, dalam sekali sentak tenda itu langsung roboh.

"Hey, Mamat! Selama sepuluh tahun aku melatih prajurit, baru kali ini aku melatih prajurit sebodoh, sedungu, dan sesial dirimu! Apa kamu tidak punya otak???"

"Siap komandan. Saya akan perbaiki."

Dua puluh tahun berlalu, perang sudah lama selesai. Sebuah parade militer dilangsungkan di tengah kota. Sepasang orang tua tampak melihat salah satu tentara yang sering terlihat agaka gugup dan beberapa kali melakukan kesalahan. Persis sama seperti prajurit Mamat dua puluh tahun yang lalu. Seorang sersan tua mendatangi kedua orang tua itu.

"Jadi, Sersan Joko... Apa Anda kira anak kami akan bisa sukses menjadi tentara?" Tanya bapak tua yang sedari tadi mengamati prajurit gugup itu.

"Saya rasa tidak akan sukses... Saya rasa tidak Kolonel Mamat."




~ motivator smartbook ~






AddThis Social Bookmark Button

Batu Ajaib

Seorang pemulung menemukan sebuah buku di antara puing-puing sebuah perpustakaan yang terbakar. Tapi karena ia sendiri tidak begitu suka, lancar, dan butuh membaca buku, ia pun berniat akan menjual saja buku itu ke toko loak.

Namun, ketika sebelum menjual ia membuka-buka halaman-halaman buku itu, ia mendapati sebuah halaman di tengah yang isinya merupakan petunjuk adanya batu ajaib. Batu ajaib itu adalah batu yang jika disentuhkan ke logam apapun, maka logam itu akan berubah menjadi emas. Dalam buku itu, disebutkan ciri-ciri batu ajaib itu yang harus dicarinya. Batu ajaib itu berwarna gelap dan jika dipegang akan terasa lebih hangat dan berkedut-kedut.

Maka, si pemulung pun segera memutuskan untuk mulai mencari batu ajaib. Setiap ada batu berwarna gelap, ia akan memungutnya dan memeriksa jika rasanya hangat dan berkedut. Jika tidak, ia akan melemparnya begitu saja.


Maka, hari demi hari berlalu. Si pemulung masih terus berusaha mencari batu itu. Ia berjalan dan terus berjalan sambil memunguti batu dan melemparnya, begitu terus sebelum ia merasa menemukan batu itu.


Setelah minggu demi minggu, dan bulan berganti bulan, batu itu masih belum juga ditemukan. Namun, satu kali saat ia berjalan menyusuri sebuah pantai. Setelah beberapa jam membungkuk, memegang batu, dan melemparnya ke laut, ia menemukan sebua batu warna gelap, hangat, dan berkedut! Tapi, ternyata tanpa sadar ia tetap melemparkan batu itu ke laut. Tangannya telah terbiasadengan pola ambil-pegang-lempar itu membuang kesempatan mendapatkan batu ajaib yang selama ini ia cari.


Dear all Daniel Room readers, "Selamat Tahun Baru 2009" Memasuki tahun 2009, mari kita tapaki dengan langkah pasti dan dengan penuh pengharapan akan hari depan yang lebih baik di dalam Tuhan Yesus. Bukan lagi menapaki hari-hari dengan rutinitas belaka.




~ motivator smartbook ~






AddThis Social Bookmark Button