Ketika Dunia Berbalik Menyerang Kita

Ini tidak adil. Ini sangat tidak manusiawi. Bahkan sangat tidak masuk akal dilakukan oleh manusia-manusia yang berakal budi. Bukankah Yesus tidak pernah melakukan yang buruk? Sedikitpun tidak. Ia selalu berbuat baik. Ia selalu memberi pertolongan, bahkan ketika saatNya belum tiba pun, Ia tetap menyelamatkan muka keluarga mempelai di Kana. Ia tidak pernah menggosipkan orang lain, apalagi memfitnahnya. PerkataanNya manis, lembut dan menyegarkan siapa saja yang letih. Ia tidak pernah meminta atau menuntut lebih, Ia selalu memberi. Ia tidak pernah menjadi batu sandungan, Ia menjadi berkat. Ia membuat mujijat dan memberikannya kepada mereka yang butuh mujijat. Tak terhitung lagi kaki lumpuh yang bisa berjalan, atau mata buta yang celik, si bisu yang akhirnya berujar, atau si tuli yang sekarang bisa enjoy dengar musik easy listening.


Yesus buat semuanya itu. Tapi apa yang Ia dapat? Pengkhianatan. Olokan. Cercaan. Tatapan sinis. Bahkan paduan suara yang sedemikian kompak, “Salibkan Dia!” Bisa jadi yang berteriak lantang adalah mereka yang pernah mengecap kebaikanNya atau bahkan yang mengalami sendiri mujijatNya. Dua belas murid yang Ia andalkan juga tiba-tiba melempem. Nyalinya ciut dan memilih menyelamatkan diri masing-masing. Meski semula mereka gembar-gembor bahwa nyawa pun akan dipertaruhkan demi guruNya. Pengkhianatan. Bukan hanya Yudas saja, tapi sebenarnya semua murid mengkhianati Dia, karena membiarkan Dia sendirian menanggung semuanya itu.


Yesus dikhianati oleh orang-orang yang selama tiga tahun terakhir ini selalu bersamaNya. Yesus disalibkan oleh orang-orang yang pernah ditolongNya. Mungkin saja mereka yang memaki Yesus adalah mereka juga yang pernah dibuatnya bicara dari kebisuan. Yesus mengalami semuanya itu, tapi Ia tetap teguh. KasihNya tidak tergoncang. Pengkhianatan tak mampu mengubah kasihNya. Meski dunia berbalik melawanNya, Ia tetap mengampuni. Teladan hidup yang luar biasa.


Bagaimana jika dunia berbalik melawan kita? Bagaimana jika orang yang pernah kita tolong memberikan ciuman Yudas? Marilah kita belajar dari Yesus. Hidup yang dikuasai kasih. Memang berat. Daging kita berontak. Logika kita tidak bisa menerima. Bagaimana mungkin mengasihi mereka yang berbalik melawan kita. Tapi itulah kasih. Kasih bukanlah kasih kalau tidak bisa mengasihi musuh kita.


Apakah kita tetap mengasihi mereka yang berbalik melawan kita?



~ Spirit online ~





AddThis Social Bookmark Button

BERSEPEDA DENGAN TUHAN

Mulanya aku melihat Tuhan sebagai Pengawas, Pengadil, mencatat setiap kesalahanku, juga tahu apakah aku masuk surga atau neraka kalau mati. Ia di luar sana seperti presiden. Aku mengenali gambar-Nya kalau aku lihat, tapi Aku tidak begitu kenal Dia.


Tapi, kemudian setelah aku mengenal Kekuatan Terbesar-ku, hidup jadi seperti mengendarai sepeda – di sepeda gandeng. Tuhan di sepeda belakang, membantuku mengayuh.


Aku tidak tahu pasti kapan itu, saat Ia menyarankan kami berganti posisi, dan aku setuju, dan hidupku tidak pernah sama lagi sejak itu.


Saat aku mengira aku yang memegang kendali, Aku juga mengira aku tahu jalannya. Aku mencoba mengambil jarak terpendek di antara dua titik. Tapi, saat aku membiarkan Ia memimpin, Aku jadi tahu bahwa Ia tahu jalan panjang yang menyenangkan, mendaki, melewati jalan-jalan berbatu, kadang mengayuh dengan kecepatan yang menakutkan. Cuma itu yang bisa kulakukan untuk bertahan! Bahkan waktu jalan terlihat membingungkan atau mungkin salah, Ia hanya berkata, "KAYUH!"


Aku kuatir dan cemas, dan bertanya, "Kemana Dikau membawa diriku?" Ia hanya tertawa, dan tidak menjawab – hanya mencondongkan badannya sedikit ke belakang, menyentuh tanganku untuk mengingatkan bahwa Ia selalu bersamaku dalam perjalanan ini. Jadi, aku mulai belajar hukum spiritual alam semesta, dan aku mulai percaya kehidupan. Betapa ini telah menjadi sebuah petualangan hebat!


Ia membawaku ke orang-orang dengan berkah yang saya perlukan, berkah penyembuhan, penerimaan dan kebahagiaan. Mereka memberikan berkah mereka dengan cuma-cuma untuk kubawa dalam perjalananku, perjalanan kami, Tuhan dan aku. Dan kami teruskan perjalanan kami. Sebelum kusadari, Tuhan berkata,"Ayo bagi-bagikan berkah ini, hanya jadi kelebihan bagasi, terlalu banyak untuk hanya kita yang memilikinya." Dan begitulah, aku bagikan ke semua orang yang kami temui sepanjang jalan. Dan kudapati bahwa semakin banyak kubagikan, semakin banyak kuterima pula, dan beban kami tetap saja ringan.


Sulit pada awalnya untuk percaya kepada-Nya, membiarkannya menyetir hidupku. Kutakutkan Ia bisa merusaknya. Kupelajari kemudian bahwa Tuhan tahu rahasia sepeda yang tidak kuketahui! Contohnya, Ia tahu bagaimana melewati tikungan tajam, melompati batu-batuan tinggi, dan Ia terbang melewati jalur-jalur menakutkan. Lagipula, aku belajar lebih menikmati pemandangan dan terpaan dingin di wajahku, dalam keakraban yang tetap dan menyenangkan dengan Kekuatan Terbesar-ku.


Dan saat aku yakin aku tidak sanggup meneruskan lagi, Ia hanya tersenyum dan berkata, "KAYUH!"



(Artikel ini ditulis oleh seseorang yang tidak diketahui namanya dan dikirim oleh Farida - red)





AddThis Social Bookmark Button

P U S H


Seorang laki-laki sedang tidur di pondoknya ketika kamarnya tiba-tiba menjadi terang, dan nampaklah Sang Juruselamat. Tuhan berkata padanya bahwa ada pekerjaan yang harus dilakukannya.

Lalu Tuhan menunjukkan padanya sebua batu besar di depan pondoknya. Tuhan menjelaskan bahwa ia harus mendorong batu itu dengan seluruh kekuatannya. Hal ini dikerjakan laki-laki itu setiap hari.

Bertahun- tahun ia bekerja sejak matahari terbit sampai terbenam, pundaknya sering menjadi kaku menahan dingin, ia kelelahan karena mendorong dengan seluruh kemampuannya. Setiap malam laki-laki itu kembali ke kamarnya dengan sedih dan cemas, merasa bahwa sepanjang harinya kosong dan tersia-sia.

Ketika laki-laki itu mulai putus asa, si Iblispun mulai mengambil bagian untuk mengacaukan pikirannya "Sekian lama kau telah mendorong batu itu tetapi batu itu tidak bergeming. Apa kau ingin bunuh diri? Kau tidak akan pernah bisa memindahkannnya."

Lalu, ditunjukkannya pada laki-laki itu bahwa tugas itu sangat tidak masuk akal dan salah. Pikiran tersebut kemudian membuat laki-laki itu putus asa dan patah semangat.

"Mengapa aku harus bunuh diri seperti ini?" pikirnya.
"Aku akan menyisihkan waktuku, dengan sedikit usaha, dan itu akan cukup baik."

Dan itulah yang direncanakan, sampai suatu hari diputuskannya untuk berdoa dan membawa pikiran yang mengganggu itu kepada Tuhan.
"Tuhan," katanya "Aku telah bekerja keras sekian lama dan melayaniMu, dengan segenap kekuatanku melakukan apa yang Kau inginkan. Tetapi sampai sekarang aku tidak dapat menggerakkan batu itu setengah milimeterpun. Mengapa? Mengapa aku gagal?'"

Tuhan mendengarnya dengan penuh perhatian, "Sahabatku, ketika aku memintamu untuk melayaniKu dan kau menyanggupi, Aku berkata bahwa tugasmu adalah mendorong batu itu dengan seluruh kekuatanmu seperti yang telah kau lakukan. Tapi tidak sekalipun Aku berkata bahwa kau mesti menggesernya. Tugasmu hanyalah mendorong. Dan kini kau datang padaKu dengan tenaga terkuras, berpikir bahwa kau telah gagal. tetapi apakah benar? Lihatlah dirimu. Lenganmu kuat dan berotot, punggungmu tegap dan coklat, tanganmu keras karena tekanan terus- menerus, dan kakimu menjadi gempal dan kuat. Sebaliknya kau telah bertumbuh banyak dan kini kemampuanmu melebihi sebelumnya. Meski kau belum menggeser batu itu. Tetapi panggilanmu adalah menurut dan mendorong dan belajar untuk setia dan percaya akan hikmatKu. Ini yang kau telah selesaikan. Aku, sahabatku, sekarang akan memindahkan batu itu."

Terkadang, ketika kita mendengar suara Tuhan, kita cenderung menggunakan pikiran kita untuk menganalisa keinginanNya, sesungguhnya apa yang Tuhan inginkan adalah hal-hal yang sangat sederhana agar menuruti dan setia kepadaNya....

Dengan kata lain, berlatih menggeser gunung-gunung, tetapi kita tahu bahwa Tuhan selalu ada dan Dialah yang dapat memindahkannya. Ketika segalah sesuatu kelihatan keliru.... lakukan P.U.S.H. (PUSH = dorong) Ketika pekerjaanmu mulai menurun.... lakukan P.U.S.H.
Ketika orang-orang tidak berlaku seperti yang semestinya mereka lakukan....lakukan P.U.S.H.
Ketika uangmu seperti "lenyap" dan tagihan-tagihan mulai harus dibayar....lakukan P.U.S.H.

P. Pray
U. Until
S. Something
H. Happens

PUSH = Pray Until Something HAPPENS!! (Berdoalah sampai sesuatu terjadi)
(Artikel kiriman dari Ibu Debbie Kusuma- red)

Tanaman Yang Dulu Dihina

Masyarakat kuno Jepang mengenal bawang putih sebagai hiu. Pada abad keenam, nama itu diganti dengan ninniku. Kata pengganti tersebut bermakna "sabar menerima penghinaan". Tak ada penjelasan pasti soal penggantian tersebut. Namun, ada dugaan kuat: kata ninniku digunakan berkaitan dengan aroma menyengat dari napas dan keringat seseorang yang mengonsumsi bawang putih.

Saat itu, bawang putih memang telah dimanfaatkan sebagai obat. Hanya, khasiatnya yang paling ngetop adalah meningkatkan gairah seks. Karena itu, seseorang yang tubuhnya meruapkan bau khas bawang putih mesti menerima cemoohan sebagai "pecandu seks".

Namun, reputasi jelek itu kini tinggal kenangan. Pada perkembangannya, bawang putih perlahan-lahan mulai menggapai "posisi terhormat" sebagai salah satu tanaman obat yang berguna dalam mengusir sejumlah jenis penyakit.

Kendati demikian, riset ilmiah soal kandungan dan manfaat medis bawang putih baru dimulai pada penghujung abad ke-19. PW Semmler, seorang ilmuwan Jerman, merupakan orang pertama yang melakukannya. Yang unik, pintu masuk penelitiannya adalah mencari penjelasan soal bau tajam yang dikeluarkan tanaman bernama latin Allium sativum itu.

Dari penelitiannya, Semmler menyimpulkan, bau tajam bawang putih muncul karena dialil disulfida. Sebagai kesimpulan lanjutan, Semmler menyatakan bahwa diasil disulfida merupakan zat aktif utama dalam bawang putih.

Pada 1944, CV Cavallito juga melakukan penelitian demi menemukan asal-muasal khasiat bawang putih bagi kesehatan. Sesudahnya, ia mengumumkan bahwa Alisin adalah zat aktif utama dalam bawang putih dan penghasil bau menyengat di bawang putih. Tapi, kabar terpenting: Alisin merupakan zat yang amat ampuh sebagai antibiotik.

Cavallito menyatakan, saking ampuhnya, jika satu bagian dipecah sampai 85 ribu bagian, kemanjuran Alisin sebagai antibiotik tak berkurang. Kandungan lain pada bawang putih adalah germanium. Fungsi zat ini adalah membantu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit.

Jadi, apa saja kegunaan bawang putih? Pertama, meningkatkan stamina. Tadashi Watanabe, seorang sarjana biologi Jepang, pernah melakukan riset soal ini dengan menggunakan tikus. Para tikus itu dibagi dua. Kelompok pertama, diberikan makanan biasa. Kelompok kedua, diberikan makanan yang kaya dengan bawang putih.

Setelah beberapa waktu, kedua kelompok tikus itu dicemplungkan ke sebuah kolam. Watanabe menemukan, tikus-tikus dari kelompok kedua sanggup berenang lebih jauh ketimbang tikus-tikus dari kelompok pertama.

Kedua, ya seperti riwayat di atas: menambah gairah seksual. Dari sejumlah penelitian, ditemukan fakta bahwa Alisin memang mampu merangsang pusat saraf penis dan menolong seorang pria untuk mempertahankan ereksi.

Ketiga, ampuh melawan flu. Lazimnya, dengan istirahat dan mengonsumsi makanan bergizi, flu bisa lenyap. Namun, adakalanya ditemui juga flu yang "membandel": sudah beristirahat dan menjaga asupan gizi, eh tak juga mau pergi. Di sini, bawang putih bisa membantu. Penjelasan logisnya adalah lantaran bawang putih mengandung germanium.


Keempat, berguna meminimalkan risiko kanker. Khususnya, kanker lambung dan usus besar. Sebuah penelitian yang dilakukan tim University of Minnesota, Amerika Serikat, menyimpulkan, peluang terserang kanker turun 50% pada wanita usia lanjut yang rutin mengonsumsi bawang putih. Sementara, sel-sel kanker prostat ternyata hanya tumbuh seperempat kecepatan normal bila penderitanya mengonsumsi bawang putih.

Di luar empat manfaat tersebut, masih ada sederet kegunaan bawang putih. Yaitu, menghilangkan insomnia, membantu pengobatan TBC, mengurangi sembelit, mengontrol gejala diabetes, melangsingkan tubuh, meringankan reumatik, serta mengurangi gangguan di masa menopause.

Lantas, bagaimana cara praktis dan efektif dalam mengonsumsi bawang putih? Ada aneka cara. Misalnya, memotong-motongnya atau mencampurkannya dalam makanan. Sebuah sumber menyatakan, memakannya mentah-mentah adalah cara yang paling baik.

Cuma, jika Anda memakannya mentah-mentah, ada dua reaksi negatif yang mungkin muncul. Pertama, bisa membakar jaringan dalam mulut karena semburan panasnya. Kedua, terutama buat orang yang perutnya rentan, bawang putih bisa mengganggu pencernaan dan juga menimbulkan rasa panas di perut.

Di buku ‘Penyembuhan Dengan Terapi Bawang Putih', Watanabe memberikan kiat agar orang yang perutnya rentan tak ketar-ketir saat menyantap bawang putih. Yaitu, bawang putih dicampurkan dengan kuning telur. Lantas, campuran itu digoreng sampai kering seperti saat membikin telur dadar.

Secara prinsip, jika Anda tak sanggup mengonsumsi bawang putih tanpa diolah terlebih dahulu, sebenarnya bukan problem. Karena, misalnya, bawang putih yang digoreng dan disantap di dalam gulai atau soto tetap berkhasiat. Bawang putih yang diolah dengan cuka menjadi acar pun tak terganggu khasiatnya. Namun, jangan pernah membekukan bawang putih. Sebab, tindakan tersebut bakal merontokkan susunan sel-selnya. Jika sekadar menaruh bawang putih di lemari es, khasiatnya bisa dipastikan masih aman tersimpan.

Terakhir, perlu dicatat bahwa ada sejumlah orang yang enggan mengonsumsi bawang putih karena bau menyengat yang dihasilkannya. Nah, untuk mengusir napas yang berbau tak sedap, menyikat gigi bisa ditempuh sebagai solusi. Ada jalan keluar lain: menenggak teh, susu, atau kopi seusai memakan bawang putih. Sementara, untuk melenyapkan aroma keringat yang menjalar, ya Anda bisa menggunakan deodoran. Bahkan, jika perlu ditambah dengan semprotan parfum. Bagaimana?
~ jawaban.com ~

KESAKSIAN RAHIB BUDHA DARI NEGERI MYANMAR


Kesaksian yang luar biasa dari seorang Rahib Budha di Myanmar ( Burma) yang hidup kembali menjadi seorang yang diubahkan.

Tahun - tahun awalku


Halo, nama saya Athet Pyan Shinthaw Paulu. Saya dari negara Myanmar. Saya ingin berbagi dengan anda kesaksian saya ini tentang apa yang terjadi pada saya, tetapi sebelumnya saya ingin menceritakan sedikit latar belakang saya sejak saya kecil. Saya dilahirkan tahun 1958 di kota Bogale, di daerah delta Irrawaddy Myanmar selatan (dahulu Burma). Orang tua saya penganut agama Budha yang beriman (taat) seperti kebanyakan orang di Myanmar , memanggil saya si Thitphin (yang artinya pohon).

Kehidupan di mana saya bertumbuh sangat sederhana.

Pada umur 13 tahun saya keluar sekolah dan mulai bekerja di perahu nelayan. Kami menangkap ikan juga udang di beberapa sungai besar dan kecil di daerah Irrawaddy. Pada umur 16 saya jadi pemimpin perahu.

Saat itu saya tinggal di utara pulau Mainmahlagyon (Mainmahlagyon artinya pulau wanita cantik), di bagian utara Bogale dimana saya dilahirkan. Tempat ini kira kira 100 mil barat daya Yangoon (Rangoon) ibu kota negara kami.

Suatu hari waktu saya berumur 17 tahun, kami menangkap banyak sekali ikan dalam jala kami. Saking banyaknya ikan yang kami tangkap, seekor buaya besar tertarik perhatiannya. Buaya itu mengikuti perahu kami dan mencoba menyerang kami. Kami jadi ketakutan sehingga dengan panik kami mendayung perahu kami menuju tepian sungai secepatnya. Buaya itu mengikuti kami dan menyerang perahu kami dengan ekornya.Walaupun tidak ada yang mati dalam kejadian ini, serangan itu mempengaruhi kehidupan saya. Saya tidak mau lagi menangkap ikan. Perahu kecil kami tenggelam kena serangan buaya itu. Malam itu kami pulang ke kampung naik perahu tumpangan. Tak lama sesudah itu, bos ayah saya memindahkan ayah saya ke kota Yangoon (sebelum disebut Rangoon).

Pada umur 18 saya dikirim kesebuah biara menjadi Rahib muda. Kebanyakan orang tua di Myanmar berusaha mengirimkan anak laki-laki mereka ke biara Budha, setidaknya satu kali, karena merupakan suatu kehormatan mempunyai anak laki-laki melayani dengan cara ini. Kami telah mengikuti adat ini ratusan tahun.

Seorang murid yang bersemangat

Pada saat saya mencapai umur 19 tahun 3 bulan (tahun 1977) saya jadi Rahib. Rahib atasan saya di biara itu memberi saya sebuah nama Budha baru yang sudah menjadi adat/kebiasaan di negara saya. Saya dipanggil U Nata Pannita Ashinthuriya. Pada waktu kami menjadi Rahib kami tidak lagi menggunakan nama yang diberikan orang tua pada waktu lahir. Biara tempat saya tinggal disebut Mandlay Kyaikasan Kyaing . Nama Rahib kepala ialah U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw (U Zadila adalah gelar). Dia Rahib yang sangat terkenal di seluruh Myanmar pada waktu itu. Setiap orang tahu siapa dia.

Dia sangat dihargai oleh orang-orang dan disegani sebagai guru besar. Saya katakan dulu karena pada tahun 1983 dia tiba-tiba mati dalam kecelakaan mobil yang fatal. Kematiannya mengejutkan semua orang. Saat itu saya sudah 6 tahun jadi Rahib. Saya berusaha jadi Rahib terbaik dan mengikuti semua ajaran Budha. Pada suatu tingkat tertentu saya pindah ke sebuah kuburan yang kemudian saya tinggali dan bermeditasi secara kontinyu. Beberapa Rahib yang sungguh-sungguh mengikuti kebenaran Budha melakukan hal yang saya lakukan ini. Beberapa bahkan pindah ke hutan dimana mereka hidup menyangkal diri dan miskin. Saya cari penyangkalan diri, fikiran dan keinginan, untuk menghindari penyakit dan penderitaan dan membebaskan diri dari kehidupan duniawi.

Di kuburan saya tidak takut setan, saya berusaha untuk mencapai kadamaian batin dan sadar diri sampai sampai bila ada nyamuk hinggap ditangan saya membiarkannya menggigit tangan saya dari pada mengusirnya.

Bertahun-tahun saya berusaha untuk jadi Rahib terbaik dan tidak menyakiti mahluk hidup. Saya belajar pelajaran Budha suci ini seperti semua nenek moyang kami lakukan sebelum saya. Kehidupan saya sebagai Rahib berjalan terus sampai suatu waktu saya menderita sakit keras. Saya ada di Mandalay waktu itu dan harus dibawa ke rumah sakit untuk perawatan. Dokter melakukan beberapa pengecekan pada saya dan memberitahu saya bahwa saya terjangkit penyakit kuning dan malaria bersamaan. Sesudah sebulan di rumah sakit saya malah makin gawat. Dokter memberi tahu saya bahwa tak ada harapan sembuh untuk saya dan mengeluarkan saya dari rumah sakit untuk mempersiapkan kematian.

Inilah penjelasan singkat masa lalu saya. Sekarang saya ingin menceritakan beberapa hal luar biasa yang terjadi pada diri saya sesudahnya.

Penglihatan Yang Mengubah Hidup Saya Selamanya

Sesudah saya dikeluarkan dari rumah sakit saya kembali ke tempat di mana para Rahib yang lain mengurus saya.

Saya makin hari makin lemah dan makin susut karena badan busuk dan bau kematian, dan akhrinya jantung saya berhenti berdenyut. Tubuh saya dipersiapkan untuk kremasi dan melalui tata cara pemurnian agama Budha.

Walaupun tubuh saya mati tapi saya ingat dan sadar dalam fikiran dan roh saya. Saya ada dalam badai besar. Angin kencang meniup seluruh daratan sampai tidak ada pohon atau apapun yang berdiri, semua rata, saya berjalan sangat cepat di jalan rata itu untuk beberapa lama. Tak ada orang lain, hanya saya sendiri, kemudian saya menyeberang sebuah sungai. Di seberang sungai itu saya melihat danau api yang sangat sangat besar. Dalam agama Budha kami tidak ada gambaran tempat seperti ini. Pada mulanya saya bingung dan tak tahu bahwa itu adalah neraka sampai saya lihat Yama, raja neraka (Yama adalah nama untuk raja neraka dalam kebudayaan Asia) mukanya seperti singa, badannya seperti singa , tetapi kakinya seperti seekor naga (roh naga). Dia mempunyai beberapa tanduk di kepalanya. Wajahnya sangat mengerikan dan saya sangat ketakutan. Dengan gemetar, saya tanya namanya.

Dia jawab " Saya adalah raja neraka, si Perusak!"

Danau Api Yang Sangat Mengerikan

Raja neraka memberi tahu saya untuk melihat ke danau api itu. Saya memandang dan melihat jubah warna kunyit yang biasa dipakai rahib Budha di Myanmar. Saya memandang dan melihat kepala gundul seorang laki-laki.

Waktu saya lihat wajah orang itu saya mengenalinya sebagai U Zadila Kyar Ni Kan Sayadaw (rahib terkenal yang mati kecelakaan mobil tahun 1983). Saya tanya raja neraka mengapa pemimpin saya, diikat dalam danau penyiksaan ini.

Saya tanya " Mengapa dia ada dalam danau api ini? Dia seorang guru yang baik. "

Dia bahkan mempunyai kaset pengajaran yang berjudul 'Apakah anda manusia atau anjing?'

Yang sudah membantu ribuan orang mengerti bahwa sebagai manusia sangat berharga jauh dibandingkan binatang.

Raja neraka itu menjawab, "Betul, dia seorang guru yang baik, tetapi dia tidak percaya pada Yesus Kristus... Itulah sebabnya dia ada di neraka. "

Saya diberi tahu untuk melihat orang lain yang ada di dalam api itu. Saya lihat seorang laki-laki dengan rambut panjang dililitkan dibagian kiri kepalanya. Dia juga mengenakan jubah.

Saya tanya raja neraka "Siapa orang itu?"

Dia menjawab, " Inilah yang kau sembah, Gautama(Budha)".

Saya sangat terganggu melihat Gautama di neraka.

Saya protes, " Gautama orang baik, mempunyai karakter moral yang baik, mengapa dia menderita di dalam danau api ini?"

Raja neraka menjawab saya "Tak peduli bagaimana baiknya dia. Ia ada di tempat ini karena dia tidak percaya pada Allah yang kekal"

Saya kemudian melihat seorang yang lain yang tampaknya memakai seragam tentara. Dia terluka di dada-nya.

Saya tanya " Siapa dia?"

Raja neraka berkata "Ini Aung San, pemimpin revolusi Myanmar ".

Saya kemudian diberi tahu, "Aung San di sini karena dia menyiksa dan membunuh orang-orang Kristen, tapi terutama karena dia tidak percaya Yesus Kristus."

Di Myanmar ada pepatah, "Tentara tak pernah mati, hidup terus."

Saya diberitahu bahwa tentara neraka mempunyai pepatah "Tentara tak pernah mati, tapi ke neraka selamanya.."

Saya amati dan melihat orang lain didanau api itu. Dia orang yang sangat tinggi dan memakai baju baja militer. Dia juga menyandang pedang dan perisai. Orang ini terluka di dahinya. Orang ini lebih tinggi dari siapapun yang pernah saya lihat. Dia enam kali panjang jarak siku sampai ujung jarinya waktu dia luruskan kedua lengannya , ditambah satu jengkal waktu dia rentangkan tangannya. Raja neraka itu berkata orang ini namanya Goliath. Dia di neraka karena dia menghina Allah yang kekal dan hambanya Daud. Saya bingung karena saya tidak tahu siapa itu Goliath dan Daud.

Raja neraka berkata, "Goliath tercatat di Alkitab orang Kristen.. Kamu tidak tahu dia sekarang, tapi kalau kamu jadi Kristen, kamu akan tahu siapa dia. "

Saya dibawa ke sebuah tempat di mana saya lihat orang kaya dan miskin menyiapkan makan malam mereka.

Saya tanya " Siapa yang memasak makanan untuk orang-orang itu?"

Raja itu menjawab "Yang miskin harus menyiapkan makanan mereka, tapi yang kaya menyuruh yang lain untuk memasak untuk mereka."

Ketika makanan sudah tersedia untuk yang kaya, mereka duduk untuk makan. Segera setelah mereka mulai makan asap tebal keluar. Yang kaya makan secepat sebisa mereka agar mereka tidak pingsan. Mereka berusaha keras untuk dapat bernafas karena asap itu. Mereka harus makan cepat-cepat karena mereka takut kehilangan uang mereka. Uang mereka adalah tuhan mereka.

Seorang raja yang lain kemudian datang pada saya. Saya juga melihat satu mahluk yang kerjanya menjaga api di bawah danau api agar tetap panas.

Mahluk ini bertanya pada saya "Apa kamu juga akan masuk ke danau api ini? "

Saya jawab, " Tidak! saya di sini untuk hanya mengamati!"

Bentuk mahluk yang menjaga api itu sangat menakutkan. Dia punya 10 tanduk dikepalanya dan sebatang tombak di tangannya yang pada ujungnya ada 7 pisau tajam.

Mahluk ini berkata "Kamu betul, kamu datang ke sini hanya untuk mengamati. Saya tak temukan namamu disini".

Katanya "Kamu harus kembali dari mana kamu datang tadi"

Dia menunjukan arah pada saya tempat terpencil rata yang saya lewati sebelumnya waktu datang ke danau api ini.

Keputusan Untuk Memilih Jalan

Saya jalan cukup lama, sampai saya berdarah. Saya sangat kepanasan dan kesakitan. Akhirnya setelah berjalan sekitar 3 jam saya sampai di sebuah jalan yang lebar. Saya berjalan sepanjang jalan ini beberapa lama sampai menemukan persimpangan. Satu jalan arah kiri, lebar. Jalan yang lebih kecil menuju ke sebelah kanan. Ada tanda disimpang itu yang berbunyi jalan kiri untuk mereka yang tidak percaya pada Tuhan Yesus Kristus, jalan yang lebih kecil menuju ke kanan untuk yang percaya Yesus.

Saya tertarik melihat ke mana tujuan jalan yang lebih besar itu, jadi saya mulai melaluinya. Ada 2 orang berjalan kira-kira 300 yard di depan saya. Saya coba mengejar mereka agar dapat jalan bersama, tetapi sekerasnya saya coba tak dapat mengejar mereka, jadi saya putar balik dan kembali ke simpang jalan tadi.

Saya terus perhatikan kedua orang yang berjalan tadi. Waktu mereka mencapai ujung jalan tiba-tiba mereka ditikam. Kedua orang itu berteriak sangat kesakitan.

Saya juga menjerit keras waktu melihat apa yang terjadi pada mereka Saya sadar akhir dari jalan yang lebih lebar sangat berbahaya untuk mereka yang menjalaninya.

Melihat Surga

Saya mulai melangkah ke jalan Orang Percaya. Sesudah berjalan sekitar 1 jam, permukaan jalan berubah jadi emas murni. Sungguh murni sampai-sampai waktu saya lihat kebawah saya dapat melihat bayangan saya dengan sempurna.

Kemudian saya lihat seseorang berdiri di depan saya. Dia memakai jubah putih. Saya juga mendengar nyanyian merdu.

Oh, alangkah indah dan murninya!

Sangat jauh lebih baik dan berarti dibandingkan penyembahan yang kita dengar di gereja manapun di dunia. Orang berjubah tersebut meminta saya berjalan bersamanya.

Saya bertanya padanya, "Siapakah namamu?" tetapi dia tidak menjawabnya.
Baru sesudah saya tanya dia 6 kali orang itu menjawab, "Saya yang memegang kunci ke surga. Surga tempat yang sangat sangat indah. Kamu tak dapat pergi ke sana sekarang tetapi kalau kamu mengikuti Yesus Kristus kamu dapat pergi ke sana sesudah hidupmu selesai di bumi".

Orang itu bernama Petrus. Petrus kemudian meminta saya untuk duduk dan menunjukkan pada saya sebuah tempat di sebelah utara. Petrus berkata, "Lihat ke utara dan lihatlah Allah menciptakan manusia".

Saya melihat Allah kekal di kejauhan. Allah berkata pada seorang malaikat, "Mari kita ciptakan manusia."

Malaikat itu memohon pada Allah dan berkata, " Jangan menciptakan manusia. Dia akan berbuat dosa dan mendukakan Engkau." (dalam bahasa asli Burma berarti: "Dia akan mempermalukan Engkau")

Tetapi Allah tetap menciptakan manusia. Allah meniupkan nafasNya dan manusia itu hidup. Dia memberi nama orang itu "Adam". (catatan: agama Budha tidak percaya penciptaan dunia atau manusia sehingga pengalaman ini sangat besar pengaruhnya pada rahib itu).

Dikembalikan Dengan Nama Baru

Kemudian Petrus berkata, "Sekarang bangunlah dan kembalilah melalui jalan di mana engkau datang. Katakan pada orang-orang yang menyembah Budha dan menyembah berhala. Beri tahu mereka bahwa mereka akan pergi ke neraka bila mereka tidak berubah. Mereka yang membangun kuil/kelenteng dan berhala juga akan ke neraka. Mereka yang yang memberikan persembahan pada para rahib untuk mendapatkan jasa untuk mereka sendiri juga akan ke neraka. Mereka yang menyembah rahib dan memanggil mereka "Pra" (gelar kehormatan bagi rahib) akan ke neraka. Mereka yang menyanyi dan memberikan hidupnya untuk berhala akan ke neraka. Mereka yang tidak percaya Yesus Kristus akan ke neraka."

Petrus memberi tahu saya untuk kembali ke bumi dan bersaksi tentang semua apa yang telah saya lihat. Dia juga berkata, " Kamu harus bicara dengan nama yang baru. Sejak saat ini kamu harus dipanggil Athet Pyan Shinthaw Paulu (Paulus yang kembali hidup)."

Saya tidak mau kembali. Saya ingin tinggal di surga. Seorang kemudian malaikat membuka sebuah buku. Pertama-tama mereka mencari nama masa kecilku (Thitpin) dalam buku, tapi mereka tak menemukannya. Kemudian mereka mencari nama yang diberikan pada saya waktu masuk agama Budha (U Nata Pannita Ashinthuriya) , tapi juga tidak tertulis disitu.

Kemudian Petrus berkata, "Namamu tidak tertulis di sini, kamu harus kembali dan bersaksi tentang Yesus pada orang-orang yang beragama Budha. "

Saya berjalan kembali melalui jalan emas. Saya dengar lagi nyanyian yang merdu, yang tak pernah saya dengar sebelumnya. Petrus berjalan dengan saya sampai saatnya saya kembali ke bumi. Dia menunjukkan pada saya tangga untuk kembali ke bumi antara surga dan langit. Tangga itu tidak sampai ke bumi, tetapi berhenti di udara.

Pada saat di tangga saya lihat banyak sekali malaikat, ada yang naik ke surga dan ada yang turun ke tangga. Mereka sangat sibuk. Saya tanya Petrus, " Siapakah mereka?".

Petrus menjawab, "Mereka pesuruh Tuhan. Mereka melaporkan ke surga nama-nama mereka yang percaya Yesus Kristus dan nama-nama mereka yang tidak percaya. "

Petrus kemudian memberi tahu saya, sudah waktunya untuk kembali.

Hantu!
Tiba-tiba saya mendengar sebuah tangisan. Saya dengar ibu saya sedang menangis, " Anakku, mengapa engkau meninggalkan kami sekarang?"

Saya juga mendengar orang-orang lain menangis. Saya kemudian sadar saya sedang terbujur dalam sebuah peti. Saya mulai bergerak.
Ibu dan ayahku berteriak, "Dia hidup, dia hidup!"

Orang lain yang agak jauh tidak percaya. Kemudian saya taruh tangan saya di kedua sisi peti itu dan duduk tegak. Banyak orang ketakutan. Mereka menjerit, "Hantu!" dan berlari secepat kaki mereka membawanya.

Mereka yang tertinggal, diam dan bergemetaran.

Saya merasakan saya sedang duduk dalam cairan yang tak sedap baunya, cairan tubuh, cukup banyak untuk dapat mengisi 3,5 gelas. Itu adalah cairan yang keluar dari perut dan bagian dalam tubuhku ketika tubuhku terbujur di dalam peti mati. Inilah sebabnya orang tahu bahwa saya sudah betul-betul mati. Di dalam peti mati ini ada semacam lembaran plastik yang ditempelkan pada kayu peti. Lembaran plastik ini untuk menampung cairan yang keluar dari mayat, karena tubuh orang meninggal banyak mengeluarkan cairan seperti yang saya alami.

Saya diberi tahu kemudian bahwa hanya beberapa saat lagi saya dikremasi dalam api. Di Myanmar orang mati dimasukan kedalam peti mati, tutupnya kemudian dipaku, dan kemudian dibakar. Ketika saya kembali hidup, ibu dan ayahku sedang melihat tubuhku untuk terakhir kalinya. Sesaat lagi tutup peti akan segera dipaku dan saya akan dikremasikan. Saya segera mulai menjelaskan hal-hal yang saya lihat dan dengar. Orang-orang merasa heran.

Saya ceritakan orang-orang yang saya lihat di dalam danau api itu, dan memberi tahu hanya orang Kristen yang tahu kebenaran, bahwa nenek moyang kita dan kita sudah tertipu ribuan tahun! Saya beri tahu mereka segala sesuatu yang kita percayai adalah kebohongan.
Orang-orang merasa heran sebab mereka tahu rahib macam apa saya dan bagaimana bersemangatnya saya dalam pengajaran Budha. Di Myanmar ketika seseorang meninggal, namanya dan umurnya ditulis disamping peti mati. Ketika seorang rahib meninggal, namanya, umurnya dan masa pelayanannya sebagai rahib dituliskan di samping peti mati. Saya sudah ditulis mati tetapi seperti yang anda lihat, sekarang saya hidup!

Penutup
Sejak "Paul yang kembali hidup" mengalami kisah di atas dia tetap menjadi saksi yang setia kepada Yesus Kristus. Para Gembala di Burma mengabarkan bahwa dia sudah membawa ratusan rahib lain untuk beriman kepada Yesus.Kesaksiannya jelas sekali tak berkompromi. Oleh sebab itu, pesan dia telah menyakitkan banyak orang yang tidak dapat menerima hanya ada satu jalan ke surga, Yesus Kristus.

Walaupun menghadapi penolakan yang sangat besar, pengalamannya sungguh nyata sehingga ia tak pernah ragu maupun bimbang. Setelah sekian tahun dalam lingkungan biara Budha, sebagai pengikut ajaran Budha yang setia, beralih menyatakan Injil Kristus sesudah kebangkitannya dari mati dan mendesak rahib yang lain untuk meninggalkan semua dewa-dewa palsu dan menjadi pengikut Yesus dengan sepenuh hati. Sebelum sakit dan matinya dia tidak punya pengetahuan sedikitpun tentang ke-Kristenan. Semua yang dia dapatkan selama 3 hari dalam kematian adalah baru dalam fikirannya.. Dalam mengabarkan pesannya sebanyak mungkin pada orang-orang.

Lazarus modern ini mulai membagikan audio dan video kaset mengenai kisahnya. Polisi serta pihak berwenang di Myanmar sudah berusaha sekuatnya untuk mengumpulkan kaset-kaset ini dan memusnahkannya.

Kesaksian yang baru saja Anda baca adalah salah satu terjemahan dari kaset itu. Kami diberi tahu bahwa sekarang sangat berbahaya bagi warga Myanmar untuk memiliki kaset ini. Kesaksiannya yang tak kenal takut telah membuatnya dipenjara, di mana yang berwenang telah gagal menawarkan dia untuk bungkam. Sesudah dilepaskan dia terus bersaksi tentang apa yang dia lihat dan dengar.

Keberadaannya sekarang tidak jelas. Seorang nara sumber di Burma mengatakan bahwa dia di penjara dan bahkan mungkin sudah dibunuh, sumber lain mengabarkan bahwa dia sudah dilepaskan dari penjara dan sedang meneruskan pelayanannya..
(Kesaksian ini dikirim oleh Ibu Debbie Kusuma - red)

TELAAH KRITIS "KITAB-KITAB APOKRIP"

Kitab-kitab Apokrip mengandung kesalahan, diantaranya:



1. Tidak mengaku pengilhaman ilahi,

khususnya pada:



2Makabe 2:23

Semuanya itu telah diuraikan oleh Yason dari Kirene dalam lima buku lima buah. Kami ini hendak berusaha mengikhtisarkan semuanya dalam satu jilid saja.


2Makabe 15:37b – 38

Maka aku sediripun mau mengakhiri kisah ini. Jika susunannya baik lagi tepat, maka itulah yang kukehendaki. Tetapi jika susunannya hanya sedang-sedang dan setengah-setengah saja, maka hanya itulah yang mungkin bagiku.


Kutipan di atas itu menentang kebenaran bahwa Alkitab diilhamkan oleh Allah (bandingkan 2Tim. 3:16) serta tidak ada nubuat atau kitab dihasilkan oleh pikiran manusia (2Pet. 1:20-21).


2. Kesalahan sejarah


Kitab Tobit 14:15

salah menyatakan bahwa Nebukadnezar dan Ahasyweros menaklukkan Niniwe. Namun sejarah mencatat bahwa Nebopolasar dan Cyaxareslah yang terlibat di dalamnya. Demikian pula Tobit 1:1 menunjukkan ketidaktahuan tentang sejarah; Barukh 1:8 berkontradiksi dengan Ezra 1:7 yang benar berdasarkan sejarah.


3. Kesalahan doktrin


a. Membenarkan bunuh diri

2Makabe 14:41-46

(41) Ketika pasukan itu sudah siap untuk merebut menara itu dan sudah meretas pintu masuh dan menyuruh untuk memasang api buat menyalakan pintu-pintu, maka Razis yang rapat terkepung menikam dirinya dengan pedang. (42) Ia lebih suka mati secara muliawan dari pada jatuh di tangan orang-orang berdosa itu dan diperlakukan oleh mereka secara tak layak bagi keluhuran budinya. (43) Tetapi tikaman itu kurang kena, oleh karena ia berbuat tergesa-gesa karena perjuangan itu dan oleh sebab pasukan prajurit itu sudah berduyun-duyun di dalam pintu gerbang. Maka dari itu dengan berani larilah ia naik ke atas tembok lalu secara jantan menjatuhkan diri ke atas orang banyak itu. (44) Tetapi orang-orang itu cepat-cepat mundur, sehingga ada tempat kosong di tengah. Maka Razis jatuh di tempat yang kosong itu. (45) Tetapi ia masih hidup juga. Maka dengan geramnya yang berapi-api bangkitlah ia, meskipun darahnya bercucuran dan luka-lukanya nyeri. Lalu ia lari menerobos orang banyak itu laluberdiri di atas sebuah batu karang yang tinggi. (46) Meskipun darahnya hampir keluar semuanya, namun ia menarik isi perutnya ke luar, mengambilnya dengan kedua tangannya, lalu dilemparkannya ke atas orang banyak itu. Dalam pada itu berserulah ia kepada Penguasa hidup dan nyawa, semoga Ia kelak memberikannya kembali kepadanya. Demikian Razis berpulang.


Alkitab tidak pernah menyetujui bunuh diri sebab itu bertentangan dengan Hukum Keenam "Jangan Membunuh" (Kel. 20:13). Tidak seorang pun yang berhak mengambil nyawanya sendiri. Allahlah yang berhak atas hidup manusia sebab Dialah yang menciptakannya (Ul. 32:39, 1Sam. 2:6, 2Raj. 5:7, Ayb. 1:21, Mzm. 68:20).


b. Menyetujui doa untuk orang mati

2Makabe 12:41-45

Lalu semua memuliakan tindakan Tuhan Hakim Yang Adil, yang menyatakan apa yang tersembunyi. Merekapun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya. Tetapi Yudas yang berbudi luhur memperingatkan khalayak ramai, supaya memelihara diri tanpa dosa, justru oleh karena telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri apa yang sudah terjadi oleh sebab dosa orang-orang yang gugur itu. Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang mati. Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu makadisuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.


Ajaran tentang doa demi orang-orang mati menentang kebenaran Alkitab bahwa kesempatan untuk menerima dan menolak pengampunan dosa melalui iman kepada Yesus Kristus hanyalah pada waktu manusia masih hidup sebab setelah kematian adalah penghakiman: "Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi". (Ibr 9:27, TB-LAI)


c. Membenarkan kekejaman terhadap budak-budak.

SIRAKH 33:28-19

(28) Bebankanlah pekerjaan kepada budakmu, sehingga ia tidak menganggur, sebab pengangguran mengajar banyak kejahatan. (29) Hendaklah menyuruh dia bekerja sebagaimana mestinya, dan kalau ia tidak menurut, beratkanlah rantainya.Kekejaman dalam bentuk apapun bertentangan dengan prinsip hidup yang berdasarkan kasih, khususnya bagi orang-orang percaya.


d. Mengajarkan pra-eksistensi jiwa.

Kebijakan Salomo 8:19-20

Memang aku seorang pemuda yang baik budi pekertinya, dan aku mendapat jiwa yang baik; atau sebaliknya; oleh karena aku ini baik, maka aku masuk ke dalam tubuh yang tak tercela.Alkitab tidak mengajarkan bahwa jiwa manusia ber-pra-eksistensi sebelum manusia dilahirkan. Dalam kisah penciptaan, Allah menciptakan manusia secara utuh, tanpa memisahkan tubuh dan jiwa (Kej. 1:26-27,2:7).


e. Mengajarkan Pengutukan dan Penistaan.

YUDIT 9:9-10

(9) Pandanglah kecongkakan mereka dan kirimkanlah kemurkaan-Mu ke atas kepala mereka. Berikanlah kepada tanganku, tangan seorang janda, tenaga untuk melaksanakan rencanaku. (10) Hantamkanlah dengan akal bibirku dan akalku itu mendatangkan luka-luka dan bilur-bilur kepada mereka yang merencanakan yang pahit-pahit terhadap perjanjian-Mu, terhadap Rumah-Mu yang Suci, puncak bukit Sion dan rumah milik anak-anak-Mu.


TOBIT 3:13, 15

(13) Aku mohon: Biarlah aku dileyapkan dari muka bumi ini, nista tidak mau kudengar lagi. (15) …Aku sudah kehilangan tujuh orang; apalagi gunanya hidup bagiku? Apabila Engkau tidak berkenan membiarkan aku mati, maka dengarlah nistaku ini, ya Tuhan.


TOBIT 3:6

Kini berbuatlah kepadaku menurut apa yang berkenan kepada-Mu, dan sudilah mencabut nyawaku, sehingga leyaplah aku dari muka bumi dan kembali menjadi debu. Sebab mati lebih berguna bagiku dari hidup, karena aku mesti mendengar nista dan fitnah dan sangat sedih rasa hatiku. Ya, Tuhan, suruhlah supaya aku lepas dari susah ini, biarlah aku lenyap menuju tempat abadi; janganlah Wajah-Mu Kaupalingkan daripadaku, ya Tuhan. Sebab lebih bergunalah mati saja daripada melihat banyak susah dalam hidupku. Nista tidak dapat kudengar lagi!


Pengutukan dan penistaan sangat bertentangan dengan sifat-sifat Allah sebagai Allah yang Mahasuci dan apa yang dikatakan Alkitab tentang perkataan yang baik dan benar (Mzm. 19:14, Ef. 1:4, 1Pet. 1:15-16, Rm. 12:14, Mzm. 101:7, 1Pet. 2:1).


f. Mengajarkan bahwa sedekah dan kebaikan kepada orang tua dapat melepaskan dari maut.

TOBIT 4:10-11

(10) Memang sedekah melepaskan dari maut dan tidak membiarkan orang masuk ke dalam kegelapan. (11) Sedekah merupakan persembahan yang baik ke hadapan Yang Maha Tinggi bagi semua orang uang memberikannya.


TOBIT 12:9

(Kata malaikat Rafael) Memang sedekah melepaskan dari maut dan menghapus setiap dosa.


SIRAKH 3:14

Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu.


Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan hanya melalui Yesus Kristus (Yoh. 3:16, 14:6, Kis. 4:12) dan diterima melalui iman (Rm. 3:23, 9:31-32, 10:10, 10:17, Gal. 2:16, 3:11) dan perbuatan baik sama sekali tidak mempunyai andil dalam keselamatan. Dalam iman Kristen Protestan, kita berbuat baik karena sudah diselamatkan dan bukan berbuat baik untuk diselamatkan.


g. Mengajarkan Kesombongan

TOBIT 1:3

Aku, Tobit menempuh jalan kebenaran dan kesalehan seumur hidupku dan banyak melakukan kebajikan kepada para saudara dan segenap bangsaku yang bersama dengan daku telah berangkat ke pembuangan, ke negeri Asyur ke kota Niniwe.


TOBIT 1:6-8

(6) Pada hari-hari raya sering kali hanya aku seorang diri sajalah yang pergi ke Yerusalem, sebagaimana yang tersurat bagi segenap Israel sebagai hukum abadi. Pergilah aku ke Yerusalem dengan membawa buah bungaran dan anak sulung dari ternak serta bagian sepersepuluh dari hewan dan lagi guntingan pertama bulu domba. (7) Semuanya kuberikan kepada para imam, keturunan Harun, untuk mezbah. Bagian sepersepuluh dari gandum, anggur, minyak, buah zaitun, buah delima dan hasil bumi lainnya kuberikan kepada kaum Lewi yang menyelenggarakan kebaktian di Yerusalem. Selama enam tahun akupun memungut bagian sepersepuluh yang kedua dan setiap tahun aku pergi membiayakannya ke Yerusalem. (8) Adapun bagian sepersepuluh yang ketiga kuberikan kepada para yatim piatu, para janda dan kaum perantau yang tinggal ditengah-tengah orang Israel. Tiga tahun sekali bagian sepersepuluh itu kubawa untuk diberikan kepada mereka. Itupun kami makan pula menurut aturan yang ditetapkan perihalmereka dalam hukum Taurat Musa dan sesuai dengan perintah yang diberikan Debora, yaitu ibu Anamiel ayahku. Sebab waktu berpulang ayahku meninggalkan aku sebagai yatim piatu.


TOBIT 1:16-17

(16) Di zaman Salmaneser aku telah banyak melakukan kebajikan kepada para saudara-saudara sebangsaku. (17) Makananku kuberikan kepada orang yang kelaparan dan pakaianku kepada orang yang telanjang. Apabila kulihat seseorang sebangsa yang telah meninggal dan terbuang di belakang tembok kota Niniwe, maka kukuburkan. (18) Manakala seseorang dibunuh oleh raja Sanherib, setelah raja pulang kalah dari daerah Yehuda di masa ia dihukum oleh Raja Surgawi karena hujatnya, maka kukuburkan juga. Sebab banyak dari orang Israel dibunuh oleh raja Sanherib karena murkanya. Tetapi dengan diam-diam kukuburkan semua. Memang mayat-mayat mereka dicari raja, tetapi tidak ditemukan.


YUDIT 8:24

Makanya, saudara-saudara, baiklah kita membuktikan kepada saudara-saudara kita, bahwa nyawa mereka boleh digantungkannya kepada kita dan bahwa yang tersucipun, yakni Bait Allah dan mezbah, dapat disandarkan pada kita ini.


YUDIT 16:1, 6

(1) Kata Yudit… (6) Sebab pahlawan mereka tidaklah jatuh karena kaum muda dan mereka tidak dihantamkan oleh anak-anak perkasa; mereka tidak disergap oleh buta jangkung, melainkan dilumpuhkan oleh Yudit anak Merari dengan keelokan tubuhnya.


Dalam Injil Lukas 18:9-14 terdapat kisah dua orang yang berdoa, yaitu seorang Farisi yang meninggikan diri atas perbuatan baiknya dan seorang pemungut cukai yang mengaku dosa dihadapan Allah. Yesus mengakhiri kisah tersebut dengan mengatakan: "Siapa saja yang meninggikan diri akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan" (Luk. 18:14b, TB2-LAI).








AddThis Social Bookmark Button

Gerombolan Neraka Sedang Berbaris

Tanggal 16 Februari 1995 saya diberi sebuah mimpi. Di dalam mimpi itu saya melihat sepasukan besar tentara neraka telah dilepaskan untuk melawan Gereja. Dua hari kemudian saya diberi suatu penglihatan, dan di dalam penglihatan itu saya melihat gerombolan Iblis itu lagi, tetapi secara sangat rinci.

Ada beberapa aspek dari penglihatan itu yang sungguh-sungguh menjijikkan, tetapi saya mencoba menyampaikannya persis sebagaimana saya telah melihatnya. Pekerjaan kegelapan memang menjijikkan dalam artian yang sedalam-dalamnya, dan kita harus mengenali bahwa sedemikianlah adanya.

Dalam bagian pertama penglihatan itu saya melihat sejauh mana kejahatan telah mencengkeram orang percaya, banyaknya orang Kristen yang dimanfaatkan oleh musuh, dan hal yang harus dilakukan untuk membebaskan mereka . Pada bagian yang kedua dari penglihatan itu saya melihat suatu gereja yang mulia dan bersatu bangkit sebagai suatu pasukan yang besar dalam pertempuran antara terang dan gelap yang paling penting sepanjang zaman. Pertempuran itu sudah mulai berkecamuk. Mimpi dan penglihatan biasanya merupakan kiasan, dan sedang terjadi sekarang. Jika anda mendengar suara Tuhan melalui penglihatan ini, jangan keraskan hatimu. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Tuhan, dan bersiap-siaplah untuk memasuki pertempuran.

PASUKAN TENTARA IBLIS
Saya melihat suatu pasukan iblis yang begitu besar sehingga tidak kelihatan ujung pangkalnya. Pasukan itu terbagi dalam beberapa divisi dan setiap divisi membawa panji yang berbeda. Divisi yang terutama dan paling berkuasa adalah “Kecongkakan”, “Merasa Diri Paling Benar”, “Minta dihargai”, “Ambisi-Mementingkan Diri Sendiri”, dan “Penghakiman yang Tidak Adil”. Tetapi divisi yang paling besar adalah “ Kecemburuan” . Pemimpin pasukan yang besar ini adalah “Pendakwa saudara-saudara kita“ itu sendiri. Saya tahu bahwa masih ada lebih banyak divisi Iblis di luar batas penglihatan saya, tetapi divisi-divisi itu adalah ujung tombak gerombolan neraka yang sekarang sedang dilepaskan melawan gereja.

Senjata yang dibawa gerombolan ini mempunyai nama-nama : pedangnya disebut “Intimidasi”; tombaknya bernama “Pengkhianatan”; dan anak-anak panah mereka disebut “Tuduhan”, “Gossip”, dan “Cari-cari kesalahan”. Para pemandu dan kelompok-kelompok setan dengan nama-nama seperti “Penolakan”, “Kepahitan”, “Ketidaksabaran”, “Tidak Mau Mengampuni”, dan “Hawa Nafsu” dikirim mendahului pasukan ini untuk mempersiapkan serangan utama. Dalam hati saya tahu bahwa gereja belum pernah menghadapi yang seperti ini sebelumnya.

Tugas utama tentara ini adalah memecah belah. Mereka ditugaskan untuk penyerangan setiap peringkat relasi : gereja dengan gereja lain, jemaat dengan gembala sidangnya, suami dengan istri, anak-anak dengan orang tua, dan bahkan anak-anak satu sama lain. Para pemandu dikirim untuk menetapkan lokasi celah-celah di gereja-gereja, keluarga-keluarga, atau pribadi-pribadi yang dapat dimanfaatkan oleh penolakan, kepahitan, hawa nafsu, dan seterusnya. Dan supaya mereka membuat keretakan yang lebih besar lagi yang dapat dimanfaatkan oleh divisi yang sedang mendekat.

Bagian yang paling mengejutkan dari penglihatan ini adalah gerombolan ini tidak mengendarai kuda, tetapi mengendarai orang-orang Kristen . Kebanyakan di antara mereka berpakaian rapi, terhormat, dan memiliki penampilan halus budi dan berpendidikan. Mereka adalah orang-orang Kristen yang membuka diri terhadap kuasa-kuasa kegelapan sampai ke suatu tingkat yang sedemikian rupa sehingga musuh dapat memanfaatkan mereka sementara mereka sendiri beranggapan bahwa mereka sedang dipakai Tuhan. Si pendakwa tahu bahwa rumah yang tercerai berai tidak dapat bertahan, dan pasukan ini mewakili usaha finalnya untuk mencapai suatu perpecahan di gereja sedemikian sehingga gereja akan berpaling dari kasih karunia Tuhan.

PARA TAWANAN

Di belakang divisi pertama berbaris banyak sekali orang Kristen lainnya yang merupakan tawanan pasukan ini. Mereka semua terluka, dan dikawal oleh setan-setan kecil yang bernama “takut”. Kelihatannya lebih banyak tawanan daripada setan-setan di pasukan itu. Herannya, para tawanan itu masih memiliki pedang dan perisai mereka, tetapi tidak menggunakannya. Sungguh mengejutkan melihat begitu banyak yang dapat ditawan oleh begitu sedikit setan-setan “takut”, yang kecil ini. Setan-setan ini sebenarnya dapat dengan mudah dimusnahkan atau diusir apabila para tawanan mau menggunakan senjata-senjata mereka. Di atas tawanan, langit menghitam dengan burung-burung pemakan bangkai yang disebut ‘depresi’ . Makhluk-makhluk ini akan hinggap dibahu para tawanan dan memuntahkannya. Muntah itu adalah ‘penuduhan’. Jika muntah itu mengenai seorang tawanan, dia akan berdiri tegak dan berbaris sedikit lebih tegap untuk sementara waktu, tetapi kemudian jatuh tertelungkup, lebih lemah dari sebelumnya. Sekali lagi, saya heran mengapa para tawanan itu tidak membunuh burung-burung pemakan bangkai itu dengan pedangnya, hal yang dengan mudah dapat mereka lakukan. Ada kalanya seorang tawanan yang lemah karena tersandung dan jatuh. Begitu dia menyentuh tanah, para tawanan lainnya akan menusuki dia dengan pedang, sambil mencaci maki dia. Kemudian mereka akan memanggil burung-burung pemakan bangkai itu untuk mulai memangsa orang yang jatuh itu bahkan sebelum dia mati. Sewaktu saya memperhatikan, saya menyadari bahwa para tawanan ini menganggap muntah Penuduhan itu adalah kebenaran dari Tuhan. Kemudian saya mengerti bahwa para tawanan itu benar-benar beranggapan bahwa mereka sedang berbaris di pasukan Tuhan ! Inilah sebabnya mereka tidak membunuh setan-setan ‘Takut’ yang kecil itu, maupun burung-burung pemakan bangkai itu, mereka pikir makhluk-makhluk itu adalah utusan Tuhan! Kegelapan dari awan burung-burung pemakan bangkai itu membuat para tawanan sangat sukar melihat sehingga mereka dengan lugu menerima segala sesuatu yang terjadi atas mereka sebagai datangnya dari Tuhan. Satu-satunya makanan yang disediakan bagi tawanan ini adalah muntah burung-burung pemakan bangkai itu. Mereka yang menolak memakannya akan menjadi lemah sampai mereka jatuh. Mereka yang memakannya dikuatkan, tetapi dengan kekuatan dari sijahat. Mereka kemudian akan mulai memuntahi yang lain. Jika seseorang mulai melakukan hal itu, satu setan jahat yang sedang menunggu untuk mendapat tunggangan, akan diberikan yang ini dan dia akan naik pangkat ke divisi yang lebih depan. Yang lebih buruk dari muntah burung-burung pemakan bangkai ini adalah lendir yang memuakkan yang dikeluarkan dari pembuangan setan-setan ini di atas orang-orang Kristen sewaktu mereka menungganginya. Lendir itu adalah kecongkakan-ambisi, kepentingan diri sendiri, dst, yang merupakan sifat dari divisi mereka masing-masing. Walaupun demikian, lendir ini membuat orang Kristen merasa jauh lebih baik daripada penuduh sehingga mereka betul-betul beranggapan bahwa setan-setan itu adalah utusan-utusan Tuhan, dan bahwa lendir itu adalah pengurapan Roh Kudus. Kemudian suara Tuhan berbicara kepada saya dan berkata : “ Inilah awal dari pasukan akhir zaman musuh, inilah penipuan puncak si Iblis, dari kuasa penghancuran finalnya dilepaskan ketika dia memakai orang-orang Kristen untuk menyerang orang-orang Kristen lainnya. Sepanjang zaman dia telah menggunakan tentara ini, tetapi belum pernah dia berhasil menawan begitu banyak orang untuk dimanfaatkan demi maksud-maksud jahatnya. Jangan takut, Aku juga memiliki suatu pasukan. Sekarang engkau harus berdiri dan bertempur, karena tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi dari peperangan ini. Engkau harus bertempur untuk KerajaanKu, demi kebenaran dan bagi mereka yang telah tertipu.” Saya sudah menjadi sangat muak dan geram oleh karena pasukan Iblis itu, sampai-sampai saya ingin mati saja daripada hidup di dalam dunia yang seperti itu. Walaupun demikian, perkataan Tuhan itu begitu membesarkan hati sehingga saya segera mulai meneriakkan para tawanan Kristen itu bahwa mereka tertipu, dengan pikiran bahwa mereka akan mendengarkan saya. Ketika saya melakukan hal ini, kelihatannya seluruh pasukan berpaling memandang saya, tetapi saya tetap berteriak-teriak. Saya pikir orang-orang Kristen itu akan bangun dan menyadari hal yang terjadi pada mereka, tetapi sebaliknya banyak di antara mereka yang mulai menjangkau anak-anak panah mereka untuk ditembakkan kepada saya. Yang lainnya ragu-ragu mengenai apa yang harus mereka perbuat terhadap saya. Saya tahu bahwa mereka melakukannya terlalu dini, dan itu kesalahan yang konyol sekali.


PERTEMPURAN DIMULAI

Kemudian saya berpaling dan melihat pasukan tentara Tuhan berdiri di belakang saya. Ada beribu-ribu prajurit, tetapi kami masih sangat kalah jumlah. Hanya sejumlah kecil saja yang berpakaian lengkap dalam perlengkapan perang mereka, kebanyakan hanya terlindung sebagian saja. Sejumlah besar sudah terluka. Kebanyakan yang mengenakan perlengkapan perang lengkap, perisainya terlalu kecil, dan saya tahu perisai itu tidak dapat melindungi mereka dari serangan yang akan datang. Mayoritas dari prajurit adalah wanita dan anak-anak.

Di belakang pasukan ini masih ada gerombolan yang mengekor, yang mirip dengan para tawanan yang mengikuti pasukan Iblis, tetapi sangat berbeda dalam tabiatnya. Yang ini kelihatannya orang-orang yang sangat berbahagia, dan mereka bermain-main, menyanyi, berpesta, dan melancong dari kemah yang satu ke kemah yang lain. Hal ini mengingatkan saya akan suasana di “Woodstock” (Pesta musik rock besar-besaran di Amerika). Saya berusaha berteriak mengatasi kegaduhan untuk memperingatkan mereka bahwa sekarang bukan waktunya untuk hal-hal itu, dan bahwa pertempuran hampir dimulai. Tetapi bahkan yang bisa mendengarkan suara saya hanya beberapa orang. Mereka yang mendengar memberi saya ‘tanda damai’ dengan tangannya dan berkata bahwa mereka tidak percaya akan perang, dan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi atas mereka. Saya berusaha menjelaskan bahwa Tuhan telah memberi kita persenjataan untuk suatu maksud, tetapi mereka menjawab dengan pedas bahwa mereka sudah sampai ke tempat damai dan sukacita, dan tidak ada apa-apa yang akan terjadi pada mereka di situ . Saya mulai berdoa dengan sungguh-sungguh supaya Tuhan menambahkan iman (perisai) mereka yang bersenjata, untuk menolong kami melindungi mereka yang tidak siap bertempur.

Seorang utusan menghampiri saya, memberikan sebuah terompet serta menyuruh saya untuk cepat-cepat meniupnya. Saya lakukan, dan mereka yang memiliki paling tidak beberapa senjata segera menanggapi, dan berdiri tegap. Lebih banyak senjata yang dibawanya, dan mereka cepat-cepat mengenakannya. Saya mengamati bahwa mereka yang terluka tidak menutupi luka-luka mereka dengan senjata, tetapi sebelum saya dapat berkata apa-apa tentang hal ini, anak-anak panah musuh mulai menghujani kami. Setiap orang yang tidak mengenakan segenap senjatanya terluka. Mereka yang tidak menutupi luka-luka mereka tertusuk lagi di tempat yang sama.

Mereka yang terkena anak panah ‘fitnah’ segera mulai memfitnah mereka yang tidak terluka. Mereka yang terkena anak panah ‘gosip’, mulai bergosip, dan segera suatu perpecahan yang besar terjadi di perkemahan kami. Kemudian burung-burung pemakan bangkai menukik turun, mencengkeram yang terluka dan mengirimkan mereka ke perkemahan para tawanan. Orang-orang yang terluka itu masih memiliki pedang-pedang mereka dan dapat menebas burung-burung itu dengan mudah, tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka sesungguhnya dibawa secara sukarela karena mereka sangat marah kepada kami.

Pemandangan di antara mereka yang ada di perkemahan di belakang pasukan kami malahan lebih buruk lagi. Kelihatannya sama sekali kacau balau. Beribu-ribu terbaring di tanah, terluka dan mengerang. Banyak yang tidak terluka hanya duduk tercengang-cengang karena tidak percaya melihat yang terjadi. Yang terluka dan yang duduk dalam ketidak percayaan dengan cepat disambar oleh burung-burung pemakan bangkai. Beberapa berusaha menolong yang terluka dan menghalang-halangi burung itu dari mereka, tetapi yang terluka itu begitu marah sehingga mereka akan mengancam dan mengusir orang-orang yang berusaha menolong mereka.

Banyak yang terluka hanya sekedar berlari sekuat tenaga dari arena pertempuran. Pertemuan pertama dengan musuh ini begitu menghancurkan sehingga saya tergoda untuk ikut melarikan diri dengan mereka. Kemudian, dengan cepat sekali, beberapa di antara mereka muncul kembali dengan persenjataan lengkap, dan perisai-perisai yang besar. Keriangan pesta telah berhenti menjadi ketetapan hati yang mengherankan. Mereka mulai mengambil tempat orang-orang yang sudah jatuh, dan bahkan mulai membentuk barisan-barisan baru untuk melindungi barisan-barisan belakang dan sayap-sayap. Hal ini membangkitkan keberanian baru, dan setiap orang menetapkan hati untuk berdiri dan bertempur sampai mati. Segera, tiga malaikat besar yang bernama Iman, Pengharapan dan Kasih , datang dan berdiri di belakang kami, dan perisai setiap orang mulai bertumbuh.

JALAN RAYA

Kami memiliki pedang yang bernama Firman Tuhan , dan anak-anak panah yang bernamakan Kebenaran-kebenaran Alkitabiah , kami ingin memanah balik, tetapi tidak tahu bagaimana caranya memanah setan-setan itu tanpa mengenai orang-orang Kristen yang ditungganginya. Kemudian terpikir oleh kami bahwa apabila orang-orang Kristen itu tertembak dengan kebenaran, mereka akan bangkit dan melawan penindas-penindas mereka. Saya menembakkan beberapa anak panah. Hampir semuanya mengenai orang-orang Kristen. Walaupun demikian, ketika anak panah kebenaran menusuk mereka, mereka tidak bangkit, atau jatuh terluka, mereka menjadi marah, dan setan yang mengendarai mereka bertambah besar.

Hal ini mengejutkan semua orang, dan kami mulai merasa bahwa pertempuran ini mustahil dimenangkan, tetapi dengan Iman, Pengharapan dan Kasih, kami sangat yakin bahwa kami, paling tidak bisa mempertahankan posisi kami. Malaikat lainnya yang bernama Kebijaksanaan muncul dan memimpin kami untuk bertempur dari atas gunung di belakang kami.

Di gunung itu, sejauh mata memandang ada tebing-tebing pada berbagai ketinggian. Pada setiap tingkat, tebingnya semakin sempit dan semakin sukar untuk berdiri di atasnya. Setiap tingkat diberi nama sesuai dengan kebenaran Alkitabiah. Tingkat yang lebih rendah diberi nama sesuai dengan doktrin-doktrin dasar seperti : “Keselamatan”, “Pengudusan”, “Doa”, “Iman”, dan seterusnya. Dan tingkat yang lebih tinggi diberi nama sesuai dengan kebenaran-kebenaran Alkitabiah yang lebih lanjut. Semakin tinggi kami mendaki, baik perisai maupun pedang kami bertumbuh semakin besar, dan semakin sedikit anak panah musuh yang dapat mencapai posisi itu.

KESALAHAN YANG TRAGIS

Beberapa yang tinggal di tingkat bawah mulai mengambili anak-anak panah musuh dan menembakkannya kembali. Ini kesalahan tragis. Setan-setan itu dengan mudah mengelakkannya dan membiarkan anak-anak panah itu mengenai orang-orang Kristen. Ketika seorang Kristen terkena salah satu panah “Penuduhan” atau “Fitnah”, seekor setan Kepahitan atau Murka akan terbang dan bertengger pada anak panah itu. Kemudian ia mulai buang air dan mengeluarkan racunnya di atas orang Kristen itu. Jika pada satu orang Kristen ada dua atau tiga setan ini ditambah ‘kecongkakan’ , atau ‘merasa diri paling benar’ yang sudah ada padanya, dia mulai beralih rupa seperti setan itu sendiri.

Dari tingkat yang lebih tinggi kami dapat melihat hal ini terjadi, tetapi mereka yang di tingkat yang lebih rendah yang menggunakan anak-anak panah musuh tidak dapat melihat hal itu. Sebagian dari kami memutuskan untuk tetap mendaki, sementara sebagian yang lain turun lagi ke tingkat yang lebih rendah untuk menerangkan kepada mereka di sana hal yang sedang terjadi. Kemudian setiap orang diperingatkan untuk tetap mendaki dan tidak berhenti, kecuali beberapa orang yang menempatkan diri mereka sendiri si setiap tingkat untuk menolong prajurit-prajurit yang lain mendaki lebih tinggi.

KEAMANAN

Ketika kami mencapai tingkat yang disebut ‘Kesatuan Saudara Seiman’, tidak ada satupun anak panah musuh yang dapat mencapai kami. Banyak yang di perkemahan kami memutuskan bahwa sudah cukup kami mendaki. Saya bisa mengerti, semakin tinggi tingkatnya, landasannya semakin genting. Walaupun demikian, semakin tinggi, saya juga merasa semakin kuat dan semakin mahir menggunakan senjata-senjata saya, maka saya terus memanjat.

Segera kemahiran saya menjadi cukup baik untuk menembak dan mengenai setan-setan tanpa mengenai orang-orang Kristen. Saya merasa bahwa apabila saya naik terus saya dapat menembak cukup jauh untuk mengenai pemimpin gerombolan Iblis yang ada di balik pasukannya. Saya menyesal karena banyak berhenti di tingkat yang lebih rendah, tempat yang aman bagi mereka, tetapi mereka tidak dapat menembak musuh. Walaupun begitu, kekuatan dan karakter mereka yang mendaki terus, membuat mereka menjadi pemenang-pemenang besar, dan saya tahu masing-masing sanggup menghancurkan banyak musuh.

Di setiap tingkat banyak anak-anak panah “Kebenaran” berserakan, yang sepengetahuan saya ditinggalkan oleh orang-orang yang telah jatuh dari posisi itu. Setiap anak panah diberi nama sesuai dengan Kebenaran di tingkat itu. Beberapa orang ragu-ragu untuk mengambil anak-anak panah itu, tetapi saya tahu bahwa kami memerlukan semuanya itu yang bisa kami dapatkan untuk menghancurkan gerombolan besar di bawah. Saya memungut sebuah, menembakkannya, dan dengan mudah mengenai seekor setan sehingga yang lain mulai memungut dan menembakkan panah-panah itu. Kami mulai menciutkan beberapa divisi musuh, oleh sebab itu, seluruh pasukan Iblis memusatkan perhatiannya kepada kami. Untuk sementara waktu, kelihatannya semakin banyak yang kami laksanakan, semakin kami ditentang.
Walaupun tugas kami kelihatannya tidak ada habis-habisnya, tetapi situasinya sungguh menggembirakan.

FIRMAN ADALAH SAUH KITA

Pedang kami bertumbuh setiap kali kami mencapai tingkat yang lain. Saya hampir meninggalkannya, karena nampaknya kami tidak memerlukannya di tingkat yang lebih tinggi. Akhirnya saya memutuskan bahwa pedang itu pasti diberikan kepada saya untuk suatu maksud, jadi lebih baik saya bawa. Saya menghujamkannya ke tanah dan mengikatkan diri saya sendiri ke pedang itu sementara saya menembaki musuh. Pada waktu itu suara Tuhan berkata kepada saya : “Engkau telah menggunakan hikmat yang akan memampukan engkau untuk mendaki. Banyak yang jatuh karena mereka tidak menggunakan pedang mereka dengan tepat yaitu sebagai sauh bagi diri mereka sendiri.” Kelihatannya tidak ada orang lain yang mendengar suara ini, tetapi banyak yang melihat perbuatan saya dan melakukan hal yang sama.

Saya heran mengapa Tuhan tidak berbicara kepada saya sebelum saya membuat keputusan ini. Saya kemudian mengerti sendiri bahwa Dia sudah mengatakannya kepada saya dengan cara tertentu. Kemudian saya memahami bahwa seluruh hidup saya telah merupakan latihan-latihan untuk saat ini. Saya sudah dipersiapkan sedemikian sehingga saya mendengar dan mentaati Tuhan sepanjang hidup saya. Saya juga mengerti bahwa untuk suatu alas an, kebijaksanaan dan pengertian yang saya miliki sekarang tidak dapat ditambahkan ataupun diambil semasa pertempuran berlangsung. Saya menjadi sangat bersyukur bagi setiap ujian yang saya alami dalam hidup saya, dan menyesal karena tidak lebih menghargainya pada waktu terjadinya.

Dengan segera kami mengenal setan-setan itu dengan ketepatan yang hampir sempurna. Di pasukan musuh kegeraman bangkit mengamuk. Saya tahu bahwa orang-orang Kristen yang terperangkap di pasukan itu sekarang merasakan pukulan yang berat dari kegeraman itu. Karena tidak mampu mengenal kami, mereka saling menembaki satu sama lain. Karena anak-anak panahnya sekarang tidak berguna melawan kami, musuh mengirimkan burung-burung pemakan bangkai itu untuk menyerang. Mereka yang belum menggunakan pedangnya sebagai sauh berhasil menjatuhkan banyak burung, tetapi mereka juga terpukul roboh dari tebing tempat mereka berdiri. Beberapa orang jatuh ke tingkat yang lebih rendah, tetapi beberapa lagi jatuh sampai ke dasar dan dicengkeram dan di bawa pergi oleh burung-burung pemakan bangkai itu.

SENJATA BARU

Anak panah Kebenaran jarang sekali menembus burung-burung pemakan bangkai, tetapi cukup menyakiti mereka untuk mengusir. Beberapa di antara kami akan mendaki ke tingkat berikutnya. Ketika kami mencapai tingkat yang disebut “Galatia Dua Duapuluh”, kami berada di atas ketinggian yang tidak dapat dicapai oleh burung-burung itu. Pada tingkat ini langit di atas kami hampir-hampir membutakan karena kecemerlangan dan keindahannya. Saya merasakan kedamaian yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

Sebelumnya, semangat bertempur saya sesungguhnya dimotivasi demi Kerajaan, Kebenaran dan Kasih kepada para tawanan, tetapi juga oleh kebencian dan kejijikan kepada musuh. Tetapi pada tingkat ini saya menyusul Iman, Pengharapan dan Kasih, yang sebelumnya hanya saya ikuti dari jauh. Pada tingkat ini saya hampir tenggelam dalam kemuliaan mereka. Ketika saya menyusul mereka, mereka berpaling kepada saya dan mulai memperbaiki dan memoles senjata saya. Dengan segera senjata-senjata itu berubah dan memancarkan kemuliaan yang ada di dalam mereka. Ketika mereka menyentuh pedang saya, sambaran petir besar yang gemilang bersinar-sinar daripadanya. Kasih kemuliaan berkata ; “Mereka yang mencapai tingkat ini dipercayakan dengan kuasa dari masa yang akan datang, tetapi aku harus mengajar kamu cara penggunaannya.”

Tingkat “Galatia Dua Duapuluh” itu sangat lebar sehingga tidak ada lagi bahaya terjatuh. Juga ada persediaan anak panah yang bertuliskan nama : Pengharapan , dan yang jumlahnya tidak terbatas. Kami menembakkan beberapa di antaranya kepada burung-burung pemakan bangkai itu, dan anak-anak panah ini membunuh mereka dengan mudah. Sekitar separuh yang sudah mencapai tingkat ini terus menerus menembakannya sementara yang lain mulai membawa anak-anak panah ini ke bawah kepada mereka yang masih di tingkat lebih rendah.

Burung-burung pemakan bangkai tetap datang secara bergelombang ke tingkat-tingkat di bawah, tetapi setiap kali jumlahnya berkurang dari sebelumnya. Dari “Galatia Dua Duapuluh” kami dapat mengenai musuh manapun dalam pasukan itu kecuali pemimpin-pemimpin mereka, yang masih berada di luar jarak tembak. Kami memutuskan untuk tidak menggunakan anak panah Kebenaran sampai kami menghancurkan semua burung pemakan bangkai, karena awan depresi yang mereka ciptakan membuat kebenaran kurang efektif. Hal ini memakan waktu lama, tetapi kami tidak pernah lelah.

Iman, Pengharapan dan Kasih, yang seperti senjata-senjata kami telah bertumbuh pada setiap tingkat, sekarang sudah sedemikian besar sehingga saya tahu bahwa orang-orang yang berada jauh dari arena pertempuran dapat melihat mereka. Kemuliaan mereka bahkan memancar sampai ke perkemahan para tawanan yang masih berada di bawah awan besar dari burung-burung pemakan bangkai. Kegembiraan bertambah-tambah di dalam kami semua. Saya merasa, bahwa berada di pasukan ini, di pertempuran ini, pastilah merupakan petualangan yang paling akbar sepanjang masa.

Setelah menghancurkan kebanyakan burung-burung pemakan bangkai yang menyerang gunung kami, kami mulai mengarah kepada burung-burung yang menutupi para tawanan. Pada waktu awan kegelapan mulai lenyap dan matahari mulai bersinar atas mereka, mereka mulai bangun seakan-akan tadinya mereka tidur lelap sekali. Mereka segera merasa muak akan kondisi mereka sendiri, terutama oleh karena muntah yang masih menutupi mereka, dan mereka mulai membersihkan diri mereka sendiri. Pengharapan dan Kasih, mereka melihat gunung tempat kami berada, dan mulai lari kearahnya. Gerombolan Iblis menghujani mereka dengan anak-anak panah Penuduhan dan Fitnah, tetapi mereka tidak berhenti. Pada waktu mereka tiba di gunung itu, banyak yang pada tubuhnya ada selusin atau lebih anak panah, tetapi tampaknya mereka bahkan tidak menyadari hal itu. Begitu mereka mulai menjajaki gunung itu, luka mereka mulai sembuh. Karena awan depresi dilenyapkan kelihatannya segala sesuatu menjadi lebih mudah.

PERANGKAP

Yang dulunya tawanan sangat bersuka cita dalam keselamatan mereka. Pada waktu mereka mulai menjejaki gunung itu, mereka kelihatan begitu larut dalam penghargaan akan setiap tingkat, sehingga kami juga semakin menghargai kebenaran-kebenaran itu. Segera suatu ketetapan hati yang dahsyat melawan musuh juga bangkit di dalam mantan tawanan ini. Mereka mengenakan persenjataan yang disediakan dan mohon untuk diijinkan kembali dan menyerang musuh. Kami mempertimbangkan hal ini, tetapi kemudian memutuskan bahwa kami semua harus tetap tinggal di gunung untuk bertempur. Sekali lagi suara Tuhan berkata : “Untuk kedua kalinya engkau memilih hikmat. Engkau tidak dapat menang jika engkau mencoba memerangi musuh di daerahnya sendiri, tetapi engkau harus tinggal di gunungKu yang Kudus.”

Saya tertegun bahwasanya kami telah membuat keputusan lain yang begitu penting hanya dengan berpikir dan mendiskusikannya secara singkat. Saya lalu menetapkan hati untuk berusaha sebaik-baiknya untuk tidak membuat keputusan lain dengan konsekwensi apapun tanpa berdoa. Kemudian dengan cepat Kebijaksanaan melangkah kepada kami, memegang pundak saya erat-erat dan memandang mata saya lekat-lekat, sambil berkata : “Engkau harus melakukan hal ini!” Saya kemudian menyadari bahwa, walaupun saya sudah berada di dataran luas “Galatia Dua Duapuluh” saya telah hanyut ke tepi tanpa menyadarinya, dan dengan mudah bisa jatuh. Saya memandang mata Kebijaksanaan lagi, dan dia berkata dengan sangat serius : ”Kalau engkau menyangka bahwa engkau teguh berdiri, hati-hatilah supaya engkau jangan jatuh. Di dunia ini engkau dapat jatuh dari tingkat manapun.”

ULAR

Untuk waktu yang lama kami terus membunuh burung-burung pemakan bangkai dan menembaki setan-setan yang mengendarai orang-orang Kristen. Kami menemukan bahwa anak-anak panah dari berbagai Kebenaran akan memberi dampak yang lebih pada setan-setan yang berlainan. Kami tahu pertempuran ini akan berlangsung lama, tetapi tidak ada lagi korban perang, dan kami sudah melewati tingkat “Kesabaran”. Walaupun begitu, setelah setan-setan ditembak lepas dari orang-orang Kristen ini, hanya sedikit di antara mereka yang mau datang ke gunung. Banyak yang sudah mengenakan tabiat setan, dan terus berada dalam kesesatan mereka walaupun tanpa setan-setan itu. Sewaktu kegelapan dari setan-setan menghilang kami dapat melihat tanah bergerak-gerak di sekitar kaki orang-orang Kristen ini. Kemudian saya melihat bahwa kaki-kaki mereka diikat oleh ular-ular yang bernama “malu”.

Kami menembakkan anak-anak panah kebenaran kepada ular-ular itu, tetapi dampaknya kecil saja. Kemudian kami mencoba menggunakan anak panah Pengharapan, tetapi tanpa hasil. Dari “Galatia Dua Duapuluh” sangat mudah mendaki ke atas, jadi kami mulai naik ke tingkat yang lebih tinggi. Segera kami berada di suatu taman yang merupakan tempat yang paling indah yang pernah saya lihat. Di atas pintu masuk taman ini tertulis : “Kasih Bapa yang tidak Bersyarat”, itulah pintu masuk yang paling mulia dan paling mengundang yang pernah saya lihat, sehingga kami terdorong untuk masuk. Begitu kami masuk, kami melihat Pohon Kehidupan di tengah-tengah taman ini. Pohon itu masih dijaga oleh malaikat-malaikat yang luar biasa kuatnya. Tampaknya mereka menantikan kami, jadi kami berani melewati mereka dan berjalan ke Pohon itu. Salah seorang di antara mereka berkata : “Orang-orang yang berhasil sampai ke tingkat ini, yang mengenal Kasih Bapa, boleh makan.”

Saya tidak menyadari betapa laparnya saya. Ketika saya mencicipi buah itu, rasanya lebih enak daripada apapun juga yang pernah saya kenal. Rasa buah itu menimbulkan kembali ingatan akan matahari, hujan, padang-padang yang indah, matahari terbenam di seberang lautan, tetapi lebih dari itu, mengenai orang-orang yang saya kasihi. Dengan setiap gigitan saya semakin mengasihi segala sesuatu dan setiap orang. Kemudian musuh-musuh saya mulai muncul di benak saya, dan saya juga mengasihi mereka. Perasaan itu segera menjadi lebih besar dari apapun yang pernah saya alami, bahkan dari kedamaian di “Galatia Dua Duapuluh” sekalipun. Kemudian saya mendengar suara Tuhan, dan Dia berkata : “Mulai sekarang, inilah rotimu setiap hari. Tidak akan pernah engkau dihalang-halangi untuk memakannya. Engkau boleh makan sebanyak dan sesering engkau mau. KasihKu tidak berakhir.”

Saya memandang ke atas pohon itu untuk melihat darimana suara itu datang, dan saya melihat bahwa pohon itu penuh burung-burung elang yang putih bersih. Mereka memiliki mata yang paling tajam dan indah yang pernah saya lihat. Mereka memandangi saya seakan-akan menantikan instruksi. Salah satu malaikat itu berkata : “Mereka akan melakukan permintaanmu. Elang-elang ini memakan ular.” Saya berkata :”Pergilah! Lahaplah Malu yang mengikat saudara-saudara kami”. Mereka mengepakkan sayapnya dan angin yang besar datang dan mengangkat mereka ke udara. Elang-elang ini memenuhi langit dengan kemuliaan yang membutakan. Bahkan di tempat kami yang begitu tinggi, saya dapat mendengar suara kengerian dari perkemahan musuh ketika mereka melihat elang-elang ini mendatangi mereka.

Tuhan Jesus Kristus sendiri kemudian berdiri di tengah-tengah kami. Dia menyentuh setiap orang, kemudian berkata : ”Aku sekarang harus menyampaikan kepadamu hal yang Kusampaikan kepada saudara-saudaraKu setelah kenaikanKu; yaitu berita KerajaanKu. Pasukan musuh yang paling kuat sekarang melarikan diri, tetapi tidak hancur. Sekaranglah waktunya bagi kita untuk berbaris dengan Injil KerajaanKu. Elang-elang telah dilepaskan dan akan pergi bersama kita. Kita akan mengambil panah dari setiap tingkat, tetapi Akulah Pedangmu, dan Akulah Panglimamu. Inilah waktunya Pedang Tuhan dihunus.”

Kemudian saya berpaling dan melihat segenap pasukan tentara Tuhan berdiri di taman itu. Ada pria dan wanita dan anak-anak dari segala suku dan bangsa, masing-masing membawa panji-panji mereka yang berkibar di udara dalam persatuan sempurna. Saya tahu bahwa hal seperti ini belum terlihat di bumi sebelumnya. Saya tahu bahwa musuh masih memiliki lebih banyak lagi pasukan dan benteng-benteng di seluruh bumi, tetapi tidak ada yang dapat bertahan di hadapan pasukan yang besar ini. Saya berkata, hampir berbisik, “Pastilah ini hari Tuhan.” Seluruh orang banyak itu kemudian menjawab dengan gelegar mengguntur : "Hari Tuhan Semesta Alam telah tiba.”

Oleh Rick Joyner




~ salib.net ~





AddThis Social Bookmark Button

Kisah Para Martir di Negeri China

Siapa tak kenal negeri China? Di negeri ini bambu bertumbuh dengan suburnya. Tak salah jika China dijuluki negara Tirai Bambu. Selain itu, hanya di China juga binatang Panda bisa beranak pinak sangat ba-nyak. China pun dijuluki Negeri Panda. Di bidang ekonomi, China adalah salah satu macan Asia. Kita tentu sangat familiar dengan produk-produk mereka yang membanjiri pasar kita. Di bidang pertumbuhan penduduk, China mendapat julukan negeri semiliar jiwa. Di bidang pengetahuan, China sudah disegani sejak dahulu kala. Tak heran pepatah Arab mengatakan tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.

Sayangnya, China sempat mencatat masa kelam dalam kekristenan. Dulu di China hampir setiap hari orang-orang Kristen dikejar-kejar, diburu-buru dan kalau tertangkap, mereka pasti dicerca, disiksa, dan didera sampai nyawa pun tak bersisa di raga. Akibatnya, orang-orang Kristen di China selalu bersembunyi untuk beribadah. Gua, celah-celah perbukitan dan kadang-kadang ruang bawah tanah menjadi tempat ibadah yang layak untuk mereka. Langkanya Alkitab membuat Alkitab yang ada harus dirobek-robek dan dibagi lembar demi lembar kepada setiap jemaat yang ada. Minggu depannya baru lembar itu ditukarkan dengan saudara seiman yang lain. Tak heran jika banyak orang Kristen di China yang hanya menghapal ayat sepenggal-sepenggal. Karena memang kenyataannya demikian. Dapat selembar halaman Alkitab saja mereka sudah bersorak kegirangan.

Meskipun fakta dan kebenaran tentang penderitaan orang-orang Kristen di sana sudah berlalu bersama waktu, toh kebenaran tak bisa dibungkam. Suatu saat, ia akan bersuara dengan lantang. Inilah beberapa martir dari ribuan martir yang telah membayar China dengan darah dan nyawa mereka.

Ngen Do Man: Pendeta yang ditusuk 13 kali

26 Januari 1991. Tampaknya inilah saat akhir bagi Ngen Do Man merasakan panasnya matahari yang saban hari menyengat ubun-ubun. Siang itu, ia sedang menikmati perjalanan. Siulan kecil keluar dari bibirnya. Ia sedang gembira. Sebentar lagi, ia bertemu saudara-saudara seiman. Ngen Do memang hendak mengajarkan Injil ke sebuah ibadah rumah yang tersembunyi di balik bukit. Bukan sekali ini ia melakukan perjalanan sejauh itu.

Sebagai seorang pendeta dan penginjil, ia tahu negerinya tidaklah ramah. Ia sadar nyawanya bisa terancam kapan saja. Tapi Ngen Do Man tak mau gemetar dalam gentar. Tiga tahun mengikut Kristus bukanlah waktu yang lama. Tapi ia sudah memenangkan 200 jiwa lebih dan membawa mereka hidup dalam pengenalan akan Kristus. Tak heran, Ngen Do di cari-cari dan dikejar laksana buron kelas kakap. Tapi Tuhan begitu murah hati. Tiga tahun dia gesit melarikan diri. Tak sekalipun ketahuan. Tapi misteri ajal, tak satu pun bisa memecahkan. Dalam perjalanannya kali ini, Ngen Do dikepung oleh beberapa orang komunis. Mereka sepertinya sudah mengintai gerak-gerik Ngen Do dengan saksama.

Di pinggir jalan itu, Ngen Do tiba-tiba terkesima. Belasan orang berwajah sangar berdiri tegap dengan senjata tergenggam erat di tangan. Ngen Do tahu waktunya telah tiba. Ia tak melawan sedikit pun. Ia hanya berdoa dalam hatinya. "Tuhan, terima kasih aku boleh mendapatkan kehormatan mati demi memperjuangkan nama-Mu. Ampunilah mereka. Jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka." Ngen Do memandang mereka satu per satu. Itulah hari terakhir ia bisa memandang sesamanya. Siang itu di bawah teriknya matahari, Ngen Do diserbu dan disiksa dengan kejam. Tanpa ampun, ia ditusuk 13 kali. Ngen Do tewas seketika, tanpa sempat menyampaikan salam perpisahan kepada istri dan anak perempuannya.

Siao-Mei: Si kecil yang ikut dipenjara

China, 1991. Masa kecil harusnya menjadi masa yang menyenangkan. Masa yang indah untuk dikenang. Tapi hal itu tak berlaku bagi si kecil Siao-Mei. Ia baru berusia 5 tahun. Belum tahu banyak tentang risiko menjadi seorang Kristen di negerinya. Yang ia tahu, ibunya selalu mengajarkan lagu-lagu indah tentang kasih Yesus. Ia tak banyak mengerti mengapa mereka harus berhati-hati jika mau bertemu teman-teman Kristennya. Ia juga tak terlalu paham mengapa ia dan ibunya harus membaca sobekan Kitab Suci dengan sembunyi-sembunyi. Ia juga belum terlalu tahu bahayanya menjadi seorang Kristen di negaranya. Siao-Mei kecil memang tak perlu banyak tahu.

Seperti hari itu. Ia tak tahu mengapa ia dan ibunya digelandang ke sebuah ruang berjeruji besi. Di sana mereka dikurung tak diberi makan. Siao-Mei kecil bertanya pada ibunya. Ibunya diam seribu bahasa. Hanya mengelus-elus punggungnya. Siao-Mei tidak mengerti bahwa Ibunya ditangkap karena menolak menyangkal iman. Yang ia tahu, perutnya sangat lapar. Siao-Mei tidak tahan. Ia menangis sesenggukan.

Kepala penjara yang melihat hal itu mencibir ibu Siao-Mei. "Tidakkah engkau kasihan kepada anakmu? Apa susahnya mengatakan kamu bukan orang Kristen lagi? Kalau kau melakukan hal itu, kau dan anakmu ini akan bebas." Putus asa, ibu Siao-Mei pun setuju menyangkal iman sebagai Kristen agar ia dan anaknya dilepaskan. Syaratnya Ibu Siao-Mei harus berteriak di panggung di hadapan 10.000 orang, "Saya tidak lagi menjadi orang Kristen." Tak berpikir panjang, Ibu Siao-Mei pun melakukannya. Mereka akhirnya diizinkan pulang.

Sesampainya di rumah, Siao-Mei berkata, "Ma, hari ini Yesus tidak senang dengan perbuatanmu." Ibu Siao-Mei berusaha menjelaskan. "Mama melihat kamu menangis di penjara. Mama terpaksa melakukan itu karena Mama sayang padamu. Mama tidak mau melihat kamu menangis, Siao-Mei." Mendengar itu Siao-Mei kecil mendongak kepada ibunya. "Mama, saya berjanji jika kita kembali ke penjara karena Yesus, saya tidak akan menangis lagi." Mendengar hal itu Ibu Siao-Mei kembali bersemangat menginjil. Tak lama kemudian, mereka pun kembali ditangkap dan dipenjara. Namun, kali ini Siao-Mei tidak mau menangis. Ia ingat janjinya kepada ibunya. Entah sampai kapan mereka dipenjara. Tapi tangisan Siao-Mei tak lagi terdengar di sana.

Lai Manping: tewas tak tahan siksaan

Tahun 1994, sebuah gereja rumah di Taoyuan, provinsi Saanxi diserang ketika sedang menjalankan ibadah. Dua orang perempuan muda Kristen tak berhasil melarikan diri. Salah seorang dikenal bernama Lai Manping. Ia baru berusia 20 tahun. Mereka pun dipukul dengan kejam. Mereka ditaruh di atas kompor, dan batu gerinda yang seberat 59kg diletakkan di atas punggung mereka. Lalu mereka dipukuli dengan tongkat. Pakaian mereka dilepas. Dan (maaf) pantat mereka dilecut dengan cambuk yang ujungnya berkait. Segumpal daging terlepas dari pantat mereka. Darah segar langsung mengucur deras.

Tak tahan disiksa dan dipukuli, Manping akhirnya tewas mengenaskan. Kantong kolekte yang berdarah dibuang begitu saja diatas mayatnya. Sementara teman perempuannya yang lain dibawa langsung ke penjara. Setelah para penyik-sanya pergi, diam-diam seorang Kristen yang lain mengambil mayat Manping dan segera menguburkannya tanpa ada upacara apa pun.

Membayar dengan nyawa

Ngen Do Man, Siao-Mei dan Lai Manping hanyalah segelintir orang Kristen yang mengalami penderitaan. Selain mereka, masih ada ratusan bahkan ribuan martir yang juga dibunuh dengan keji di China hanya karena enggan mengingkari iman. Tapi seperti pepatah katakan, semakin dihambat, iman sejatinya semakin bertumbuh pesat. Darah martir itu membawa kebangunan rohani yang spektakuler. Kini, China dikenal sebagai salah satu tempat dimana kekristenan bertumbuh dengan pesat. Sebuah harga yang setimpal dengandarah ribuan martir yang tertumpah untuk membasuh negeri China.


Sumber: Foxe’s Book of Martyrs

~ jawaban.com ~



AddThis Social Bookmark Button