Life Is not VCD player..

Cerita ini adalah "kisah nyata" yang pernah terjadi di Amerika.

Seorang pria membawa pulang truk baru kebanggaannya,kemudian ia meninggalkan truk tersebut sejenak untuk melakukan kegiatan lain.

Anak lelakinya yang berumur 3 tahun sangat gembira melihat ada truk baru, ia memukul-mukulkan palu ke truk baru tersebut. Akibatnya truk baru tersebut penyok dan catnya tergores.

Pria tersebut berlari menghampiri anaknya dan memukulnya, memukul tangan anaknya dengan palu sebagai hukuman.

Setelah sang ayah tenang kembali, dia segera membawa anaknya ke rumah sakit. Walaupun dokter telah mencoba segala usaha untuk menyelamatkan jari- jari anak yang hancur tersebut, tetapi ia tetap gagal.Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua tangan anak kecil tersebut.

Ketika anak kecil itu sadar dari operasi amputasi dan jarinya telah tidak ada dan dibungkus perban, dengan polos ia berkata, "Papa, aku minta maaf tentang trukmu." Kemudian, ia bertanya, "tetapi kapan jari- jariku akan tumbuh kembali?" Ayahnya pulang ke rumah dan melakukan bunuh diri.

Renungkan cerita di atas!
Berpikirlah dahulu sebelum kau kehilangan kesabaran kepada seseorang yang kau cintai.

Truk dapat diperbaiki. Tulang yang hancur dan hati yang disakiti seringkali tidak dapat diperbaiki.

Terlalu sering kita gagal untuk membedakan antara orang dan perbuatannya, kita seringkali lupa bahwa mengampuni lebih besar daripada membalas dendam.

Orang dapat berbuat salah. Tetapi, tindakan yang kita ambil dalam kemarahan akan menghantui kita selamanya. Tahan, tunda dan pikirkan sebelum mengambil tindakan. Mengampuni dan melupakan, mengasihi satu dengan lainnya.

Ingatlah, jika kau menghakimi orang, kau tidak akan ada waktu untuk mencintainya

waktu tidak dapat kembali....
hidup bukanlah sebuah VCD PLAYER, yang dapat di backward dan Forward.......
HIDUP hanya ada tombol PLAY dan STOP saja....

jangan sampai kita melakukan kesalahan yang dapat membayangi kehidupan kita kelak.........

yang menjadi sebuah inti hidup adalah "HATI"
hati yang dihiasi belas kasih dan cinta kasih.....
CINTA KASIH merupakan nafas kehidupan kita yang sesungguhnya.........

(Artikel ini bersumber dari E-mail dan dikirim oleh Elidasari)




AddThis Social Bookmark Button

Menikmati Kuasa di dalam Kerajaan Allah

Ada seorang mahasiswa yang kuliah di Amerika Serikat. Ia berasal dari negara berkembang. Ketika akan diwisuda, ia mengirimkan tiket pesawat terbang kepada ayahnya untuk hadir. Dengan sukacita, ayahnya berangkat ke Amerika. Tapi ketika ditawari makanan di dalam pesawat, ia selalu menolak. Akibatnya selama berjam-jam dalam pesawat, ia kelaparan. Karena itu, ia marah ketika anaknya menyambut dia di airport. Kata anaknya, “Apakah papa menikmati makanan enak dalam pesawat?” Jawabnya berang, “Saya tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan yang ditawarkan di dalam pesawat. Jadi, saya tidak makan apa-apa.” Anaknya menjelaskan bahwa harga makanan sudah termasuk di dalam tiket yang dimilikinya. Ayah tersebut menyesal, tapi sudah terlambat. Banyak orang Kristen yang hidupnya persis seperti ayah ini. Mereka menerima Yesus, tapi menyia-nyiakan arti pengorbanan Yesus. Salah satu warisan yang disediakan bagi orang Kristen dalam Kerajaan Allah adalah kuasa. Kata Paulus, “Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa,”(I Kor 4:20). Untuk apakah kuasa tersebut diberikan?

1. Kuasa untuk mengusir setan-setan dan menyembuhkan sakit-penyakit.
Yesus berkata, “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh," (Markus 16:17-18). Orang yang hidup dalam Kerajaan Allah akan mengalami tanda-tanda ini.

2. Kuasa untuk memberitakan Injil.
Kata Yesus, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi,"(Kisah 1:7-8). Akhirnya, “Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya,”(Markus 16:20). Orang yang hidup dalam Kerajaan Allah akan menyukai pekerjaan yang demikian.

3. Kuasa untuk melayani dalam kemuliaan Allah yang lebih dahsyat.
Kata Paulus, “Pelayanan yang memimpin kepada kematian terukir dengan huruf pada loh-loh batu. Namun demikian kemuliaan Allah menyertainya waktu ia diberikan. Sebab sekalipun pudar juga, cahaya muka Musa begitu cemerlang, sehingga mata orang-orang Israel tidak tahan menatapnya. Jika pelayanan itu datang dengan kemuliaan yang demikian, betapa lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh! Sebab, jika pelayanan yang memimpin kepada penghukuman itu mulia, betapa lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran. Sebenarnya apa yang dahulu dianggap mulia, jika dibandingkan dengan kemuliaan yang mengatasi segala sesuatu ini, sama sekali tidak mempunyai arti. Sebab, jika yang pudar itu disertai dengan kemuliaan, betapa lebihnya lagi yang tidak pudar itu disertai kemuliaan,”(II Kor 3:7-11). Itulah kemuliaan yang sedang menanti orang yang hidup dalam berjalan dalam Kerajaan Allah.


~ abbalove ministries ~




AddThis Social Bookmark Button

Orang-orang Pinter yang Keblinger

Ilmu dan iman kerap tak sejalan. Yang satu mengagungkan nalar, yang lain mengandalkan keyakinan. Ilmu identik dengan keniscayaan, seentara iman identik dengan kemustahilan. Mencoba meniscayakan yang mustahil dan menuhankan yang nalar, siapa pun—termasuk ahli—akan dibuat keblinger.

Proses keblingeran inilah yang sedang dialami para teolog, sejarawan, dan arkeolog bercorakkan gnostisisme berkaitan dengan rekayasa gambaran Yesus yang terus menerus diekspos media. Dimulai dengan penemuan-penemuan kontroversial seputar kehidupan Yesus—Injil Tomas yang berkata keselamatan hanya didapat dari usaha mempersembahkan diri, Injil Filipus dan Injil Maria yang berkata Yesus menikah dengan Maria Magdalena, dan Injil Yudas yang menganakemaskan dan membenarkan tindakan Yudas menyerahkan Yesus. Belum lagi lahirnya kelompok Yesus Seminar (1985) yang didirikan oleh Robert Funk dan John Dominic Crossan. Kelompok yang beranggotakan sekitar 300 orang dari berbagai bidang (sejarawan, teolog, arkeolog, penulis, bahkan produser film) ini mencoba merekonstruksi ulang kehidupan Yesus dan kekristenan di masa-masa awal. Menurut Yesus Seminar, Yesus tidak bangkit dari kubur, tidak pernah berjalan di atas air, juga tidak pernah membangkitkan Lazarus dari kematian. Dan akhirnya penemuan menggemparkan tentang makam Talpiot yang diduga sebagai makam Yesus, istri beserta anaknya. Sejak itu bermacam opini spekulatif bermunculan dan beredar di publik. Yesus menikah-lah, punya anaklah, terlibat skandal seks dengan Maria Magdalenalah, macam-macam lagi. Umat pun dibuat bingung.

Meski sudah banyak sanggahan yang coba diajukan untuk menjawab spekulasi penemuan para ilmuwan tersebut, tetapi menurut Benni E. Matindas, semua tidak menyentuh pada poin yang fundamental. Mengaitkan sains dengan iman inilah yang sering jadi masalah, begitu Ioanes Rakhmat, dosen STT Jakarta menyimpulkan.

Dari Mana Sumber Sejarah Yesus?

Apakah Alkitab yang kita percayai ini menyembunyikan sosok Yesus yang sebenarnya? Sangat mudah untuk berkata "Ya". Terlebih dengan banyaknya penemuan yang mengingkari keilahian Yesus. Namun, Benni Matindas secara kritis mengatakan para ahli yang menilai kekristenan dengan memposisikan diri pada sudut pandang (perspektif) zaman sekarang ini, padahal sedang menilai sejarah Kristen di masa lampau sebenarnya sedang mengalami kekeliruan hermeneutis. Padahal—lanjutnya—bicara tentang sejarah penulisan kisah Yesus harus diletakkan pada skala waktu kekristenan awal, yaitu dua abad pertama Masehi. Dan pada masa itu, tidak seorang pun yang punya kepentingan untuk memalsukan kisah Yesus. Bahkan sebaliknya. Membuang Kristus sama dengan melepas beban berat dan bebas dari aniaya. Kalau ternyata memang ada cerita atau skandal berbau tak sedap tentang Yesus saat itu, pastilah siapa pun, termasuk para rasul, akan dengan senang hati meninggalkan imannya yang memang sudah bikin mereka tersiksa itu.

Hal ini diperkuat Pdt. Yusak Tridarmanto, M.Th. "Kalau kita ingin mencari sumber pasti siapa Yesus sebenarnya, tentulah yang paling logis, kita akan mencari dokumen yang paling dekat waktunya dengan masa hidup Yesus. Dan Injil-injil sinoptik yang diakui Alkitab jelas lebih bisa dipercaya dibandingkan injil-injil koptik yang sekarang diributkan," jelas Dekan Fak. Teologi UKDW ini. Injil sinoptik tertua adalah Injil Markus ditulis tahun 60-70M, Injil Lukas dan Matius tahun 75-80M. Sementara Injil Yohanes sekitar tahun 90-95M. Sedangkan injil-injil koptik baru ditulis sekitar tahun 100-an M. Injil Tomas tahun 180 M, Injil Filipus tahun 170 M, Injil Maria tahun 160 M dan Injil Yudas tahun 120 M. Dari segi usia saja, jelas injil-injil sinoptik jauh lebih bisa dipercaya. Dengan kata lain, masih terlalu dini untuk memercayai semua opini ahli seputar gosip murahan tentang pernikahan Yesus dengan Maria yang melahirkan anak, ataupun isu tentang penemuan makam keluarga Yesus.

Menjawab Gugatan Seputar Kebangkitan Yesus

Satu lagi yang sering membuat para pengritik iman Kristen tidak puas adalah kebangkitan Yesus. Misteri hilangnya mayat Yesus dalam gua batu yang tertutup rapat mengusik nalar para ahli. Mereka mencoba merekayasa kisah kebangkitan itu dengan membuktikan bahwa semuanya itu tidak benar. Makam Talpiot yang baru ditemukan seakan menguatkan opini mereka. Namun, sungguhkah demikian?

Dalam harian Kompas, 5 April 2007, Ioanes Rakhmat menulis, “Jika sisa-sisa jasad Yesus memang ada di bumi, maka kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah obyektif, melainkan sebagai metafora. Para penulis Perjanjian Baru sendiri pasti memahami keduanya sebagai metafora; jika tidak demikian, mereka adalah orang-orang yang sudah tidak lagi memiliki kemampuan membeda-kan mana realitas, mana fantasi dan de-lusi. Dalam metafora sebuah kejadian hanya ada dalam pengalaman subyektif, bukan dalam realitas obyektif. Yesus bangkit, ya, tetapi bangkit dalam memori dan pengalaman hidup diha-diri dan dibimbing oleh Rohnya. Yesus telah naik ke surga, ya; dalam arti: Ia telah diangkat dalam roh untuk berada di sisi Allah di kawasan rohani surgawi. Kebangkitan dan kenaikan tidak harus membuat jasad Yesus lenyap dari makamnya. Untuk keduanya terjadi, yang dibutuhkan adalah tubuh rohani, bukan tubuh jasmani protoplasmik.” Tulisan ini sempat makin menambah polemik tentang kebangkitan Yesus.

Namun ketika Bahana mewawan-carainya, Ioanes menegaskan bahwa pemikiran tentang makam keluarga Yesus itu harus dipisahkan dari iman gereja. Wilayah ilmu pengetahuan dan iman berjalan sendiri-sendiri. Keduanya tidak perlu dipaksakan harus bertemu. “Iman adalah wilayah sendiri yang tidak mau saya utak-utik. Jadi, saya tidak mau mengaitkannya dengan iman Kristen secara langsung,” demikian tegas dosen STT Jakarta ini.

Dan di dunia akademis, sah-sah saja para ahli punya pandangan berbeda. Adji Sutama, editor lepas dan penulis banyak buku maupun artikel teologi berujar di dunia akademis, keilahian Yesus—khususnya di kalangan Yesus Sejarah—memang cenderung ditolak sebab kacamata ahli sekarang sudah serba sekular. Proses deteologisasi dan demirakulisasi mau tak mau terjadi dan hasil akhirnya adalah sosok Yesus tanpa makna teologis. Sosok Yesus akan lebih diberi makna sosial politis.

Pandangan yang berbeda sebenarnya sah-sah saja. Namun, ketika sosok Yesus ini mau dipaksakan sebagai sosok normatik karena dianggap lebih otentik, lebih benar, lebih rasional, dan lebih-lebih lainnya, hal ini harus ditolak sebab tidak sesuai dengan sumber teologi yang sehat, yaitu Kitab Suci, tradisi, pengalaman, dan penalaran, serta normanya: Injil Yesus Kristus. Bahkan Adji meluruskan pendapat miring selama ini tentang penemuan makam Talpiot. “Tidak ada ahli yang berpendapat bahwa makam itu makam keluarga Yesus,” tuturnya. Ioanes Rakhmat pun mengakui bahwa peluang makam Talpiot itu sungguh-sungguh makam Yesus masih sekitar 51-85%. Artinya masih belum bisa menjadi kesimpulan. Baru spekulasi.

Lagi pula kalau memang Yesus tidak bangkit, mengapa para rasul mau-maunya mati konyol demi membela sesuatu yang tidak terbukti benar? Pak Yusak juga menanyakan hal yang sama. “Ngapain Petrus mau mati disalib terbalik jika dia tidak benar-benar berjumpa dengan sosok Yesus yang sudah bangkit? Bagi saya, munculnya gereja di mana-mana sekalipun dibakar atau ditutup adalah bukti tentang kuatnya pesan kebangkitan Yesus. Misi kebangkitan itulah yang menjadi kuasa kebangkitan gereja di mana-mana,” tuturnya panjang lebar.

Mencari Sensasi Murahan

Kalau belum terbukti, mengapa kita lantas gempar? Masalahnya adalah para ilmuwan itu terlalu cepat mempublikasikan hasil penemuan mereka ke publik, seolah ingin menebar sensasi. “Kalau memang mereka ingin berdebat secara ilmiah, harusnya asumsi mentah para ahli itu tidak langsung dilempar ke publik atau diekspos via Discovery Channel, misalkan. Kan bisa lewat debat forum atau jurnal ilmiah. Lha ini di forum ilmiah saja masih diragukan, kok ya langsung dipublikasikan lewat media massa. Apa itu bukan mencari sensasi namanya?” demikian Herlianto menggugat dalam sebuah situs.

Kekecewaan senada juga diutarakan Adji Sutama. Seharusnya ilmuwan lebih berhati-hati melemparkan penemuan yang belum dikaji benar tidaknya. Apalagi ke umat yang notabene kaum awam. “Bagaimanapun, meluruskan benang kusut di lingkup publik jauh lebih sulit ketimbang mengoreksi pendapat ilmuwan di jurnal ilmiah,” lanjutnya. Tampaknya penemuan bombastis tentang kehidupan pribadi Yesus yang sebelumnya begitu diyakini beberapa ahli (terutama dari golongan gnostik) justru membuat mereka keblinger sendiri. Yah, sejauh ini yang nampak justru fakta bahwa yang pinter-pinter pun akhirnya juga keblinger jika diperhadapkan pada misteri kehidupan Yesus. Lha, kalau yang pinter saja keblinger, ngapain kita—umat biasa—ikut-ikutan?


Artikel terkait :
Yesus Hanyalah Sebuah Rekayasa?
Fenomena Kuno dalam Kemasan Mutakhir
Yesus Masih Mati ? Para Pakar Berpendapat
APAKAH KAIN KAFAN TURIN ITU ASLI?


~ bahana ~




AddThis Social Bookmark Button

Graham dan Gladys Staines - Menaklukkan India dengan Cinta

Malam kian larut pada 22 Januari 1999, di Manoharpur, India. Sebuah desa terpencil, tersembunyi di lekukan perbukitan Keonjhar. Jauh dari peradaban. Ber-jarak 250 km dari kota terdekat, Orissa. Senyap dan gelap. Nyaris tak terdengar suara. Selain nyanyian binatang malam dan dentuman tabla (alat musik tradisional India) yang dimainkan sekelompok pemuda mengiringi liukan tarian tradisional, Dhangri.

Di bagian belakang mobil station wagon Willys, Graham Staines (59) beserta kedua anaknya Philip (11) dan Timothy (7) baru saja melakukan “ritual tetap” sebelum tidur. Mobil itu selalu menjadi tempat tinggal Graham dan anak-anak setiap kali mereka ke luar kota. Seperti biasa, Graham berbagi cerita tentang kebaikan Tuhan pada kedua anaknya. Dan, cerita itu selalu ditanggapi anak-anak dengan an-tusias. Setelah itu, Philip dan Timothy bergantian berdoa.

Hari yang sangat melelahkan. Mereka melakukan perjalanan panjang menembus perbukitan terjal. Graham, sang ayah, memimpin acara Bible Camp tahunan yang diadakan di desa terpencil itu. Saat sang ayah mengajar, Philip dan Timothy berlarian, berkeliling dan bermain bersama anak-anak desa. Kelelahan menyerbu tubuh mereka. Maka, suara ritmis dentuman tabla itu segera membuat mereka pulas.

Malam makin tua. Kali ini, benar-benar senyap. Dentuman drum dan hentakan kaki para penari lenyap. Mungkin, mereka juga sudah lelap. Namun, kesunyian itu tak berumur lama. Segerombolan pemuda, kira-kira 60 orang jumlahnya, menembus gelap. Di tangan mereka tergenggam senjata kapak dan trisula. Melewati ladang-ladang, merangsek mendekati mobil Graham. Saat sampai di depan mobil Graham, mereka berteriak, “Serbu!!!”

Dara Singh, sang pemimpin, memulai penyerangan. Tangan kekarnya, mengayunkan kapak ke ban mobil. Meninggalkan robekan yang menganga lebar. Yang lain, melempari mobil dengan batu. Merangsek masuk, merusak pintu mobil menggunakan tongkat besi. Dan, juga menghantam jendela. Graham segera bangun, memeluk kedua anaknya dan berharap ada celah untuk lari. Terlambat! Para penyerang sudah berdiri tepat di hadapannya. Tanpa ampun, merekamenghujani tubuh tiga orang itu dengan tinju dan pukulan bertubi-tubi. Darah mengucur deras dari kepala. Sekujur tubuh penuh dengan lebam. Nafas pun tersengal-sengal. Mereka nyaris pingsan. Masih tak puas, dengan buas mereka menikam tubuh tiga orang itu dengan trisula. Berkali-kali. “Ahhh.....” teriak kesakitan Graham dan ketiga anaknya tak lagi mereka pedulikan.

Seakan tak puas melihat penderitaan Graham, Singh lalu turun dari mobil. Ia membuat tumpukan jerami di bawah mobil dan membakarnya. Dalam waktu singkat, mobil misionaris yang dikasihi oleh rakyat India itu terbungkus api. Dari jendela terlihat Graham dan kedua anaknya saling berpelukan. Lolongan kesakitan memecah keheningan malam itu. Graham dan kedua anaknya mengerang keras kala api mulai menjilati tubuh mereka. Bau daging terbakar segera menguar. Teman-teman Graham hanya bisa terpekur menyaksikan sahabat yang sangat mereka kasihi itu terpanggang hidup-hidup. Ketika api mulai membakar mobil, salah seorang dari mereka langsung mengambil air dan hendak memadamkan api. Namun, ia langsung ditangkap dan dipukuli oleh pengikut Singh.

Tak seorang pun berani mendekat. Singh dan pengikutnya menunggu hingga mobil itu tersisa menjadi bangkai. Baru setelah gerombolan pergi, mereka berlari menuju ke station wagon itu. Hanya kerangka mobil hangus terbakar, asap dan tiga mayat berpelukan yang sulit dikenali lagi yang mereka temukan. Tubuh itu...milik Graham, Philip, dan Timothy.

PECINTA PENDERITA LEPRA

Hidup Graham Staines, pria kelahiran Queensland, Australia itu berakhir di negeri yang sangat dicintainya, India. Tepat di bulan kematiannya, Januari 1999, Graham telah mengabdikan hidup untuk penderita lepra di India selama 35 tahun. Graham tumbuh di keluarga injili yang saleh. Panggilan melayani untuk memberi kasih bagi yang tersisih, tumbuh di hatinya sejak usia 16 tahun. Selama beberapa tahun, panggilan itu ia gumuli. Setelah sekolah Alkitab selama dua tahun, ia meninggalkan semua kenyamanan hidup di Australia untuk hidup bersama pende-rita lepra di Baripada, Orissa, India.

Graham menapakkan kakinya di India, tepat di usianya yang ke-24 pada 18 Januari 1965. Segeralah, pria tinggi besar yang dikenal cerdas, simpatik, dan penuh empati itu mengerahkan semua talenta-nya. Ia betul-betul mengekspresikan kasih Kristus pada orang-orang yang tersisih itu. Penderita lepra di India adalah orang-orang yang terbuang. Jangankan mengobati, mendekati saja ogah. Takut tertular. Ketika mereka minta sedekah, orang-orang malah melempari dengan batu. Ada stigma kuat bahwa penyakit lepra adalah akibat dari karma. ”Para pe-mimpin agama kami bilang bahwa kami pantas menderita lepra karena karma. Kami telah melakukan banyak dosa di kehidupan kami sebelumnya. Dan, kami sering dibiarkan mati sendirian di dalam hutan. Namun kemudian datanglah DadaStaines, mereka mengulurkan tangan dengan penuh kasih. Di sanalah, kami melihat kasih Allah, ” saksi salah seorang penderita.

Ya, dengan penuh kasih, Graham membasuh, membalut, dan merawat luka-luka mereka di Rumah Misi Penderita Lepra. Setelah sembuh, mereka kemudian dibekali dengan berbagai ketrampilan supaya dapat hidup mandiri. Graham selalu mendorong mereka untuk hidup baik dan berpikir positif. Graham begitu melebur dengan hidup orang-orang yang dilayaninya. Ia menguasai tiga bahasa tradisional: Ho, Santhali, Oriya. Pada orang-orang yang dilayani itu, Graham juga mengajarkan tentang kasih Tuhan. Tahun 1983, Graham menikahi Gladys dan Tuhan mengaruniakan tiga anak: Esther (14), Timothy (11), Philip (7). Graham juga mengajari anak-anak itu dengan bahasa lokal. Tanpa canggung, mereka bergaul dengan anak-anak para penderita lepra. Semua orang di Baripada sangat mencintai Graham.

Swami Agnivesh, salah satu pemimpin agama yang terkenal begitu terkesan dengan Graham, “Sangat terlihat, Graham dan keluarganya sudah total melebur dengan penduduk lokal. Mereka bisa bahasa Santhali. Sangat kontras de-ngan para elit kami yang justru menghina bahasa lokal. Mereka juga membiarkan anak-anaknya bermain dengan anak-anak para penderita kusta!”

Kasih tulus Graham dan keluar-ganya menyentuh hati mereka. Dalam melayani, Graham selalu menekankan bahwa apa yang dia lakukan itu adalah perwujudan kasih Tuhan pada hidup mereka. Orang-orang yang terbuang itu pun mulai mencari dan memercayai Tuhan. Supaya firman Tuhan lebih mudah dipahami, Graham menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Ho. Orang-orang memanggil Graham dengan Bada Dadaor yang artinya, saudara tua.

Pelayanan Graham berbuah. Makin banyak orang datang pada Kristus. Graham merintis berdirinya 21 gereja. Masyarakat lokal yang terinspirasi oleh pelayanannya telah mendirikan hampir 30 gereja kecil. Gereja-gereja tumbuh subur di India. Kenyataan ini membuat gerah kaum fundamentalis. Sudah sejak lama, mereka mengincar Graham.

Penyerangan terhadap gereja dan pengikut Kristus kerap terjadi. Sejak tahun 1986 hingga 1998, sudah terjadi 60 kali penyerangan terhadap gereja-gereja Kristen di India. Ketegangan itu mulai menjalar di desa Manoharpur. Di desa terpencil itu, Graham juga mendirikan Rumah Penderita Lepra.Di situ pula, setiap tahun Graham mengadakan Bible Camp. Graham tidak merasa khawatir. Ia selalu ikut ke mana pun Tuhan mengutusnya. Termasuk ke daerah berbahaya seperti Manoharpur.Graham berkomitmen, ia akan mengabdikan seluruh hidup dan keluarganya untuk para penderita lepra di India. Dan, terbukti komitmen itu telah ia penuhi. Hidupnya berakhir, kala ia sedang melakukan tugas pelayanan.

PENGAMPUNAN MEMBAWA PENYEMBUHAN

Kematian Graham dan penganiayaan yang terjadi di India justru membuat Injil tersebar begitu pesat. Terlebih lagi kesaksian Gladys dan Esther, bahwa mereka telah mengampuni para pembunuh. Pernyataan itu menjadi headline di setiap koran India. ”Saya tidak mengalami kepahitan. Atau marah. Saya hanya punya satu keinginan besar bahwa setiap orang di negeri ini punya hubungan pribadi dengan Yesus Kristus yang telah menyerahkan hidupnya untuk dosa kita. Mari kita matikan rasa benci dan sebarkan cinta kasih Kristus,” ujar Gladys.

Alih-alih meninggalkan India, mereka justru akan meneruskan apa yang sudah dirintis oleh Graham. Gladys dan Esther pun mengabdikan hidupnya untuk pada penderita lepra di India. Kenyataan ini mengundang rasa penasaran sekaligus kekaguman rakyat India. Bagaimana mungkin mereka bisa mengampuni para pembunuh suami, ayah, anak, dan saudara mereka? Mengapa mereka mau tinggal dan melayani orang miskin? Siapakah Tuhan yang mereka percayai? Apakah benar Yesus itu ada?

Dari situlah, banyak orang menjadi percaya pada Kristus. Pada Januari 2005, pemerintah India menganugerahkan penghargaan Padma Shri pada Gladys atas pengabdiannya pada rakyat India. Ya, sama seperti Yesus, Graham dan Gladys telah menaklukkan India dengan cinta. Darah Graham telah menyuburkan kekristenan di India. Saat jiwa telah lenyap dari raga, cinta itu tetap menggelora.


~ Bahana ~




AddThis Social Bookmark Button

Frans "Sisir" Rumbino - Menjelajah Dunia dengan Musik Sisir

Kepalanya plonthos (gundul), tapi ke mana-mana ia selalu membawa sisir yang terselip di saku celananya. Untuk apa gerangan? Sisir yang biasa kita pakai untuk mempercantik diri dibalut dengan tas ¨kresek¨ oleh Frans disulap menjadi alat musik menarik!
Bakatnya terbilang langka. Bermusik dengan sisir dan kantong plastik “kresek”. Benda murah dan sederhana yang jamak kita pakai sehari-hari. Namun di tangan Mesakh Frans Rumbino, kedua benda itu mampu menghasilkan alunan musik menarik. Mirip suara saksofon yang mendayu-dayu dan trombone yang riang. Ia lantas dikenal dengan Frans Sisir. Kemahirannya bermusik dengan sisir telah mengantarnya keliling dunia dan bermain di depan kepala-kepala negara.

BERAWAL DARI ISENG

Kemampuan Frans bermusik dengan sisir dan plastik terbilang unik. Prosesnya pun tak kalah menarik. Kendati sejak kecil su-dah ditinggalkan orangtuanya, Frans kecil tak kehilangan keceriaan. “Keluarga saya broken home. Saya tinggal bersama kakek Robert dan nenek Alexanderina. Sejak kecil saya biasa mencari ikan untuk membantu kebutuhan keluarga,” tutur pria kelahiran Padaido, Biak Timur, 11 Februari 1972 ini. Sepulang mencari ikan, Frans suka meniup daun atau kulit kerang, mendendangkan lagu-lagu kampung, seperti Apuse, dll.

Dari kebiasaan meniup daun dan kerang itu, secara tak sengaja Frans bereksplorasi dengan sisir dan kantong plastik. Ceritanya, sebagai Putra Biak, Frans ingin mendukung kesebelasan kesayangannya, PSB Biak, ketika ada pertandingan sepak bola dalam Pekan Olahraga Daerah (Porda) di Jayapura. Namun, karena kala itu hanya ada sisir dan kantong plastik, Frans memanfaatkan kedua benda tersebut untuk menyemangati kesebelasan kesayangannya. Tak disangka, dari situlah ia mulai menyukai dan mendalaminya hingga dapat memainkannya dengan piawai.

“Awalnya cuma coba-coba saja meniup sisir yang saya bungkus dengan kantong plastik kresek,” ujar Frans. Semula, suaranya lurus ¨tet..tet ...tet...¨ saja. Dari situlah keluar ide untuk dipakai bermusik. Ia pun terus melatih kemampuannya meniup sisir. Mengasah talenta memang membutuhkan waktu yang lama.Awalnya tak mudah dan tidak berjalan mulus. Ia sering diolok-olok teman-temannya. Banyak tanta walaupun ada tantangan. Setiap kebaktian Jumat di SMP saya juga nyanyi dengan sisir dan plastik,” ucap Frans.

BERGULAT DENGAN KERASNYA KEHIDUPAN

Di balik talenta uniknya, kehidupan Frans tak kalah seru pula. Hidup menjelajah dari satu kota ke kota lain dengan keringat dan airmata. Pindah ke Jayapura, terpisah dari orangtua Frans harus berjuang agar dapat terus menyambung hidup. “Saya hidup di pasar dan terminal. Jadi kenek, kondektur, juga membantu mengangkat belanjaan orang. Meski susah, Tuhan itu baik. Dia tidak pernah melupakan anak-anak-Nya,” ujar sulung dari 6 bersaudara ini. Sekolahnya pun pindah-pindah, dari Jayapura, Blitar, Jakarta, dan kembali ke Jayapura hingga lulus SMP tahun 1988.

Karena prestasinya di sekolah, Frans mendapatkan beasiswa bersekolah di SMAN 8 Malang. Di kota kecil ini ada bakat lain yang ia kembangkan. Bermain bola. Menempati posisi striker, Frans sering tampil membela kesebelasan klubnya. Hasilnya? Boleh juga. “Waktu itu dapat 20-25 ribu (rupiah) tiap kali main. Sudah gedhe. Kost-kostan aja cuma 30-40 ribu,” ujarnya. Akibatnya waktu untuk bermusik memang berkurang.

SATU SEL DENGAN XANANA GUSMAO

Lulus SMA, Frans kembali hijrah ke Jakarta. Ia masuk di Fisipol UKI. Cita-citanya jadi diplomat. Namun karena terbentur biaya Frans mengadu nasib dengan menjadi penyanyi night club di kawasan Ancol hingga 3 tahun. Frans yang tergabung sebagai anggota Pemuda Pancasila ini juga sempat bekerja menjadi debt collector dan masuk dalam kehidupan yang keras. Cita-citanya pun kandas. Akibat pekerjaannya yang nyerempet bahaya, tahun 1999 Frans sempat mencicipi dinginnya dinding penjara Polda Metro Jaya. “Saya kena 4 bulan. Waktu itu anak pertama saya, Anelo, baru berusia satu bulan,” kenang ayah dari Anelo, Kezia, dan Lydia ini.

Setelah dua bulan di penjara Polda, Frans dipindah ke LP Cipinang. Hidup di rutan membuatnya me-nyadari kasih Tuhan. “Hidup saya hancur, tapi Tuhan beri kekuatan untuk bersaksi. Saya pikir hidup keras itu sia-sia,” katanya. Ia lantas mengajak teman-teman sesama tahanan menyikapi hidup secara positif. “Saya tetap merasakan kasih Tuhan di dalam LP. Saya ajak mereka olah raga, main musik, dan memuji Tuhan,” imbuhnya.

Dalam tahanan iman Frans semakin tumbuh dan berkembang. Di LP Cipinang Frans juga pelayanan bersama Xanana Gusmao, mantan presiden dan kini perdana menteri Timor Leste. “Saya teman satu sel dengan Xanana. Kami sama-sama pelayanan di LP,” lanjutnya. Lagu-lagu rohani dan alunan musik sisir dan plastik dari mulut Frans mampu menjadikan spirit bagi dirinya dan teman-teman sesama penghuni LP. Berbagai aktivitas, pelayanan, dan sikap positif yang ditunjukkan Frans selama di LP berganjar citra teladan. “Saya keluar dengan status napi terbaik,” ungkapnya.

MENGABDI DALAM PELAYANAN

Lepas dari LP, Frans terpanggil terjun dalam pelayanan. Kemampuan musikalitas Frans dalam bernyanyi dan meniup sisir berbalut plastik menjadi komoditi yang tak ternilai. Lengkingan saksofon yang dihasilkan banyak mengundang decak kagum pengunjung setiap ia tampil. Bukan hanya di panggung gereja. Frans juga diundang bernyanyi dan bermusik di berbagai acara. Peresmian acara, ulang tahun instansi dan pribadi hingga Lebaran pula. Banyak petinggi negara yang mengagumi bakat uniknya. Mantan Presiden Soeharto, Megawati, juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Sultan Hassanal Bolkiah dibuatnya terpesona.

Ada kisah unik ketika Frans melakukan live performance di keluarga Cendana. “Saya pinjam sisir Pak Harto untuk membuktikan pakai sisir apa saja saya bisa,” ujar Frans yang ketika itu memainkan lagu Sio Mama. Ternyata, kata Frans, sisir milik mantan penguasa RI selama 32 tahun itu mampu menghasilkan suara lebih merdu. Tahun 2003 ke atas hidup Frans lebih banyak untuk pelayanan. Ken-dati demikian, bukan berarti semua berjalan baik. Ada saja orang yang mengambil keuntungan dari bakatnya. Ia sempat merasakan pengkhianatan oleh teman-temannya sesama asal Papua. Mulanya diajak rekaman, tapi akhirnya rekamannya dibajak. Namun hal itu tidak mematahkan semangatnya dalam melayani Tuhan.

NGAMEN DI PELATARAN LIBERTY

Tahun 2005 Frans mendapat kesempatan pelayanan di Amerika. Meski demikian, untuk mendapatkan visa ke Amrik tidak mudah. Ketika staf kedubes AS menanyakan tujuannya ke Amerika, ia jawab bermain musik. Mereka heran. “Saya keluarkan sisir dan plastik lalu nyanyi Amazing Grace,” ujarnya. Terpukau dengan nada indah kreasi Frans, mereka pun memberinya visa untuk 5 tahun! Di negeri Paman Sam ini, Frans pelayanan keliling New Jersey, new York, Philadelphia, Boston, Atlanta, dll. Ada kejadian unik ketika Frans bersama rombongan tur ke pelataran patung Liberty. Kagum dengan gedung pencakar langit dan megahnya patung Liberty, Frans lantas mengeluarkan sisir dan kantong plastiknya dan bermain memuji Tuhan. Sementara ia asyik dengan “alat musik”nya recehan dan lembaran dolar menghampiri. “Wah, saya dikira ngamen. Lumayan juga ada 80 dolaran,” kenangnya. Dengan sisir pula Frans telah berkelana ke Italia, Perancis, dan Belanda.

PESAN UNTUK KEMULIAAN TUHAN

Bagaimana Frans bisa menghasilkan suara dahsyat bak permainan saksofon Kenny G. hanya dari sisir dan kantong kresek? Apakah semua sisir dan kantong plastik bisa dipakai? “Pada dasarnya semua sisir dan plastik bisa. Tapi lebih bagus kalau sisirnya agak lembut dan plastiknya tipis. Saya meniupnya pakai perasaan,” ujarnya. Bunyi saksofon yang keluar dari sisir dan plastik kresek berasal dari paduan antara napas perut yang sudah terlatih dengan suara vibrasi plastik. Apa sih kesulitannya? “Sama seperti peniup pada umumnya, kalau napasnya pendek ya tidak bisa. Butuh napas panjang,” ungkapnya.

Kendati bakatnya terbilang langka, Frans tidak berambisi memasukkan dalam catatan rekor tertentu. “Tujuan saya bukan untuk mendapatkan penghargaan, tapi bagaimana nama Tuhan dimuliakan. Saya berharap dapat keliling dunia dengan sisir dan plastik bagi Tuhan Yesus. Saya berdoa supaya orang diberkati dan jadi kesaksian bahwa sisir dan plastik dapat memuliakan Tuhan,” tandasnya. Dulu, lanjutnya, Tuhan pakai tukang kayu, nelayan, dsb. Saya bangga karena saya dulu nelayan. Saya percaya Anda lebih dari sisir. Keterbatasan tak harus membatasi kita dalam berkreativitas. Frans telah membuktikan. Merangkai melodi nan harmoni dari benda sederhana untuk membawakan nyanyian yang sarat pesan.


~ bahana ~




AddThis Social Bookmark Button

Hadapi Tantangan Rezeki Pun Berdatangan

Niat awal ke Jakarta hanyalah menuntut ilmu, lain tidak. Di tengah kesibuk-an kuliah ia acap kali meminta uang. "Masalah anak kost. Uangnya sering habis tengah bulan," Sandra beralasan.Tak enak hati lantaran sering telepon meminta uang, timbullah pikiran brilian. "Di jalan yang setiap hari aku lewati menuju kampus ada poster besar dengan tulisan ikutilah pemilihan Miss Enchanteur. Hadiahnya Rp50 juta. Aku tertantang dan mengincar hadiahnya," jelasnya sambil tertawa lepas.

Sulung dari tiga bersaudara ini yakin kemenangan menjadi Miss produk kecantikan itu karena jawaban realistisnya. Ketika ditanya juri tentang motivasi mengikuti pemilihan itu, Sandra, begitu ia biasa dipanggil, menjawab, "Saya tertarik dengan hadiahnya, Rp50 juta. Saya ingin memperbanyak teman dan relasi," kenang lulusan London School of Public Relations. Tak berhenti di situ. Selanjutnya kelahiran Bangka ini tertantang lagi mengikuti pemilihan duta pariwisata Jakarta Barat.

Kemenangan diraih, namun berbuntut banyaknya kegiatan yang harus dijalani. Sadar jadwalnya berubah dengan berbagai kesibukan, ia akhirnya pilih kuliah sebagai prioritas, "Bicara materi lumayan. Tapi dari awal aku nggak kepikiran masuk ke dunia hiburan. Niatnya kuliah dan belajar. Puji Tuhan, lulus kuliah baru aku mau serius dan dapat tawaran pula, pas banget, kan!?" ulasnya takjub.

MENAKLUKKAN TANTANGAN

Semua hal positif dan berdampak baik akan ditempuhnya. Itu merupakan tantangan. Dalam ‘adventure' tantangannya itulah ia mencoba mengikuti pemilihan model majalah wanita ternama. Sandra yang saat itu pekerja kantoran pun "melamar". Sekali lagi ia mengantongi kemenangan. Lewat kemenangannya ia bertemu dengan Nia Dinata. Sutradara yang sarat prestasi di jagad per filman semisal Arisanatau Janji Joni, yang juga diidolakan Sandra. Diam-diam cewek family minded ini ingin sekali bermain di film garapan Nia Dinata, namun ia malu untuk menyampaikan niatnya. "Aku suka karya-karya Teh Nia (Nia Dinata-red). Dan mau banget main di filmnya, tapi aku siapa?"

Begitu kemenangan di tangan. "Teh Nia yang jadi juri memberi selamat ke atas panggung dan bilang dia mau kasting aku. Aku hanya takjub melihat cara Tuhan yang ajaib. Dari situ aku belajar, kalau baik untuk aku pasti Tuhan kasih," kisahnya berbunga-bunga mengingat kembali kenangan tahun lalu.Ketakjubannya masih berlanjut. Saat kasting untuk film, para "pesaingnya" bukan kelas teri, tapi para pemenang piala Citra dan sederet penghargaan lainnya. Takut? Pasti ada. Menyerah? Tidak sama sekali. "Di ruang tunggu kasting yang datang sempat membuat aku kaget. Aku juga doa. Terserah Tuhan," jelasnya tanpa mau menyebut nama pemain film papan atas yang dimaksud.

Usai kasting, ia menaikkan doa. Keyakinannya terbukti, kalau baik pasti diberi Tuhan. "Permintaanku langsung dijawab. Aku sangat bersyukur. Aku lulus kasting dan diterima," urai pemain film bergenre komedi romantis ini. Sebagai pemain yang baru meretas di dunia film, talent iklan sebuah bank nasional ini dengan mudahberadaptasi dan mengakrabi pekerjaan. Ia merasa diterima dengan baik. Kendati pemain senior, para lawan mainnya tak mengecilkan dirinya.Terlalu pagi untuk berpuas diri sekarang. Baginya apa yang dipercayakan Tuhan lewat sinetron, iklan, dan film merupakan buah dari keberaniannya menaklukkan apa yang dianggap orang sukar. "Aku suka tantangan. Waktu niat kuliah di Jakarta, orang di Bangka nggak tahu soal PR (Public Relation). apalagi London School. Tahunya hanya UI atau Trisakti. Karena itu ambil PR." Tantangan lain dalam karier di dunia hiburan yang baru dimulainya adalah rasa risih. Ia kerap meminta sutradara untuk mengizinkannya tidak memakai baju yang terlalu terbuka. Ini merupakan tantangan untuknya agar menempatkan rasa risih secara tepat. "Aku risih dengan pakaian yang terlalu terbuka. Sampai sekarang masih belajar untuk dealing dengan fashion yang terbuka asal jangan berlebihan."

GAK PUNYA PRINSIP GAK HIDUP

Pemain sinetron Elang tayangan Indosiar ini sudah diajarkan keluarga mencintai Tuhan. Tak heran hari-hari SMP dan SMA-nya banyak diisi dengan kegiatan kerohanian. Mulai dari solis (menyanyikan ayat Mazmur Alkitab-red) sampai koor. Hijrah ke Jakarta, sibuk kuliah dan bekerja setelah lulus kuliah membuatnya kehilangan saat-saat indah pelayanan. "Sekarang jadwalku lumayan padat, tapi aku berusaha membagi waktu sebaik mungkin biar tetap bisa ikut koor."

Putri pasangan Gunawan Basri dan Chatarina Erliani ini bersyukur sejak kecil diajarkan sayang pada Tuhan. "Tuhan Yesus itu baik, Dia yang menyayangi, melindungi kita. Jadi, kita harus sayang Tuhan Yesus. Kita ini anak Tuhan Yesus, coba kalau sudah besar anak kita tidak nurut sama orangtuanya pasti kecewa," Sandra menirukan ucapan ibunya. Sayangnya pada Tuhan ditunjuk-kan dengan memantapkan iman bahwa semua yang terbaik dan menjadi bagiannya pasti akan diberikan Tuhan.

Sebaliknya sekeras apa pun usaha dan doa, tapi kalau permintaan itu bukan yang terbaik maka tak akan pernah jadi milik. "Satu kali aku punya permintaan, tapi tidak terkabul. Belakangan Tuhan perlihatkan, itu bukan yang terbaik untuk aku," paparnya tanpa mau menjelaskan apa gerangan permintaannya itu. Pesan ibu terpatri kuat dalam lubuk hati, bahwa manusia tak akan pernah bisa membalas kasih Tuhan. Sebab itu Sandra tak jemu-jemu tetap memberikan yang terbaik dan tidak malu menjadi anak Tuhan dengan cara menjaga tubuh sebagai bait Allah. Di lokasi syuting ia terkenal anti dugem, rokok, dan minuman keras. "Aku bangga dengan imanku. Kalau pun diajak dugem aku pasti nolak dan lama-lama mereka ngerti. Untuk ini aku memang strict," jawabnya.

Tak takut dianggap kuper atau dijauhi? Menjawabnya, bintang iklan produk kecantikan pemutih wajah ini mengatakan bahwa berteman dengan semua orang boleh saja, tapi harus punya prinsip. "Satu tahun di Jakarta sendirian, kalau tidak inget Tuhan dan tidak punya prinsip aku bisa merokok atau gila dugem. Itulah prinsip hidupku dan menjalankannya tidak ada masalah." Tak ada kata menyesal atas iman dan prinsipnya. Yang terpenting adalah Tuhan sudah teramat sangat baik, tak mungkin ia "menjahati" Tuhan dengan menjadi orang yang tak tahu diri.

ANTARA HIDUP DAN MATI

Ngobrol banyak hal dengan Sandra selalu seru dan penuh keceriaan. Tak terkecuali tentang persepuluhan dan penghasilan. Dengan ringan ia menjawab, "Untuk berbagi, aku lihat dulu keluarga dan kerabat yang membutuhkan. Soal persepuluhan itu pasti! Kan masih ada sisa 90 persen. Jadi, persepuluhan itu ya harus."

Soal keluarga, ada satu kisah tentang ayahnya yang bagi Sandra, kalau bukan karena Tuhan tak mungkin ayah menoleh padanya. Sandra yang berusia 11 tahun dan dua adiknya bermain di tepi muara yang banyak buaya, daerah tempat ayahnya bekerja. Adiknya hanya ingin mencuci kaki. Lantaran terpeleset terjatuhlah ia. Segera Sandra dan adik nomor duanya menolong. Bukannya dapat menarik sang adik, keduanya justru ikut terjatuh. "Anginnya sangat kencang. Maka minta tolong sekeras apa pun, kalau seseorang tidak melihat, tak akan tahu ada yang butuh pertolongan. Setelah berteriak sekuat mungkin, aku berdoa dalam hati. Badanku sudah tenggelam. Antara hidup dan mati. Gak tahu gimana Papaku melihat dan menolong. Setelah kami naik ke atas kami melihat buaya di muara itu."



~ jawaban.com ~






AddThis Social Bookmark Button

Virus Lagu, Lagu Virus

Seandainya semua yang kita nyanyikan menjadi kenyataan, lagu apa yang akan kita nyanyikan?

“Jadikan aku yang kedua,Buatlah diriku bahagia,Walau engkau tak kan pernah,Kumiliki ‘tuk selamanya”

Begitu bunyi refrain lagu Jadikan Aku Yang Kedua yang melejitkan Astrid (25). Menurutnya, konsep lagu ini nakal tapi tidak genit. Ia sungguh amat menyatu dengan lagu ini. Pasti hasilnya akan lain kalau bukan mantan best vocal festival band SMA se-Surabaya ini yang menyanyikannya. Kombinasi lagu, penyanyi, dan aransemen keren menjadikannya juara 2 Lomba Cipta Lagu Pop Indonesia 2006.

Lagu ini juga menjadi saksi jet coaster nasib Ajeng Astiani (14) dan Mama Cindy. Ia berhasil menyisihkan 3.000-an kontestan dalam audisi penyanyi Mama Mia, kontes bakat untuk remaja putri di stasiun TV Indosiar. Hadiahnya 100 juta. Dari seorang pengamen bis kota jurusan Grogol-Kampung Rambutan, kini ia menjadi selebriti bersama 11 finalis lainnya. Kalau menang, ia tak perlu mengamen lagi. Ia bisa hidup cukup dari hadiah kontes. Sayang ia cuma masuk empat besar, dikalahkan oleh Mytha, Margareth, dan Firsha. Begitupun nasibnya berubah drastis. Bukan cuma Ajeng yang menggantungkan nasibnya pada lagu nakal ini. Lagu Jadikan Aku Yang Kedua menjadi lagu paling digemari dan banyak dipilih oleh para ABG peserta audisi! Sampai di sini semuanya baik-baik saja. Astrid senang. Ajeng dan Mama Cindy hepi. Penonton terhibur. Duit produser kumpul. Pedagang CD dapat rezeki. Lagu ini telah membahagiakan banyak orang. Lalu, apa masalahnya? So what gitu loh?

Ini dia masalahnya. Coba simak liriknya. Seorang wanita yang menyanyikan lagu Jadikan Aku Yang Kedua, berarti ia sedang mendeklara-sikan kesediaannya menjadi “orang kedua” bagi kekasihnya. Padahal, orang kedua itu bisa berarti: pacar gelap, gundik, istri muda, wanita simpanan, atau sejenisnya. Kembali ke acara Mama Mia. Isi pesan lagu favorit para remaja putri ini sangat kontradiktif dengan pesan moral dari acara itu: hubungan harmonis seorang ibu dan putrinya. Kalau sebuah lagu benar-benar merupakan ungkapan hati seseorang, ibu mana yang rela putrinya yang baru berusia 14 tahun membuat “pengumuman” di televisi lewat lagu yang disaksikan seluruh rakyat Indonesia bahwa ia bahagia menjadi wanita simpanan? Dengan kata lain, lagu ini membenarkan praktek perselingkuhan. Celakanya, yang diselingkuhi juga bahagia. Bang Oma pun akan bilang: Terlalu!

“Ah, itu kan cuma lagu pop, yang habis manis sepah dibuang. Dilupakan orang. Tak perlu takut berlebihan coy. Parno amat sih,” begitu mungkin pikir kita. Eeiiit… tunggu dulu Bung. Sebuah lagu yang dinyanyikan terus-menerus bisa menjadi kenyataan lho. Mau bukti? Ketika W.R. Supratman menciptakan lagu Indonesia Raya, pada 1928, Indonesia belum merdeka. Lagu ini merupakan sebuah visi profetik tentang Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat. Negara Kesatuan Republik Indonesia belum terbentuk. Tapi, “cuma” butuh waktu 17 tahun, pada 1945 lagu itu sudah menjadi kenyataan.

LAGU BISA MENJADI KENYATAAN

“Telah kuserahkan, tubuh, harta dan jiwakuTapi kau malah menghilang bagai hantu tak tau maluLelaki buaya darat, buset aku tertipu lagi”

Siapa yang tidak tahu lagu Teman Tapi Mesra? Dari pengamen di lampu merah, ABG yang jalan-jalan di mall, para eksekutif yang berkaraoke, sampai nenek-nenek hafal lagu hit duo Ratu ini. Sebenarnya Astrid cuma pewaris “takhta Ratu” berikutnya. Pewaris dalam hal melanjutkan tema-tema lagu yang mempropagandakan perselingkuhan. Tidak perlu mengerutkan dahi untuk menangkap pesan lagu TTM ini bahwa seseorang yang sudah punya pasangan masih boleh mesra-mesraan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya. Mesra di sini bisa berarti mesra psikis. Bisa juga mesra fisik. Jelas lagu ini memasyarakatkan hubungan tanpa komitmen yang ujung-ujungnya adalah seks bebas.

Sebelumnya Ratu sudah memopulerkan tema perselingkuhan ini. Perhatikan lirik lagu Ratu saat masih dalam formasi Maia dan Pingkan Mambo. Judul lagunya, Jangan Bilang Siapa-siapa. Begini refrainnya:

“Setiap kubercinta dengan pacar rahasiakuAku suka, kamu suka sudah jangan bilang siapa-siapa”

Tampaknya, pesan yang terkandung dalam lagu-lagu itu sudah menjadi kenyataan dalam hidup keluarga pencipta dan penyanyi lagu ini, Dhani dan Maia Ahmad. Berbulan-bulan kemelut keluarga membuat kisah Dhani dan Maia menjadi the most wanted story di acara infotainment. Publik diharu biru oleh ultimatum Dhani kepada Maia untuk memilih: bubarkan Ratu atau cerai! Sebelumnya aroma kehamilan misterius Pingkan Mambo telah merebak. Akibatnya, Pingkan dipecat dari Ratu. Masuknya Mulan Kwok menggantikan Pingkan melejitkan Ratu sekaligus memperkeruh konflik. Ada gosip perselingkuhan Dhani dengan Mulan. Ada bukti foto mereka berdua mesra. Rupanya mereka sedang mempraktikkan lagu TTM. Orang lalu menghubung-hubungkan bahwa itulah yang mengilhami Maia mencipta lagu Buaya Darat, yang juga amat populer. Begini liriknya:

“Telah kuserahkan, tubuh, harta dan jiwakuTapi kau malah menghilang bagai hantu tak tau maluLelaki buaya darat, buset aku tertipu lagiMulutnya manis sekali, tapi hati bagai srigala”

Kemelut rumah tangga ini masih berlanjut sampai sekarang. Tidak seperti lagu Indonesia Raya, tak butuh lebih dari setahun, hampir semua lagu Duo Ratu telah menjadi kenyataan. Jadi, bayangkanlah, seandainya semua lagu yang kita nyanyikan menjadi kenyataan, lagu-lagu apakah yang akan kita nyanyikan setiap hari? Tentu para wanita tak sudi menyanyi Jadikan Aku yang Kedua, TTM, atau Buaya Darat. Celakanya, lagu-lagu manis bertemakan perselingkuhan amat berlimpah di Indonesia. Misalnya, Maafkan Aku (Ungu), Sephia (Sheila on 7), Bahagia (Melly), Janji di Atas Luka (Audy), Aku Cinta Kau dan Dia (Dhani Ahmad). Lagu dangdut jauh lebih banyak lagi. Lagu Barat yang amat populer, misalnya How Can I Tell Her About You (Lobo), I’ve Been Away Too Long (George Baker Selection), dan banyak lagi.

LAGU ADALAH MEDIA YANG EFEKTIF

Pesan lagu masuk melalui alam bawah sadar manusia. Ketika seseorang diberi tahu secara verbal suatu kebenaran lewat dialog, yang akan bekerja adalah otak kirinya. Ia akan menganalisisnya secara kritis. Pesan itu baik atau buruk. Benar atau salah. Kalau menurutnya baik, akan diterima. Kalau menurutnya buruk, akan ditolak. Tapi, ketika suatu pesan disampaikan lewat lagu, ia akan masuk tanpa hambatan melalui otak kanan. Kalau orang suka melodinya, ia akan kehilangan daya kritisnya. Ia akan menyanyikannya begitu saja dan tanpa sadar menyetujui liriknya. Sebaliknya, akan jauh lebih mudah bagi seseorang untuk menghayati bahwa Allah itu Mahakuasa dan Mahakudus saat ia melantunkan syair Kudus, kudus, kudus, Allah mahakuasa dalam lagu Holy, Holy, Holy, misalnya, daripada bila ia cuma mengucapkan atau mendengar orang memberi tahu dia: “Allah itu mahakuasa dan mahakudus lho.” Lewat lagu ia bisa merasakan (proses afektif dengan otak kanan) kekudusan dan kebesaran Allah. Sedang lewat kata tanpa nada ia cuma bisa memikirkannya (proses kognitif dengan otak kiri).

Lagu menyentuh emosi yang terdalam. Ia bisa membuat hati manusia terbuka untuk menerima pesan Injil. Para pelopor gerakan praise & worship paham betul itu. Mungkin karena itulah, dalam liturgi ibadah Kristen, sebelum firman atau saat altar call selalu ada lagu yang dinyanyikan. Sejarah kekristenan tak terpisahkan dari lagu. Walau tak mengurangi kesakralannya, bisakah kita memisah-kan lagu Malam Kudus dari Natal? Liturgi dan ibadah gereja tak bisa dipisahkan dari lagu dan musik. Betapa boringnya gereja tanpa musik. Gereja memberikan kontribusi berharga bagi musik dunia, yaitu dasar teori musik modern. Harmoni musik pop zaman sekarang pun berakar pada harmoni musik gereja yang dicipta para komponis klasik abad ke-17, seperti Johan Sebastian Bach, Ludwig von Bethoven, atau yang lebih baru Wolfgang Amadeus Mozart. Pada masa itu sebuah komposisi diciptakan kalau bukan untuk untuk raja, ya untuk gereja.

Kisah penciptaan lagu Hallelujah Chorus ini menggambarkan kuatnya pengaruh musik terhadap sanubari manusia. Setelah G. F. Handel berkutat 20 hari untuk menyelesaikan komposisinya. Tibalah saatnya orkestra dan paduan suara mementaskan lagu itu di depan Raja George II. Konser berlang-sung sangat megah. Agung. Khusyuk. Silih berganti perasaan pendengar dibawa naik ke surga. Bersahutan, berkejaran suara sopran, alto, tenor, bas melantun Hallelujah! Hallelujah! And He shall reign forever and ever! Hallelujah!

Para bangsawan Inggris hanyut dalam kemuliaan Allah yang bangkit dan naik surga. Semua orang dicekam hadirat Allah. Tak ada suara. Tak ada kata. Ada yang terpana. Ada yang meneteskan air mata. Klimaksnya, raja tak tahan duduk di singgasananya. Ia melepas mahkota, meletakkannya di lantai lalu berkata, “Di hadapan Sang Raja segala Raja aku tak layak duduk di singgasana memakai mahkota. Bagi Dialah segala pujian, hormat, dan kemuliaan” Jadi, sekarang lagu apa yang akan kita nyanyikan?




~ bahana ~





AddThis Social Bookmark Button

Fenomena Kuno dalam Kemasan Mutakhir

Kajian dan penemuan yang memaparkan 'fakta' tentang sisi lain kehidupan dan ajaran Yesus, jelas mengusik kekristenan. Tetapi sebenarnya, tidak hanya sekarang ini saja kekristenan diusik. Ketika masih hidup, keberadaan Yesus sudah dipertentangkan oleh golongan-golongan yang kontra dengan ajaran-Nya.

Setelah itu, pandangan negatif ten-tang kekristenan terus berlanjut. Tiga penulis Roma dari periode antara 110 sampai 120, menampilkan Yesus dan kekristenan dalam nada negatif. Orang Romawi memandang Yesus sebagai pembuat kekacauan. Dan, kekristenan sebagai gerakan yang memercayai takhayul. Yesus dan kekristenan berbahaya buat negara.

Pembuat Kerusuhan

Orang Roma 'bersentuhan' dengan Yesus saat mereka dihasut petinggi agama Yahudi untuk menghukum mati Dia karena melakukan pemberontakan pada kaisar Roma. Dan, setelah itu pengikut Kristus diburu kaum ulama Yahudi. Suetonius Transquilis (70-130), ahli sejarah Romawi yang kemudian diangkat menjadi seorang pejabat tinggi admistratif dalam pemerintahan Trajanus dan Hadrianus, memandang Yesus sebagai penghasut yang menimbulkan keresahan dan kerusuhan. Yesuslah yang menyebabkan orang-orang Yahudi diusir dari kota Roma di bawah pemerintahan kaisar Klaudius (41-54). Dalam bukunya, De Vita Caesarum (sekitar 120 M) Suetonius menyebut, "Karena orang-orang Yahudi itu telah terus menerus di bawah pengaruh Kristus menimbulkan keresahan, maka ia (Klaudius) mengusir mereka dari kota Roma". Pengusiran orang Yahudi ini tercatat dalam Kisah Para Rasul 18:2. Salah satu yang terusir adalah Priskila dan Akwila yang akhirnya mempertemukan mereka berdua dengan Paulus; dan menjadi tonggak penting dalam perkembangan gereja.

Cornelius Tacitus (56-118M), senator dan sejarawan Roma yang termasyur karena dua karya sejarahnya, Annals dan Histories, menggambarkan Yesus sebagai penjahat yang membuat kekacauan, yang membuat gerakan di Yudea lalu berhasil menguasai Roma. Dalam Annals 15:44, ia menggambarkan tentang meninggalnya Yesus. Kematian Yesus adalah akibat dari pembelokan tuduhan pada Kaisar Nero atas kasus terbakarnya kota Roma. "Sebab itu, untuk memadamkan isu bahwa pembakaran Roma terjadi atas perintahnya Nero menyodorkan pelaku kejahatan itu dan menghukum orang-orang yang dibenci karena kejahatan mereka dengan cara yang paling mengerikan. Orang-orang itu disebut sebagai orang Kristen, pengikut Kristus. Kristus yang menjadi sumber penamaan itu, telah menjalani hukuman mati selama pemerintahan Tiberius, melalui perintah, Pontius Pilatus, wakil kaisar di Palestina. Dan, takhayul yang paling merusak itu untuk sementara dapat dikendalikan. Tetapi kembali pecah, bukan saja di Yudea, sumber utama kejahatan ini, tetapi juga di Roma, di mana segala sesuatu yang mengerikan dan memalu-kan berkumpul dan dipraktikkan."

Pliny Muda (sekitar 61-113M), gubernur Britania di Asia Kecil tahun 111-113 menulis pada Kaisar Trajan untuk meminta nasihat bagaimana menangani orang-orang Kristen. Rupanya, kebiasaan orang Kristen yang mengagungkan Kristus mengganggu mereka. Perikop yang menarik ini ditemukan dalam Surat-surat, Buku X. Pliny menjuluki kekristenan sebagai bentuk "takhayul yang berlebihan". Orang-orang yang ingin menolak tuduhan sebagai orang Kristen harus membuktikannya dengan cara memberi hormat pada patung dewa dan gambar sang kaisar. Lalu mempersembahkan kemenyan. Menuangkan anggur pada patung-patung dan gambar itu sambil menghujat nama Kristus. Mereka tahu persis orang Kristen yang sejati tidak akan mau melakukan itu.

Pengaburan Sejarah Yesus

Jika para sejarawan Roma memandang Yesus sebagai seseorang pembuat onar, beda lagi pendapat para kaum rasionalis pada abad pencerahan. Pada abad ke-18 itu rasio diceraikan total dari iman. Segala sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan rasio, ditolak kebenarannya. Dalam situasi seperti inilah, kaum rasionalis menolak kisah-kisah Alkitab yang supernatural (misalnya tentang mukjizat), termasuk kisah Yesus misalnya tentang keilahian Yesus, kelahiran dari perawan, mukjizat yang Dia lakukan maupun kebangkitan-Nya. Gambaran Yesus di dalam Alkitab dianggap tidak akurat. Itu hanya merupakan hasil refleksi teologis dari para penulis yang tidak sesuai dengan kehidupan Yesus. Mereka membedakan antara Yesus Sejarah dan Yesus Iman. Isu ini mulai mencuat ke permukaan melalui buku The Fragment pada tahun 1774 yang ditulis oleh Herman S. Reimarus. Sejak itu, inti pemikiran ini terus menerus digali dan mendapat kemasan baru di setiap zaman. Hingga sekarang, dalam formatnya yang paling mutakhir, muncullah berbagai film, buku, dan novel yang menggambarkan figur alternatif seorang Yesus.

Menurut Craig Evans dalam Merekayasa Yesus, gambaran Yesus yang menyimpang dari Alkitab itu muncul karena para penulis itu memperlakukan dokumen-dokumen kuno sebagai bahan bersandi yang harus disingkap maknanya. Ada juga penulis lain yang menarik kesimpulan berdasar legenda, dokumen palsu dan kasak-kusuk yang belum terbukti kebenarannya. Penulis lainnya menggabungkan temuan arkeologi yang sah dengan tebak-tebakan yang sangat spekulatif. Akhirnya, kita pun menjadi bingung.

Legenda dan Kebohongan yang Menjadi Sejarah

Cawan Suci, pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena yang kemudian melahirkan keturunan kaum ningrat Perancis, adanya Biarawan Sion yang dibidani Leonardo da Vinci, Victor Hugo, Sir Isaac Newton seperti yang diungkapan Dan Brown dalam The Da Vinci Code bersumber pada buku The Holy Blood, The Holy Grail karya Michael Baigent dan Richard Leigh. Kesimpulan itu mereka buat berdasar penemuan surat rahasia Biarawan yang tersembunyi di Bibliotheque Nationale Prancis. Mereka juga menemukan petunjuk penting dalam karya seni dan legenda yang berkaitan dengan Rennes le Ch?teau. Jauh sebelum Baigent dan Leigh menulis buku itu (tahun 1982), rumor akan adanya harta tersembunyi dan Biarawan Sion telah diekspos oleh Pierre Plantard pada tahun 1956. Saat itu, mereka menunjukkan dokumen Prancis dan Latin yang berkaitan dengan Biarawan Sion, yang tak pernah ada.

Namun, sebetulnya semua itu hanyalah kebohongan belaka. Akhirnya Plantard mengakui kebohongannya dan dipenjara. Plantard meninggal tahun 2000. Semua kebohongannya sudah dipublikasikan dalam buku The Treasure of Renne-le-Cha-teau: A Mysteri Solved (2003). Sementara, 'ide' tentang pernikahan Yesus dan Maria bersumber dari Injil Filipus dan Injil Maria. Padahal, menurut Evans, di dalam kedua Injil itu sebenarnya tidak ditemukan kisah romantika antara Yesus dan Maria. Saat ditemukan, memang banyak kata-kata yang hilang dalam kedua injil itu. Lalu para ahli berusaha merangkaian kata-kata yang hilang itu hingga akhirnya ditarik kesimpulan bahwa Yesus dan Maria merupakan sepasang kekasih.

Temuan Arkeologis yang Spekulatif

Tentang kemungkinan Yesus tidak pernah bangkit karena tulang-tulangnya sudah ditemukan di Makam Talpiot seperti yang disebut James Tabor dalam bukunya, The Jesus Dynasty (2006) juga merupakan kesimpulan yang ngawur karena berdasar hasil penemuan arkeologis yang masih sangat spekulatif.Mengingat pada abad pertama di Palestina makam keluarga hanya untuk kalangan terhormat sangat tidak masuk akal Yesus punya makam keluarga. Yesus bukan dari kalangan atas dan status-Nya menurut hukum Roma adalah penjahat yang dihukum mati. Selain itu, saat makam Talpiot ditemukan 10 tahun yang lampau (sudah didokumetasi oleh BBC), para ahli sejarah Perjanjian Baru tidak pernah menyimpulkan makam itu sebagai makam Yesus.

Penelitan kalau tulisan James Tabor dianggap sebagai penelitian dilakukan berat sebelah karena didasari asumsi Yesus memiliki hubungan khusus dengan Maria Magdalena berdasar sumber dari Injil Filipus dan Injil Maria Magdalena Kemungkinan bahwa tulang-tulang yang berdasar inskripsi bernama Yusuf, Maria, Yesus, Maria Magdalena dan Yakobus (yang ini belum dapat dipastikan karena DNA-nya belum diteliti) adalah benar-benar Yesus dari Nazareth itu, masih 1:30.000. Nama-nama tersebut merupakan nama yang umum pada masyarakat Yahudi.

Andai Benar Terjadi...

Usaha-usaha untuk mengkaji Yesus berdasar berbagai sumber di luar Alkitab, sampai sekarang masih berlangsung. Ilmu memang harus berkembang. Dan, sejak dulu ilmu dan iman tidak pernah bisa bejalan seiring. Nah, seandainya kelak semua temuan arkeologis tentang Yesus itu benar, apa yang akan terjadi? Apakah iman Kristen akan runtuh? Mengutip pendapat Martin L Sinaga, "Iman, tidak boleh berdasarkan pada sejarah. Sebab kalau iman itu berdasar sejarah, maka kita sama dengan tidak beriman, tetapi hanya menjadi seorang sejarawan. Jadi, Anda termasuk golongan yang mana, orang beriman atau sejarawan?"


Aretikel terkait :
Yesus Masih Mati Para Pakar Berpendapat
Apakah Kain Kafan Turin Itu Asli
Yesus Hanyalah Sebuah Rekayasa



~ bahana ~


AddThis Social Bookmark Button

Pilih wortel, telur atau biji kopi ?

Seorang anak perempuan mengeluh pada sang ayah tentang kehidupannya yang sangat berat. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan bermaksud untuk menyerah. Ia merasa capai untuk terus berjuang dan berjuang. Bila satu persoalan telah teratasi, maka persoalan yang lain muncul.

Lalu, ayahnya yang seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air kemudian menaruh ketiganya di atas api. Segera air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama dimasukkannya beberapa wortel. Ke dalam panci kedua dimasukkannya beberapa butir telur. Dan, pada panci terakhir dimasukkannya biji-biji kopi. Lalu dibiarkannya ketiga
panci itu beberapa saat tanpa berkata sepatah kata.

Sang anak perempuan mengatupkan mulutnya dan menunggu dengan tidak sabar. Ia keheranan melihat apa yang dikerjakan ayahnya. Setelah sekitar dua puluh menit, ayahnya mematikan kompor. Diambilnya wortel-wortel dan diletakkannya dalam mangkok. Diambilnya pula telur-telur dan ditaruhnya di dalam mangkok. Kemudian dituangkannya juga kopi ke dalam cangkir.

Segera sesudah itu ia berbalik kepada putrinya, dan bertanya: "Sayangku, apa yang kaulihat?"

"Wortel, telur, dan kopi," jawab anaknya.

Sang ayah membawa anaknya mendekat dan memintanya meraba wortel. Ia melakukannya dan mendapati wortel-wortel itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya si anak mendapatkan telur matang yang keras. Yang terakhir sang ayah meminta anaknya menghirup kopi. Ia tersenyum saat mencium aroma kopi yang harum. Dengan rendah hati ia bertanya "Apa artinya, bapa?"

Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda telah merasakan penderitaan yang sama, yakni air yang mendidih, tetapi reaksi masing-masing berbeda. Wortel yang kuat, keras, dan tegar, ternyata setelah dimasak dalam air mendidih menjadi lembut dan lemah. Telur yang rapuh, hanya memiliki kulit luar tipis yang melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah dimasak dalam air mendidih, cairan yang di dalam itu menjadi keras. Sedangkan biji-biji kopi sangat unik. Setelah dimasak dalam air mendidih, kopi itu mengubah air tawar menjadi enak.

"Yang mana engkau, anakku?" sang ayah bertanya. "Ketika penderitaan mengetuk pintu hidupmu, bagaimana reaksimu? Apakah engkau wortel, telur, atau kopi?"

Bagaimana dengan ANDA, sobat?

Apakah Anda seperti sebuah wortel, yang kelihatan keras, tetapi saat berhadapan dengan kepedihan dan penderitaan menjadi lembek, lemah, dan kehilangan kekuatan?




Apakah Anda seperti telur, yang mulanya berhati penurut? Apakah engkau tadinya berjiwa lembut, tetapi setelah terjadi kematian, perpecahan, perceraian, atau pemecatan, Anda menjadi keras dan kepala batu? Kulit luar Anda memang tetap sama, tetapi apakah Anda menjadi pahit, tegar hati, serta kepala batu?


Atau apakah Anda seperti biji kopi? Kopi mengubah air panas, hal yang membawa kepedihan itu, bahkan pada saat puncaknya ketika mencapai 100ยบ C. Ketika air menjadi panas, rasanya justru menjadi lebih enak.

Apabila Anda seperti biji kopi, maka ketika segala hal seolah-olah dalam keadaan yang terburuk sekalipun Anda dapat menjadi lebih baik dan juga membuat suasana di sekitar Anda menjadi lebih baik.

Bagaimana cara Anda menghadapi penderitaan? Apakah seperti wortel, telur, atau biji kopi?


(Artikel dikirim oleh Evi Yuliastuti)



AddThis Social Bookmark Button

Hidupmu Sudah Diatur Oleh Tuhan

Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus Kristus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya.

Karena segala permohonan pasti bisa dikabulkan-Nya, maka orang berbondong-bondong datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan menyembah,hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar.

Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus.

Pada suatu hari, sang penjaga pintu pun berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus.

Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, "Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun."

Si penjaga pintu merasa permintaan itu sangat mudah.

Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib.
Karena itu orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun.

Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang.

Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang aneh-aneh. Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.

Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal. Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak ber bicara.

Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah 3 hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini.
Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, "Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!" dengan amat bersyukur ia lalu pergi.

Diatas kayu salib, "Yesus" ingin sekali memberitahunya, bahwa itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara.

Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh.

Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya.

Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya.

Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.

Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib "Yesus" akhirnya angkat bicara.

Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun bergegas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal.

Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu salib itu sambil berkata, "TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada disana."

Penjaga itu berkata, "Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?"

"Kamu itu tahu apa?", kata Yesus. "Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung bermaksud untuk dihambur-hamburkannya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga. Yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan kapal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya. Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut."

Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang menggelikan, namun dibalik itu terkandung sebuah rahasia kehidupan...

Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan adalah yang paling baik, namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini.

Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan hasil pengaturan yang terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita baru bisa bersyukur dalam keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersuka cita.




Sebab kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan buat kita.
(Roma 8:28)




Tetap Semangat
Gbu


(Artikel ini dikirim oleh Friza Ayu Octaviani melalui email)



AddThis Social Bookmark Button

Kejamnya Arthur Kaunang di Masa Lampau

Arthur Kaunang pernah bertingkah kejam kepada istrinya, bahkan mematahkan tulang istrinya. Ada kehampaan di keluarga Kaunang, simak kisah pemulihan keluarga ini...




~ Jawaban.com ~




AddThis Social Bookmark Button

KKR Bersejarah Terbesar di Indonesia

"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus." (Matius 28:19)

"Tuhan sedang lakukan suatu pekerjaan yang perkasa di sini!" Pastor Benny Hinn mengatakannya pada momentum terakhir dari Perayaan Mujizat, di Jakarta 2006 silam, yang diadakan di Taman Impian Jaya Ancol, taman hiburan paling populer dan paling besar di Ibu Kota Indonesia.

"Saya menjadi sangat kagum dengan apa telah berlangsung. Kita sedang melihat kitab dari Kisah Para Rasul menjadi hidup di antara kita. Sejarah telah dibuat selama tiga kebaktian ini. Bagi Tuhan semua kemuliaan!"

Gunung dari tumpukan kruk dan kursi roda kosong menjadi bukti nyata dari apa yang baru saja berlangsung. Kecemerlang dari kemuliaan Yesus terpancar sangat terang seperti cahaya yang sangat menyilaukan karena hadirat Tuhan yang Maha Kuasa membanjiri kerumunan orang-orang. Ini adalah momen mujizat yang tidak pernah saya saksikan sebelumnya. Hampir semua dari total 1.5 juta jiwa-jiwa yang menghadiri ketiga kebaktian mengangkat tangan sebagai tanda kerinduan mereka untuk menerima Yesus Kristus masuk ke dalam hati mereka.

Ketika Pastor Benny berbicara pada momen penutupan, peserta- sejauh mata bisa memandang- masuk dalam perayaan dan pujian kepada Tuhan Yesus. Suatu penutupan yang sangat indah pada acara ini - keramaian yang terbesar pada suatu kebaktian yang bersejarah di negeri ke-empat terbesar di dunia. Tidak heran jika ini telah dipuji di seluruh dunia sebagai "Keajaiban dari Indonesia!"

Mujizat Yang Membawa Sukacita Diseluruh Jakarta

Gubernur Jakarta Sutiyoso menyambut Pastor Benny pada hari Jumat sore, membuka Perayaan Mujizat dari Benny Hinn Ministries dengan membawa pesan pengabaran Injil tentang kasih dan pengharapan. Kebaktian yang bersejarah ini, hasil undangan pribadi dari Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, telah memakan waktu berbulan-bulan untuk persiapan yang intensif. Mujizat demi mujizat terjadi pada setiap langkah yang telah direncanakan.

Pada sore yang pertama, setelah lagu kebangsaan Indonesia dinyanyikan penuh keagungan diseluruh Taman Ancol, Pastor Benny berbicara melalui penerjemah mengenai kerinduan hatinya untuk menyampaikan kepada setiap orang-orang yang berharga mengenai kasih Tuhan - agar mereka tahu jika Tuhan mengasihi mereka. Dia menyampaikan pesan kesembuhan dan keselamatan, mengutip banyak ilustrasi dari mujizat yang penuh kuasa.

"Yesus Kristus melakukan penyembuhan dan berkotbah tentang keselamatan," katanya. "Jika Yesus telah menyembuhkan penderita kusta, orang yang lumpuh, pincang, dan bahkan seseorang yang sedang demam, Ia akan menyembuhkan engkau malam ini!"

Itu adalah suatu pesan yang berkelanjutan kepada keramaian - lebih dari 450,000 orang pada malam pertama, lebih dari setengah juta orang pada malam yang kedua, dan jauh di atas setengah juta orang pada kebaktian terakhir. Pada malam kedua dan ketiga, orang-orang duduk di dahan pohon dan menyaksikan dari bangunan-bangunan yang ada disekitar Taman Ancol.

Sejak malam pertama, ombak mujizat yang luar biasa bergerak menghampiri semua orang yang hadir. Orang-orang dari semua umur tampil ke depan untuk berbagi kesaksian dari kesembuhan:

Suatu pawai dari kursi roda yang kosong terlihat di atas kepala kerumunan saat Pastor Benny menghimbau mereka yang telah disembuhkan untuk berjalan menuju panggung.

Dibawah ini adalah sebagian kecil dari kesaksian Mukjizat yang dikutip Jawaban.Com dari situs resmi Benny Hinn Ministries Indonesia:

· Seorang anak perempuan kecil yang datang ke kebaktian dengan kaki yang patah dan telapak kaki yang bengkok disembuhkan total. Dengan mengagumkan, dia melepaskan besi penyangga pada kakinya dan mulai berjalan tanpa bantuan.

· Seorang wanita yang tadinya menderita kesakitan karena suatu kecelakaan telah bebas dari semua sakit. Dia mulai berjalan dan berlari, mengekspresikan kegembiraan dan kebebasan!

· Seorang anak laki-laki muda, tuli sejak lahir, disembuhkan. Ibunya sangat bersukacita ketika putranya mengulangi apa yang diucapkan oleh Pastor Benny, kata demi kata, dan gemuruhnya suara orang-orang yang hadir menjadi bukti.

· Seorang wanita muda yang telah menderita kanker selama sembilan tahun berjalan menuju panggung dengan dua kantong IV membebani di belakangnya. Dia mengumumkan bahwa dia telah disembuhkan dan ingin bernyanyi! Pastor Benny memberikannya mikropon, berkata, "Ini bukan kebaktian saya. Saya hanya seorang pengkotbah" Dia menyanyikan lagu pujian dalam bahasa daerahnya. Disaat dia bernyanyi, matanya berkelap-kelip dan kerumunan meresponi dengan antusias.

· Seorang anak laki-laki tuli sejak lahir datang membawa alat bantu dengarnya di tangannya. Ia bisa mendengar dan mengulangi perkataan Pastor Benny tanpa bantuan.

· Laki-Laki yang menderita kanker pada wajahnya disembuhkan. Telinganya telah dibuka, dan ia bisa berbicara lagi.

· Seorang wanita yang menggunakan tabung untuk makan melalui hidungnya, yang tidak mampu untuk makan apapun selama beberapa tahun. Tiba-tiba, otot di dalam kerongkongannya mulai berfungsi dengan baik. Dia bisa menelan untuk pertama kalinya. Dia berdiri diatas panggung, dia minum dari gelas, sesuatu yang tidak mampu dia lakukan sebelumnya.

· Salah satu kejadian yang paling dramatis terjadi ketika salah satu pemusik yang populer di Indonesia, menderita kanker paru-paru, melangkah ke atas panggung. Di depan massa, secara dramatis dia sembuh - ia memukul dadanya yang pernah dihinggapi tumor. Dengan penuh emosi dan rasa syukur, artis itu mulai bernyanyi dengan indahnya, dengan ajaib, suatu nyanyian yang paling sesuai, "How Great Thou Art!" didalam Bahasa Indonesia. Orang-orang yang hadir bersorak dengan ramai, memberi kemuliaan kepada Tuhan yang telah melakukan perkara yang tidak dapat dipikirkan oleh manusia!

· Tidak hanya penyanyi terkenal yang disembuhkan, tetapi juga penggubahnya, yang datang keatas panggung untuk mengiringinya dengan piano, telah disembuhkan dari kanker!

Pada setiap saat sebelum kebaktian yang luar berakhir, Pastor Benny selalu berbicara mengenai mujizat yang terbesar dari semuanya, dan kemudian ia mengundang semua yang ingin memberikan hidup mereka kepada Yesus Kristus untuk berdoa bersamanya.

KKR serupa akan digelar tahun depan, dengan tajuk "Doa Bagi Kebangkitan Indonesia" yang akan diadakan pada 5 - 8 Juni 2008. Biar demikian, gaung persiapannya sudah santer terdengar.

Copyright © Benny Hinn Ministries



Artikel terkait :



~ Jawaban.com ~



AddThis Social Bookmark Button

PNS MAKAN SATE AYAM

Ada seorang pegawai negeri yang saleh pulang kerja lembur pada akhir bulan. Sementara pulang, dalam keadaan perut lapar sehabis lembur, dia berpikir alangkah enaknya kalau sampai di rumah nanti makan nasi panas dengan lauknya yang dibuat isteri tercintanya. Setelah sampai rumah dia disambut isterinya lalu cuci tangan dan minta disediakan makan. Isterinya menyampaikan bahwa makanan yang ada tinggal nasi dan hanya sedikit sayur bayam tanpa lauk. Sebagai orang yang saleh si pegawai negeri bersyukur karena menyadari bahwa setiap akhir bulan uang pasti sudah habis sehingga bisa makan pun sudah syukur.

Tiba-tiba dia punya ide alangkah nikmatnya kalau sore itu makan dengan sate ayam yang ada di dekat rumahnya karena sehabis lembur dia dapat uang transport yang bisa dipakai jajan sate ayam. Namun dia berpikir alangkah egoisnya kalau dia makan sate sendirian dan isterinya tidak. Dan besok mereka harus makan apa kalau uangnya dipakai jajan sate. Makan sate berdua dengan uang transport yang didapat barusan tidak cukup. Sebagai orang yang saleh dia memutuskan untuk memberikan uangnya kepada isterinya untuk membeli lauk pauk untuk besoknya. Tapi sore ini lauknya tidak ada. Maka pikirnya mungkin nikmat juga kalau dia makan nasi panas di dekat penjual sate sebab jika bisa mencium baunya saja rasanya sudah seperti makan sate sungguhan. Maka berangkatlah dia sambil bawa nasi sendiri ke dekat tukang sate. Tentu dia cari posisi duduk dimana angin bertiup. Maka makanlah si pegawai negeri itu dengan lahap sambil tersenyum, rupanya nikmat juga walaupun hanya mencium bau sate.

Lalu selesailah sudah makannya dan perut sudah kenyang tetapi alangkah terkejutnya ketika mau pulang dia ditagih penjual sate untuk membayar. Dia berdalih bahwa dia tidak makan satenya. Jawab tukang sate ngotot bahwa kalau tidak ada bau sate yang dia bikin tentu tidak bisa makan dengan lahap. Lanjutnya bahwa dia duduk dekat tempat jualan sate memang dengan sengaja mau mencium aroma sate sebagai lauk makannya. Tukang sate tetap menuntut bayaran atas aroma sate itu.

Bingunglah si pegawai negeri ini atas tuntutan si penjual sate karena tidak punya uang sama sekali. Ketika tanya berapa harus bayar maka tukang sate menjawab kalau nasi sate 5 ribu rupiah maka untuk mencium dengan sengaja aroma sate cukup seribu saja. Cukup fair juga tukang sate itu. Sementara berdebat kebetulan datanglah ketua RT setempat, orang tua yang dikenal bijaksana, ke tempat itu untuk membeli sate. Maka mengadulah mereka masing-masing dengan argumentasinya kepada orang tua bijaksana ini. Mereka berjanji apa saja yang diputuskan orang tua ini akan mereka turuti karena mereka tahu pasti akan ada jalan keluar. Pikir tukang sate pastilah dia akan dibayar tetapi pikir si pegawai negeri pastilah tidak akan disuruh membayar karena memang tidak pernah merasakan sate kecuali aromanya saja.

Terjadilah suasana hening menunggu keputusan. Lalu orang tua itu berkata bahwa si pegawai negeri memang harus membayar karena dengan sengaja telah mencium aroma sate dengan tujuan sebagai lauknya meskipun hanya dalam bayangannya. Maka terkejutlah si pegawai negeri dan tersenyumlah si tukang sate atas keputusan itu. Si pegawai negeri terhenyak berpikir bagaimana dia harus membayarnya karena tidak punya uang. Mendadak orang tua bijaksana itu merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang recehan seratusan dan dua ratusan dari kantong celananya dan mulai menghitung seratus, dua ratus, lima ratus, cring.. cring.. cring... sampai genap seribu rupiah. Semua mata memperhatikan tangan sang orang tua tersebut ketika menghitung uangnya.

Lalu katanya kepada si penjual sate, "Apakah anda melihat uang yang saya hitung jumlahnya seribu?"

Jawab si tukang sate, "Benar".

Orang tua itu juga bertanya, "Apakah anda juga mendengar gemerincing uang yang saya hitung?"

Jawab si tukang sate itu pula, "Benar".

"Baiklah kalau begitu", kata orang tua bijaksana kepada kedua orang yang bersengketa, "Persoalan ini telah selesai!".

Terkejutlah si tukang sate bagaimana akhirnya bisa begini. Orang tua itu menjelaskan, "Yang satu dituntut membayar karena telah mencium aroma sate dan yang lain tentu juga harus puas telah dibayar setelah melihat dan mendengar gemericingnya uang seribu rupiah, karena yang satu hanya dapat 'makan sate' dalam bayangannya maka cukuplah adil yang lainya juga dibayar dengan 'melihat dan mendengar' uangnya saja.."

***

Pesan moralnya bahwa ada banyak pesan agama yang sangat berguna yang telah didengar, dilihat bahkan dirasakan, tetapi ternyata hanya sampai di pikiran atau menjadi pengetahuan saja, namun tidak benar-benar dialami atau dilakukan.

Banyak ajaran melalui para pendeta, pengkotbah yang telah didengar, dipahami, bahkan dapat dirasakan kebenarannya, tetapi apakah ini hanya semacam "bau sate" saja, tetapi tidak pernah dialami atau dilakukan? Meskipun ketika mendengar sangatlah tersentuh dengan kepala manggut-manggut bahkan sampai menangis...

Semoga memberi inspirasi!


~ CK ~




AddThis Social Bookmark Button