Belajar memberi dengan sukacita

Berikan apa yang bisa Anda beri. Memberi adalah lebih baik daripada menerima.
Mari kita belajar untuk memberi dengan sukacita sebagaimana Yesus memberikan kasih-Nya yang "Agape"





Mau download file ? Silakan Klik di sini

AddThis Social Bookmark Button

Perhatikan situasi saat memakai telepon

Berlakulah bijak dan perhatikan situasi di mana Anda menerima telepon ataupun memakai telepon. Jangan sampai Anda dianggap mengganggu orang lain apalagi di kantor. Sikap tenggang rasa sangat di perlukan.





Ingin download file ? Silakan Klik di sini


AddThis Social Bookmark Button

Persahabatan dengan ular

Dari video klip ini kita bisa belajar, apakah kita akan berkompromi dengan dunia ini ataukah kompromi dengan Firman Tuhan.

Pilihan ada ditangan Anda. Berlakulah bijak






Ingin download file ? Silakan Klik di sini


AddThis Social Bookmark Button

Minggu ke-5, Hari 31 JANGAN ADA KEKASIH LAIN

Satu biara mengkondisikan penghuni tempat itu hanya boleh berbicara lima tahun sekali. Akibat ketatnya peraturan tersebut, dari 500 orang yang mendaftar, tersisa 3 orang yang masih setia. Masuk tahun kelima, biara pertama mendapat kesempatan untuk berbicara, dia pun berkata, "Kalau boleh, saya mau makan mie ayam dua mangkok!" Kalimat terakhir itu bertahan sampai lima tahun, dan berikutnya pada tahun kesepuluh, biarawan kedua berbicara, "Kalau diizinkan, sya mau makan soto ayam dua mangkok!" Kalimat itu pun bertahan sampai lima tahun, dan berikutnya pada tahun kelimabelas, biarawan ketiga berbicara, "Cuman milih menu aja kok butuh waktu 15 tahun!!!"

Esensinya, biarawan ketiga berasumsi bahwa kedua temannya ragu-ragu dalam menentukan menu, dan itu menghabiskan waktu! Dalam hal menghidupi Firman, keragu-raguan merupakan salah satu bentuk berhala, dan itu bisa mematikan potensi dan menghambat berkat yang sudah Tuhan sediakan!

Ayat Renungan : Mazmur 115:4-8

M1 MENERIMA
Berdoalah agar kita dapat memahami Firman Tuhan yang kita renungkan hari ini.

M2 MERENUNGKAN
1. Siapakah yang membuat dan membentuk sebuah berhala (Mzm 115:4) ? Terdiri dari apakah berhala itu ?

2. Ciri-ciri apakah yang dimiliki oleh sebuah berhala (Mzm 115:5-7) ?
a. ....................................................... b. ............................................................
c. ....................................................... d. ............................................................
e. ....................................................... f. .............................................................
g. ....................................................... ................................................................

3. Apakah yang akan terjadi pada orang yang membuatnya dan percaya kepada berhala tersebut (Mzm 115:8) ?

PENGAJARAN

Jika seseorang terus-menerus melakukan penyembahan, secara otomatis karakter dari yang disembah akam terimpartasi kepada orang yang menyembahnya. Hidup kita akan seperti apa yang kita sembah. Bila kita selalu menyembah Tuhan dan intim dengan Tuhan, karakter Yesus akan tercermin dalam kehidupan kita. Hal yang sama juga terjadi bila kita melakukan penyembahan terhadap berhala. Tanpa sadar, hidup kita akan menjadi seperti berhala tersebut. Berhala tidak hanya berbicara mengenai patung-patung yang dibuat oleh tangan manusia, tetapi juga mengenai 'suatu hal' yang lebih kita kasihi, dan itu melebihi kasih kita kepada Tuhan.

Bila kita melakukan penyembahan berhala, salah satu akibatnya adalah kita mengalami tuli dan buta rohani! Bahkan, tidak hanya itu, penyembahan berhala dapat "mematikan" potensi-potensi kita, misalnya:
a. Mulut yang tidak dapat berkata-kata.
Seharusnya, kita memuji dan meyembah Tuhan, serta bersaksi dan memberkati orang lain.

b. Mata yang tidak dapat melihat.
Seharusnya, kita dapat melihat janji Tuhan dan visi yang Tuhan berikan.

c. Telinga yang tidak dapat mendengar.
Seharusnya, kita dapat mendengar suara Tuhan dan tuntunan Tuhan.

d. Hidung yang tidak dapat mencium.
Seharusnya, kita bisa mengidentifikasi aromayang harum melalui hidung kita.

e. Tangan yang tidak dapat meraba.
Seharusnya, kita dapat memakai tangan kita untuk melayani Tuhan dan orang lain.

f. Kaki yang tidak dapat berjalan.
Seharusnya, kita bisa melangkahkan kaki serta berjalan untuk mengikuti visi dan kehendak Tuhan.

Nah, apakah kita masih memiliki 'berhala' dalam kehidupan kita, misalnya patung-patung berhala atau jimat-jimat ? Apakah masih ada hal-hal lain, misalnya hobi atau kesukaan lain, yang kita kasihi lebih dari kasih kita kepada Tuhan ? Jika ya, mari kita bereskan agar tidak ada lagi hal-hal yang menghambat keberhasilan hidup kita!

M3 MELAKUKAN
Tuliskan hal-hal yang masih mengikat Anda dan membuat Anda 'mengasihi' hal tersebut lebih daripada kasih Anda kepada Tuhan! Bereskan hal-hal tersebut di hadapan Tuhan !

M4 MEMBAGIKAN
Kepada siapakah Anda akan menceritakan berkat-berkat yang Anda terima dari saat teduh hari ini ?



Sumber :
Judul buku : Menerobos Sorga Dengan Cinta
49 Hari membangun keintiman dengan Bapa untuk mendapatkan Firman yang menghidupkan dan menyembuhkan.
Penulis : Pdt. Ir. Yonathan Wiryohadi
Kontibutor : Pdt. Bram Soei Ndoen, Illyana Widodo, Ponco Sulistyo
Diterbitkan oleh : WTC Media, Mei 2007






AddThis Social Bookmark Button

Salah Kirim Email

Sepasang suami isteri setengah baya yang sama-sama dari kalangan
profesional merasa penat dengan kesibukan di ibukota.

Mereka memutuskan untuk berlibur di Bali. Mereka akan menempati
kembali kamar hotel yang sama dengan ketika mereka berhoneymoon saat
menikah 30 tahun yang lalu.
Karena kesibukannya, sang suami harus terbang lebih dahulu dan
isterinya baru menyusul keesokan harinya.

Setelah check in di hotel di Bali, sang suami mendapati pesawat
komputer yang tersambung ke internet telah terpasang di kamarnya.

Dengan gembira ia menulis e-mail mesra kepada isterinya di kantornya
di Jalan Sudirman, Jakarta.

Celakanya, ia salah mengetik alamat e-mail isterinya dan tanpa
menyadari kesalahannya ia mengirimkan e-mail tersebut.

Di lain tempat di daerah Cinere Jakarta, seorang wanita baru kembali
dari pemakaman suaminya yang baru saja meninggal. Setibanya di rumah,
ia langsung mengecheck e-mail untuk membaca ucapan-ucapan
belasungkawa.

Baru saja selesai membaca e-mail yang pertama, ia langsung jatuh
pingsan tak sadarkan diri. Anak sulungnya yang terkejut kemudian
membaca e-mail tersebut (tak lama kemudian jatuh pingsan juga), yang
bunyinya :

To: Isteriku tercinta
Subject: Papah sudah sampai Mah !!!
Date: 18 Mei 2007

Aku tahu pasti kamu kaget tapi seneng dapat kabar dariku.
Ternyata disini mereka udah pasang internet juga, katanya biar bisa
berkirim kabar buat orang-orang tercinta di rumah.

Aku baru sampai dan sudah check-in. Katanya mereka juga sudah
mempersiapkan segalanya untuk kedatanganmu besok. Nggak sabar deh
rasanya nungguin kamu.

Semoga perjalanan kamu kesini juga mengasyikkan seperti perjalananku
kemaren.

Love you Mom,
Papah

PS: Disini lagi panas-panasnya !
Kalau pada mau, anak-anak diajak aja!!




~ Milis ~






AddThis Social Bookmark Button

Minggu ke-5, Hari 30 BUTA DAN TULI ROHANI

Seorang pengemis sedang mempersiapkan diri untuk beroperasi di perempatan jalan. Dia memperlengkapi diri dengan membeli lem, tape (ketela lunak), dan obat merah, total dia menghabiskan modal Rp. 4.000,-. Dia menghias kaki dan di tutup dengan kain sedemikian rupa sehingga terkesan kakinya tinggal satu dan terluka parah. Dia segera beraksi dan duduk di perempatan jalan. Beberapa orang melewatinya, dan singkat cerita dia mendapatkan uang Rp. 3.000,-. Kemudian, seorang pensiunan polisi memberikan uang Rp. 500,- dan saat itu hujan turun. Pengemis segera berlari karena takut hujan. Ketahuan kalau pengemis itu pura-pura berkaki satu, sense of investigasi sang pensiunan polisi jalan, dan dia mengejar serta meminta uang kembali dan meminta ganti rugi Rp. 3.000,-. Akibatnya, modal Rp. 4.000,- habis dan pengemis tidak mendapatkan apa-apa!

Esensinya, pengemis itu punya kaki tetapi tidak memfungsikan kaki sebagaimana mestinya, padahal dia bisa bekerja. Dalam hal mendapatkan Firman, kita mungkin mengalami tuli dan buta rohani karena kita tidak memfungsikan keduanya sehingga kita tidak mengalami perubahan apa pun !

Ayat Renungan : Yesaya 50:2-3, 42:18-21

M1 MENERIMA
Berdoalah agar kita dapat memahami Firman Tuhan yang kita renungkan hari ini.

M2 MERENUNGKAN
1. Apakah yang terjadi saat Tuhan datang dan memanggil (Yes 50:2a) ?

2. Kepada siapakah Tuhan menyampaikan teguran-Nya (Yes 42:19) ?

3. Mengapa Tuhan menegur mereka (Yes 42:20) ? mengapa mereka tidak mengerti apa yang Tuhan sampaikan ?

PENGAJARAN

Firman Tuhan adalah Ya dan Amien! Tuhan tidak pernah lalai akan janji-Nya! Namun, mengapa ada orang yang mudah menerima penggenapan janji Tuhan, dan ada juga yang sulit mengalaminya ? Ketika Firman sudah disampaikan, mengapa seringkali kita tidak mengalami jamahan dan kehidupan kita tidak berubah ? Misalnya, ada orang-orang malas yang mendengarkan Firman Tuhan tentang malas dan akibat dari kemalasan. Di satu sisi, ada di antara mereka yang merespons Firman dan mengubah gaya hidup sesuai Firman Tuhan dan menjadi orang yang rajin. Seiring berjalannya waktu, mereka berubah dan mengalami kelimpahan.

Di sisi lain, ada pula orang-orang yang tidak sadar dan kehidupan mereka tidak pernah berubah. Sesungguhnya, tuhan rindu memberikan "pengajaran-Nya yang besar dan mulia" untuk hamba-hamba-Nya (Yes 42:21). Jadi, bila kita tidak dapat mendengar, itu bukan disebabkan karena ada yang kurang beres dengan mulut-Nya atau telinga-Nya. Dia rindu berbicara kepada kita dan Dia mendengar ketika kita berbicara kepada-Nya. Yang harus kita lakukan adalah mendobrak ketulian dan kebutaan rohani kita.

Banyak anak Tuhan memasang telinga tetapi mereka tidak dapat mendengar. Mereka memperhatikan tetapi tidak dapat melihat sehingga menjadi 'tuli rohani' dan 'buta rohani'. Apa yang menyebabkan kita menjadi tuli dan buta rohani ?

1. Ketidakpercayaan
Misalnya, kita mendapat suatu ayat yang 'dahsyat', tetapi respons kita bukan mengaminkan, melainkan berpikir, "Apakah mungkin ayat ini untuk saya ?" Jika demikian, apakah Firman itu dapat mengubah hidup kita ?

2. Dosa yang disimpan
Jika kita melakukan dosa, tetapi kita tidak bertobat dan mempersilakan Tuhan menyucikan hati kita, berarti kita memberikan tempat berpijak bagi iblis di dalam hidup kita dan hati kita sehingga hati kita menjadi keras dan tidak peka terhadap Tuhan.

3. Mengabaikan
Jika kita sering tidak taat serta mengabaikan Tuhan dan Firman-Nya secara sengaja, berarti kita menutup telinga dan mata rohani kita terhadap Firman Tuhan. Akibatnya, bukan Firman Tuhan lagi yang akan kita tangkap melainkan 'suara-suara lain' yang kita terima. Secara otomatis, kita menjadi tuli dan buta rohani.

Masihkah kita tidak mempercayai janji Tuhan ? Masihkah kita memiliki dosa yang belum dibereskan di hadapan Tuhan ? Masih seringkah kita mengabaikan Tuhan ? Jika ya, mari kita bereskan semua itu di hadapan Tuhan supaya mata dan telinga rohani kita bisa berfungsi kembali.

M3 MELAKUKAN
1. Tuliskan hal-hal apa yang Tuhan ingatkan untuk Anda bereskan ! Akuilah dan bereskan semua itu dihadapan Tuhan!

2. Tuliskan langkah-langkah yang akan Anda lakukan agar Anda dapat mempertajam mata dan telinga rohani Anda !

M4 MEMBAGIKAN
Kepada siapakah Anda akan menceritakan berkat-berkat yang Anda terima dalam saat teduh hari ini ?



Sumber :
Judul buku : Menerobos Sorga Dengan Cinta
49 Hari membangun keintiman dengan Bapa untuk mendapatkan Firman yang menghidupkan dan menyembuhkan.
Penulis : Pdt. Ir. Yonathan Wiryohadi
Kontibutor : Pdt. Bram Soei Ndoen, Illyana Widodo, Ponco Sulistyo
Diterbitkan oleh : WTC Media, Mei 2007






AddThis Social Bookmark Button

Apa Tujuan Yesus?

pengarang : Robinson Tulenan


Yohanes 11 :3-6

Marta dan Maria memberi kabar kepada YESUS supaya segera datang ke Betania karena saudara mereka, Lazarus dalam keadaan sakit. Disaat mereka membututuhkan dan merindukan YESUS untuk datang ke Betania, ternyata YESUS tidak datang bahkan DIA menunda 2 hari untuk kesana, akhirnya Alkitab mencatat Lazarus meninggal dunia. Marta dan Maria pasti kecewa dan berdukacita pada saat itu, kenapa! Pemikiran mereka kalau YESUS datang pada saat Lazarus sakit pasti saudara mereka tidak akan mati. Marta dan Maria mengundang YESUS ke Betania untuk menyembuhkan Lazarus (terfokus pada 1 orang), tetapi YESUS menunda dua hari ke Betania tujuannya bukan hanya kepada Lazarus tetapi kepada murid-2, Marta dan Maria bahkan kepada orang Yahudi, (terfokus kepada orang banyak).

Sekarang yang menjadi pertanyaan, apa tujuan YESUS sehingga DIA tinggal dua hari di seberang sungai Yordan ??

A. Untuk memulihkan keadaan rohani dari murid-murid.
- Yoh. 11:7-9 murid-murid berada diadalam ketakutan, mereka melarang YESUS untuk masuk ke Yudea Karena takut menghadapi orang Yahudi. Sebelumnya orang-orang Yahudi mengancam untuk merajam YESUS dengan batu, tetapi justru nyang mengalami ketakutan adalah murid-murid.

- Yoh.11:11-13, Murid-murid tidak mengerti perkataan YESUS (Firman Tuhan). Setiap perkataan dan ucapan yang yang keluar dari mulut YESUS adalah Firman Tuhan, sekian lama mereka hidup, bergaul bahkan memberitakan Firman bersama YESUS tapi ternyata mereka tidak mengerti Firman Tuhan.

- Yoh. 11:15, Iman dari pada murid-murid berada pada titik lemah. Kata YESUS mereka harus belajar percaya. Walaupun mereka bersama dengan YESUS selalu mengadakan banyak mujizat bersama YESUS tapi iman mereka merosot.

B. Yoh. 11:21-24, 11:32,39 Marta dan Maria mempunyai Iman pada hal-hal yang kecil.

Mereka percaya kalau YESUS datang pada waktu itu, maka Lazarus tidak akan mati (perkara kecil). Kepercayaan mereka hanya terbatas pada hal-hal yang kecil.

C. Yoh. 11:36,45. Supaya Orang Yahudi menjadi percaya.

Dengan bangkitnya Lazarus dari kubur maka banyak orang Yahudi menjadi percaya kepada YESUS. Ingat YESUS tidak pernah terlambat menolong kita, Jawabannya selalu tepat pada kondisi dan situasi yang tidak terpikirkan oleh pikiran kita.




~ airhidup ~






AddThis Social Bookmark Button

Adakah yang mendoakanmu ?

pengarang : Inggou



Disaat hatimu gelisah, dan engkau sedang menghadapi pergumulan hidup, yang dimana kau hanya bisa berdoa, sampai mencucurkan air mata, karena begitu beratnya masalah yang menimpa dirimu, tapi kau merasa bahwa doamu itu tak cukup. Lalu, pernahkah engkau berpikir bahwa adakah seseorang yang mendoakanmu ? Yang peduli akan dirimu ?

Tuhan menciptakan kita bukan untuk bersedih di dunia ini. Bilamana engkau sedang meng-hadapi suatu cobaan hidup, Ia memberikan jamahanNya kepadamu. Bisa saja jawaban itu melalui sahabat2mu, kekasihmu, keluargamu ataupun orang lain yang sama sekali tidak kau kenal. Tuhan mengenali diri kita lebih baik, daripada kita yang mengenali diri kita sendiri. Dia tahu apa yang kau butuhkan, dan jauh sebelumnya, Ia sudah menyiapkannya bagimu. Ia menghendaki rencana dan rancangan yang terindah bagi dirimu. Ia memberikan seseorang untuk mendoakanmu.

Lalu engkau bertanya : "Siapakah yang mendoakanku?" Ya.... engkau pasti tak tahu siapakah orang itu. Tapi percayalah pasti ada yang mendoakanmu. Bisa saja engkau didoakan oleh sahabat yang sangat mengasihimu, oleh keluarga yang sangat menyayangimu, atau bisa juga oleh seseorang yang menyukai dirimu.

Sahabatku, apabila kita mendoakan seseorang, itu artinya kita sudah memberikan kasih kepadanya. Karena doa itu adalah kasih yang tidak terlihat bagi dunia yang terlihat. Ingatlah, kasih itu tidak memegahkan diri, menutupi segala sesuatu dan mengharapkan segala sesuatu. Jika kita sedang mendoakan seseorang, doakanlah orang itu dengan sungguh dan harapkanlah segala sesuatu yang terbaik baginya, dan janganlah doamu itu diketahui oleh siapapun. Jadi, mulai sekarang doakanlah setiap orang yang sedang membutuhkan jamahan Tuhan terhadap dirinya, doakanlah seseorang yang engkau cintai dan sayangi. Dan jangan lupa! doakan juga musuhmu, karena doa itu mengungkapkan maksud Tuhan yang tersembunyi.

{sumber : pengalaman pribadi....}



~ airhidup ~



AddThis Social Bookmark Button

Renungan Pagi (763)

Yoh 9:39 Kata Yesus: "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta."

Keteraturan. Orang menyukai proses yang berlangsung dengan teratur, yang diberikan dari generasi ke generasi, yang menjadi tradisi, untuk memastikan bahwa hidupnya baik dan selamat. Orang juga menjadi seperti yang ditetapkan orang tuanya; mereka yang lahir dari keluarga Kristen menjadi Kristen, yang lahir dari keluarga Islam adalah Islam, yang lahir dari keluarga dengan agama X akan beragama X pula. Dalam setiap budaya dan agama ada nilai-nilai yang menyatakan kebaikan yang bisa dicapai orang selama hidup di dunia ini, dan betapa orang merasa baik ketika telah sanggup melakukannya. Itu adalah keteraturan.

Jadi, kita menemukan banyak kesalehan dengan berbagai macam cara. Betapa bangganya orang-orang yang berhasil mencapai kesalehan! Karena untuk menjadi saleh, ada banyak hal yang harus dikerjakan oleh seorang manusia. Kesalehan menjadi status yang diperoleh dengan kerja keras, pengorbanan, dan kesungguhan. Dalam keteraturan hidup, pencapaian menjadi saleh merupakan tujuan hidup -- selama orang itu masih beragama, apa pun agamanya. Mereka yang saleh menjadi "orang suci" yang menempati kelas di atas orang kebanyakan, apalagi orang yang buta sejak lahir, yang dianggap merupakan hukuman. Tak ada orang hukuman yang saleh!

Pagi ini, kita menemukan kedatangan Tuhan Yesus menjungkir-balikkan semua keteraturan ini. Kedatangan-Nya tidak membenarkan orang saleh dan mengecam orang buta. Sebaliknya, Ia mencelikkan mata orang buta sejak lahirnya, menghapuskan pendapat tentang 'hukuman' atas orang cacat ini. Bagi orang yang menganggap dirinya saleh, yang merasa telah 'melihat', 'dicerahkan', dan 'mengetahui', Tuhan Yesus menjadikan mereka buta. Dalam keadaan mereka yang 'melihat', justru orang saleh gagal untuk mengenal kehadiran Allah, sehingga mereka senasib dengan orang buta yang celaka. Menjadi saleh dalam beragama tidak membuat orang selamat, karena dosa tetap ada pada mereka.

Walaupun kita rendah dan buta, Tuhan Yesus mau mengangkat dan mencelikkan mata sehingga kita bebas dari dosa dan menjadi selamat. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny



~ Milis -renungan-sehari ~






AddThis Social Bookmark Button

Apakah Allah Peduli ?

Oleh: Sunanto

Roma 8:32 “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”

Gerald L.Sittser, seorang Pendeta, Teolog dan penulis, dalam salah satu bukunya menceritakan pengalaman kecelakaan tragis yang menimpa hidupnya. Kecelakaan tragis tersebut yang diakibatkan oleh seorang pengemudi mabuk yang menabrak mobil yang sedang dikendarainya menyebabkan isteri, seorang anak dan ibunya meninggal dunia.

Dalam sekejab mata dia kehilangan orang-orang yang sangat dikasihinya. Dia juga harus menjadi orang tua tunggal bagi tiga orang anaknya yang masih kecil. Selama dua tahun setelah kejadian tersebut dia hidup dalam kegelapan dan kekacauan. Anak-anaknya mengalami trauma hebat dan hampir setiap malam dia merasa kelelahan.

Dengan jujur dia mengakui bahwa dia tidak mengerti mengapa Tuhan mengijinkan penderitaan tersebut. Namun pada akhirnya dia bisa mengalami kasih karunia Tuhan yang memberikan kekuatan kepadanya sehingga dia merasa lega, bersyukur dan damai.

Sebagai Allah yang berdaulat dan maha kuasa tentu Dia dapat mencegah kita mengalami penderitaan. Kita tidak tahu dengan pasti mengapa Ia mengijinkan kita mengalami penderitaan tetapi kita tahu bahwa Ia sangat peduli dan dapat turut merasakan penderitaan tersebut.

Nick Vujicik seorang pemuda yang lahir tanpa tangan dan kaki mengatakan bahwa bukti Allah peduli kepada kita adalah diberikanNya anakNya kepada kita. Jika Tuhan tidak peduli dengan umat manusia maka tidak akan diberikanNya anakNya yang tunggal mati demi menebus dosa manusia.

Sejak menyerahkan hidup kepada Tuhan sekitar 9 tahun yang lalu, Tuhan mengijinkan banyak krisis terjadi dalam hidup saya. Memang justru mereka yang telah mempersembahkan hidupnya akan semakin banyak mengalami proses pembentukkan dari Tuhan. Sekali kita menyerahkan diri kepada Tuhan maka penyerahan itu tidak dapat ditarik kembali. Kita akan diproses oleh Tuhan sampai ke titik yang tidak dapat kembali (point of no return).

Dia akan mengijinkan apapun termasuk penderitaan dan kesakitan agar kita menjadi sempurna serupa gambaran anakNya. Sama seperti tukang periuk yang menekan, membentuk dan membakar bejananya maka demikianlah Tuhan membentuk diri kita agar kita menjadi orang yang berguna dalam KerajaanNya.

Percayalah, Tuhan sangat peduli dengan kita sebab Dia adalah Bapa kita yang sangat mengasihi kita tetapi Dia harus mengijinkan penderitaan tersebut sebab Dia lebih peduli lagi dengan kebahagiaan abadi yang akan kita alami setelah proses penyempurnaan tersebut selesai !


~ Milis - renungan-sehari ~






AddThis Social Bookmark Button

Renungan Pagi (762)

Yoh 8:44 Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.

Orang-orang Yahudi adalah komunitas yang sangat religius. Mereka benar-benar menjaga hidup mereka sesuai dengan Taurat, bahkan melebih-lebihkannya, di mana segala aspek hidup mereka diatur menurut hukum Allah. Bahkan di saat perang seperti sekarang ini, beberapa rabbi masih menyatakan untuk menegakkan hukum Taurat yang mengharuskan menyelamatkan orang, sekalipun itu berarti menaruh resiko lebih besar pada tentara Israel yang berperang. Di jaman Tuhan Yesus hidup dahulu, aturan Taurat dipegang lebih kuat lagi, lebih menyeluruh dan lengkap. Sejak dari lahir sampai meninggal, orang harus mengikuti hukum Taurat.

Maka, menjadi hal yang amat menyinggung, ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa sebenarnya iblis yang menjadi bapa dari orang-orang ini, padahal mereka menyebut diri anak-anak Abraham. Bayangkan jika kita berada posisi itu. Bukankah kita dilahirkan dari keluarga Kristen, dibesarkan dengan cara hidup Kristen, mendapat pendidikan Kristen sejak kecil, dan semua komunitas di sekitar kita adalah juga orang Kristen? Seandainya Tuhan Yesus mengatakan bahwa yang menjadi bapa kita adalah iblis, bagaimana? Reaksi pertama mungkin --hampir pasti-- adalah ketidakpercayaan. Sekalipun kita tahu bahwa Ia mengatakan kebenaran, kita tidak mau percaya pada-Nya, karena kebenaran itu menyakitkan. Kebenaran itu membuka borok dan luka yang mau kita sembunyikan.

Pagi ini, mari kita renungkan. Orang bisa menjadi "Kristen" tetapi sebenarnya ia hidup di dalam dusta. Ia berdusta pada dirinya sendiri, pada orang terdekat, pada lingkungan di sekitarnya. Ia bisa bersikap religius dan memenuhi semua aturan dan liturgi, tapi hatinya sama sekali tidak mengasihi Allah. Ia mendustai diri sendiri, mengatakan dan menyanyikan bahwa "saya cinta Yesus", tapi isi hatinya sama sekali kosong, tiada kasih apa pun di sana. Perbuatannya hanya untuk dilihat dan dikomentari orang lain, agar dapat menerima pengakuan dan penghargaan orang lain. Itulah anak Iblis yang mengikuti bapanya dan berdusta atas keinginannya sendiri. Semoga, kita tidak seperti demikian!

Menjadi Anak Allah berarti menerima kebenaran dan menyatakannya, sekalipun hal itu menyakitkan, hingga menerangi segala kebenaran yang tersembunyi.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny


~ Milis - renungan-sehari ~






AddThis Social Bookmark Button

Minggu ke-5, Hari 29 ROH YANG TIDAK BERKEMBANG

Atlet Indonesia berhasil meraih medali emas untuk keempat kalinya dalam empat kali keikutsertaannya di Sea Games. Ketika di tanya oleh wartawan tentang kiat jitu dalam mempertahankan medali emas, dia berkata dengan bijak, "Yang pertama, kita perlu latihan, ada atau tidak ada turnamen!" Wartawan segera bertanya kembali, "Resep kedua apa ?" Sang atlet menjawab lugas, "Yang kedua, kita perlu latihan, ada atau tidak ada turnamen!" Wartawan makin antusias dalam bertanya, "Resep ketiga apa ?" Dia pun menjawab dengan tegas, "Yang ketiga, kita perlu latihan, ada atau tidak ada turnamen!" Wartawan mengajukan pertanyaan terakhir, Resep keempat apa?" Jawab sang atlet tanpa ragu-ragu, "Yang keempat, jangan banyak tanya, sekarang saya mau latihan!"

Esensinya, seperti halnya atlet tersebut, latihan harus terus dilakukan meskipun banyak pujian dan sanjungan berdatangan. Dimensi manusia rohani juga perlu dilatih agar kita memiliki ketahanan prima dan jangan cepat puas!

Ayat Renungan : Roma 8:14, Yohanes 14:26

M1 MENERIMA
Berdoalah agar kita dapat memahami Firman Tuhan yang kita renungkan hari ini.

M2 MERENUNGKAN
1. Siapakah yang disebut sebagai anak Allah (Roma 8:14) ?

2. Supaya kita dapat mengenal dan mengerti suara Tuhan dan dipimpin oleh-Nya, siapakah yang diutus oleh Bapa (Yoh 14:26a) ?

3. Apakah fungsi pribadi yang diutus oleh Bapa (Yoh 14:26) ?

PENGAJARAN

yesus menggambarkan hubungan-Nya dengan pengikut-Nya sebagai hubungan antara gembala dan domba-domba-Nya. Yesus berkata, "Siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.., domba-domba mendengar suaranya..." itulah salah satu jaminan yang Tuhan berikan untuk anak-anak-Nya, yaitu apabila Tuhan berbiacara kepada kita, kita akan mengenal suara-Nya dan mengikuti Dia. Namun, sebagai anak Tuhan, kita sering mengalami kesulitan untuk mendengarkan suara-Nya dan mendapatkan Firman-Nya ?

Mengapa bisa terjadi ? Salah satu penyebabnya adalah Roh yang tidak berkembang. manusia terdiri dari roh, jiwa, dan tubuh. Roh adalah bagian dari kita yang menyadari keberadaan Allah dan konteks hubungan dengan Allah (Yoh 3:5). Roh Allah sendiri, yaitu Roh Kudus, akan menuntun hidup kita dan mengajarkan sesuatu kepada kita (Yoh 14:26).

Oleh karena itu, jika kita membiarkan roh kita tidak berkembang, kita akan sulit mendapatkan tuntunan Roh Kudus. Artinya, kita tidak bisa memahami apa yang ingin Tuhan sampaikan kepada kita.

Bagaimana caranya untuk mengembangkan roh kita ? Membaca dan merenungkan Firman Tuhan akan mengembangkan Roh kita, tetapi ini saja tidak cukup. Kita harus mematuhi Firman jika kita ingin mendapatkan otot-otot rihani yang kuat. Kemudian, dengan memiliki waktu doa dan persekutuan pribadi yang teratur, kita juga sedang mengembangkan dimensi manusia roh kita.

Ketika kita menyembah dan bercakap-cakap atau berkomunikasi dengan Tuhan dan meluangkan waktu di hadirat-Nya, Roh Kudus akan memperkuat pribadi batiniah kita. Pada saat kita berdoa dalam bahasa Roh, roh kita akan semakin dibina. Bila secara konsisten kita melakukan hal tersebut sebagai gaya hidup, kita akan tumbuh perkasa di dalam roh dan hidup kita akan selalu dipimpin oleh Roh Kudus.

Roh Kudus akan mengajarkan dan mengingatkan segala Firman yang tersimpan di hati kita ketika kita sedang menghadapi masalah atau pencobaan. Banyak anak Tuhan lebih suka mengembangkan pikiran atau kepribadian mereka untuk menumpuk gelar demi gelar. Ada pula yang berupaya keras untuk mengembangkan tubuh jasmani mereka, misalnya dengan berolah raga dan menjaga pola makan. Hal ini memang baik.

Bagaimana dengan pengembangan manusia roh kita ? Apakah kita sudah seintens itu dalam mengembangkan manusia rohani kita ? Marilah kita mengembangkan roh kita agar hidup kita selalu dituntun oleh Tuhan sehingga kita dapat meraih janji Tuhan!

M3 MELAKUKAN
1. Tuliskan"latiha-latiha" apa saja yang mulai jarang Anda lakukan dalam mengembangkan roh Anda!

2. Tuliskan rencana-rencana yang akan Anda lakukan untuk dapat mengembangkan roh Anda lebih lagi! Lakukan rencana Anda tersebut!

M4 MEMBAGIKAN
Kepada siapakah Anda akan menceritakan berkat-berkat yang Anda dapatkan dalam saat teduh hari ini ?



Sumber :
Judul buku : Menerobos Sorga Dengan Cinta
49 Hari membangun keintiman dengan Bapa untuk mendapatkan Firman yang menghidupkan dan menyembuhkan.
Penulis : Pdt. Ir. Yonathan Wiryohadi
Kontibutor : Pdt. Bram Soei Ndoen, Illyana Widodo, Ponco Sulistyo
Diterbitkan oleh : WTC Media, Mei 2007






AddThis Social Bookmark Button

Sex And The Church

Dari serangkaian pemburuan dan penggalian informasi ke pelbagai sinode gereja se-Jabotabek, BAHANA menemukan fakta bahwa dosa skandal seksual di dalam gereja ternyata jauh mengerikan daripada yang selama ini secara bisik-bisik terdengar. Tidak hanya dalam arti kuantitas, tetapi juga dalam arti taraf serta derajatnya. Sangat memprihatinkan! Tragisnya, skandal ini tidak hanya telah meluluhlantakkan keluarga-keluarga Kristen, tetapi juga reputasi dan integritas para pemimpin dan hamba-hamba Tuhan. Para pemimpin yang dijeratnya pun tidak hanya para junior, tetapi bahkan banyak juga yang masuk kalangan senior.

Tidak hanya Elo Lauriksando (bukan nama sebenarnya), contohnya. Gembala muda nan elok parasnya ini senantiasa membiarkan rambutnya yang tersisir rapi terurai sebahu. Anggota jemaat di sebuah kawasan menengah di luar Jakarta yang digembalakannya seakan tak pernah kehabisan perbendaharaan kata acap kali menyanjung kehebatan sarjana teologi ini. Daya pikatnya kala melakukan pelayanan mimbar memang luar biasa. Apa lacur, di akhir 2001 tempo hari gembala muda yang khotbah-khotbahnya memberkati banyak orang ini dipecat oleh pucuk pemimpin sinode tempatnya bernaung. Pasalnya, ia terlibat perselingkuhan! Semula Elo memang bisa berkelit dan lepas dari jerat sanksi gereja. Namun, belakangan ia tak bisa lagi mengelak saat para seniornya menunjukkan bukti foto-foto adegan bugil. Sulit dipercaya, bagaimana mungkin seorang pemimpin jemaat mendokumentasikan peristiwa bejat hubungan intim superrahasia dengan bidikan lensa kamera! Di mana Elo sekarang? Pemimpin yang nyaris menduduki posisi puncak ini raib ditelan bumi, entah di mana rimbanya.

Dari Mimbar ke Warung Nasi

Masih di luar Jakarta. Di sebuah kawasan pemukiman mewah, Allah juga memakai hamba-Nya, Elmondo (juga bukan nama sebenarnya). Orangnya ramah, halus pula budi bahasanya. Bibirnya tak pernah lepas dari sunggingan senyum. Di mimbar, Elomondo pun sosok yang mempesona. Tak heran jika banyak wanita dari ABG sampai ibu-ibu rumah tangga menggandrungi kebolehan pemimpin lapis dua di gereja mereka ini. Namun, di pengujung abad ke-20 lalu tertiup berita gempar. Pemimpin jemaat ini dipecat, lagi-lagi lantaran ia jatuh dalam dosa skandal seks dengan sekretarisnya. Semula Elmondo memang berjuang untuk bangkit lagi. Ia malang melintang berusaha merintis pelayanan baru di luar Jawa. Sayang, kaki dian tampaknya telah diambil Sang Pengutus. Semua usahanya menjadi sia-sia! Sekalipun demikian, nasibnya masih sedikit lebih baik daripada Elo. Elmondo kini diketahui menekuni pelayanan warung nasi. Masuk metropolitan. Fakfak (nama samaran) oleh komunitas gerejanya dipromosikan sebagai pakar pelayanan pelepasan. Nama, posisi, popularitas, nasib dan keberuntungannya lama berkibar. Namun, juga di pengujung abad ke-20 lalu nasib baik tidak lagi berpihak padanya. Salah seorang pimpinan gereja yang mengusung visi kekudusan warga negara sorga ini tak dimungkinkan lagi berlama-lama menyembunyikan aibnya. Fakfak terjerat nikmatnya dosa perzinaan.

Negara Seberang

Melongok ke negara tetangga. Amerika tampaknya jauh lebih parah. Mendiang Edwin Louis Cole dalam bukunya On Becoming A Real Man menyingkapkan krisis moral di tubuh gereja di negeri Paman Sam ini. Sergapan kenikmatan dosa perzinaan, pornografi, dan narkoba telah menelan banyak keluarga Kristen dan hamba Tuhan. Bahkan, di antara mereka termasuk para pemimpin gereja kaliber internasional. Belakangan Alkitab tidak lagi diajarkan di negara adidaya itu. Buntutnya, rezim kekuasaan yang semakin sekuler melegalisasi pelbagai kebijakan maksiat. Amerika telah menjadi bangsa yang pro aborsi, pro homoseks, pro lesbi. Kharisma, sebuah majalah rohani paling berpengaruh di Amerika bahkan menulis, lebih dari 70% pekerja gereja setempat pernah jatuh dalam pelukan dosa skandal seks. Lain lagi di Jepang. Menurut dosen di Saint John International Business School, Dr. Harry Ganda Asi MA, cewek Jepang yang belum pernah melakukan hubungan seks saat ia sudah duduk di bangku SLA akan dijuluki uranai. Arti vulgarnya, cewek yang tidak laku dijual. Jangan heran jika untuk menghindari julukan itu, para pelajar putri yang masih perawan buru-buru akan membayar suatu kelompok agar mau merenggut kegadisannya. Itulah trend kawula muda Jepang. Bahkan, Harry mencatat, dua dari tiga orang muda saat ini sudah pernah jatuh dalam dosa seks di luar nikah.

Bikin Bebal

Walaupun orang Kristen tahu bahwa skandal seksual tidak dibenarkan, dosa ini memang paling jitu membuat orang bebal. Harry mengalaminya. Belum lama sepasang suami-isteri datang ke rumah hamba Tuhan yang memiliki karunia spesifik, yaitu melayani hamba-hamba Tuhan yang bermasalah ini. Keduanya sama-sama pendeta di sebuah gereja. Lantaran problem keuangan dan komunikasi suami-isteri yang terganggu, keduanya jatuh pada perselingkuhan. Berita pun heboh tatkala sang isteri tertangkap basah tidur bersama laki-laki lain di sebuah hotel. Kepada pasangan itu Harry menasihatkan agar mereka berdiam dulu sejenak dari pelayanan. Keduanya disarankan mawas diri hingga kembali dipulihkan. Dasar dosa bikin bebal! Nasihat itu masuk telinga kanan tapi keluar telinga kiri, tidak digubris! Keduanya menolak agar untuk sementara waktu jemaat mereka dilayani hamba Tuhan lain. Keduanya tetap melakukan pelayanan mimbar. Ujung-ujungnya dramatis. Gereja hancur. Jemaat bubar.

Solusi

Apa solusinya? Ditemui di ruang kerjanya di kampus Bidakara, Jalan Gatot Soebroto Jakarta Selatan, Harry yang pernah tercatat sebagai rektor termuda (36 tahun) di Indonesia ini menawarkan komunikasi internal keluarga. Komunikasi yang jujur dilukiskan akan membentengi keluarga-keluarga dari serangan musuh. Harap dicatat, fokus serangan Iblis di akhir zaman ini adalah menghancurkan keluarga-keluarga Kristen. “Saya kenal banyak hamba Tuhan. Dia singa di mimbar, namun sayang komunikasi internal keluarga mereka rata-rata tidak beres. Iblis juga membagikan banyak kesibukan kepada hamba-hamba Tuhan. Mereka dibuat supersibuk. Padahal, dalam hidup ini perlu keseimbangan, hukum keseimbangan,” tuturnya. Saran lain, masih menurut Harry, agar orang-orang muda terhindar dari iming-iming kenikmatan dosa yang luar biasa jahat itu, proteksi mereka dengan sex education sekarang juga! (Toto ObedEdom/S. Rahoyo)

Pecandu Narkoba Otomatis Penganut Sex Bebas

Dr. Lukitobudi menangis. Berulang kali jemaat GKI ini bersimbah air mata ketika melayani wawancara dengan investigator BAHANA di rumahnya di Jati Permai, Pondok Gede, Bekasi. Sembari mengelus dada, dr. Lukito membagikan temuannya. Kapasitas tampung rumah rehabilitasi penderita ketergantungan narkoba se-Jabotabek adalah 5000 orang. 30% dari mereka adalah orang-orang Kristen. Dan, persentase ini terus meningkat. Setiap pecandu narkoba, juntrungnya adalah kejahatan seksual. Hubungan seks bebas (free sex), percabulan, sodomi, aborsi, dan lain-lain. Mau tahu akibatnya? Angka kematian di Jakarta 100 orang per hari. Khusus karena malapetaka, 50% nya adalah kematian karena narkoba. Begitu dahsyatnya akibat yang ditimbulkan oleh malapetaka dosa perzinahan dan dosa menenggak narkoba, toh reaksi masyarakat luas cenderung adem ayem. “Fine-fine aja!,” keluhnya dengan suara gemetar. Padahal sejak 10 tahun terakhir, Indonesia bukan lagi sekadar negara transit, tapi sudah beratribut produsen. Hasil survei memperlihatkan, 70% pelajar di Jakarta pernah mengkonsumsi narkoba. Tak heran, omzet bisnis narkoba di Jakarta saja untuk lokal maupun ekspor sudah mencapai Rp.750 milyar setiap malamnya. Lukito menangis lantaran ketika mencermati proses pembusukan tersebut pihak gereja cenderung menutupi dan sibuk menyembunyikan aib ketimbang berbuat sesuatu. Dia merindukan semua denominasi gereja duduk bersama satu meja dan merumuskan dan menggelar program aksi menghancurkan pekerjaan iblis itu. Lukito juga menangis tatkala menyaksikan keluarga-keluarga Kristen berjatuhan. Padahal, bukankah Allah mendesain keluarga-keluarga kristiani agar darinya lahir keturunan-keturunan ilahi? Patah arangkah Lukito? Tidak! Pasca Pemilu 2004 pengurus YAKI (Yayasan Konselor Indonesia) ini siap menggulirkan terobosan yang bertujuan mengerahkan konselor-konselor sukarelawan. (Toto Obededom)

DAUD DI RUANG KONSELING

Coba tebak, dari manakah awal terjadinya skandal seksual? Mulai dari hal-hal kecil. Betul! Anda tidak salah baca: dosa mahaberat itu selalu dimulai dari hal-hal kecil. Mulai sekadar perhatian, menyesuaikan jadwal pribadi, pulang bersama, makan bersama, dan akhirnya baru di ranjang bersama. Tidak percaya? Fakta ini menjadi bukti.

Namanya Lydia, sebut saja begitu! Dalam usianya yang masih relatif sangat muda, 36 tahun, ia kini telah menjadi kepala sekolah di salah satu SD favorit di Jakarta Barat. Orangnya memang brilian, cekatan, pekerja keras, rajin beribadah pula. Anaknya dua. Suaminya pun lumayan. Tidak hanya tampangnya, tapi juga penghasilannya. Kini keluarganya memang tampak bahagia-bahagia saja. Tapi, siapa sangka sekitar sepuluh tahun lalu ia pernah jatuh ke pelukan pria lain? “Mulanya cuma selalu nyambung waktu ngobrol. Dari situ mulailah kami saling memberi perhatian. Saling memuji kelebihan yang kami miliki, mengambilkan minum waktu makan siang, menawarkan diri menjadi pendengar saat salah satu di antara kami lagi suntuk, pulang bersama. Selanjutnya, aku menganggapnya sebagai adik. Tidak lebih!” demikian sekali waktu sarjana matematika ini berujar. Sampai di situ semuanya tampak beres-beres saja, bahkan tampak mulia. Tak dinyana-nyana, ternyata hal-hal sepele itulah yang mengantar Lydia tidur bersama lelaki yang bukan suaminya itu.

Daud dan Batsyeba

Kisah Raja Daud menyelingkuhi Batsyeba juga tak jauh beda. Mulanya Daud cuma melihat—bahkan tak sengaja—Batsyeba yang lagi mandi. Tapi, sekadar “tak sengaja melihat” itulah yang menjadi awal jatuhnya Daud dalam dosa seksual. Daud mengingini Batsyeba lalu menidurinya sehingga perempuan itu hamil. Akhir kisah perselingkuhan ini sangat tragis dan memalukan. Sang pahlawan yang pernah dielu-elukan karena berhasil memukul roboh raksasa Goliat tersebut dengan sikap pengecut lagi licik membunuh Uria, yang tak lain adalah suami Batsyeba. Ya. Perselingkuhan seksual selalu dimulai dari hal-hal kecil. Perselingkuhan seksual tak pernah serta-merta berawal dari ciuman, apalagi tiba-tiba terjadi begitu saja. Kecuali di pelacuran, tentu saja! Lydia mengawalinya hanya dengan ngobrol dan Daud memulainya cuma dengan tak sengaja melihat. Dalil cinta memang berjalan dengan hukumnya sendiri. Segala aktivitas asmara, sekecil apa pun itu, akan selalu menuntut derajat yang lebih tinggi pada kesempatan-kesempatan berikutnya. Mula-mula cuma ngobrol, tapi lama-lama ngobrol saja terasa kurang asyik. Ditambahlah ngobrol sambil berpegangan tangan. Ngobrol sambil pegangan tangan pun pada akhirnya tidak lagi memuaskan. Perlu peluk-peluk. Demikian seterusnya, cium pipi, cium bibir dan akhirnya… berhubungan seks. Hukum ini berlaku bagi siapa pun. Tak peduli pendeta, pastor, biarawan, biarawati, seorang suami atau seorang istri. Tengok yang terjadi pada Romo K., seorang pastor pembantu di sebuah paroki di bilangan Bekasi. Pastor muda ini akhirnya harus menanggalkan jubah sucinya dan kawin dengan seorang wanita umatnya. Bisik-bisik terdengar, awalnya hanya konseling biasa. Semula tak seorang pun curiga. Bukankah memberikan konseling merupakan salah satu kewajiban yang melekat pada diri seorang gembala? Ini juga yang terjadi pada Bruder B., seorang biarawan sebuah kongergasi terkemuka di Indonesia. Ia berselingkuh dengan istri seorang karyawannya. Awalnya sama. Si istri sering terlihat masuk ke ruang konseling sang bruder. Pada awalnya juga tak seorang pun curiga. Bruder ini pun akhirnya mencopot jubahnya sekalipun tidak menikah dengan si istri disebut. Entahlah apa saja yang telah terjadi di ruang konseling Romo K. dan Bruder B. Tapi, yang pasti, kalaupun akhirnya mereka melakukan skandal seksual, itu tidak akan terjadi pada konseling pertama.

Mengapa Ruang Konseling

Ikhwal ruang konseling yang sering menjadi awal jatuhnya seorang gembala dalam skandal seks, Yenny (bukan nama sebenarnya) memberikan alasan. “Bagi seorang perempuan, apalagi yang lagi bermasalah kan sangat mengagumi figur lelaki yang bisa mendengarkan, mengerti, dan bisa memberikan nasihat-nasihat bijaksana,” demikian ibu beranak satu yang sewaktu lajang dekat dengan para pastor ini mengungkapkan. “Di ruang konseling kan dia menemukan figur itu,” sambungnya. Tak salah apa yang dikatakan Yenny. Jauh di kedalaman hatinya, seorang perempuan yang lagi kalut memang tidak membutuhkan rumah megah, mobil mewah, harta berlimpah, atau gantengnya wajah. Ia lebih membutuhkan orang yang bisa mendengarkan, mengerti, dan meneguhkan. Nah, kira-kira, di ruang konseling itulah si perempuan terpenuhi kebutuhan terdalamnya itu. Tak heran jika ia lantas mengagumi sang konselor dan akhirnya mencintainya. Bahkan, lebih tragis lagi, ia mulai tergantung dan merasa betapa bahagianya bisa hidup bersamanya. Lain si perempuan, lain pula si laki-laki: sang konselor jika kebetulan ia yang memberikan konseling! Dalam dirinya terkandung naluri melindungi, ingin menjadi pahlawan, dan dianggap hebat. Naluri ini melekat pada setiap laki-laki. Celakanya, naluri itu selain memang karunia, juga sekaligus menjadi titik lemahnya. Kisah kejatuhan Simson dalam Hakim-hakim adalah contohnya. Setelah tiga kali berbohong terhadap Delila, akhirnya ia membeberkan juga rahasia kekuatannya. Keteguhan hatinya luluh lantak setelah perempuan dari Lembah Sorek itu merengek-rengek berhari-hari meminta Simson menceritakan rahasia kekuatannya. Lelaki mana tak merasa iba dan perkasa direngeki perempuan pujaan? Sayang, Simson tak sadar, justru di situlah awal runtuhnya kisah tokoh legendaris itu. Nah, di ruang konseling sangat mungkin kebutuhan kedua insan bertemu. Si perempuan menemukan figur idamannya, sedangkan si konselor mendapatkan kepuasan egonya. Apalagi, misalnya, kebetulan kebutuhan ego si konselor tidak terpenuhi di rumah lantaran komunikasi dengan istrinya macet, katakanlah. Ditambah bahwa di ruang konseling biasanya tiada orang lain pula, segala sesuatu menjadi sangat mungkin terjadi. Karena itu, salah satu cara menghindarkan diri dari tragedi Daud-Batsyeba di ruang konseling adalah si konselor tidak boleh menonjolkan dirinya. “Konselor hanya menjadi perantara kasih karunia Allah. Jadi, dia sendiri tidak boleh hebat. Peran Allah atas persoalan si konseli yang harus ditonjolkan, bukan peran konselornya,” papar Mateas, seorang pengelola media Kristen. “Selain itu, seorang konselor harus menghindarkan diri dari yang oleh ilmu psikologi disebut sebagai transference. Yaitu keterlibatan emosi yang terlalu jauh dari seorang konselor terhadap permasalahan konseli,” sambung aktivis gereja yang sempat mengenyam pendidikan psikologi di Universitas Gajah Mada hingga tingkat akhir ini. Banyak gembala juga sudah menerapkan cara yang tepat saat melakukan konseling. Pintu ruang konseling senantiasa terbuka. Tampaknya sederhana, tapi hal itu setidak-tidaknya akan membentengi kedua manusia daging yang hanya berdua berada di satu ruangan itu untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang tidak senonoh. Cara yang cukup unik dilakukan Thomas J. Sappington, seorang konselor yang juga dosen di sebuah STT di Yogyakarta. Ia tidak pernah melakukan konseling sendirian, terutama ketika konselinya adalah perempuan. Ia selalu melakukannya dengan istrinya. Dengan demikian, entah si konseli maupun si konselor sama-sama berpusat hanya pada masalah, tidak pada urusan pribadi. Memang, kebetulan istrinya juga seorang konselor.

Pertanyaannya, bagaimana kalau sudah telanjur jatuh?

“Itu berakhir di sebuah retreat. Satu atau satu setengah bulan sebelum berangkat (sambil mengangkat kedua bola matanya ke atas-red) saya membangun tekad untuk kembali ke suamiku. Tidak gampang! Sekali dua kali terjatuh lagi. Sangat sakit, bahkan! Dalam retreat selama 3 hari itulah saya meminta kekuatan Tuhan untuk mempertahankan tekadku. Setelah itu, kulepaskan dia dan kuputuskan untuk sama sekali tidak berkomunikasi dengannya. Tidak hanya secara langsung, tapi juga tidak langsung semacam membayangkannya, mencemaskannya, berusaha cari tahu keadaannya, dan sebagainya. Bahkan, ketika ia kirim surat, kubaca pun tidak. Surat itu langsung kubakar,” aku Lydia membagikan caranya keluar dari lilitan skandal seks. Banyak cara untuk menghindari perselingkuhan seksual, memang. Demikianpun, seribu satu jalan tersedia untuk menuju ke sana. Tampaknya, cara yang paling ampuh untuk menghindarinya adalah jangan bermain api. Atau, segeralah padamkan ketika api mulai menyala. Api kecil jauh lebih gampang dipadamkan daripada api yang sudah membara. Ini berlaku pada dosa skandal seksual! (S. Rahoyo)

Sumber: Bahana


~ Salib.net ~






AddThis Social Bookmark Button

PANGLIMA TIKUS

Tersebutlah di sebuah negri Sasatoan, Raja Tikus yang amat bijaksana. Pada saat jabatan Panglima di negerinya kosong, Raja itupun memanggil beberapa tikus kepercayaannya untuk diuji dihadapan rakyatnya. Pertama kali, Raja bertanya kepada Tikus Putih "Bila kau kuangkat menjadi Panglima negri ini, siapakah yang akan kau pilih menjadi pengawalmu ?"
"Ya Tuanku, hamba akan memilih Hamster sebagai pengawal sekaligus pesuruh hamba?" jawab Tikus Putih

"Mengapa kau memilih Hamster sebagai pengawalmu ?" tanya Raja kemudian

"Hamba memilih Hamster sebagai pengawal dan pesuruh, supaya hamba bisa mengambil bulu-bulunya yang bagus dan halus. Bulu yang menawan itu akan hamba kenakan demi kehormatan bangsa kita" jawab Tikus Putih tegas

"Tapi bukankah itu merupakan perampasan atas hak makhluk lain ?" tanya Raja

"Ya, tapi itulah yang hamba inginkan. Demi kehormatan dan popularitas bangsa tikus, kita bisa mengambil apa saja dari makhuk lain yang berada di bawah kekuasaan kita" Tikus Putih menjelaskan maksudnya

Raja Tikus hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hai Tikus Hutan, siapa yang akan kaupilih menjadi pengawalmu jika kau menjadi Panglima ?" Raja itu mengalihkan pertanyaannya kepada Tikus Hutan yang sejak tadi tidak bisa duduk diam.

"Ya, Tuanku, hamba kira ular adalah makhluk yang paling tepat untuk dijadikan sebagai pengawal ?" jawab Tikus Hutan "Mengapa ular kau pilih sebagai pengawalmu ?" tanya Raja keheranan

"Hamba memilih ular sebagai pengawal, supaya hamba bisa menelannya bulat-bulat, karena selama ini ular telah banyak memakan bangsa kita" jawab Tikus Hutan tanpa ragu

"Aku sangat sedih melihat sikapmu. Kau memilih ular bukan supaya kau bisa duduk, berjalan dan bekerja sama dengan pengawalmu, melainkan kau hanya ingin membalas dendam" kata Raja dengan nada kecewa.

"Seandainya kau menjadi Panglima, siapakah yang akan kau jadikan pengawalmu" Raja mengalihkan pertanyaan kepada Tikus Sawah

"Hamba akan memilih Petani sebagai pengawal hamba" jawab Tikus Sawah penuh keyakinan

"Sepertinya ide yang bagus ! Tetapi mengapa kau memilih Petani sebagai pengawalmu ?" Raja bertanya penuh rasa ingin tahu "Hamba ingin pengawal hamba bisa menanam padi sebanyak-banyaknya supaya bangsa kita memiliki persediaan makanan yang berlimpah ruah" jawab Tikus Sawah. Rajapun sedikit lega, tetapi sejenak kemudian ia bertanya kembali. "Apa yang akan kau lakukan untuk membalas jasa pengawalmu ?"

"Setelah petani itu bekerja siang dan malam, saya akan memberikan beberapa bulir padi dari sisa panenan kita" jawab Tikus Sawah

"Tetapi apakah beberapa bulir padi yang akan kau berikan itu cukup untuk dimakan dalam sepanjang hidupnya ?" tanya Raja

"Ya, Tuanku ! Sebelum bulir-bulir padi itu diberikan kepada petani, hamba akan mencampurnya dengan begitu banyak pestisida, sehingga petani itupun tidak akan hidup lama" Tikus Putih menyampaikan siasat liciknya.

"Stop, itu bukan balas jasa ! Saya sangat kecewa dengan idemu yang hanya ingin memanfaatkan makhluk lain di bawah kekuasaanmu dan setelah kau puas, makhluk itupun kau campakkan, bahkan kau musnahkan" kata Raja Tikus sambil menahan kemarahannya.

"Ampun Tuanku, bukankah di dunia ini banyak makhluk yang melakukan hal yang serupa ?" Tikus Sawahpun membela diri

"Sebagai calon Panglima, kau tidak pantas berkata seperti itu. Walaupun semua makhluk di dunia ini mengatakan 'ya' atas kecurangan dan kelicikan, tetapi sebagai pemimpin seharusnya kau bisa berkata 'tidak'. Sebagai pemimpin, kau harus berani mengambil keputusan yang tidak populer asalkan berakar pada kebenaran yang sejati" kata Raja itu dengan bijaksana

"Sekarang, apa yang akan kau katakan tentang pengawal yang akan kau pilih ?" Raja bertanya kepada Tikus Dapur

"Ampun Baginda Raja, kalau Tuan mengijinkan saya sebagai Panglima, maka saya akan memilih Kucing sebagai pengawal hamba" jawab Tikus Dapur lirih

"Bukankah Kucing adalah makhluk yang sering mengejar-ngejar dan menerkam bangsa kita ?" tanya Raja heran "Apakah kau memilihnya sebagai pengawal supaya kau bisa membalaskan dendam bangsa kita ?" lanjut Raja

"Ampun beribu ampun Tuanku, hamba rasa selama ini Kucing itu mengejar-ngejar dan memangsa bangsa kita karena memang mereka tidak mengenal perbuatan baik dan kasih. Seandainya hamba menjadi Pangliman, hamba akan selalu tersenyum, berbuat baik dan menyayangi Kucing. Dengan demikian hamba berharap Kucing itu bisa belajar mengasihi dan menyayangi tikus dimanapun berada" Tikus Dapur menyampaikan argumentasinya.

"Mengapa kita harus berbuat baik, sedangkan ia telah menyengsarakan bangsa kita ?" tanya Tikus Hutan penuh emosi

"Ya, saya kira kita tidak pantas berbuat baik terhadap Kucing yang telah menyakiti kita. Di dunia ini masih banyak makhluk lain yang telah berbuat baik terhadap kita, jadi sudah sepantasnya kita membalas perbuatan baik mereka saja" Tikus Sawah menambahkan

"Kalau kita hanya mengasihi makhluk yang telah berbuat baik kepada kita, apa bedanya dengan para penjahat yang juga selalu berbuat baik kepada teman-temannya ? Jadi berbuat baik terhadap mereka yang mengasihi kita adalah tindakan yang biasa-biasa saja. Kalau kita bisa mengasihi mereka yang telah memusuhi kita, barulah itu yang namanya istimewa" Tikus Dapur menjelaskan maksudnya dengan tenang.

"Ya, itu istimewa sekali !" teriak Raja kegirangan "Aku senang sekali dengan sikapmu. Kalau saja setiap tikus di negri ini bisa membalas perbuatan jahat dengan perbuatan baik yang penuh kasih, maka negri kita akan menjadi damai sejahtera, tanpa perselisihan dan perpecahan" sambung Raja.

"Hai, rakyatku sekalian, aku sangat berbahagia karena hari ini aku telah menemukan Panglima yang pantas untuk negeri kita" kata Raja sambil mengenakan topi Panglima di kepala Tikus Dapur. Tikus Dapur itupun tersenyum penuh khrisma.


~ Lesminingtyas


~ CK ~





AddThis Social Bookmark Button

Roda Kereta Firaun ditemukan dilaut merah

Masih ingat dengan kisah mukjizat Nabi Musa yang membelah laut merah dengan tongkatnya? Jika salah satu diantara anda menganggap kisah tersebut hanya merupakan dongeng belaka, sekarang mari kita simak tulisan dibawah ini.

Seorang Arkeolog bernama Ron Wyatt (lihat di http://www.wyattmuseum.com/ron-wyatt.htm ) pada ahir tahun 1988 silam mengklaim bahwa dirinya telah menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno didasar laut merah.

Menurutnya, mungkin ini merupakan bangkai kereta tempur Firaun yang tenggelam dilautan tsb saat digunakan untuk mengejar Musa bersama para pengikutnya.


















Menurut pengakuannya,selain menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur berkuda, Wyatt bersama para krunya juga menemukan beberapa tulang manusia dan tulang kuda ditempat yang sama.

Temuan ini tentunya semakin memperkuat dugaan bahwa sisa-sisa tulang belulang itu merupakan bagian dari kerangka para bala tentara Fir'aun yang tenggelam di laut Merah.

Apalagi dari hasil pengujian yang dilakukan di Stockhlom University terhadap beberapa sisa tulang belulang yang berhasil ditemukan,memang benar adanya bahwa struktur dan kandungan beberapa tulang telah berusia sekitar 3500 tahun silam,dimana menurut sejarah, kejadian pengejaran itu juga terjadi dalam kurun waktu yang sama.


















Selain itu,ada suatu benda menarik yang juga berhasil ditemukan,yaitu poros roda dari salah satu kereta kuda yang kini keseluruhannya telah tertutup oleh batu karang,sehingga untuk saat ini bentuk aslinya sangat sulit untuk dilihat secara jelas.

Mungkin Allah sengaja melindungi benda ini untuk menunjukkan kepada kita semua bahwa mukjizat yang diturunkan kepada Nabi-nabiNya merupakan suatu hal yang nyata dan bukan merupakan cerita karangan belaka.

Diantara beberapa bangkai kereta tadi,ditemukan pula sebuah roda dengan 4 buah jeruji yang terbuat dari emas.Sepertinya, inilah sisa dari roda kereta kuda yang ditunggangi oleh Firaun sang raja.


























Sekarang mari kita perhatikan gambar diatas,


Pada bagian peta yang dilingkari (lingkaran merah),menurut para ahli kira-kira disitulah lokasi dimana Nabi Musa bersama para kaumnya menyebrangi laut Merah. Lokasi penyeberangan diperkirakan berada di Teluk Aqaba di Nuweiba.


Kedalaman maksimum perairan di sekitar lokasi penyeberangan adalah 800 meter di sisi ke arah Mesir dan 900 meter di sisi ke arah Arab.
Sementara itu di sisi utara dan selatan lintasan penyeberangan (garis merah) kedalamannya mencapai 1500 meter.
Kemiringan laut dari Nuweiba ke arah Teluk Aqaba sekitar 1/14 atau 4 derajat, sementara itu dari Teluk Nuweiba ke arah daratan Arab sekitar 1/10 atau 6 derajat.


Diperkirakan jarak antara Nuweiba ke Arab sekitar 1800 meter.Lebar lintasan Laut Merah yang terbelah diperkirakan 900 meter.

Dapatkah kita membayangkan berapa gaya yang diperlukan untuk dapat membelah air laut hingga memiliki lebar lintasan 900 meter dengan jarak 1800 meter pada kedalaman perairan yang rata2 mencapai ratusan meter untuk waktu yang cukup lama, mengingat pengikut Nabi Musa yang menurut sejarah berjumlah ribuan? (menurut tulisan lain diperkirakan jaraknya mencapai 7 km, dengan jumlah pengikut Nabi Musa sekitar 600.000 orang dan waktu yang ditempuh untuk menyeberang sekitar 4 jam).

Menurut sebuah perhitungan, diperkirakan diperlukan tekanan (gaya per satuan luas) sebesar 2.800.000 Newton/m2 atau setara dengan tekanan yang kita terima jika menyelam di laut hingga kedalaman 280 meter.


Jika kita kaitkan dengan kecepatan angin,menurut beberapa perhitungan,setidaknya diperlukan hembusan angin dengan kecepatan konstan 30 meter/detik (108 km/jam) sepanjang malam untuk dapat membelah dan mempertahankan belahan air laut tersebut dalam jangka waktu 4 jam!!!sungguh luar biasa,Allah Maha Besar.

Catatan : Mengenai penemuan Wyatt ini, bisa dilihat dalam situs : http://www.wyattmuseum.com/red-sea-crossing-04.htm






AddThis Social Bookmark Button

Minggu ke-4, Hari 28 BOTOL OBAT TUHAN

Seorang mahasiswa kedokteran program spesialis penyakit dalam sedang menyelesaikan thesis S2 untuk memdapat gelar Dokter Spesialis. Dia berdiskusi dengan dosen pembimbing, dan sampai pada pertanyaan krusial, "Prof, kalau dari awal organ tubuh manusia diciptakan sempurna, kenapa pada perkembangannya banyak orgn tubuh yang rusak ?" Sang profesor, yang kebetulan seorang diaken gereja, berkata datar, "Tahu gak kamu, Tuhan itu baik buat kita!" Sang mahasiswa pun terheran-heran, "Maksudnya gimana... Prof ?" Profesor menarik nafas lalu berkata, "Kalau semua organ tubuh sehat, kamu dan saya sebagai dokter mau dapat duit dari mana ?"

Esensinya, kesehatan dan kesembuhan datang dari Tuhan. Ketika ada bagian tubuh yang sakit, pasti ada rencanya-Nya di balik semua itu. Saat memperkatakan Firman, bahwa oleh bilur Yesus, semua penyakit kita disembuhkan!

Ayat Renungan : Yesaya 53:1-5, Mazmur 107:20

M1 MENERIMA
Berdoalah agar kita dapat memahami Firman Tuhan yang kita renungkan hari ini

M2 MERENUNGKAN
1. Yesaya 53 menceritakan mengenai penderitaan Yesus. Hal-hal apakah yang sudah dipikul dan ditanggung oleh Yesus di kayu salib (Ayat 4) ?

2. Janji apakah yang Tuhan berikan bagi anak-anakNya (Yesaya 53:5c) ?

3. Bagaimanakah cara Allah menyembuhkan seseorang ? Melalui apakah Ia menyembuhkan (Mazmur 107:20) ?

PENGAJARAN

Saat Yesus mati di kayu salib, kesembuhan termasuk dalam rencana penebusan Allah. Ini berarti Yesus menyediakan kesembuhan bagi kita, sama seperti ia menyediakan pengampunan bagi dosa-d0sa kita (Yesaya 53).

Mempercayai bahwa "Oleh bilur-bilur-Nya saya sudah disembuhkan," dan "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita", itulah Benih Kesembuhan. Saat Benih Kesembuhan ditanam, kita harus memelihara benih tersebut agar berbuah atau menghasilkan mujizat.

Dalam Amsal 4:22, dikatakan bahwa Firman Tuhan yang tertanam di hati kita akan menjadi Kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka. Ketika Firman Tuhan menjadi kesembuhan bagi tubuh kita, segala penyakit kita akan tersingkir dari tubuh kita. Itu sebabnya sangatlah penting untuk memegang Firman Tuhan ! Jangan biarkan kondisi atau keadaan kita membuat kita putus asa !

Dalam bukunya berjudul Walking in Faith, Tim Greenwood menuliskan langkah-langkah apa yang harus kita lakukanagar kita dapat memegang Firman Kesembuhan, yakni ;

1. Percayalah bahwa Firman Tuhan berkuasa (Final Authority) melebihi sakit penyakit apa pun juga !

2. Tolaklah keragu-raguan dan ketidakpercayaan! Jika iblis mengintimidasi kita dan membuat kita meikirkan gejala-gejala yang ada, tolaklah di dalam Nama Yesus dan ucapkan syukur untuk kesembuhan.

3. Berfokuslah kepada Firman Tuhan! Daripada melihat penyakit, lebih baik kita terus-menerus memandang janji dan Firman Tuhan.

4. Jangan takut dan bimbang !

5. Mengucap syukurlah atas kesembuhan kita walaupun kita belum menerima kesembuhan itu !

6. Ucapkan selalu hal-hal yang positif ! Jangan sampai kita membatalakan janji Tuhan dengan perkataan-perkataan negatif yang keluar dari mulut kita sendiri.

Bila saat ini Anda membutuhkan kesembuhan, praktikkan hal tersebut terus-menerus setiap hari. Firman Tuhan yang disampaikan tidak pernah kembali dengan sia-sia (Yesaya 55:11) !

M3 MELAKUKAN
1. Dari hal-hal yang tertulis di atas, manakah yang belum pernah atau jarang dilakukan oleh Anda ketika Anda membutuhkan mujizat kesembuhan dari Tuhan ? Tuliskan hal itu !

2. Praktikkan hal-hal tersebut agar Anda dapat menerima mujizat kesembuhan dari Tuhan !

M4 MEMBAGIKAN
Kepada siapakah Anda akan menceritakan berkat-berkat yang Anda terima dari saat teduh hari ini ?


Sumber :
Judul buku : Menerobos Sorga Dengan Cinta
49 Hari membangun keintiman dengan Bapa untuk mendapatkan Firman yang menghidupkan dan menyembuhkan.
Penulis : Pdt. Ir. Yonathan Wiryohadi
Kontibutor : Pdt. Bram Soei Ndoen, Illyana Widodo, Ponco Sulistyo
Diterbitkan oleh : WTC Media, Mei 2007





AddThis Social Bookmark Button

Minggu ke-4, Hari 27 HATI YANG MENYIMPAN

Ketika Jakarta didera banjir, semua orang berupaya untuk saling menolong. Salah satu gereja terkena banjir, semua jemaat berhasil diungsikan, dan yang belum terangkut adalah pendeta. Karena perahu karet habis, seorang sukarelawan, yang kebetulan adalah seorang haji membantu pendeta untuk keluar dari kepungan banjir.

Pak pendeta kelelahan dan pak Haji segera berinisiatif untuk menggendong pendeta. Dalam hati pendeta, "Kalau tidak terjadi banjir, saya belum tentu bisa naik haji!" Belum sampai di tempat, pak haji kecapean dan pak Pendeta sempat terjatuh. Pak Haji secara reflek memegang kepala pak Pendeta, tetapi karena tekanan berat, kepala pak Pendeta masuk ke dalam air. Dalam hati, Pak Haji berkata, "Kalau tidak terjadi banjir, belum tentu saya bisa membaptis pak pendeta!"

Esensinya, apa yang dilakukan antara pak Pendeta dengan pak Haji merupakan implikasi dari saling menabur di antara keduanya. Hati kita pun bisa menjadi ladang yang subur untuk bertumbuhnya benih Firman yang ditaruh Tuhan.

Ayat Renungan : Markus 4:14-29, Mazmur 119:11a

M1 MENERIMA
Berdoalah agar kita dapat memahami Firman Tuhan yang kita renungkan hari ini.

M2 MERENUNGKAN
1. Dalam perumpamaan itu, apa yang dimaksud dengan benih yang ditabur (Ayat 15, 26) ?

2. Yesus menceritakan mengenai benih yang ditabur di 4 jenis tempat atau tanah. Apa artinya ?
a. Ayat 15a : ...........................................................................................................................
b. Ayat 16a : ...........................................................................................................................
c. Ayat 18a : ...........................................................................................................................
d. Ayat 20a : ...........................................................................................................................

3. Bila benih tersebut ditabur di tanah yang baik, apakah yang akan terjadi (Ayat 20, 28-29) ?

4. Apa yang Daud lakukan terhadap janji atau Firman Tuhan (Maz 119:11a) ?

PENGAJARAN

Firman Tuhan adalah benih ! Tahukah bahwa di dalam benih sudah terdapat sumber kehidupan yang begitu ajaib ? Di dalam sebuah biji tersimpan sebuah potensi yang begitu dahsyat. Dari benda kecil dapat keluar kehidupan. Dari benda yang kelihatannya tak berarti akan tumbuh batang, cabang, daun, bunga, dan akarnya. Akhirnya, buah-buah akan menghasilkan pohon-pohon lainnya.

Percayakah bahwa Firman Tuhan itu lebih dahsyat dari benih alamiah ? Apa pun yang Tuhan lakukan, hal itu selalu dimulai dari Firman Tuhan yang Disimpan atau Ditanam di dalam hati kita sebagai benih. Firman Tuhan yang ditanam itulah yang mengandung potensi mujizat, dan melahirkan mujizat dalam kehidupan pribadi kita, mujizat dalam rumah tangga atau keluarga, serta mujizat dalam pekerjaan dan pelayanan !

Benih Firman Tuhan yang sudah kita terima janganlah dibuang, tetapi biarlah tertanam di hati kita. Seperti perilaku seorang petani, dia tidak akan sering menggali dan membongkar benih yang telah ia tanam di tanah untuk memeriksa pertumbuhan benih tersebut. Benih hanya dapat tumbuh kalau ia tetap tertanam di tanah. kita pun harus menyimpan dan memelihara benih Firman Tuhan di dalam hati kita.

Bagaimana caranya agar benih Firman Tuhan dapat tersimpan atau tertanam di hati kita ? Hati kita diibaratkan seperti tanah, dan tanah yang dapat menanam benih bukanlah tanah yang berbatu-batu, bersemak duri, ataupun tanah yang kotor. Tanah yang cocok adalah "tanah yang subur" ! Ciri-ciri tanah yang subur antara lain tidak keras, mudah menyerap air, dan bersih.

itu sebabnya, jangan biarkan hati kita menjadi keras atau sombong ! Biarlah hati kita selalu haus dan terbuka untuk menyambut Firman Tuhan, dan janganlah hati kita dipenuhi oleh sampah-sampah dunia (masalah-maslah hidup, kekhawatiran duniam kekayaan serta keinginan-keinginan yang menghimpit Firman itu sehingga tidak berbuah) sehingga benih Firman tidak bisa berbuah dalam hidup kita. Anda juga harus memperkatakan Firman sama seperti Firman yang Anda simpan. Bila perkataan Anda bertentangan dengan prinsip Firman, berarti Anda sedang membongkar benih Firman yang sudah Anda tanam.

Biarlah Firman Tuhan berbuah berlipat ganda dalam kehidupan kita. Benih Firman Tuhan yang di tanam di 'tanah yang subur' akan melahirkan mujizat! Jangan biarkan iblis "merampok" benih tersebut! Bagian Tuhan adalah menaburkan benih Firman-Nya, dan kita melakukan bagian kita yaitu menyuburkan tanah hati kita!

M3 MELAKUKAN
Tuliskan langkah-langkah apa yang akan Anda lakukan agar Anda dapat menyimpan benih Firman Tuhan di dalam hati Anda !

M4 MEMBAGIKAN
Kepada siapakah Anda akan menceritakan berkat-berkat yang Anda terima dari saat teduh hari ini ?


Sumber :
Judul buku : Menerobos Sorga Dengan Cinta
49 Hari membangun keintiman dengan Bapa untuk mendapatkan Firman yang menghidupkan dan menyembuhkan.
Penulis : Pdt. Ir. Yonathan Wiryohadi
Kontibutor : Pdt. Bram Soei Ndoen, Illyana Widodo, Ponco Sulistyo
Diterbitkan oleh : WTC Media, Mei 2007





AddThis Social Bookmark Button

APAKAH KAIN KAFAN TURIN ITU ASLI?

Turin Shroud: How Leonardo Da Vinci Fooled History
by Clive Prince, Lynn Picknett




Ada banyak rekaan orang-orang, harapan-harapan, pandangan mistik, penelitian-penelitian macam-macam dan yang bersifat science, dll. tentang kebenaran Kain Kafan Turin .

Namun tentu saja Alkitab selalu menarik untuk diteliti, dan cukup memberikan penjelasan bahwa tidak ada bukti yang mendukung keaslian Kain Kafan itu sebagai kain pembungkus jenazah Yesus.

Dibawah ini penjelasannya :


APAKAH KAIN KAFAN TURIN MERUPAKAN KAIN PEMBUNGKUS TUBUH KRISTUS YANG ASLI?


Kain kafan Turin, selembar kain kuno berukuran 14 kaki kali 4 kaki (4.20 X 1.20meter), telah dielu-elukan di seputar dunia sebagai kain pembungkus jenazah Yesus yang asli. Banyak orang telah mendukung keasliannya. Paus Paulus VI menyatakan Kain Kafan itu sebagai "barang peninggalan yang paling penting dalam sejarah umat Kristen" (US Catholic, May 1978, p. 48)

Gambar yang terdapat pada kain itu diakui sebagai gambar Yesus Kristus sendiri serta menunjukkan bukti nyata akan kematian, penguburan, serta kebangkitan Kristus. Banyak orang menyebutnya sebagai misteri terbesar di dunia. Para penyokong Kain Kafan itu menyatakan bahwa gambar yang tertera pada kain itu menurut penganalisaan abad ke 20 tidak mungkin merupakan hasil pemalsuan atau duplikasi dunia.

Setelah mengadakan riset secara luas, kami akhirnya memandang kain Kafan itu dengan keragu-raguan yang besar. Nampaknya, sebagian besar riset terhadap Kain Kafan ini telah dilakukan dengan keyakinan yang terbentuk sebelumnya bahwa kain itu asli.

Ada banyak masalah yang penting yang harus dipecahkan apabila kita mempertahankan keotentikan Kain Kafan itu. Sebelum tahun 1350, tidak ada bukti sejarah yang membuktikan keasliannya ataupun adanya Kain Kafan tersebut. AJ Otterbein dalam The New Catholic Encyclopedia mengatakan sebagai berikut :

"Dokumentasi yang tidak lengkap mengenai Kain Kafan ini menimbulkan keraguan untuk menerimanya sebagai yang asli. Keraguan demikian dapat dibenarkan apa bila kita hanya mempertimbangkan bukti historisnya saja"



Pemalsuan :


Kira-kira pada tahun 1900, sepucuk surat ditemukan dalam sebuah koleksi dokumen milik Ulysse Chevalier. Surat itu ditulis dalam tahun 1389 oleh Uskup di Troyes kepada Clement VII, Anti-Paus di Avignon.

Surat itu menerangkan bahwa suatu penyelidikan telah berhasil membongkar pekerjaan seorang seniman yang telah melukis Kain Kafan itu, dan seniman tersebut mengakuinya. Banyak orang merasa terganggu karena kain itu digunakan untuk mencari keuntungan. Surat itu lebih lanjut mengatakan :

"Banyak teolog dan cendekiawan lainnya mengatakan bahwa kain ini tidak mungkin merupakan Kain Kafan yang asli dari Tuhan kita, dengan gambar Sang Juruselamat tertera padanya, karena Injil yang Kudus tidak pernah menyebut adanya gambar seperti itu. Sedangkan, kalau seandainya benar, agaknya tidak mungkin penulis Kitab Injil yang kudus itu telah lalai mencatatnya, atau bahwa fakta itu harus tetap tersembunyi sampai zaman sekarang"

Surat itu menambahkan bahwa si pemalsu itu telah tersingkap dan menerangkan bahwa "kebenarannya telah dibuktikan oleh seniman yang melukisnya, yakni gambar yang tertera itu adalah karya keahlian manusia dan tidak dikerjakan atau tertera secara ajaib"






















Sejarahnya :


Geoffrey de Charney memperoleh Kain Kafan itu beberapa waktu sebelum tahun 1357. Kain itu dipamerkan untuk penghormatan di gereja sebuah perguruan tinggi di kota Lirey, Perancis, yang didirikan oleh Geoffrey. Akan tetapi Geoffrey keburu meninggal pada tahun 1956 sebelum ia sendiri mengungkapkan bagaimana ia memperloreh kain itu.

Ketika suatu penyelidikan berhasil membuktikan kepalsuannya, Kain Kafan itu disimpan. Kemudian, kira-kira tahun 1449 cucu Geoffrey, yang bernama Margareth de Charney, mengadakan perjalanan keliling untuk memamerkan kain itu serta memungut biaya masuk (bagi yang ingin melihatnya). Pada tahun 1462 ia mempertukarkan Kain Kafan itu dengan 2 buah puri. Kini Pangeran Savoie yang memilikinya.

Kemudian kain itu disimpan di Sainte Chapelle di Chambery. Kebakaran yang terjadi pada tanggal 3 Desember 1532 tlah merusaknya.

Pada tahun 1578, Immanuel Filibert, Raja Savoie memindahkan Kain Kafan itu dari Perancis ke Turin, Italia. Pada tahun 1898, seorang jurufoto bernama Secondo Pia mengabadikan gambar pada kain itu. Semua orang terheran-heran ketika ternyata gambar pada kain itu ternyata adalah sebuah gambar negatif.



Pembuatan gambar :


Pemindahan gambar ke kain itu merupakan langkah penting untuk menjelaskan apakah kain itu mereupakan hasil suatu mujizat dan sesungguhnya kain kafan Tuhan Yesus atau bukan. Seandainya tidak ada keraguan bahwa gambar itu terjadi bukan dengan daya upaya yang wajar, maka itu merupakan mujizat dan oleh karena itu adalah kain kafan Kristus. Memang kedua belah pihak setuju bahwa gambar itu tertera sesudah penyaliban Kristus.

Metode-metode yang dikemukakan mengenai pemindahan gambar ke kain itu adalah :

1. Vaporografi
2. Penghangusan dan radiasi
3. Termografi

Vaporografi adalah proses dimana campuran rempah-rempah, gaharu, serta minyak menimbulkan reaksi dengan ammonia (urea) dalam peluh manusia dalam bentuk uap sehingga membentuk suatu gambar pada kain. Satu-satunya syarat ilmu fisika ialah bahwa uap itu harus bergerak lurus untuk membentuk gambar itu.

Kesulitan teori ini ialah tidak semua ahli kima yakin bahwa uap akan bergerak dengan garis lurus dari tempat asalnya. Pada tahun 1931, O'Gorman menulis bahwa satu cara yang mungkin bagi terjadinya vapograf ialah dengan tambahan zat raidoaktif dalam rempah-rempah itu atau tubuh Kristus sendiri! Akan tetapi, hal ini harus digolongkan sebagai spekulasi yang melampaui batas.

Metode lain yang sudah populer dan diuraikan dalam "Cara Kerjanya" ialah "penghangusan", atau proses tubuh melepaskan radiasi yang cukup kuat sehingga mampu membakar gambar itu pada kainnya. Teori ini jelas tidak dapat dipertahankan lagi karena kesaksian dua orang ilmuwan, Wade Patterson dan Dave S Myers dari lawrence Livermore Laboratory.

Menurut mereka, tidak mungkin gambar pada Kain Kafan itu terjadi secara alamiah karena ionisasi atau radiasi energi tinggi, nuklir atau lainnya. Sinar X dan Sinar gamma merupakan sinar utama dalam ionisasi, dan gambar-gambar itu tidak mungkin dihasilkan oleh kedua macam sinar itu, sebab untuk membangkitkan sinar-X diperlukan mesin bertegangan tinggi. Dan satu-satunya sumber alamiah sinar gamma adalah zat radioaktif seperti uranium. Lagipula, sinar-X dan sinar gamma tidak menyebabkan terjadinya suatu proses atas bahan seperti yang tampak pada Kain Kafan itu.

Mereka melanjutkan bahwa sinar-X dan sinar gamma salah satu dari radiasi-radiasi yang paling menembus, sehingga tidak akan meninggalkan gambar apapun. Suatu sumber radiasi ionisasi yang sangat kuat tentunya dapat mempengaruhi kain itu, tetapi menurut kedua orang ahli itu mereka tidak melihat, kemungkinan itu terjadi, bila mempertimbangkan faktor-faktor yang terlihat, misalnya : sososok mayat, waktu yang berabad-abad dan lain sebagainya.

Sekalipun kemungkinan kecil sekali, tetapi seandainya mayat itu telah menjadi radioaktif sehingga memancarkan sinar-X atau sinar gamma, gambar yang tertera pada Kain Kafan itu tetap tidak sesuai dengan jenis gambar yang seharusnya dibentuk dalam keadaan seperti demikian. Kata Petterson, sinar-X dan sinar gamma lebih banyak diserap oleh tulang, bukan oleh kulit, jadi seharusnya bukan kulit tetapi tulang-tulang yang dapat dilihat dengan lebih jelas pada gambar itu.

Sekalipun jika zat radioaktif seperti uranium yang memancarkan sinar dan juga partikel-partikel alfa dan beta, yang kesemuanya adalah radiasi ionisasi – telah dioleskan pada jenazah itu, para ahli tetap berpikir bahwa tidak akan muncul gambar-gambar pada Kain Kafan itu; paling paling hanya akan ada bayang-bayang hitam saja.

Mereka menambahkan, jika zat radioaktif telah digunakan sedemikian rupa hingga hanya menegaskan hal-hal yang penting saja, mereka masih belum mengetahui adanya suatu tekhnik yang dapat membuat kain itu peka cahaya sehingga dapat emrekam radiasi energi tinggi. Misalnya sinar-X; dalam hal ini filem diperlukan untuk mencatat kehadiran sinar-X.

Jikalau telah terjadi ledakan atom diatas kota Yerusalem pada waktu pemakaman Kristus, maka akan ada cukup radiasi energi tinggi untuk menera gambar-gambar pada Kain Kafan itu, namun karena intensitasnya Kain Kafan itu sendiri akan hancur. Seandainya ledakan sinar yang hebat itu tidak sampai merusak pada lenan Kain Kafan itu dalam cara yang lain (dari The Shroud, oleh Wilcox, p. 154-155)

Metode ketida yang memungkinkan terjadinya pemindahan gambar adalah bentuk radiasi yang lebih rendah, yang nyata dalam cara pemanasan. Proses ini disebut thermografi, dan cara ini dipakai juga untuk mendeteksi kangker payudara. Dr Jackson dan Dr Jumper menyokong metode ini yang mereka anggap sebagai yang paling memungkinkan pemindahan gambar.

"Dengan menggunakan komputer untuk menganalisa dari data foto-foto, mereka telah menguji gagasan bahwa gambar itu secara keseluruhan lebih terang dan lebih gelap sepadang dengan jarak antara jenasah dengan kain. Sebenarnya, variasinya begitu seragam... sehingga mereka tidak ragu-ragu lagi bahwa gambar-gambar itu merupakan hasil suatu "proses fisik" – jekas bukan hasil seni manusia – dan mereka ecnderung menyokong suatu 'thermogram', suatu gambar yang terbentuk oleh panas" (dari The Shroud, oleh Wilcox, p. 175)

Akan tetapi, Dr Wood dari neurogical Institute di New York menghubungkan proses ini dengan Kain Kafan itu, sebagai akibatnya menampakkan keraguan yang nyata tentang proses ini.

Dr. Ernest Wood menerangkan bahwa thremografi timbul dari fotografi infra-merah yang dikembangkan dalam Perang Dunia II. Dewasa ini ia terutama dimanfaatkan untuk mendeteksi kangker payudara. Prinsip dibalik thermografi sederhana saja; panas yang terpancar keluar dari tubuh dipakai untuk memuat gambar diagnostik, dan gambar-gambar ini adalah gambar negatif.

Akan tetapi, Dr Wood menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan penting antara gambar thermografik dengan "gambar" pada Kain Kafan itu. Antara lain diperlukan mesin-mesin yang sangat rumit untuk meningkatkan panas tubuh supaya sebuah gambar dapat direkam: panas itu harus ditingkatkan Sejuta kali. Selain itu, gambar thermografik direkam pada filem Polaroid, bukan pada kain. (dari The Shroud, oleh Wilcox, p. 171,172)

Banyaknya panas yang terpancar yang dilipatgandakan sejuta kali atau lebih, kemungkinan besar akan menghancurkan kain itu karena intensitasnya.

Mereka yang menyokong pendapat bahwa "radiasi rendah membentuk bayangan itu" harus menyediakan siatu pembiasan bagi cahaya yang kelihatan. Mereka menerangkan hal ini dengan mengatakan bahwa lapisan keringat akibat rasa sakit yang terdapat pada jenazah itu bertindak sebagai lensa pembias guna memfokuskan radiasi dalam pola bergaris lurus untuk menghasilkan gambar (maka timbul alasan mengapa mayat itu tidak dimandikan).

Apabila keringat dihapuskan, berarti mekanisme pemfokusan terhapus. Dr. Mueller menganggap seluruh teori ini tak masuk akal, karena akan memerlukan ratusan lensa di seluruh tubuh, laksana mata lalat, guna memfokuskan radiasi. Tidak mungkin keringat bisa demikian!.

Perlu pula diperhatikan bahwa radiasi tingkat rendah itu membentuk bayangan kurang dari lima cm dari tubuh. Pada jarak yang lebih jauh, intensitas radiasi akan turun menjadi nol, sehingga tidak akan meninggalkan gambar.

Jarak rata-rata Kain Kafan adalah 3 cm atau 1.5 inci, yang sangat melemahkan sifat pembentukkan gambar dari radiasi. Bahkan ada jarak yang lebih jauh lagi pada Kain Kafan itu yang tentunya tidak akan membentuk gambar apa-apa, jika gambar itu disebabkan karena penghangusan oleh radiasi.

Juga harus diingat bahwa mekanisme para pendukung teori penghangusan oleh radiasi ini merupakan spekulasi semata-mata. Tidak ada bukti sama sekali. Paling-paling hanya dugaan yang tak masuk akal.

Dr Marvin Mueller telah bekerja pada Los Alamos Scientific Laboratory di New Mexico selama 20tahun, dan telah melakukan eksperimen serta penyelidikan teoritis dalam berbagai bidang fisika. Selama 8 tahun yang terakhir ini ia telah bekerja pada Laser Fusion Energy Project, dan terkenal di seluruh dunia dalam bidang ini karena sumbangan-sumbangannya yang bersifat teori dan usaha-usaha penetralannya.

Dalam sepucuk surat Dr Mueller menulis :

"Beberapa ilmuwan yang termasuk anggota STURP (Shroud of Turin Research Project) telah menegaskan bahwa hasil-hasil eksperimen penelitian mereka menunjukkan bahwa Kain kafan itu benar-benar telah membungkus jenazah Yesus Kristus yang tersalib itu.

Alasan utama mereka untuk menandaskan keaslian Kain Kafan tersebut didasarkan pada pernyataan bahwa gambar Kain Kafan itu hanya dapat dihasilkan melalui siatu "ledakan radiasi singkat", yang memancar dari mayat itu dan dengan cara penghangusan menera gambar jemasah itu pada kain yang menutupinya.

Kejadian yang demikian tentu saja merupakan suatu mujizat, tetapi justru itulah yang mereka perlukan untuk meneguhkan keotentikannya. Sebab tidak ada proses pembentukan gambar secara alamiah yanga kan menghasilkan gambar itu sesungguhnya adalah jenazah Yesus Kristus.

Bagaimanapun juga, pernyataan mereka tidak dapat bertahan apabila diteliti secara seksama dan nampaknya sebagian besar berdasarkan pikiran khayal belaka. Disatu segi, mereka tidak pernah membuktikan bahwa gambar Kain Kafan itu terjadi dengan cara penghangusan, walaupun memiliki beberapa sifat penghangusan, seperti misalnya warna dan daya tahan panasnya.

Zat-zat lain, yang kemungkinan telah dipakai untuk membentuk gambar itu melalui sarana seni, mempunyai sifat-sifat itu juga dan sebenarnya telah ditemukan pada gambar itu. Fakta ini saja telah menjadikan pernyataan keotentikan Kain Kafan itu kelihatannya sesuatu yang bodoh.

Lagipula, STURP tidak memperlihatkan bahwa gambar itu dipindahkan melalui ruang jenazah ke kain itu dengan memakai radiasi atau alat lain. Meskipun seluk-beluknya terlalu rumit untuk dijelaskan disini, dapat dikatakan bahwa STURP hanya sekedar membuktikan pertalian antara warna gelp gambar Kain Kafan itu dan jarak kain ke jenazah yang diukur dengan memakai seorang pria sukarelawan yang ditutupi sehelai kain.

Tetapi korelasi atau pertalian tidak menunjukkan kausallitas. Misalnya, setidak-tidaknya dalam prinsip, prosedur yang dipakai STURP untuk membangun sebuah patung 'Manusia Kain Kafan' ini dapat juga digunakan untuk merekonstruksi sebuah gambar timbul (atau patung) yang utuh dari suatu gambar jiplakan yang dihasilkan dengan menggunakan metode Joe Nickells.

Kenyataan bahwa mereka telah menghasilkan sebuah patung dari gambar Kain Kafan itu dengan menggunakan metode yang telah diuraikan untuk menghasilkan bambar itu. Khususnya, metode jiplakan itu, karena pada dasarnya dapat berubah-ubah dan dapat disesuaikan, maka ia dapat menghasilkan banyak macam gradasi suara untuk suatu gambar timbul; dan dengan cara demikian, hampir semau-maunya dapat mengubah-ubah sifat-sifat 'tiga dimensi' gambar tersebut.

Maka keduanya yang mendasari hipotesis "ledakan radiasi singkat" tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Masih terlalu dini nuntuk menegaskan keaslian Kain Kafan Turin itu, setiap pernyataan yang demikian itu tidak masuk akal.



Gambar 3 D


Satu pernyataan para pendukung Kain Kafan ini adalah bahwa gambar pada kain itu dapat direproduksi menjadi gambar 3D dengan menggunakan suatu alat yang disebut "Interpretations System YP-8 Analyzer". Alat ini dianggap dapat memindahkan katup-katup suara menjadi gambar timbul tiga dimensi dengan penyetelan yang sangat kecil.


Dr. Jackson dan Dr. Jumper mengatakan :

"Suatu alasan yang terkenal pernah diutarakan bahwa seorang seniman yang hidup sebelum abad ke 14 tidak mungkin dapat menghasilkan suatu gambar negatif yang tetap tanpa kemampuan untuk memeriksa karyanya itu melalui pembalikan fotografis.

Demikian pula kami mengajukan bahwa seorang seniman atau pemalsu yang hidup pada waktu itu tidak mungkin dapat menyajikan informasi 3 Dimensi melalui penyesuaian tingkatan intensitas karyanya sehingga seluruhnya sesuai dengan peminsahan kain-jenazah yang sebenarnya.

Guna membuktikan hal ini, kami melakukan suatu eksperimen. Kami memperoleh foto-foto lukisan Kain Kafan yang dibuat oleh dua orang seniman yang mahir. Mereka telah ditugaskan untuk meniru Kain Kafan itu dengan seteliti-telitinya.

Kemudian gambar-gambar ini kami transformasikan gambar itu menjadi gambar timbul untuk melihat seberapa telitinya masing-masing seniman telah menangkap ketiga-dimensian Kai Kafan itu serta menuangkannya kedalam lukisannya. Pada waktu itu, kedua orang seniman itu tidak tahu tentang sifat 3 Dimensi ini.

Mengubah derajat gambar timbul itu ternyata tidak menolong keadaan, sebab ketidak-normalan gambar-gambar ini hanya dapat diubah menurut perbandingan, tetapi tidak dilenyapkan sama sekali. Karena dua orang seniman mahir telah meniru dari Kain Kafan Turin itu sendiri tidak mampu menghasilkan gambar 3 Dimensi yang tanpa cacat dari Kain Kafan itu, maka kemungkinannya tipis sekali bahwa seorang seniman abad pertengahan dapat mencapai prestasi sedemikian tanpa memiliki Kain Kafan sebagai petunjuk.

Sebenarnya, kami menganggapnya sebagai suatu tantangan bagi tekhnologi abad 20 untuk menera suatu gambar 3 Dimensi yang jelas dari sesosok tubuh manusia pada sehelai kain, entah melalui karya seni atau melalui cara lain yang ada".
(dari The 1977 Research Proceedings on the Shroud of Turin, p 85).


John German, seorang rekan Dr Jackson dan Dr Jumper, menjelaskan bahwa mutu gambar itu tergantung pada caranya peralatan difokuskan :

"Sifat pertalian ini mengungkapkan adanya suatu sumber kekeliruam yang penting yang terpaut dalam konstruksi gambar 3 Dimensi Kain Kafan itu. Gambar pada kain itu terbentuk melalui proses yang menghasilkan hubungan yang tidak berupa garis lurus antara intensitas gambar dan jarak kain-jenazah.

Akan tetapi, sistem penganalisaan gambar itu menciptakan suatu gambar 3 Dimensi dimana gambar timbulnya (yang dapat disamakan dengan jarak kain-jenazah) berbeda secara linier dengan intensitasnya. Ternyata hasil praktis hubungan garis lurus ini memperlihatkan gambar yang rusak bentuknya. Jikalau gambar timbul yang diperoleh itu dikurangi agar menghasilkan gambar dengan hidung dan dahi yang realistis, maka bagian-bagian gambar yang samar-samar, sesuai dengan jarak kain-jenazah yang lebih besar, hanya sedikit menghasilkan gambar timbul atau bahkan tidak sama sekali.

Sebaliknya, kalau gambar timbul itu ditingkatkan untuk memperjelas bagian-bagian yang samar-samar, maka hidung dan dahi gambar Kain Kafan itu akan menonjol keluar dan tidak seimbang lagi"
(dari The 1977 Research Proceedings on the Shroud of Turin, p 235).


Pertanyaan disini berhubungan dengan lensa-lensa yang dipakai untuk membetulkan distorsi-distorsi suara atau suatu mesin yang sangat bergantung pada simulasi : "Apakah gambar 3D pada Kain Kafan itu begitu sempurnanya sampai-sampai boleh dianggap ajaib?"

Juga harus dipertimbangkan bahwa untuk memperoleh gambar yang diperlukan, maka dipakai satu model manusia yang kira-kira mirip dengan gambar Kain Kafan itu untuk menghubungkan jarak kain itu dengan permukaan jenazah.

Sesudah itu, kain yang menutup model itu harus diratakan (yang menghasilkan gambar yang rusak), lalu gambar jamera dijatuhkan ke atas korelasi jarak lain. Pertanyaannya ialah : Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita telah menghasilkan suatu gambar 3D dari Kain Kafan itu atau cuma gambar Kain Kafan pada manusia yang sungguh?


Dr. Marvin Mueller Ph.D. dalam Ilmu Fisika di Laboratorium Los Alamos, menyatakan :

"Kegelapan gambar yang relatif ditentukan dengan mengamati foto gambar kain Kafan itu dengan mata biasa. Selanjutnya, dibuat suatu gambar korelasi dari kegelapan gambar itu yang dibandingkan dengan jarak kain jenazah. Guna meningkatkan korelasi itu setinggi-tingginya amat banyak penyesuaian harus diadakan pada kain itu yang dikenakan dengan cara tertentu.

Korelasi terakhir hasil penyetelan itu cukup baik, dan daripadanya berhasil ditarik suatu fungsi yang menurun dengan mudah kira-kira seperti suatu eksponen. Akan tetapi, kecuali kesalahan ukuran dan penglicinan yang termasuk dalam penarikan fungsi dari data yang tersebar, yang diperoleh akhirnya hanyalah gambar timbul 3-D dari model manusia yang dipilih untuk eksperimen itu!

Ironinya ialah bahwa proses penglicinan itu sendiri menimbulkan parubahan pada gambar timbul itu, tetapi juga memberikan kemungkinan sekarang untuk melapiskan beberapa ciri gambar Kain Kafan itu ke atas gambar timbul model manusia itu.

Jai, 'patung' yang dihasilkan itu merupakan perpaduan antara ciri-ciri model manusia dengan gambar Kain Kafan – bukan sebiah patung Manusia Kain Kafan seperti yang telah dinyatakan sebelumnya.

Yang telah dikerjakan STURP adalah pembuktian bahwa korelasi yang cukup baik antara kegelapan gambar pada Kain Kafan itu dengan jarak kain-jenazah yang saling berkaitan dapat diperoleh apabila tubuh seorang pria dengan ukuran yang tepat ditutupi kain khusus yang dikenakan dengan cara tertentu. Tetapi, karena korelasi bukanlah kausalitas, maka hanya itu saja yang telah dikerjakan oleh STURP"
(dari The Los Alamos Monitor, 16 Desember 1979, p. B-6).



Noda-noda darah


Apa yang diduga sebagai noda darah yang terdapat pada dua bagian kecil dari 12 lembar benang Kain Kafan itu telah dianalisa guna mengetahui keasliannya. Sebelum pengujian yang baru-baru ini dilakukan terhadap Kain Kafan itu, para ilmuwan telah memutuskan tidak adanya bukti yang meyakinkan bahwa noda-noda darah itu memiliki ciri-ciri spektrum haemoglobin manusia. (Thomas Humber, The Sacred Shroud, p. 187)

Pengujian yang baru dilakukan pada tahun 1978 telah meyakinkan para pendukungnya bahwa "bagian-bagian yang ada noda darah itu memiliki ciri-ciri spektrum haemoglobin manusia" (SF Pellicoli, "Spectral Properties of the Shroud of Turin", Applied Optics, 15 Juni 1980, Volume 19, No. 12, pp. 1913-1920).

Namun, pokok persoalannya masih tetap ada, yakni seorang pemalsu dengan metode yang tepat sudah logis akan memakai darah manusia untuk menciptakan gambar yang se-realistis mungkin. Adanya darah atau haemoglobin pada Kain Kafan itu bukanlah merupakan bukti yang sah untuk menjamin keasliannya.



Reproduksi


Orang-orang yang mendukung teori Kain Kafan ini mengajukan berbagai bukti guna mendukung pernyataan keasliannya. Bukti-bukti itu adalah :
1. Tidak ada kuas
2. Gambar itu tidak menembus serat serat kain (semata-mata suatu gejala pada permukaan kain saja
3. Ada semacam bubuk yang diduga sebagai gaharu
4. "Fosil Serbuk" yang ditemukan pada kain itu diduga keras berasal dari zaman Kristus.

Kebanyakan hal diatas terjawab oleh suatu gambar yang timbul yang dibuat oleh John Nickell. Sebuah foto dari gambar itu dapat dilihat dalam majalah The Humanist terbitan November-December 1978 dan dalam majalah Popular Photography terbitan bulan November 1979.

Nickell menggunakan suatu tekhnik yang hanya memakai bahan-bahan dan metode-metode abad ke-14 untuk menciptakan kembali atau mereproduksi suatu gambar negatif seperti yang ditemukan pada Kain Kafan itu. Tekhnik ini menghasilkan suatu gambar negatif.

Ia tidak melukis gambarnya, melainkan memakai suatu gambar timbul. Ia meletakkan selhelai kain basah diatas gambar timbul itu. Sesudah kain itu kering, ia menggunakan suatu alat pemulas untuk menggosokkan bubuk "pigmen". Nickell menggunakan campuran mur dan gaharu. Hasilnya tidak meninggalkan bekas-bekas kuas.

Nickel menulis,

"Hasil gosokan saya, sekalipun diperiksa dengan teliti, kelihatannya terbuat tanpa "pigmen". Saya menggunakan campuran rempah-rempah untuk pemakaman, yakni mur dan gaharu. Campuran ini mereproduksi warna 'seperti hangus' serta banyak ciri lainnya.

Menarik sekali untuk mencamkan bahwa (menurut Encyclopedia Amaricana, 1978) gaharu sebenarnya 'dipakai sebagai bahan celup atau pigmen'.

Hal yang penting ialah bahwa 'pigmen' ini tidak menembus serat-serat dan tetap merupakan 'gejala pada permukaan kain' (seperti yang dikatakan mengenai pewarnaan Kain Kafan itu). Hal ini diperlihatkan dengan membuat sayatan melintang dan penelitian dengan mikroskop...

Dua orang anggota komisi rahasia Kain Kafan yang resmi (yang belakangan ini tersingkap), yang ditunjuk pada tahun 1969 untuk meneliti kain itu, mengusulkan bahwa gambar itu merupakan hasil tekhnis percetakan artistik yang menggunakan suatu model atau cetakan. Ini merupakan uraian yang cukup akurat tentang tekhnik yang saya dapati cukup berhasil.

Para pendukung Kain Kafan mempertahankan bahwa mereka tidak menemukan 'bukti pigmen' pada kain itu, walaupun menurut laporan ada bukti tentang 'bubuk' yang disebut gaharu. Mereka juga menjelaskan bahwa tidak ada goresan-goresan kuas; juga, disekitar lubang-lubang yang terbakar (karena kebakaran kapel pada tahun 1532), tidak terdapat bagian-bagian yang menjadi gelap; dan gambar itu tidak mempunyai tanda-tanda 'arah' (seperti dari goresan kuas atau sentuhan jari). Tetapi, semua ini merupakan ciri-ciri tekhnik saya!

Laporan itu memang menyebutkan penemuan bemacam-macam 'kristas' (atau 'butir-butir') kuning-merah sampai jingga dan 'percikan' tertentu yang cocok dengan mur dan gaharu. Rempah-rempah ini (yang dapat dibeli oleh seorang pemalsu pada Champagne Fair (pekan-raya) yang diadakan dua kali setahun atau pada atau pada apotik setempat) kemungkinan mengandung 'fosil serbuk' dari Timur Tengah yang diduga ada pada kain itu"
("The Shroud", Christian Life, February 1980, vol 4, No. 10 ).

Gambar negatif dari seorang juru portret memperlihatkan suatu gambar positif seperti kehidupan yang sebenarnya. Dr. Mueller berkata tentang gambar Nickell sebagai berikut :

"Joe Nickell menerangkan metode gosokannya yang menghasilkan gambar-gambar timbul. Dintinjau dari segi kualitasnya,s etidak-tidaknya, kemiripan itu menyolok, bahkan meluas sampai mencapai kedalaman perembesan warna yang mikroskopis dari benang-benangnya.

Tekhnik penggosokan, walaupun dengan suatu gambar timbul yang diberikan, dapat dengan mudah diubah-ubah dengan cara menggunakan alat memulas yang berbeda ukurannya, telanannya serta dengan cara meletakkan kain basah pada gambar timbul. Dengan perubahan-peruhanan demikian dapat dihasilkan gambar yang sama sekali berbeda sifatnya. Jadi, ciri-ciri 3-D yang diperoleh dengan cara menggosok ini dapat diubah hampir semau kita"
("Shroud : Real McCoy or Hoax?" Los Alamos Monitor, December 16, 1979).





Kain Kafan Kristus – bukti tekstual PB :


Kemungkinan besar bukti yang paling kuat yang menentang keaslian Kain Kafan itu adalah ketidak-cocokan antara prosedur pemakaman menurut Teori Kain Kafan itu dengan keterangan Perjanjian Baru mengenai pemakaman Kristus.

"Pada zaman dahulu biasanya rambut dipotong (T.B., Moed, Kat., 8b), tetapi sekarang ini hanya dicuci, dan sembilan takaran air dingin dituangkan atas jenazah itu (di beberapa tempat pada saat yang bersamaan orang mati itu ditegakkan), dan hal ini merupakan upacara penyucian keagamaan Yahudi yang sesungguhnya...

Jenazah ini tentu saja dikeringkan seluruhnya. Sementara seluruh upacara itu dijaga agar jenazah itu tetap tertutup. Perempuan yang mati harus melalui proses penyucian yang dilakukan oleh perempuan juga. Demikian juga sebaliknya jika seorang laki-laki yang mati harus melalui proses penyucian yang dilakukan oleh laki-laki juga.

Di dalam Kisah Para Rasul 9:37 terdapat suatu contoh dari zaman Perjanjian Baru mengenai seorang wanita yang dimandikan sebelum dikuburkan :


* Kisah 9:36-37
9:36 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita -- dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.
9:37 Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas.


Pada zaman dahulu juga ada kebiasaan untuk meminyaki jenazah yang sudah dimandikan dengan aneka rupa rempah-rempah harum... Kita ingat bagaimana Maria dari Bethany dicela karena memboroskan minyak narwastunya yang murni. Pada waktu itu Yesus berkata "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku".


* Yohanes 12:1-7
12:1 Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati.
12:2 Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus.
12:3 Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.
12:4 Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata:
12:5 "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?"
12:6 Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.
12:7 Maka kata Yesus: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.


Dalam Injil Yohanes juga dicatat bahwa dalam penguburan Yesus Kristus dipakai campuran minyak mur dan minyak gaharu kira-kira 50 kati beratnya :


* Yohanes 19:38-42
19:38 Sesudah itu Yusuf dari Arimatea -- ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi -- meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu.
19:39 Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya.
19:40 Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.
19:41 Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang.
19:42 Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.



Catatan :
Yusuf dari Arimatea (Anggota Majelis Besar Markus 15:43; Lukas 23:50); Nikodemus adalah Seorang Farisi, pemimpin agama Yahudi. Ayat 40 Yesus dikubur menurut cara/adat orang Yahudi.


Setelah upacara penyucian itu dilaksanakan menurut kebiasaan pada waktu itu, maka jenazah dipakaikan jubah kubur (Mishnah Sanhedrin 6.5) ... yang identik dengan sindon yang disebut dalam Perjanjian Baru (bandingkan dengan Matius 27:59) yang terdiri dari kain lenan putih bersih tanpa hiasan apapun dan harus tak bernoda.


* Matius 27:57-60
27:57 Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga.
27:58 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.


27:59 Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih, KJV, And when Joseph had taken the body, he wrapped it in a clean linen cloth,
TR, και λαβων το σωμα ο ιωσηφ ενετυλιξεν αυτο σινδονι καθαρα
Translit, kai labôn to sôma ho iôsêph enetulixen auto sindoni kathara

27:60 lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia.



Biasanya kain itu dibuat oleh wanita dan hanya dijelujur, tanpa simpul. Menurut pandangan beberapa orang, hal ini dilakukan untuk melambangkan bahwa pikiran orang mati itu dapat cepat larut menjadi debu ke tanah kembali (Rokeach, 316). Baik jenazah seorang pria maupun wanita tidak boleh dikenakan kurang dari tiga penutup tubuh (Dari The Jewish Quarterly Revies, vol 7, 1895, pp 260, 261).



Ada beberapa masalah yang timbul pada waktu para pendukung teori Kain Kafan itu mempelajari Perjanjian Baru :



Masalah Pertama, terdapat pertentangan mengenai kain pembungkus jenazah itu. Dari kebiasaan upacara penguburan Yahudi dan dari Perjanjian Baru jelaslah bahwa ada beberapa potong kain lenan dipakai waktu penguburan Kristus, bukan hanya sehelai kain berukuran 14 kaki, seperti Kain Kafan Turin itu.

Yohanes 20:5-7 dengan jelas menunjukkan adanya sehelai kain (tersendiri) yang dipakai untuk melilit kepala Kristus, yang terpisah dari kain pembungkus tubuh. Akan tetapi, pada Kain Kafan Turin itu tergambar seraut wajah serta keseluruhan bagian tubuh lainnya.


* Yohanes 20:5-7
20:5 Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam.
KJV, And he stooping down, and looking in, saw the linen clothes lying; yet went he not in.
TR Translit, kai parakupsas blepei keimena ta othonia ou mentoi eisêlthen

20:6 Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah,
KJV, Then cometh Simon Peter following him, and went into the sepulchre, and seeth the linen clothes lie,
TR Translit, erchetai oun simôn petros akolouthôn autô kai eisêlthen eis to mnêmeion kai theôrei ta othonia keimena

20:7 sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung.
KJV, And the napkin, that was about his head, not lying with the linen clothes, but wrapped together in a place by itself.
TR Translit, kai to soudarion ho ên epi tês kephalês autou ou meta tôn othoniôn keimenon alla chôris entetuligmenon eis ena topon



Tidak ada naskah Injil Yohanes bahasa Yunani yang menunjukkan adanya beberapa potong kain lenan yang digunakan untuk membungkus jenazah Kristus, tetapi juga kain-kain itu disebutkan : "beberapa carik kain", "kain-kain pembungkus", atau "pembalut-pembalut lenan" seperti yang dipergunakan untuk mummi.


* Yohanes 19:40
Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.
KJV, Then took they the body of Jesus, and wound it in linen clothes with the spices, as the manner of the Jews is to bury.
TR Translit, elabon oun to sôma tou iêsou kai edêsan auto othoniois meta tôn arômatôn kathôs ethos estin tois ioudaiois entaphiazein


Kain-kain lenan (jamak), Yunani : οθονιοις - othoniois, noun – dative plural neuter, dari kata "othonion" : a linen bandage -- linen clothes,


Yang lebih penting dari kata-kata yang dipakai untuk menjelaskan pemakaman Kristus dengan beberapa carik kain lenan, adalah kata "kalutto" ("jubah", 1 Raja-raja 19:13) dan "periballo" ("telekung", kejadian 38:14). Kedua kata ini dipakai dalam Septuaginta secara khusus untuk pakaian penutup badan seperti Kain Kafan itu. Akan tetapi, kata-kata tersebut tidak diketemukan dalam teks Perjanjian Baru, Ketidakmunculannya itu perlu diperhatikan.



Masalah Kedua, kisah penguburan dalam Injil Yohanes (Yohanes 19:40) memakai bentuk jamak "kain-kain lenan" (Yunani, οθονιοις- othoniois). Sebenarnya semua kitab Injil setuju bahwa tubuh Kristus "dibungkus" atau "dibalut" dengan kain.


* Matius 27:59
Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih,
KJV, And when Joseph had taken the body, he wrapped it in a clean linen cloth,
TR, και λαβων το σωμα ο ιωσηφ ενετυλιξεν αυτο σινδονι καθαρα
Translit, kai {lalu} labôn {mengambil} to {itu} sôma {jenazah} ho iôsêph {Yusuf} enetulixen {membungkus/membalut} auto {-Nya} sindoni {jubah kubur (dari lenan)} kathara {yang bersih}


* Lukas 23:53
Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat.
KJV, And he took it down, and wrapped it in linen, and laid it in a sepulchre that was hewn in stone, wherein never man before was laid.
TR, και καθελων αυτο ενετυλιξεν αυτο σινδονι και εθηκεν αυτο εν μνηματι λαξευτω ου ουκ ην ουδεπω ουδεις κειμενος
Translit Interlinear, kai {lalu} kathelôn {setelah menurunkan} auto {dia} enetulixen {membungkus/membalut} auto {-Nya} sindoni {dengan jubah kubur (dari lenan)} kai {lalu} ethêken {membaringkan} auto {Nya} en {di} mnêmati {kubur} laxeutô {yang digali di batu besar} ou {dimana} ouk ên oudepô oudeis {tidak seorangpun pernah} keimenos{dibaringkan}.


Catatan :
Membungkus/ membalut : ενετυλιξεν - enetulixen, verb - aorist active indicative - third person singular dari kata "entulisso" to entwine, i.e. wind up in -- wrap in (together).



* Markus 15:46
Yusuf pun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu.
KJV, And he bought fine linen, and took him down, and wrapped him in the linen, and laid him in a sepulchre which was hewn out of a rock, and rolled a stone unto the door of the sepulchre.
TR, και αγορασας σινδονα και καθελων αυτον ενειλησεν τη σινδονι και κατεθηκεν αυτον εν μνημειω ο ην λελατομημενον εκ πετρας και προσεκυλισεν λιθον επι την θυραν του μνημειου
Translit Interlinear, kai {lalu} agorasas {setelah membeli} sindona {jubah kubur (dari lenan)} kai {dan} kathelôn {menurunkan} auton {Dia} eneilêsen {ia membungkus/mengikat} tê sindoni {dengan lenan} kai {dan} katethêken {membaringkan} auton {Dia} en {didalam} mnêmeiô {kubur} ho {yang} ên lelatomêmenon {sudah digali} ek petras {dari batu besar} kai {lalu} prosekulisen {menggulingkan} lithon {sebuah batu} epi {ke (arah)} tên thuran {pintu} tou {itu} mnêmeiou {kubur}.


Catatan :
Membungkus/mengikat, Yunani : ενειλησεν – eneilêsen, verb - aorist active indicative - third person singular , dari kata "eneileo" to enwrap -- wrap in.


Kata kerja "entulisso", yang digunakan oleh Matius dan Lukas, berarti "membungkus" atau "membalut". Markus menggunakan kata kerja "eneileo" yang mengandung arti "membungkus" atau "mengikat". Yohanes seorang saksi mata, dengan sangat jelas menyaksikan bahwa tubuh Yesus dikapani atau dibungkus dengan kain kapan (jubah kubur) yang tebuat dari kain-kain lenan. Ia menggunakan kata kerja "deo" yang bermakna "mengikat" atau "menambatkan", yang mempunyai arti "penahanan".


* Yohanes 19:40
Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.
KJV, Then took they the body of Jesus, and wound it in linen clothes with the spices, as the manner of the Jews is to bury.
TR, ελαβον ουν το σωμα του ιησου και εδησαν αυτο οθονιοις μετα των αρωματων καθως εθος εστιν τοις ιουδαιοις ενταφιαζειν
Translit Interlinear, elabon {mereka mengambil} oun {lalu} to sôma {jenaszah} tou iêsou {Yesus} kai {dan} edêsan {membungkus/mengikat} auto {-Nya} othoniois {dengan kain-kain lenan} meta {dngan} tôn arômatôn {minyak wangi yang kental} kathôs {sama seperti} ethos {adat} estin {adalah} tois {bagi (orang2)} ioudaiois {Yahudi} entaphiazein {untuk mengubur}.

Catatan :
Membungkus/mengikat; Yunani, Εδησαν- edêsan, verb - aorist active indicative - third person, dari kata "deo" to bind (in various applications, literally or figuratively) -- bind, be in bonds, knit, tie, wind.


Maka, ditinjau dari bukti tekstual, kesimpulan yang cukup kuat dapat dibangun atas dasar pemilihan dan penempatan kata bahwa bagaimana dengan tegas sekali dijelaskan oleh Yohanes, Yesus diikat dengan beberapa carik kain lenan, dan bukan dibungkus dengan sehelai kain. Hal ini menjadi jelas melalui pemakaian kata-kata yang berkenaan dengan kain. Kata kerja yang dipakai membenarkan hal ini, apalagi kata-kata khususnya.



Masalah ketiga, tentang kain Kafan Turin ini ialah pengakuan para pendukungnya bahwa keotentikannya bergantung pada tidak dimandikannya jenazah itu. Hal ini penting karena beberapa alasan :

1. Adanya darah kering pada tubuh itu yang tidak dimandikan
2. perlu adanya keringat akibat rasa sakit yang berfungsi sebagai lensa-lensa pembias, untuk memfokuskan radiasi guna membentus gambar.


Ian Wilson mengemukakan pandangan bahwa jenazah Yesus tidak dicuci. Ia menulis demikian :

"Sementara orang mendesak bahwa pemandian mayat merupakan suatu upacara yang sudah ditetapkan yang boleh dilaksanakan sekalipun pada hari sabat. Beberapa ahli Perjanjian Baru terkemuka tidak dapat menerima pandangan ini. Bahkan juga di kalangan penafsir yang terbaikpun tidak ada keberatan yang berarti terhadap pemikiran yang mengatakan bahwa tak ada keberatan yang berarti terhadap pemikiran yang mengatakan bahwa tak ada waktu untuk memandikan tubuh Yesus sebelum hari Sabat, khususnya mengingat berbagai tuntutan berkenaan dengan upacara yang harus dipenuhi.

Ketika ternyata bahwa sesudah hari Sabat upacara inipun tidak mungkin dilaksanakan, maka dapatlah dimengerti keengganan para penulis Injil untuk menulisnya dengan terus terang. Maka hanya berdasarkan pandangan ini bahwa jenazah Yesus tidak dimandikan, dapatlah keotentikan Kain Kafan Turin itu dikuatkan"
(The Shroud of Turin, by Ia Wilson, p. 56).

Kesimpulan-kesimpulan diatas keliru. Pemikiran bahwa tidak ada waktu memandikan jenazah itu karena hari Sabat yang sudah dekat adalah sama lemahnya, sebab Kitab Suci menyatakan bahwa mereka mempunyai cukup waktu untuk meminyaki jenazah Yesus dengan 30 kilogram rempah-rempah (50kati dalam Injil Yohanes). Hal ini juga dijelaskan karena sebenarnya jenazah boleh dimandikan dan diminyaki pada hari Sabat:

"Akan tetapi, jenazah dapat dimandikan dan diminyaki pada hari Sabat, asalkan tidak ada anggota badan yang lepas dari sendinya; bantal boleh disingkirkan dari bawah kepala, dan tubuh boleh dibaringkan diatas passir supaya tidak cepat membusuk; rahang boleh juga diikat, bukan supaya dirapatkan, melainkan supaya mencegahnya turung ke bawah" (Mishnah Shabbat 33:5, from The Jewish Quarterly Revies, 1985, vol 7, p. 118 ).

Yohanes tentunya tidak akan dan tidak dapat mengatakan bahwa metode penguburan orang Yahudi telah dipatuhi jikalau jenazah itu tidak dimandikan, perhatikan lagi ayat ini :


* Yohanes 19:40
Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.
KJV, Then took they the body of Jesus, and wound it in linen clothes with the spices, as the manner of the Jews is to bury.
TR Translit, elabon oun to sôma tou iêsou kai edêsan auto othoniois meta tôn arômatôn kathôs ethos estin tois ioudaiois entaphiazein.



Rempah-rempah



Masalah keempat, dalam usaha menyesuaikan teori Kain Kafan ini ada keterangan-keterangan Perjanjian Baru mengenai penguburan Yesus Kristus ialah mengenai rempah-rempah. Untuk diminyaki maka jenazah itu harus dimandikan. Ian Wilson mengatakan sebagai berikut :

"Rasul Yohanes memberitahukan kepada kita bahwa Nikodemus (Seorang Farisi, pemimpin agama Yahudi), yang membantu Yusuf dari Arimatea, membawa campuran minyak mur dan minyak gaharu yang beratnya kira-kira 50 kati atau sekitar 30 kg. Ia juga mengatakan bahwa campuran itu dibungkus bersama dengan jenazah Yesus dalam Kain Kafan itu :


* Yohanes 19:39-40
19:39 Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya.
19:40 Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.


Sekiranya rempah-rempah ini digunakan untuk meminyaki tubuh Yesus, maka diwajibkan oleh upacara oleh upacara Yahudi dan dalam kebudayaan manapun juga untuk memandikan jenazah itu terlebih dahulu.

Seperti yang sudah nyata dalam teori Kain Kafan, jenazah Yesus tidak dimandikan. Karena rempah-rempah seberat itu akan terlalu banyak untuk perminyakan yang berlebih-lebihanpun, penjelasan yang paling mungkin ialah bahwa rempah-rempah itu merupakan lempeng-lempeng wangi-wangian yang kering, yang disusun di sekeliling jenazah itu sebagai bahan anti pembusuk"
(The Shroud of Turin, by Ia Wilson, p. 56-57).

Juga, apabila rempah-rempah itu dibubuhi pada jenazah seperti yang ditandaskan dalam kitab-kitab Injil, maka tak mungkin gambar itu berpindah ke Kain Kafan melalui radiasi seperti yang dikatakan oleh para pendukung teori Kain Kafan itu.



Kain-kain Kafan Lainnya


Banyak orang tidak mengetahui faktanya bahwa setelah Perang Salib, bermacam-macam Kain Kafan beredar di daerah Eropa abad pertengahan pada waktu yang bersamaan dengan munculnya Kain Kafan Turin. Diperkirakan ada lebih 40 "Kain Kafan asli" yang beredar. Banyak yang sampai hari inipun masih dipamerkan.



Mata Uang Logam


Ada laporan-laporan yang beredar mengenai sekeping uang logam yang berada diatas mata kanan Yesus yang bertanggal kira-kira tahun 29-32 Masehi. Pendeta Francis L. Philas, Professor Theologi di Loyola University di kota Chicago, melaporkan bahwa empat huruf Yunani, ΥΧΑΙ (u-ch-a-i) upsilon-chi-alpha-iota, yang ada pada mata uang logam itu merupakan bagian dari inskripsi "dari Kaisar Tiberius".

Menurut kami, sebagian pengarang, huruf-huruf itu seharusnya ditulis YKAI (u-k-a-i) upsilon-kappa-alpha-iota, dan orang yang telah mencetaknya demikian. Teori mengenai mata uang logam ini menimbulkan banyak pertanyaan tengang Kain Kafan. Teori yang menjelaskan pemindahan gambar ke kain itu menyatakan jenazah itu belum dimandikan, sebab keringat yang sudah kering itu diperlukan untuk memperkuat sinar-sinar itu. Lagipula, teori-teori perpindahan gambar yang bermacam-macam itu menerangkan bahwa jenazah disiapkan untuk penguburan dan karenanya belum dimabdikan. Sulit dibayangkan adanya mata uang logam diatas mata (dalam hal ini atas mata kanan), apabila jenazah itu belum dimandikan atau dipersiapkan bagi penguburannya.



Tidak ada kesaksian Perjanjian Baru


Sama-sekali tidak masuk akal bahwa para Rasul dan orang-orang Kristen pada tahun-tahun pertama tidak menyebutkan adanya sehelai kain dengan gambar Kristus yang tersalib dan yang telah bangkit itu. Sekalipun diancam kematian, mereka masih mengumumkan bahwa Kristus hidup. Mereka terus-menerus memberi kesaksian pribadi tentang penampakan diri Yesus yang telah bangkit itu meskipun dalam keadaan-keadaan yang sangat sukar. Mengingat hal ini, mungkinkah bahwa tidak seorangpun, khususnya para penulis Perjanjian Baru dan Bapak Gereja, yang pernah menyebut Kain Kafan itu dalam hubungannya dengan Kristus serta kebangkitanNya?



Kesimpulan :


Sampai sejauh ini tidak ada bukti yang mendukung keaslian Kain Kafan itu sebagai kain pembungkus jenazah Yesus.






Sumber :

- "Shroud : Real McCoy or Hoax?" Los Alamos Monitor, December 16, 1979.
- "The Shroud", Christian Life, February 1980, vol 4, No. 10
- "Shroud : Real McCoy or Hoax?" Los Alamos Monitor, December 16, 1979
- The 1977 Research Proceedings on the Shroud of Turin, p 235
- The Los Alamos Monitor, 16 Desember 1979, p. B-6
- The Shroud, oleh Wilcox, p. 171,172
- The Jewish Quarterly Revies, vol 7, 1895, pp 260, 261
- Mishnah Shabbat 33:5, from The Jewish Quarterly Revies, 1985, vol 7, p. 118
- Ia wilson The Shroud of Turin, p. 56-57.
- SF Pellicoli, "Spectral Properties of the Shroud of Turin", Applied Optics, 15 Juni 1980, Volume 19, No. 12, pp. 1913-1920
- Thomas Humber, The Sacred Shroud, p. 187
- Josh Mc Dowel & Don Steward, Jawaban Bagi Pertanyaan Orang yang Belum Percaya, p 165-179.





Blessings in Christ,
Bagus Pramono
December 14, 2006



~ Sarapan Pagi-Ilmu Pengetahuan & Sejarah ~


AddThis Social Bookmark Button